Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Berangkat bareng


__ADS_3

Pagi-pagi sekali. Seorang Jonathan di buat terkejut untuk pertama kalinya dengan perubahan penampilan anak sulung nya. Saking terkejutnya Jon sampai tidak memalingkan perhatian penglihatan nya sedikitpun untuk berhenti melihat ke arah Zaka.


Masih berdiri di tempat yang sama,"Kamu ada masalah apa?",tanya Jon pada Zaka.


Karena suasana mood Zaka di pagi ini sudah membaik walaupun semalam sempat beradu mulut dengan Jon. Zaka menangapi peryataan Jon dengan tersenyum tipis.


"Aku berangkat Yah", pamit Zaka yang tidak pernah Zaka lakukan ataupun pernah tapi itu pasti sudah lama sekali terjadi.


"Ha....iy... iya",gugup Jon melihat kepergian Zaka yang semakin menghilang dari perhatian nya.


"Gia di tungguin temen kamu di luar",panggil kakek Gian membuat Gian yang masih di dalam kamar buru-buru keluar menenteng tas sekolah nya, siap berangkat sekolah.


Di teras rumah Gian melihat kakeknya sedang ngobrol santai dengan seseorang yang ternyata adalah Zaka. Obrolan keduanya terlihat sangat akrab sekali, seakan-akan sudah sering bertemu.


Dan yang paling membuat Gian heran adalah cara berpakaian Zaka. Lelaki berandalan yang selalu mengenakan pakaian acak-acakan tidak karuan itu, saat ini berpenampilan rapi rambut klimis yang tertata rapi, kemeja di masukan, dasi rapi. Intinya di pagi ini Zaka terlihat sangat rapi seperti siswa sekolah pada umumnya yang rajin, pintar, dan baik-baik.


Akhirnya di pagi itu Zaka mendapatkan izin untuk mengajak Gian berangkat sekolah bersama-sama. Setelah usahanya berhasil mengambil hati kakek Gian.


Baru saja akan memasuki pekarangan sekolah. Gian sudah menjadi pusat perhatian oleh seluruh mata yang tertuju padanya. Dari mulai yang terkejut kaget, heran, kagum dlll.


Hingga motor Zaka berhenti di parkiran sekolah. Gian yang sudah beranjak turun dari atas motor di sibukkan melepaskan helm yang ia kenakan.


"Sini",Zaka yang langsung membantu Gian melepaskan helm yang ia kenakan. Setelah nya meletakkan helm di atas setang setir motor.


Masih di tempat yang sama memperhatikan Zaka yang mula mengeluarkan kemeja sekolah yang dikenakan nya, di susul melepas beberapa kancing kemeja atas sampai memperlihatkan kaos hitam yang dikenakan, melonggarkan dasi yang ia kenakan, dan di susul mengacak-acak surai rambut sampai sedikit berantakan.


"Ganteng yang tadi",ucap Gian dengan kesadaran penuh atau tidak. Tapi setelah nya Gian langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.

__ADS_1


Tersenyum tipis yang manis,"Kenapa tidak bilang dari tadi Gi. Sudah terlanjur jadi keren lagi".


Ekspresi wajah jutek,"Keren untuk menarik perhatian para betina",ujar ketus Gian sebelum berlalu pergi meninggalkan Zaka tanpa berpamitan.


Menatap kepergian Gian. Zaka hanya bisa terdiam sembaring tetap tersenyum tipis manis mengingat-ingat ekspresi wajah lucu cemburu Gian yang baja ia lihat.


+++++++


Gian kembali akan pergi ke perpustakaan sekolah untuk mengembalikan beberapa buku dan membaca beberapa buku. Di perjalanan nya ia tanpa sengaja berpapasan kembali dengan Rifqi.


Ke awal mula bertemu. Namun kali ini di karena Gian melamun, ia jadi tidak melihat jalan dengan baik. Sampai tanpa sengaja menabrak tubuh Rifqi, tidak kuat sehingga ia tidak sampai terjatuh seperti di awal pertemuan dulu.


Merasa bersalah Gian pun meminta maaf,"Maaf tidal sengaja",


"Iya, maaf soal kejadian di perpustakaan",kata Rifqi yang belum mendapatkan balasan dari Gian langsung di sambung dengan berkata,"Aku tidak pantas di manfaatkan, aku juga tidak akan memaksa kamu untuk memaafkan ku".


"Permisi",pamit Gian pergi yang hanya mendapatkan respon anggukan kepala ringan dari Rifqi yang masih terdiam syok. Tidak percaya kalau Gian akan memaafkan nya setelah perlakuan buruk yang telah di lakukan nya tepo hari.


Gian duduk seorang diri fokus membaca buku yang tengah ia baca. Sampai seseorang tiba-tiba meletakkan beberapa tumpuk buku di depan Gian membuat perhatian Gian mendongak untuk melihat nya.


Memang ekspresi wajah heran,"Kak Ranggil",seru Gian terfokus melihat ke arah Ranggil yang tertawa canggung.


"Boleh gabung?",tanya Ranggil yang mendapatkan balasan anggukan kepala ringan dari Gian.


"Kak Ranggil sehat?Maksud ku kakak kan satu grup sama Zaka".


"Kamu pikir gue yang tiap hari sama Zaka juga memiliki sikap yang sama seperti Zaka",ucap Ranggil tidak terima.

__ADS_1


Gian yang merasa tidak enak memilih untuk terdiam canggung.


"Gue juga pingin pinter seperti Zaka.....pacar lu yang terlihat berandalan tawuran kesana kemarin, ternyata memiliki otak yang encer Gia",cerita Ranggil membuat Gian belum sempat melanjutkan membaca bukunya kembali.


"Iya sudah tau",balas enteng Gian.


"Lu ko tau, jangan-jangan hubungan kalian...".


"Apaan sih kak. Kami hanya pacaran biasa, aku tau juga karena Zaka pernah mengerjakan pr ku terus aku dapat nilai bagus", Ranggil mendengarkan sesama sembaring manggut-manggut faham.


"Berarti lu juga sudah tau kalau Zaka ternyata lebih tua dari lu",


"Iya tau lah kak, Zaka kan seumuran dengan kak Ranggil".


Mengerutkan keningnya,"Enggak Gi. Zaka jauh lebih tua dari gue".


Terdiam memperhatikan menunggu kelanjutan perkataan Ranggil,"Zaka sudah 20 tahun Gi, tahun depan dia sudah 21 tahun".


"Ngaco iya kak",


"Yey di kasih tau malah gitu, nanti tanya sendiri sana sama Zaka",Ranggil mulai fokus membuka halaman buku di depannya untuk mulai di baca.


Malam hari nya. Zaka yang tidak pernah di sambut kedatangan oleh Gian. Di malam ini, Gian justru sangat antusias menunggu kedatangan Zaka.


Namun di tunggu kala tunggu, sampai Gian mengabaikan waktu belajarnya. Zaka tidak kunjung datang, bahkan sampai akhir Gian terlelap tidur karena kelelahan.


Di pagi harinya saat Gian bangun tidur. Gian juga tetap tidak mendapati tanda-tanda Zaka masuk ke dalam kamarnya. Karena jika Zaka datang, pasti ada sedikit bercak tanah di bawah jendela yang di bawah alas sepatu yang Zaka pakai. Namun Gian tidak melihat itu, yang berarti Zaka emang tidak datang semalam. Zaka juga tidak mengirim pesan apapun ke Gian.

__ADS_1


__ADS_2