
"Gia, Gi",panggil Zaka yang terbiasa nyelonong masuk ke dalam rumah Gian tanpa permisi. Masuk-masuk ke dalam rumah Gian.
Namun setelah di cari-cari sampai keseluruhan rumah. Zaka tetap tidak menemukan adanya tanda pemilik rumah ada di dalam rumah. Padahal ia sudah mengusahakan pulang lebih cepat ke negeranya untuk memberikan kejutan kepada Gian. Tapi setibanya di negara nya Zaka justru bertemu dengan seseorang yang akan ia berikan kejutan.
Kebalikannya. Zaka justru di buat panik oleh Gian. Bagaimana tidak panik saat Zaka menghubungi nomer Gian justru yang berbunyi ada di dekat Zaka. Ponsel Gian di tinggalkan di rumah, tidak hanya ponsel. Saat mencari sumber suara nada dering ponsel Gian. Zaka juga melihat dompet kartu identitas dll perlengkapan penting Gian semuanya di tinggalkan.
Tersambung.
*Bentar-bentar Zak, kau telfon aku pasti ada maunya lagi",tebak Alan berbicara melalui panggilan telepon di seberang sana.
*Alan bantu aku cari Gian".
*Di kolom kasur mungkin Zak takut sama kau".
*Bang**sat!!Lu bohongi gue, sudah gue lihat tidak ada".
**Jangan di praktekkan Zaka".
*Cepat bantu Gue",bentak Zaka marah*.
*Iya, iya bos".
Panggilan di akhir sepihak oleh Zaka.
Di hari ini. Sepanjang hari ini Zaka berkeliling Kota tanpa beristirahat hanya untuk mencari keberadaan Gian yang entah ada di mana. Bahkan setelah hari sudah akan menunjukkan waktu malam. Zaka belum kunjung menemukan Gian. Padahal sepanjang hari itu Zaka sudah di bantu Alan dan Ranggil.
"Coba kamu lihat lagi di rumah Gian, mungkin saja dia sudah pulang",saran Ranggil pada Zaka. Lelaki yang sangat kacau sekali.
__ADS_1
Sejak kembali dari Jepang. Zaka belum istirahat sama sekali. Jadi sangat tidak heran jika di malam ini Zaka terlihat benar-benar lusuh kacau.
"Iya, biar aku antar kau melihat ke sana",tawar Alan menambahi.
Zaka beranjak dari tempat duduknya,"Aku pergi dulu",pamit nya.
"Kau tidak mau aku antar saja?",tawar Alan sekali lagi.
"Iya Zak, kau tid....", Ranggil tidak lagi melanjutkan perkataannya di kala seseorang yang ia sedang di bujuk telah hilang dari perhatian nya.
Zaka langsung naik taksi yang ia hentikan untuk langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
Brugkkk......,"Aashitt....", rintihan kesakitan Gian tersungkur di depan pintu rumah nya.
Sudah dua hari dua malam tidak pulang ke rumah karena harus menemani bumil yang rewel. Gian yang sangat bersemangat ingin segera mandi 12jam tidak menyadari jika di dalam depan pintu rumahnya ada koper berukuran sedang tergeletak.
Setelah membuka pintu Gian langsung nyelonong saja tanpa memperhatikan sekitar nya, terutama di depan bawahnya. Alhasil karena itu saat ini ia jadi terduduk di lantai depan pintu dalam rumah nya.
Memeluk erat tubuh Gian dari samping,"Tunggu",ujar Gian kaget saat tiba-tiba mendapatkan kejutan seperti itu.
Namun saat ia menyadari itu adalah Zaka. Gian langsung membuang nafasnya kasar,"Itu koper mu?",tanya Gian jutek.
Melepaskan pelukan nya,"Kamu dari mana?",
"Aku kemana?Aku di sini?".
"Bohong!Sejak pagi sampai malam aku mencari kamu",
__ADS_1
"Eh?Kamu kembali tadi pagi",tebak Gian menatap sedikit terkejut Zaka.
Zaka mengangguk,"Iya. Kamu dari mana?".
"Sudah dua hari kemarin aku menginap di rumah Gita".
"Kamu....".
"APA??",bentak Gian yang menyadari pemikiran buruk Zaka."Sudahlah Zak lebih baik kamu pergi pulang untuk mandi. Badan mu bau asam Jawa",
Mencium -cium bau badannya,"Wangi, masih wangi Gi",di barengi kembali terfokus melihat Gian.
"Yasudah ayo".
Perasaan mulai tidak enak,"Ngapain?",tanya Gian menatap gelisah
"Mandi",
"Enggak", berusaha berjalan menjauhi Zaka dengan kaki yang tertatih-tatih karena keseleo.
Memegangi menyangga tubuh Gian yang akan terjatuh,"Kaki mu kenapa?".
"Karena koper sialan",ucap sewot Gian kesal.
Zaka terdiam sebelum tiba-tiba tubuh Gian terangkat. Karena Zaka mengendong nya, mau meronta-ronta juga gimana kakinya yang cidera di gerakan sedikit saja sakit minta ampun.
Alhasil hanya dengan usaha memukul saja tidak membuat Zaka berhenti. Zaka tetap mengendong Gian masuk ke dalam kamar mandi bersama.
__ADS_1
Ingin beranjak kabur dengan susah payah,"Aaaahh......",brakk.....tubuh Gian sudah tertahan oleh Zaka yang hanya memegangi kerah pakaian nya saja. Sementara kaki nya menendang dengan mudahnya pintu kamar mandi agar tertutup sebelum ia kunci dari dalam.
Di saat itulah raut wajah tertekan Gian terlihat meratapi nasib buruknya. Melihat nasib baik yang selalu saja berpihak kepada Zaka.