
Zaka kembali dengan menyiapkan semuanya yang akan ia gunakan untuk mengompres luka memar di tubuh Gian. Di dapur Zaka mengambil baskom juga sapu tangan kecil miliknya dan sedikit air dingin.
Duduk di depan Gian,"Kamu hadap ke sana biar aku kompres pakai air dingin",minta Zaka yang tidak mendapatkan respon apapun dari Gian yang hanya terdiam menatap nya.
Menghela nafas berat,"Gue tidak akan ngapa-ngapain Gia. Hanya mau kompres karena kalau di biarkan bisa bengkak makin sakit",jelas Zaka."Sudah cepat hadap ke sana",minta Zaka sekali lagi sembaring mengarahkan Gian agar segera duduk membelakangi dirinya.
Tangan Zaka mulai tergerak untuk membantu Gian menurun sedikit pakaian atasan yang Gian kenakan."Eh! Gi, seragam mu basah".
"Lebih baik cepat ganti baju dulu biar kamu tidak masuk angin",suruh Zaka khawatir.
Masih duduk membelakangi Zaka,"Nanti saja",balas Gian bernada lirih masih kelelahan.
"Mau ganti sendiri atau aku yang menganti?",tawar Zaka pada Gian."Nanti Zak, ada kamu di sini",bernada rendah semakin lirih, namun masih dapat di dengar samar oleh Zaka.
Zaka beranjak dari tempat duduknya, ia membuka lemari Gian untuk mengambil pakaian kering. Setelah nya memberikan nya kepada Gian yang tetap terdiam enggan.
Zaka berjongkok di depan Gian yang terduduk,"Aku akan mojok, tidak akan melihat apapun. Cepat ganti baju mu".
"Cepat Gia",membantu Gia beranjak bangun dari tempat duduknya. Di kala kaki bekas tendang dari Tio tadi seperti cukup membuat kaki Gian cidera.
Gian yang sudah terfokus melihat Zaka,"Aku mau ganti di kamar mandi saja. Aku tidak percaya dengan mata mu",Gian membuat Zaka yang belum tersenyum sedikitpun akhirnya menyungging senyum tipis untuk Gian.
"Iya baiklah terserah kamu, aku tunggu di sini atau aku antar?".
"Tunggu saja di sini",balas Gian berjalan berlahan keluar kamar meninggalkan Zaka seorang diri.
Melihat luka membiru ungu memar yang cukup banyak itu cukup untuk membuat Zaka langsung terdiam. Ia yang seharusnya akan mengompres dengan air dingin justru belum ia lakukan.
__ADS_1
"Zaka!",panggil Gian sedikit berteriak tegas.
Tersadar dari lamunannya,"A..apa Gi?".
"Kalau tidak jadi tidak usah di kompres tidak papa",kata Gian.
"Jadi Gi, kalau di biarkan nanti malah bengkak sakit".Zaka mulai mengompres berlahan-lahan punggung Gian yang memerah keunguan.
Sepenjang pengobatan kedua sama-sama hening. Baik Zaka ataupun Gian enggan untuk membuka obrolan terlebih dahulu. Gian hanya sesekali membuat suara rintihan kecil saat luka memar di punggung terkena air dingin.
Membulat manik matanya sempurna,"Zaka",seru Gian kaget saat Zaka mencium punggung Gian. Zaka juga merangkul Gian agar tidak menjauhi diri nya.
Di saat itulah Gian baru mengetahui jika Zaka yang ia pikir lelaki tangguh, kuat. Saat ini tengah menitihkan airnya membuat punggung Gian basah.
Gian terdiam ia menunduk kepalanya enggan untuk berkomentar. Ia membiarkan Zaka tetap pada posisi ini, membiarkan Zaka mengeluarkan kesedihan yang entah karena apa. Sampai Zaka benar-benar terlihat kembali baik-baik saja nanti.
