Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Posesif


__ADS_3

Keesokan harinya. Sayup-sayup Gian buka kelopak matanya. Bermaksud melihat sekeliling kamarnya yang justru membuat Gian di suguhkan oleh kehadiran Zaka yang sudah terbangun memperhatikan dirinya.


'Ganteng',pikir Gian tercengang terdiam cukup lama melihat raut wajah Zaka.


Zaka tiba-tiba tergerak cepat memegangi kedua pergelangan tangan Gian dan menindih tubuh Gian.


Menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, seketika itu juga Gian langsung panik, sangat-sangat panik. Ia sudah meronta-ronta namun tetap gagal, ia selalu gagal melawan Zaka yang tenaganya jauh lebih besar darinya.


Menghentikan Zaka yang sudah sangat dekat sekali dengan nya,"Tunggu Zaka..kamu lupa dengan perjanjian kemarin".


Berucap lirih di dekat daun telinga Gian,"Kamu lupa siapa yang berhak mengambil keputusan".


Masih berusaha untuk menghentikan


Zaka,"Kamu harus segera berangkat kerja Zaka",kata Gian yang tidak di gubris oleh Zaka yang sudah menciumi lehernya dengan lembut. Melepaskan atasan pakaian yang Gian kenakan dengan mudah tanpa di sadari oleh Gian.


"Stt....Zak....",desiran Gian saat sesuatu di bawah sana menggeser daerah sensitif nya. Lagi-lagi perasaan datang. Pining juga sakit itulah yang Gian rasakan, tangannya meremas dan mencakar lengan tangan Zaka. Berharap lelaki di depan nya akan menghentikan.


Namun seperti usaha yang Gian lakukan tidak membuahkan hasil apapun. Zaka berhasil menguasai tubuh Gian seutuhnya. Sampai di puncak ******* nya Zaka juga kembali melakukan hal yang sama.


Gian menutupi matanya dengan lengan tangan nya,"Yang kita lakukan salah Zaka",ucap lirih.


Zaka menyingkirkan lengan tangan menutup perhatian Gian darinya,"Aku tau, aku akan mempertanggung jawabkan pembuatan ku".


"Aku sudah meminta Alan untuk mengurus surat pernikahan kita. Aku hanya tinggal minta beberapa fotocopy identitas mu".


Masih di posisi yang sama dan menatap manik mata yang sama,"Aku serius dengan ucapan ku Gi, aku tidak mau kehilangan kamu".


Melihat Gian yang masih terdiam."Kamu takut hamil duluan?".tanya Zaka yang membuat Gian langsung benar-benar terfokus membalas menatap.


Namun sesaat kemudian ia kembali melihat ke sudut lain,"Turun Zaka berat",minta Gian enggan menatap langsung lawan bicara nya.


Zaka tersenyum tipis, dan menuruti kemauan Gian. Ia ambruk kan tubuh nya di samping Gian berbaring.


Gian membenarkan selimut yang menutupi tubuh yang sudah mengenakan sehelai benang pun ini. Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Zaka yang sudah lebih dulu tidur miring menghadap nya.


Menghela nafas berat memperhatikan Zaka,"Luka itu",ucap Gian yang melihat bekas luka sobek di lengan tangan Zaka. Lupa sobek yang di atasnya telah tertulis namanya, Gian.


Melihat luka itu sekilas,"Aku membuat tato ini saat masih sekolah. Luka ini sangat mengingat ku pada mu. Makannya aku buat nama mu di sana".


Memegangi dada bidang Zaka, saat manik matanya tertarik dengan luka goresan yang cukup dalam di sana,'Luka yang ini sangat dalam',pikir Gian yang mengelus bekas luka sayatan cukup dalam di dada kiri Zaka yang membentang hingga ke bawah dada kanannya.


