
Zaka meloncat seperti biasa masuk ke dalam kamar Gian. Namun saat ia sudah sampai di dalam kamar. Kamar yang biasanya masih di terangi secercah cahaya lampu belajar, kini justru gelap gulita.
Ia juga tidak menemukan pemilik kamar ini ada di dalam kamar. Takut terjadi sesuatu pada Gian. Zaka langsung mencoba menghubungi Gian, di saat baru menghidupkan ponsel nya kembali di saat itulah Zaka baru mengetahui jika di malam itu Gian mencoba menghubungi nya berkali-kali. Namun tidak ia respon sama sekali.
Tidak terlalu memikirkan itu dulu, Zaka lebih memilih untuk duduk tenang sembaring menunggu pemilik kamar kembali. Sembaring mencoba menghubungi Gian. Dengan tetap berpikir positif mungkin Gian masih keluar di suruh kakeknya membeli sesuatu. Dan akan segera kembali.
Akan tetapi saat panggil telfon itu tersambung justru nada dering lain terdengar di dalam kamar ini dari atas meja belajar Gian. Zaka beranjak dari tempat duduknya dan mendapatkan ponsel Gian yang di biarkan tergeletak di sana.
Ia mematikan panggilan yang masuk, memainkan layar ponsel Gian. Hingga menemukan notifikasi chat yang Gian lakukan dengan seseorang yang bernama Sendy.
Sendy
\=>Aku tunggu di pasar malam iyaaa.....cepat otw biar banyak yang kita mainkan nanti.
^^^Gian^^^
^^^\=>Siap, tunggu bentar Sen masih makan.^^^
Sendy
\=>Iya sama.
^^^Gian^^^
...\=>Makan yang banyak biar punya tenaga banyak....
Sendy
\=>Hhhhhh.......dari topik obrolan nya kayak kamu masih sama seperti dulu Gi.
Tidak ada balasan lagi dari Gian yang mungkin terburu-buru berangkat sampai melupakan ponselnya.
Selesai membaca isi pesan chat singkat itu. Tidak lagi berpikir positif Zaka yang tersulut emosi apalagi ketika melihat foto profil atas nama Sendy adalah laki-laki. Membuat Zaka menebak bahwa Gian telah mengkhianati nya.
Zaka yang tau di mana pastinya pasar malam itu berada pun segera melompat keluar jendela kamar Gian untuk secepatnya menyusul Gian ke sana.
Gita menunjuk ke arah seseorang itu berdiri membelakangi Gian dan Gita,"Itu Sendy bukan sih?".
"Iya kayak",Gian berjalan mendekat di ikuti oleh Gita bersamanya.
Sendy berpaling melihat ke belakang saat seorang lelaki di depan memberitahunya,"Gian, Gita",sapa Sendy senang langsung merangkul keduanya.
Gian sudah lepaskan diri dari pelukan Sendy. Hanya Gita yang enggan,"Kamu kenapa bisa tinggi gini Sen, aku ko tetep segini-gini ajak",curhatan Gita sedih dalam pelukan hangat Sendy.
Mengelus punggung Gita,"Sabar, sabar".
Mendorong menyudahi pelukan,"Sabar, sabar, otak mu di dengkul",semprot Gita.
Menghapus bui bening air mata di sudut matanya,"Mentang-mentang sudah tinggi, cantik, seenaknya jidat kalau ngomong",semprot Gita kembali ketus.
Gian yang dari tadi menyimak membuka suara,"Kamu juga cantik Git, kalau tinggi badan syukuri saja. Siapa tau jodoh mu nanti dapat yang tinggi ganteng juga",
__ADS_1
"Buah ganti kesabaran kamu menerima apa adanya diri kamu",timpal Sendy menambahi.
"Hemm", berdehem.
"Ko hen sih Git",ucap Gian.
"Iya aku mensyukuri pemberian Tuhan, dan aku juga bersyukur di kelilingi teman-teman tiang listrik semua",ucap Gita masih sedikit bernada jutek.
Baik Gian ataupun Sendy hanya bisa menyungging senyum tipis melihat tingkah lucu Gita yang ngambek.
Gian yang baru mengingat atau baru menyadari laki-laki yang semenjak tadi ada di samping Sendy pun bertanya,"Siapa dia Sen?".
Mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri pada Gian,"Doain jadi calon jodohnya".
"Hahahhh.....Iya amin, amin",balas Gian menerima uluran tangan itu.
Mendorong dada lelaki ini pelan dengan sikunya,"Aduh",rintihnya.
"Dia cowok ku, Vio",ucap Sendy memperkenalkan nama asli lelaki di samping ini.
Mereka berempat melanjutkan mengobrol di salah satu kedai tongkrongan yang ada sebelum melanjutkan perjalanan naik beberapa wahana. Hingga di tengah-tengah asik-asiknya mengobrol, Vio yang duduk di samping Gian tiba-tiba di tarik paksa keluar dari tempat duduknya. Dan langsung mendapat tinjuan keras di wajahnya sampai tubuhnya tersungkur.
Saking syoknya Sendy juga Gita hanya bisa terdiam duduk di tempat nya, mematung. Hanya Gian yang sepenuhnya sadar segera menarik lelaki yang menghajar Vio menjauh.
Menghentikan dengan memegangi lengan Zaka erat-erat dengan kedua tangannya,"Kalau kamu tidak mau berhenti kita udahan sampai di sini",tegas Gian langsung membuat Zaka menghentikan kegiatan nya.
Zaka langsung melepaskan cengkraman tangannya pada kerah pakaian Vio, dan berpaling melihat Gian dengan tatapan tajam marah.
Setelah sudah cukup jauh. Zaka menghentikan langkah kaki yang di ikuti oleh Gian juga. Gian yang marah tanpa rasa takut langsung terfokus membalas menatap Zaka tidak kala marah.
"Apa-apa tadi Zaka?Kenapa kamu memukul Vio?Apa salah Vio?",bentak Gian bernada tinggi."Tidak semua masalah harus di selesaikan pakai otot Zaka. Bisakah sekali saja kamu selesaikan masalah mu dengan cara baik-baik",sambungnya tidak kala membentak marah.
Bernada rendah ragu-ragu,"Laki-laki tadi bukan Sendy?",
Terdiam masih terfokus melihat Zaka.
Memberikan ponsel pada pemilik nya,"Aku baca pesan di ponsel mu. Kalau kamu mau ketemu dengan Sendy. Aku....".
Sahut Gian tanpa menunggu Zaka selesai menjelaskan."Kamu pikir apa?Kamu pikir Sendy adalah laki-laki tadi. Dan kamu pikir aku berselingkuh. Lalu kamu marah dan menyusul ku dan menghajar orang yang kamu pikir adalah Sendy".
Menitihkan air mata,"Kamu jahat Zaka".
Memegangi kedua bahu Gian dan sedikit membungkuk,"Maaf Gi, maaf, aku tadi tersulut emosi aku hanya tidak mau kehilangan kamu",tertunduk enggan menatap langsung ke arah Gian.
"Kalau gitu berhentilah berkelahi",minta Gian pada Zaka."Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa lagi, berhentilah berkelahi berhenti ikut tawuran. Dan selesai masalah mu dengan cara baik-baik bukan dengan cara marah-marah seperti tadi".
Terfokus melihat Gian yang masih marah padanya,"Aku akan berhenti".
Zaka mendekat dan merangkul pinggang Gian,"Maafkan aku Gi",ucap Zaka sekali lagi.
"Iya, kamu juga harus minta maaf sama Vio yang sudah kamu hajar tadi",melepaskan pelukan nya dari Zaka."Dan kamu harus siap-siap di amuk pacarnya".
__ADS_1
"Laki-laki tadi pacarnya Gita?",
Menggeleng ringan,"Bukan, Vio pacarnya Sendy".
Melihat Gian masih dengan ekspresi wajah tidak percaya,"Sendy itu...... perempuan",yang di yakin oleh anggukan kepala dari Gian.
"Ayo balik, kamu harus minta maaf sama mereka",ajak Gian memaksa menarik pergelangan tangan Zaka untuk mengikuti nya.
Zaka kembali ke tempat tadi. Vio yang melihat kedatangan Zaka bersama Gian. Berusaha untuk terlihat tenang walaupun sebenarnya cukup takut terlalu dekat lagi dengan Zaka. Hingga Zaka membuat nya terkejut, karena Zaka yang tadi terlihat sangat mengerikan seakan-akan mau mengambil nyawa. Justru saat ini tengah mengulurkan tangannya untuk meminta maaf.
