
Jam makan siang telah tiba. Gian pergi ke kantin menemani Gita. Tapi di tengah-tengah jalan Gita justru di suruh duluan ke kantin oleh Gian yang ingin pergi ke toilet, dan Gian menolak tawaran Gita yang mau mengantarnya. Gian memaksa Gita untuk duluan ke kantin dengan alasan biar dapat tempat duduk sebelum penuh semua.
Selesai di kamar mandi, saat hendak keluar kamar mandi. Pintu kamar mandi yang Gian pakai tiba-tiba tidak bisa di buka. Bisa di tebak kenapa?Iya, Gian sedang terkunci dari luar di dalam kamar mandi.
Gian berteriak-teriak beberapa kali tapi tidak ada satupun orang yang mendengar nya. Ia hendak menghubungi Gita untuk meminta bantuan, tapi tiba-tiba seember penuh air menguyur sekujur tubuhnya. Membuat hp murahan Gian langsung mati.
'YaTuhan',batin Gian. Di susul dengan mengendor-gedor pintu kamar mandi."BUKA!SIAPA KALIAN?BUKA PINTUNYA...",minta Gian sedikit berteriak di dalam kamar mandi.
"Buka....aku tidak punya salah apapun dengan kalian buka pintunya...",Gian yang masih meminta kepada entah siapa yang ada di luar kamar mandi untuk membukakan pintu, namun tak seorangpun menyahut maupun mau membukakan pintu kamar mandi.
Hampir satu jam lamanya Gian bertahan terkunci di dalam kamar mandi dengan keadaan pakaian basa kuyup sekujur tubuh. Gian sudah sangat kedinginan, raut wajahnya mulai terlihat memucat. Ia sudah tidak memiliki banyak tenaga untuk berteriak lagi.
Sudah akan putus asa tiba-tiba berkata Zaka melintas dalam pemikiran Gian,'Milik Zaka tidak pernah takut pada siapapun di mana pun',entah kenapa Gian jadi memilih kekuatan lagi.
Gian berteriak sekencang mungkin untuk meminta pertolongan dari luar kamar mandi. Hingga akhir ada seseorang merespon teriakannya,"Gian, apa itu kamu?",tanya Gita.
"Iya Git, aku terkunci di dalam kamar mandi",ucap Gian bernada sesenggukan menahan tangis yang akan pecah, bahagia akhirnya akan ada yang menolong nya.
Tanpa membalas celoteh Gian lagi. Gita langsung membuka selotip pintu kamar mandi yang mengunci Gian. Di saat itulah Gita baru melihat betapa berantakan nya sahabatnya dengan pakaian sekolah yang sudah basah kuyup.
Tanpa perduli dengan pakaian basa Gian. Gita langsung memeluk Gian dalam pelukan, memenang Gian yang sangat kedinginan juga ketakutan.
"Aku pinjamkan pakaian ganti bentar, kamu aku tinggal di sini sendirian tidak papa?",tanya Gita yang sebenarnya tidak mau meninggalkan Gian. Tapi di satu sisi Gian juga harus segera ganti pakaian. Gian sudah sangat kedinginan, jika di biarkan Gian akan sakit.
Gian yang sangat letih hanya membalas dengan anggukan ringan.
Gita bergegas pergi mendatangi kelas yang di hari ini ada jadwal olahraga untuk meminjam pakaian olahraga.
Entah bagiamana caranya. Gita akhirnya kembali dengan membawa pakaian olahraga yang entah ia pinjam dari siapa.
Melihat Gian keluar kamar mandi dengan pakaian olahraga yang sudah kering. Gita menghela nafas lega,"Tuh kan di bilangin juga apa. Aku antar Gi, aku antar Gi. Tidak, tidak, tidak, kalau sudah jadi begini siapa yang salah",omel Gita layaknya emak-emak PPK .
"Maaf Git, biasanya kan baik-baik saja. Kamu juga tau itu",Gian bernada selembut mungkin.
"Yasudahlah ayo ke UKS saja, kamu istirahat saja di sana. Wajah mu itu kelihatan seperti hantu tau".