Gian elus pipi ini dengan kedua tangannya, sebelum akhirnya di susul dengan tersenyum tipis."Are you okay?".
Mengangguk ringan,"Y, I'm fine.....I'm fine as long as you are always with me".Zaka mendekat wajah ke Gian hingga ia dapat merasa hembusan nafas hangat itu.
Mencium Gian sekilas,"Tetaplah bersamaku Gi, aku akan menjaga mu",kata Zaka menatap sepasang manik mata di depannya. Sampai ia kembali mencium bibir Gian kembali, namun yang keduanya kalian enggan untuk segera Zaka sudahi.
++++++++
Zaka kembali pulang ke rumah nya setelah ia selesai memastikan nanti malam Gian akan dalam keadaan baik-baik saja.
Ia menyuruh salah seorang tukang kayu kenalan untuk datang di hari itu juga untuk memperbaiki jendela rumah Gian. Tapi ia tidak menemani tukang itu sampai selesai bekerja, karena setelah Zaka tau kakek Gian sudah pulang dan tukang yang ia panggil sudah ada di depan rumah Gian. Zaka langsung berpamitan pulang.
__ADS_1
"Bawa dia",suruh Jon pada kedua lelaki bertubuh gempal kekar untuk memenangi Zaka.
Zaka yang sudah terjebak,"Apa-apaan ini Ayah?",bentak Zaka memberontak, namun gagal di kala kedua bodyguard yang di sewa Ayah memiliki tenang jauh lebih besar dari Zaka.
Tidak hilang akal Zaka hendak memberontak dengan cara lain. Sebelum akhirnya dua bodyguard lain menghampiri ikut memegangi kedua kaki Zaka. Hingga akhirnya Zaka tidak bisa melakukan perlawanan apapun.
"Lepas ayah?Aku tidak melakukan apapun", Zaka yang belum mengetahui salahnya di mana. Ia hanya tau, ia salah karena kabur dari rumah. Tapi hanya kabur tidak lebih.
Sepertinya tidak. Jon telah melihat bekas noda darah di katana milik Zaka. Membuat Zaka tidak bisa melakukan pembelaan apapun lagi, ia terdiam tapi tetap luruh membalas tatapan tajam ayah nya.
Jon merampas katana milik Zaka, ia juga merogoh kantong celana Zaka. Mengambil ponsel milik Zaka dan membantingnya.
Emosi Zaka langsung meledak,"Bang**sat!!Aku hanya kabur bukan membunuh orang. Belum cukup puaskan ayah menyakiti ku?",bentak Zaka marah bernada bicara kasar.
"LEPAS!!LEPASKAN AKU AYAH".
Pakk.....satu tamparan keras mendarat cukup kuat di pipi lebam Zaka,"Tutup mulut mu".
"BELUM CUKUP KAH HARI INI KAU SUDAH MEMBUNUH ORANG, DAN BELUM CUKUPKAH SELAMA INI KAU MEMBUAT AYAH MU INI MALU".
Menghela nafas berat kasar,"Mulai hari ini kamu tidak akan lagi sekolah di sini. Ayah akan memindahkan mu ke Australia".Perkataan Jon yang membuat manik mata Zaka terkejut.
Bernada lirih,"Tapi aku tidak bunuh orang Yah. Ayah tidak percaya dengan anak mu sendiri?".
Menunjukkan sebuah gambar di layar ponselnya, tanpa mengatakan sepatah katapun. Zaka yang melihat gambar itu semakin di buat terkejut dan syok. Sepasang matanya langsung memerah berkaca-kaca, mulutnya keluh untuk berkata. Tapi Jon tetap menyuruh mereka membawa Zaka pergi di hari itu juga ke Australia.
Walaupun di saat itu Zaka masih meronta untuk melepaskan diri, walau sudah gagal berkali-kali. Sehingga penerbangan ke Australia di hari itu di percepat oleh Jon.
__ADS_1