"Sorry soal tadi, gue pikir lu tadi selingkuhan nya Gian. Jadi gue berencana bunuh lu", ucapan Zaka yang langsung mendapatkan bentakan dari Gian yang memanggil namanya."Zaka!",
Tersenyum tipis,"Maafkan gue, pliss, gue takut kalau Gia marah",ucap Zaka yang membuat mereka bertiga langsung terfokus melihat Gian bersamaan heran. Tentu heran, bagiamana bisa seorang perempuan sesederhana seperti Gian di takuti oleh monster.
Bernada sedikit gugup,"Iya, santai saja. Gue sudah maafin".
"Thanks",balas Zaka menyungging senyum ramah. Membuat mereka bertiga kembali menatap Gian heran. Juga kagum pada Gian yang bisa menjinakkan monster liar seperti Zaka.
Sesaat kemudian setelah puas bermain-main. Zaka yang masih ikut bersama mereka tiba-tiba bertanya pada Gita,"Git bisa antar Gian pulang?".
Menggunakan canggung,"Iya bisalah kita kan satu gang".
Terfokus melihat Zaka,"Kamu tidak mau pulang bareng kita?".
"Aku baru ingat kalau aku masih ada urusan".
"Urusan apa?",tanya Gian pada Zaka.
Zaka tersenyum tipis menyadari maksud dari pertanyaan yang di berikan oleh Gian untuk nya,"Aku enggak akan ikut tawuran, aku hanya mau menemui teman ku sebentar terus pulang. Nanti sampai rumah aku akan langsung telfon kamu".
"Aku pergi dulu",pamit Zaka pada Gian yang tidak merelakan kepergian Zaka kembali masuk ke dalam area pasar malem.
++++++
Menarik tangan seseorang yang sedang sendirian berdiri di belakang salah satu tenda wahana permainan. Ia menarik seseorang itu untuk menjauh sejauh-jauhnya dari area tersebut.
Seseorang yang menyadari siapa yang menariknya menjauh berkata,"Zaka...lu ngapain disini?".
Brugkkk.....Belum sempat mendapatkan penjelasan Zaka justru memberikan bogem mentah tidak terlalu kuat mendarat di pipi Ranggil, seseorang yang ia tarik pergelangan tangan nya agar ikut bersamanya.
"Gila lu!!",umpat Zaka geram."Lu mau transaksi narkoba kan??",tebak Zaka yang di benarkan dengan ekspresi wajah Ranggil yang semakin terkejut dengan pernyataan nya.
Namun bersamaan dengan itu Ranggil juga meninggikan nada bicara nya,"Iya gue gila....",manik mata berkaca-kaca."GUE TIDAK TAU LAGI HARUS APA?GUE TIDAK BISA PAKAI UANG PEMBERIAN LU, KARENA GUE TAU GUE TIDAK BISA MENGEMBALIKAN. GUE JUGA TIDAK ENAK SAMA LU, lu sudah terlalu baik buat gue",yang merendahkan nada bicara nya di akhir kalimat.
Menitihkan sedikit air mata yang langsung Ranggil hapus,"Gue harus segera cari uang Zaka. Buat bayar hutang, buat biaya sekolah kedua adik gue".
Menghela nafas berat sabar,"Lu adalah kepala keluarga. Pernah lu berpikir apa yang akan terjadi jika lu tertangkap. Keluarga lu akan jauh lebih menderita dan hancur. Lu tau hukuman bagi seorang pengedar sangat berat Ranggil. Lu tidak akan bisa lolos dengan mudah dari hukuman itu, lu bisa di hukum mati".
"Gue kasih uang ke lu itu ikhlas, gue tidak minta imbalan apapun dari lu. Tapi kalau lu maksa mau balikin, maka balikin uang itu dengan kesuksesan lu. Tunjukkan ke gue kalau bantuan yang gue berikan itu tidak sia-sia",tutur kata Zaka yang seperti berhasil meluluskan hati Ranggil yang hanya bisa tertunduk melesu.
Menepuk bahu Ranggil,"Berhenti Ren sebelum terlambat, berada di penjara tidak enak itu Ren",
__ADS_1