Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Kabar bahagia


__ADS_3

Sudah sembilan bulan usia kelahiran Gian. Perut buncit yang semakin besar ini benar-benar membuatnya tidak dapat melakukan banyak hal kegiatan rutinnya. Karena hanya untuk jalan beberapa langkah saja, ia sudah sangat capek. Itu belum setelah duduk dan bangun, dan setelah tidur dan bangun. Gian benar-benar sangat kesulitan untuk bergerak.


Sayup-sayup Gian buka kelopak matanya yang terpejam, saat ia merasakan kecupan di kening nya.


"Sudah pulang dari tadi?",tanya Gian yang ingin bangun dari tidur nya. Menyadari itu Zaka langsung membantu Gian untuk bangun.


"Baru pulang",balas Zaka saat Gian sudah terduduk dengan benar."Kata bibi kamu belum makan malam",


"Iya, masih kenyang tadi siang aku makan banyak sekali",kata Gian di susul merintih kesakitan,"Kenapa Gi?",khawatir Zaka melihat wajah kesakitan itu.


"Sudah terasa mules sejak tadi siang",balas Gian mengelus lembut perut buncitnya.


"Kenapa tidak telfon aku kalau sudah sejak tadi siang?",


"Aku tidak mau menganggu waktu kerja kamu",balasan Gian yang membuat Zaka membuat nafas kasar.


Sesaat kemudian rasa sakit itu mulai terasa semakin menyakitkan untuk Gian yang kini berganti meremas lengan tangan Zaka.


"Kamu mau lahiran?",


Gian yang sudah tidak mau mengatakan apapun membalas dengan mengangguk kepala.


"AYAH, AYAH, GIAN MAU MELAHIRKAN AYAH",teriak Zaka menjadi panik melihat Gian yang mulai mengerang kesakitan.


Baik Jon ataupun pembantu rumah langsung datang ke kamar Zaka dan Gian terburu-buru.


"Cepat di bawa ke rumah sakit Tuan, nyonya sudah pecah ketuban",saran bibi Art ikutan khawatir."Dan mana tasnya biar saya bawakan Tuan",


"Tas, tas apa?",


Memukul ubun-ubun kepala putranya,"Yang kau buat saja. Tapi soal perlengkapan kecil tas persalinan tidak tau, anak durhaka",Jon yang jadi kesal di tengah kepanikan ini.


"Sudah saya siapkan, bibi ambil saja di atas kursi depan lemari pakaian",kata Gian sembaring menahan rasa sakit.


Bibi art langsung berlalu pergi mengambil tas itu. Sementara Gian berusaha untuk beranjak turun dari tempat tidur yang di bantu oleh Zaka.


"Ayah akan siapkan mobil",ucap Jon berlalu pergi terburu-buru meninggalkan kamar menantunya.


"Aku gendong saja iya?",tawar Zaka yang sudah sangat khawatir dengan apa yang Gian rasakan sekarang.


Menolak Zaka yang sudah akan mengendong nya,"Jangan Zak, nanti kalau jatuh gimana?",


"Mana mungkin aku menjatuhkan istri dan anak ku Gian",kata Zaka yang pada akhirnya mengangkat tubuh Gian dalam gendongan dan membantu turun ke lantai satu rumah.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit. Gian langsung di larikan masuk ke ruang persalinan bersama dengan Zaka yang di perbolehkan untuk menemani masa persalinan.


Sementara di luar persalinan sudah ada Jon, Alan, dan juga Ranggil. Yang dengan raut wajah tegang masing-masing menunggu masa persalinan selesai.


Di saat suara tangisan bayi mulai terdengar, saat itulah mereka bertiga langsung saling pandang. Tidak butuh waktu lama setelah nya seseorang membuka pintu kamar persalinan. Menampilkan Gian yang masih tiduran di atas ranjang pesakitan, dan Zaka yang mendampingi nya.


"Anaknya mana?Anaknya perempuan kan Zak, Gi?",tanya Alan antusias bercampur khawatir.


"Baby boy masih di taruh di inkubator. Nanti baru akan di antar ke kamar rawat inap",jelas Gian pada mereka.


Yang langsung terfokus melihat ke arah Zaka,"Ya Tuhan kenapa engkau mendatangkan Zaka dua",ujar Ranggil frustasi. Tidak jauh berbeda dengan Alan dan Jon.


"Hancur sudah seluruh Kota ku",ujar Alan memegangi dadanya.


"Kalian Kenapa sih?Anak gue lahir sehat malah kayak gitu respon kalian. Nyesel gue kasih kabar kalian",kesal Zaka melihat mereka marah.


"Permisi Tuan, mari nyonya Gian harus segera beristirahat di kamar nya",kata salah seorang perawat pria yang akhirnya membantu mendorong ranjang pesakitan Gian.