"Masak sampai segitu nya sih Git",Gian yang berpaling melihat ke arah cermin besar depan toilet. Dan baru melihat jelas jika wajah memang sangat pucat, mungkin ini terjadi karena ia kedinginan tadi.
Tidak mau kena omel Gita lagi. Gian akhirnya menuruti keinginan Gita yang menyuruh nya untuk beristirahat di UKS.
Sepanjang di UKS Gian yang seharusnya beristirahat justru terduduk melamun. Memperhatikan layar ponsel yang sudah mati, Gian berusaha menyalahkan nya kembali. Tapi sepertinya tidak bisa, ponselnya benar-benar rusak karena air tadi.
Dan karena kejadian di hari itu. Hampir tiga hari Gian langsung tidak masuk sekolah karena sakit. Gian demam tinggi di malam hari, dan berakhir terserang flu di pagi harinya. Bukan karena flu saja, tapi karena kepalanya ikut sangat pusing. Gian memutuskan untuk beristirahat di rumah seenggaknya sampai keadaan tubuh kembali membaik.
Selama sakit Gian juga masih belum mendapatkan kabar dari Zaka. Ahh...lupa bagiamana bisa mendapatkan kabar, kan ponsel Gian sudah rusak. Tapi jika pun begitu seharusnya Zaka datang mengunjungi nya. Tapi sampai tiga hari ini Zaka tidak datang sama sekali.
__ADS_1
Gian memang khawatir, tapi ia enggan terlalu memikirkan nya. Ia tidak mau kesehatan nya semakin memburuk karena terlalu banyak berpikir yang enggak-enggak.
Akan tetapi di malam itu. Gian terbangun dari tidurnya di malam hari karena mendengar suara hentakan kaki loncat masuk ke dalam kamarnya.
Lelaki itu sibuk melepaskan sepatu, sebelum berjalan keluar dari balik kegelapan mendekati tempat tidur Gian.
"Maaf baru bisa datang",ucap Zaka seseorang itu. Zaka berlalu duduk di depan Gian yang sudah terduduk,"Sudah makan, kalau belum tadi aku bawakan martabak manis".
"Sudah",balas Gian."Zak",
Entah kenapa perbedaan sikap Zaka sangat terlihat jelas sekali di malam ini. Tuturkan Zaka terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Iya?",
"Kunci pintu kamar ku", menyadari akan ketakutan Gian yang masih sama. Zaka tanpa penolakan langsung beranjak dari tempat duduknya. Untuk mengunci pintu kamar Gian dari dalam sesuai kemauan Gian.
Kini Zaka sudah kembali duduk di depan Gian. Menemani Gian memakan martabak manis yang ia bawa. Zaka juga sudah membawa minuman air mineral untuk Gian.
"Ponsel kamu rusak?",tanya Zaka pada Gian yang membalas dengan anggukan kepala."Setelah sembuh akan ku antar ke konter untuk di perbaiki",kata Gian sembaring menguyah makanan dalam mulut nya.
"Biar ku antar".
"Tidak perlu....".
"Aku tidak suka penolakan", lembut namun tidak bisa di bantah.
Mengehentikan makannya,"Kenapa sudah berhenti?",tanya Zaka yang tau.
Menutup kotak martabak kembali,"Sudah kenyang, tadi aku sudah makan banyak".
Zaka pun mengambil itu dan menyisihkan nya. Agar tidak menggangu Gian yang saat ini sedang meneguk air mineral.
Masih memegangi botol minum,"Kemarin kamu kemana?",tanya Gian yang ingin sekali mengetahui pergi kemana Zaka selama beberapa hari ini.
"Aku ada urusan dengan polisi",Gian yang semakin terfokus melihat lawan bicara."Bukan karena tersandung masalah. Tapi ada urusan lain",perjelas Zaka untuk membenarkan maksud perkataan nya.
"Hemm...... Urusan apa yang sampai empat hari tidak ada kabar".
"Keponya....kalau kangen bilang saja",ujar Zaka di susul tertawa renyah di barengi mencubit pipi Gian gemas.
Gian yang tersipu malu karena perkataan nya sendiri, memilih untuk terdiam menahan memerah panas di pipinya.
"Zak",seru Gian.
