
Di hari Minggu yang cerah. Gian bagun pagi-pagi sekali, terburu-buru keluar rumah. Untuk segera berjalan keluar menghampiri Kakek nya yang tengah menunggu ia di teras rumah.
"Maaf lama Kek",ucap Gian setelah mengunci pintu.
"Tidak papa, lagian masih pagi juga".
Minggu ini Gian akan menemani Kakek nya berjualan di Toko sembako Kakek Gian yang di sewa kakek di pasar tradisional yang tidak terlalu jauh dari perkampungan nya.
Setelah beberapa menit buka akhirnya beberapa pembeli mulai berdatangan dan semakin banyak. Sampai membuat Gian dan Kakek nya hampir kewalahan.
"Ada yang bisa saya bantu Kek?",tanya seorang lelaki yang tengah berdiri di samping Kakek Gian.
Menengok untuk melihat pemilik sumber suara,"Tidak papa Kakek suruh-suruh?",tanya Kakek Gian balik pada Zaka seseorang lelaki ini.
Tersenyum hangat sebelum berkata,"Makin banyak di suruh malah makin seneng Opa".
Dari tempat yang tidak terlalu jauh. Gian yang semenjak tadi memperhatikan,'Ngapain Zaka kesini?",pikir Gian.
Zaka mulai membantu mengangkat beberapa karung beras berbagai ukuran untuk di pindahkan ke troli dorong yang akan membuat nya membawa lebih banyak beban untuk di bawa ke mobil pembeli nya.
Hal itu terus Zaka lakukan sampai beberapa jam lamanya, karena semakin siang semakin banyak pengunjung yang membeli bahan kebutuhan di toko Kakek Gian.
Hingga jam 3 siang sore barulah toko Kakek Gian berangsur-angsur sepi pembeli. Sehingga Zaka sudah dapat duduk tenang di kursi plastik yang tersedia sembaring mengibas-ngibaskan pakaian kemeja yang ia gunakan untuk membuat angin. Walaupun saat ini Zaka hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam. Akan tetapi karena terlalu banyak ia melakukan pekerjaan sepanjang hari membuat tubuhnya penuh peluh keringat, kepanasan.
"Maaf iya Nak Zaka. Kakek banyak minta tolong",kata Kakek Gian menghampiri Zaka yang tengah duduk beristirahat.
"Saya justru senang Opa suruh-suruh seperti tadi. Dengan begitu saya jadi bisa sedikit berolahraga",di susul tertawa renyah."Tiap Minggu di rumah saya banyak rebahan dari pada bekerja seperti sekarang", sambungnya sedikit bercerita keseharian nya di hari Minggu.
Gian datang menghampiri membawakan kantung plastik hitam, dan memberikannya kepada Kakek nya."Di ambil, jangan di tolak pemberian dari Kakek".Minta Kakek Gian yang memberikan kantung plastik itu pada Zaka.
Zaka mau menolak tapi Kakek Gian terus memaksa,"Nanti sampai rumah minta ibu mu memaksanya".
Tersenyum tipis setelah menerima pemberian,"Iya, nanti saya akan minta tolong bibi buat memasaknya".
"Ibu kamu di mana?Kenapa minta tolong Bibi? Masakan seorang ibu biasanya jauh lebih enak".
"Bunda saya sudah meninggal",kata Zaka dengan bernada tenang. Tapi berhasil membuat Gian terkejut, di karenakan Gian baru tau jika lelaki yang selama ini bersama nya selama beberapa bulan ternyata sudah tidak memiliki sosok ibu.
Padahal sudah beberapa bulan lamanya Gian dekat dengan Zaka. Tapi kenapa baru tau sekarang. Mungkin terlalu diamnya Gian dan terlalu kuat nya privasi Zaka. Membuat Gian baru menyadari kebenaran. Yang membuat Gian merasa sangat bersalah selalu berprasangka jelek terus menerus tentang Zaka.