++++++


++++++++++++


Seorang anak lelaki berlarian di taman seorang diri. Mengambil bola basket yang pada akhirnya ia rangkul, ia bawa berlari kecil mendekati seseorang perempuan yang tengah mengawasinya. Duduk di bawah pondok bambu.


"Kenapa sih Bun kalau setelah bermain harus cuci tangan?",tanya anak lelaki ini bernada suara cempreng lucu.


Selesai mengepal kedua tangan kecil ini dengan handuk. Dan meletakkan nya kembali di depan tempat cuci tangan taman ini.


Gian, perempuan yang saat ini bersama anak lelaki ini mengelus lembut rambut rambut kepalanya,"Biar tidak terjangkau kuman yang bisa membuat Saka sakit".


Sakamoze Dirgantara, atau Saka.


Seorang anak laki-laki yang menangis tersedu-sedu di rumah sakit. Seorang anak laki-laki yang di harap-harapkan adalah seorang anak perempuan. Kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki sehat berusia empat tahun yang super duber aktif.


Dengan mengandeng jari bunda nya. Saka berjalan kecil beriringan dengan bunda nya kembali masuk ke dalam rumah. Meninggalkan taman belakang rumah.


Melepaskan genggaman tangannya,"Ayah",berlari kecil ke arah Zaka yang dengan sigap menangkap dan mengangkat tubuh kecil Zaka ke dalam pelukannya.


Zaka cium pipi cupi itu gemas beberapa kali sampai anak laki-laki tertawa geli.


"Hey, hey, Saka lihat om bawa apa",nada bicara seorang lelaki yang langsung membuat Saka terdiam menengok melihat ke arah sumber suara.


Saka langsung mengambil keranjang buah-buahan yang Alan bawah dengan di bantu Zaka tentunya karena berat.

__ADS_1


Menengok ke arah Gian,"Bun bisa buat salat buah banyak-banyak",kata Saka bersemangat senang.


Gian tersenyum berjalan mendekat,"Iya nanti bunda buatkan",


"Saka",panggil suara lelaki lagi. Yang lagi-lagi membuat Saka langsung mencari sumber suara untuk langsung melihat pemilik suara.


"Om Ranggil",seru Saka memaksa ingin turun. Zaka pun menurunkan Saka dari gendongan nya.


Saka berlari kecil mendekat ke arah Ranggil yang sudah siap untuk memeluk nya. Namun Ranggil salah dugaan, karena Saka datang untuk mengambil kantung plastik besar yang Ranggil bawa bukan untuk menyambut dan memeluk.


Setelah mendapatkan yang ia mau,"Thank you om",kata Saka sebelum berbalik badan dengan susah payah menarik kantung plastik besar berisikan camilan mendekat kembali ke Zaka.


Alan yang memperhatikan itu,"Tidak jauh beda, sudah tidak jauh berbeda. Buah tidak jatuh dari pohon".


Ranggil yang saat itu masih berjongkok,"Anak sama bapaknya sama saja, datang pas ada maunya doang",semprot Ranggil tidak kalah kesal dengan Alan.


Zaka yang saat itu sudah kembali mengendong Saka yang tengah sibuk melihat ke dalam kantung plastik yang ikut ia bawah."Anak ku",


"Tapi enggak papa sih, soalnya ada sisi positifnya juga. Tuh anak pinter kayak bapaknya",


"Anak ku, anak ku",


"Idih!!Jangan di kasih pujian lagi Ran",semprot Alan yang masih kesal.


"Kalian berdua emang ada urusan apa kesini?",tanya Gian pada Alan dan Ranggil.


"Mau numpang makan, biar tidak Zaka saja yang tiap hari minta makan gratis ke restoran ku",kata Ranggil sedikit menyindir Zaka yang terlihat bodoamat.


Kebahagiaan keluarga kecil ini tidaklah berangsur-angsur lama. Karena setelah Saka menginjak usia 16 tahun. Saka terlibat pertengkaran dengan ayah nya.


Waktu itu Saka pulang sekolah terlambat. Ia pulang ke rumah dalam keadaan seragam sekolah yang sudah lusuh, kotor. Terlihat jelas jika Saka sehabis berkelahi, itu di tegaskan lagi dengan noda darah kecil di pakaian kemeja putihnya.


"Dari mana kamu?",tanya Zaka pada Saka.


"Main",balas Saka singkat padat.


"Puas ikut tawuran nya?",


"Aku tidak ikut tawuran, aku hanya melindungi teman ku yang disabilitas di keroyok berandalan jalanan itu",


"Iya, terus alasan apa lagi?",


"Aku tidak bohong ayah, kalau ayah tidak percaya terserah",dengan keadaan marah Saka berlalu pergi meninggalkan ruang tamu rumah nya. Mengabaikan Zaka yang terus memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


Hingga tanpa Saka sadari. Pakk.... tamparan keras mendarat tepat di pipi Saka yang langsung memerah kebiruan mengecap tangan besar Zaka.


__ADS_2