Zaka menggenggam pergelangan tangan itu,"Sudah Gi, kamu mau lanj....",belum juga menyelesaikan perkataan nya Gian langsung melepaskan tangan dari Zaka. Seakan-akan sudah mengerti akan keinginan Zaka.

__ADS_1


"Sudahlah Zak, cepat pergi".


"Aku belum mandi Gi",nada bicara manja Zaka.


"Iya mandi san....",entah sejak kapan. Tapi saat berucap begitu Zaka sudah membelit tubuh Gian dengan selimut dan mengendong nya. Zaka bahkan sudah mengenakan celana pendek nya yang entah kapan ia pakai.


Lagi-lagi Gian di buat terpojok. Gian sama sekali tidak bisa memberontak dengan tubuh yang teliti rapat oleh selimut. Namun Gian masih bisa terus ngomel-ngomel.


"Zak...turun, turunkan aku, turunkan aku",minta Gian sedikit membentak."Zaka turunkan aku tidak mau Zaka, nanti malah jadi lama mandinya. Kamu itu aneh-aneh Zaka. Turunkan aku, turunkan".


Gian di turun di dalam kamar mandi, ia langsung bergegas untuk berlari keluar. Namun sayangnya tertahan oleh Zaka yang pada akhirnya berhasil menutup pintu kamar mandi dengan Gian yang masih ada di dalam nya bersama nya.


++++++


Bakk......,"Hoyy!!",ujar Gita mengagetkan Gian yang tengah terdiam melamun sampai mengabaikan beberapa pembeli yang datang ke tokonya."Ngelamunnya nanti saja cepat bantu mereka",minta Gita seseorang perempuan dengan perut yang sudah buncit ini berjalan pergi mendekati beberapa tukang angkut barang.


Sesaat setelah toko sudah jauh lebih sepi. Gita kembali mendekati Gian untuk mengantikan posisi Gian merekap data keuangan.


Duduk di samping Gian,"Kamu ngapain pakai jaket Gi?Kamu tidak kepanasan?",tanya Gita di barengi fokus pada buku di depannya."Aku yang sudah pakai daster kayak gini saja masih kepanasan".


"Kipas angin sudah sangat kencang Git, aku saja sampai kedinginan. Kamu itu ibu-ibu hamil tidak wajar",kata Gian membalikkan topik obrolan.'Aku sebenarnya panas, bangettt. Tapi lelaki sialan itu meninggalkan banyak sekali tanda di leher ku',pikir Gian dalam hati kesal.


"Owh iya, maaf Gi aku tidak betah panasnya",kata Gita.


Gian membalas dengan anggukan kepala ringan nya. Membiarkan Gian memeriksa barang-barang di Toko. Sementara ia tetap duduk menghitung pengeluaran hari ini.


Setelah menjelang sore, Gian yang sudah selesai beberes langsung di jemput oleh mobil berwarna hitam yang berhenti di depan ruko nya.


Gian bergegas mengunci pintu ruko dengan benar. Sementara pengemudi mobil yang seorang lelaki ini segera beranjak turun dari dalam mobil. Menuntun Gita untuk menuruni tangga dan masuk ke dalam mobil.


"Nebeng sama kita saja Gi",tawar Gita."Benar, kamu ikut kita saja. Walaupun tidak searah tapi gang rumah kamu dekat dengan gang rumah kita".timbal lelaki ini nambahi.


"Baiklah kalian memaksa sekali",Gian akhirnya beranjak masuk ke dalam mobil yang pintu mobil sudah di bukakan oleh lelaki ini.


Gian duduk di belakang Gita duduk. Lelaki yang sudah masuk ke dalam mobil ini segera tancap gas meninggalkan pekarangan pasar.


Baru juga selesai membuka pintu rumah. Seseorang tiba-tiba menerobos masuk mendorong Gian ikut bersama nya masuk ke dalam rumah.


"Apaan Zaka??Lepas!!",kesal Gian bernada membentak.


