
Setelah suasana keduanya sudah tenang. Zaka kembali ke topik awal,"Dapet dari mana lu?",tanya Zaka sedikit bernada rendah. Belum mendapatkan balasan dari Ranggil Zaka kembali berkata,"Dari Teo atau orang lain?",sebuah ungkapan yang membuat perhatian Ranggil langsung terangkat melihat ke arah Zaka.
"Tidak perlu tanya gue tau dari mana. Lu hanya perlu jawab dapat dari mana barang itu?",bernada dingin menatap serius ke arah Ranggil.
"Gue denger yang kasih gue adalah anak buah Teo",bernada rendah.
'CK, ternyata transaksi itu masih belum berakhir. Bahkan mereka sudah lebih berani menyuruh remaja di bawah umur untuk mengedarkan nya',pikir Zaka dalam hati."Sudah berapa lama lu ikut mereka?".
"Baru kemarin, tapi gue tidak pernah tau Teo itu siapa . Gue hanya bertransaksi dengan anak buahnya saja".
Menepuk bahu Ranggil,"Berhenti Ren, pakai saja uang pemberian gue balas dengan kesuksesan lu. Belajar yang rajin jangan sampai lu menyesal",tutur kata Zaka kembali.
"Makasih Zak, gue akan berhenti mulai hari ini".
"Perlu lu tau, saat lu pertama kali masuk pasar malam ini. Lu sudah menjadi incaran".
Sedikit membulat manik matanya menatap Zaka,"Gue di buntuti Polisi".
Zaka membalas dengan anggukan ringan,"Sampai rumah buang itu di toilet jangan sampai lu menyimpan nya".
"Tidak Zak, gue akan akan langsung buang",balas Ranggil cepat."Makasih Zak, untung lu datang menggagalkan yang akan gue lakukan".
"Ayo cabut",ajak Zaka pada Ranggil.
__ADS_1
Dan benar saja perkataan Zaka. Kalau sedang ada operasi rahasia yang tengah terjadi di pasar malam ini. Karena saat sudah akan keluar baik Zaka ataupun Ranggil harus pos melewati pemeriksaan sebelum di perbolehkan pergi.
Syukurlah keduanya lolos di karena sebelum ini Zaka menyuruh Ranggil untuk membuang barang itu secepatnya ke toilet umum yang ada di dalam pacar malam ini. Jika saja Zaka tidak menyuruh Ranggil membuang barang itu secepatnya. Mungkin saat ini Zaka dan Ranggil tengah berurusan dengan polisi-polisi Intel ini.
Akan tetapi saat itu, salah satu anak buah yang tertangkap dan mengenali Ranggil. Sudah akan memanggil nama Ranggil agar ikut tertangkap bersamanya. Namun urung saat Zaka menghadang menengok melihat kearah lelaki yang langsung menurunkan perhatian nya pasrah menerima nasihatnya untuk ikut di bawah ke kantor polisi.
Ranggil tau dan melihat itu, ia juga ketakutan. Tapi enggan berkomentar saat hanya dengan kontak tatapan mata dari Zaka saja dirinya terselamatkan. Dari jeratan hukum.
++++++++
Bahkan sampai Zaka menghentikan motor nya di depan rumah Ranggil. Ranggil yang masih ketakutan akan di tangkap, terus berpikir yang enggak-enggak. Karena yang paling di takut Ranggil adalah bagaimana nasib kedua adik dan ibunya nanti jika dirinya benar-benar tertangkap.
Walaupun Ranggil tidak sepenuhnya mengatakan kepada Zaka akan ketakutan nya. Zaka yang sudah mengerti berkata,"Enggak perlu takut Ren, selama lu nurutin kemauan gue lu akan aman".
Zaka mengangguk ringan,"Gue balik, lu istirahat bereskan barang-barang yang masih ada di rumah lu",
"Oky Zak",balas Ranggil terdiam di tempat nya menunggu Zaka sampai benar-benar pergi menghilang dari perhatian nya. Sebelum Ranggil baru berbalik badan masuk ke dalam rumah nya.
Zaka mengendarai motornya dengan kecepatan sedang hingga berhenti di depan pagar besar menjulang tinggi berwarna hitam yang masih tertutup rapat. Tanpa Zaka mematikan mesin motor nya.
Namun belum lama Zaka berhenti pagar rumah didepannya ini terbuka berlahan-lahan dari dalam mempersilahkan Zaka untuk masuk bersama dengan motornya.
Setelah di dalam pekarangan rumah. Zaka masih harus mengendarai motornya sampai berhenti di dalam garasi mobil. Di saat itulah ia baru beranjak turun dari atas motor nya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu salah satu pria berseragam satpam menghampiri Zaka,"Di tunggu Tuan besar di dalam rumah Tuan Zaka",beritahunya pada Zaka.
Tanpa mengatakan sepatah katapun ia berlalu pergi meninggalkan garasi untuk masuk ke dalam rumah. Dengan raut wajah yang berubah datar.
Seorang lelaki dewasa berjas abu-abu tua rapi tengah terduduk tenang di sova tunggal ruang tamu. Sembaring membaca buku dalam genggaman tangannya. Di temani dengan secangkir kopi hitam di depannya.
Terfokus dengan halaman buku di depannya, tidak menghilangkan insting kuat tentang suasana keadaan di sekitarnya.
Zaka yang berjalan masuk tanpa mengeluarkan suara langkah kaki apapun, tetap membuat lelaki ini sadar akan kebenaran nya."Dari mana kamu?".
"Sudah tau tidak perlu tanya",balas Zaka dingin enggan mampir untuk mendekat terlebih dahulu.
"Sudah berapa hasil transaksi nya?",tanya lelaki ini membuat langkah kaki Zaka benar-benar berhenti.
Zaka berbalik badan untuk melihat lelaki yang masih duduk di nya itu,"AKU TIDAK PERNAH IKUT JUAL BELI APAPUN, DAN AKU TIDAK PERNAH MENGONSUMSI NYA",tegasnya bernada tinggi.
"Kau sudah tau itu dan seharusnya kau tidak perlu mempertanyakan nya lagi, Ayah",iya lelaki berpakaian rapi berjas abu-abu tua itu adalah ayah kandung Zaka.
"Aku juga sudah berhenti ikut tawuran, puas kau",bentak Zaka kembali. Sebelum berlalu pergi melanjutkan perjalanan nya.
Perlu kalian ketahui jika ini bukan kali pertama Zaka dan ayahnya ribut. Bahkan keributan yang jauh lebih parah dari ini sudah pernah Zaka dan ayahnya lakukan, maka dari itu keduanya jadi sering tidak saling sapa."Sedarah tapi asing".Itu semua terjadi setelah kepergian mendiang bunda dan saudara laki-laki Zaka.
__ADS_1
Pilar utama rumah ini di pegang dan di kendalikan oleh bunda Zaka. Saat pilar itu hancur kedua orang keras kepala ini tidak akan pernah rukun. Baik ayah Zaka ataupun Zaka tidak akan mau mengalah satu sama lain dengan ego masing-masing. Karena Zaka ataupun ayahnya sama-sama pria keras kepala yang kukuh dengan pendirian nya.