"Hemmm?",
__ADS_1
"Kata kak Ranggil kamu sudah umur 20 tahun. Apa itu benar?".
"Kalau iya kamu tidak mau sama aku yang sudah tua ini",
"Ehh.....bukan gitu. Aku hanya kepo, dan sempat berpikir.....Kalau kamu pernah tinggal kelas",
"Hhhhhhhahahahahahh......",Zaka tertawa terlalu los sampai Gian harus mengingat kan dengan mencubit lengan tangan nya.
"Ittss...",rintih Zaka langsung berhenti tertawa.
"Tidak ada yang lucu Zaka",tegas Gian menatap kesal. Karena sempat panik karena takut suara Zaka di dengar kakeknya.
Tersenyum tipis, kembali terfokus melihat Gian."Bukan tinggal kelas, tapi aku yang bolos sekolah sampai dua tahun. Tapi sama saja iya, ujung-ujungnya tinggal kelas juga".
"Aku bolos karena berurusan dengan polisi dan sempat di penjara selama tiga bulan. Setelah keluar dari penjara aku di kurung ayah di rumah. Ayah ku menawarkan sekolah homeschooling tapi aku tolak. Selama aku di kurung aku masih sering keluar diam-diam di malam hari. Untuk ikut keributan, dengan bekal nekat karena aku tidak tau informasi apapun. Ponsel ku waktu itu masih di sita ayah",menjedah cerita nya untuk mengambil nafas sebentar."Tapi pada akhirnya aku ketahuan, saat aku di tangkap polisi lagi karena ikut tawuran. Aku tidak di tahan, ayah bayar uang tebusan. Tapi setibanya di rumah aku kena marah dan ujung-ujungnya kembali di kurung. Yang kedua kalinya ini aku sama sekali tidak bisa kabur selama dua tahun".
Gian yang antusias mendengar sesama cerita Zaka,"Nakal sekali iya",respon Gian.
Menggaruk-garuk surai rambut belakang kepala nya yang tidak terasa gatal,"Hahaha.....iya, entah kenapa aku benar-benar sangat nakal. Padahal adik laki-laki tidak",kata Zaka yang membuat Gian baru mengetahui jika Zaka punya saudara.
"Kamu punya adik?",tanya Gian memastikan.
Terdiam terfokus melihat lawan bicara,"Iya, almarhum adik laki-laki ku".
Mendekap mulutnya,"Adik mu sudah.....".
"Adik di tabrak pengendara motor mabuk sepulang dari rumah temen nya.... Memiliki luka cukup serius di kepala, adik ku jadi tidak terselamatkan saat dalam perjalanan ke rumah sakit",cerita Zaka kali ini dengan sedikit menurunkan perhatian nya. Menyembunyikan kesedihan di dalam matanya.
Memegangi pipi Zaka membuat perhatian Zaka kembali terangkat melihat ke arahnya."Adik kamu pasti bangga punya kakak laki-laki sekuat dan seberani kamu...,"tersenyum tipis hangat."Kamu hebat dengan versi mu sendiri",kata Gian yang menggerakkan Zaka untuk langsung memeluk dirinya.
Hingga kedua saling berciuman, namun segera di sudahi oleh Gian yang baru ingat kalau dirinya sedang flu.
Mendorong Zaka agar menjauhinya,"Berhenti Zaka nanti kamu ikutan flu".
"Tidak papa".
"Zaka.....",
"Oky, Oky".
"Aku mau istirahat, sana pulang".
"Tega sekali Gi, calon suami di suruh istirahat juga apa. Ini calon suami malah di usir".
"Tapi Zaka nanti kamu iku.....",tanpa memperdulikan larangan Gian. Zaka naik saja ke atas tempat tidur. Ikut nimbrung rebahan di samping Gian yang masih terduduk.
__ADS_1
Terfokus melihat Gian,"Hanya numpang tidur tidak lebih".
Menghela nafas lelah untuk mencari keributan. Gian memilih untuk mengabaikan keberadaan Gian, dan memilih untuk merebahkan menyelimuti tubuhnya tidur membelakangi Zaka. Yang langsung memeluk tubuh Gian dari belakang.