"Aku yang seharusnya tanya sama kamu. Siapa lelaki yang bukain kamu pintu mobil tadi? Kamu terlihat sangat dekat dengan nya".


"Iya dekat kan dia Abang ku".

__ADS_1


Perkataan yang membuat Zaka semakin menatap tajam ke arah Gian yang tidak merasa ada yang salah pun melanjutkan perkataannya."Bang Roman suaminya Gita Zaka. Hilangkan pemikiran kotor mu, karena di sini aku yang seharusnya curiga dengan mu. Berandalan seperti mu terkadang memiliki banyak wanita simpanan",kata Gian berlalu pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.


"Kamu kenapa jadi menuduh ku",kesal Zaka yang justru di tuduh balik."Sudah berstatus suami orang juga tetap bisa deket dengan perempuan lain".


"Itu kamu, bang Roman beda. Lagian Gita juga segalanya bagiku aku berdoa semoga pernikahannya selalu baik-baik saja",kata Gian berdiri membelakangi Zaka, ia sibuk membuat lauk untuk di makan."Gita juga sedang hamil 5 bulan anaknya".


"Laki-laki kalau sudah selingkuh tidak perlu apapun",Zaka yang tetap bernada posesif.


Memeluk pinggang Gian dari belakang,"Jangan gini, aku mau masak. Kamu juga seharusnya sudah pulang. Ini bukan rumah mu".


Masih tetap memeluk Gian dari belakang,"Ini rumah istri ku, jadi terserah aku dong".


"Kasihan ayah mu pasti sedang menunggu di rumah".


"Sudah biasa dia gitu".


Menghela nafas berat kasar lelah berdebat dengan Zaka yang tiada habisnya.


Berkata lirih,"Besok aku harus pergi",


"Kemana?".


"Jepang dinas kerja".


"Hemm.....".


"Cuma beberapa hari setelah selesai aku pulang kita langsung nikah. Besok pagi kalau tidak siang, Alan akan datang ke sini minta berkas kamu",menyudahi memeluk Gian dan mencium ubun-ubun kepala nya."Jadi biarkan aku tetap di sini Gi. Besok pagi-pagi aku harus berangkat".


"Boleh iya Gi?",minta Zaka.


Menghela nafas berat,"Kalaupun aku jawab tidak kamu juga akan tetap di sini",kata Gian membuat Zaka tertawa kecil.


Selesai masak kini Gian dan Zaka sudah duduk satu meja makan menikmati menu makanan sederhana simpel yang Gian buat sendiri. Sesaat selesai makan, Zaka beranjak dari tempat duduknya. Ia mengeluarkan ponsel juga dompet nya dan meletakkan nya di atas meja makan.


"Gi aku pinjem pakaian kamu lagi iya?",tanya Zaka pada Gian.


"Hemm",berdehem masih sibuk mengunyah makanan nya yang belum habis.


Zaka benar-benar berlalu pergi. Ia benar-benar menganggap kediaman rumah Gian seperti rumah nya sendiri. Zaka masuk ke dalam kamar Gian, mengambil pakaian Gian yang sekiranya muat untuk ia kenakan. Dan kembali ke dapur dengan membawa kaos juga celana panjang kain oblong.


Di saat itulah Zaka mendekati Gian yang sepertinya tidak menyadari kehadiran nya. Zaka membantu Gian membuka password angka ponsel miliknya yang ada dalam genggaman Gian tanpa mengambil kembali ponsel itu.


Hingga akhir ia berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Membiarkan Gian yang terdiam melihat layar ponsel yang menyalah di depan.

__ADS_1


Mungkin Gian heran bagiamana Zaka begitu mudahnya membiarkan ia mengotak-atik ponsel pribadi nya. Di satu sisi Gian tetap berpikir positif, jika Zaka memang sepenuhnya mau Gian benar-benar mempercayai dirinya. Zaka juga mau Gian tau, bahwa dirinya tetaplah Zaka yang sama.


__ADS_2