"Inalillahi, terus kamu sekarang tinggal sendiri?".
"Saya tinggal sama ayah",balas Zaka masih bernada tenang."Telur biasanya, enaknya di masak apa iya Opa. Selain telur ceplok dan dadar?".
"Opor telur, Bali telur....bakso isi telur kalau bisa",di susul tertawa renyah pada Zaka yang ikut tertawa.
Sampai beberapa pembeli kembali datang. Dan kali ini bersama dengan kedatangan Roman ke toko ini. Kakek Gian segera beranjak dari tempat duduknya,"Ambilkan Zaka minuman di kulkas Gi",minta Kakek Gian yang sebelum ini menyuruh Zaka untuk duduk beristirahat saja karena sudah ada Roman yang datang untuk membantu.
Gian datang dengan membawa satu botol air mineral dingin yang di berikan pada Zaka yang langsung meneguk minuman itu.
__ADS_1
Setelah nya. Zaka hanya terdiam sembaring terus memperhatikan bagaimana Kakek Gian dan Roman berinteraksi sangat dekat.
Gian yang waktu itu ikut memperhatikan apa yang tengah di perhatikan Zaka. Dan tau apa yang sedang Zaka pikir kan, berkata,"Tidak perlu iri sama Abang ku. Kamu tetap yang pertama ko",
Zaka berpaling melihat Gian dan tersenyum hangat yang manis, seneng. Juga terlihat sangat puas.
Sesaat kemudian setelah toko sudah sepi kembali. Zaka beranjak dari tempat duduknya, untuk berpamitan pulang kepada Kekek Gian.
"Tadi naik motor?",tanya Kakek Gian yang masih menjabat tangan Zaka.
Zaka mengangguk,"Iya Opa".
Belum melepaskan jabatan tangan Zaka. Kakek Gian justru mengelus bahu Zaka,"Hati-hati di jalan jangan ngebut, alon-alon sepenting selamet tekok omah".Ucap Kakek Gian di campur dengan berbahasa Jawa Alus.
"Siyap Opa",balas Zaka. Lalu di susul berpaling ke arah Roman yang saat itu tengah memperhatikan."Duluan bro".
"Siyap",balas Roman ramah.
Sementara untuk Gian. Zaka hanya melihat nya saja sekilas tanpa mengatakan sepatah katapun, namun seperti Gian mengerti sesuatu dari obrolan telepati yang tidal Zaka ucapkan secara lisan hahahhh...
Next.....
Kembali ke rumah nya. Mood Zaka yang awalnya sangat bagus justru berganti 180° saat memasuki ruangan tamu rumah. Tepat saat Zaka melihat Ayahnya tengah terduduk di sova tunggal. Yang mengarah langsung ke arah depan jalan utama masuk rumah.
"Apa yang sedang kamu lakukan di pasar?",tanya Jon tanpa merubah posisi duduk dan perhatian nya melihat ke arah Zaka.
"ZAKA",bentak Jon beranjak dari tempat duduknya. Menatap tajam ke arah Zaka yang justru membalas dengan senyuman sengit.
Tidak mau mempertanggung jawabkan perkataannya yang sudah membuat ayahnya naik pital. Zaka melengos begitu saja pergi meninggalkan ruang tamu.
"BERHENTI ZAKA!!",Tegas Jon yang tidak di hiraukan oleh Zaka. Yang pada akhirnya ia hanya bisa menghela nafas kasar membiarkan Zaka pergi.
Zaka berlalu pergi ke dapur. Menghampiri art rumahnya yang mungkin sedang sibuk mempersiapkan makan malam.
Di dapur Zaka meletakkan kantung plastik tadi di atas meja,"Bi",panggil Zaka.
"Ada yang bisa bibi bantu Tuan muda?",tanya Art ini.
"Bibi bisa masakin saya opor telur?".
"Bisa".
Bersemangat senang,"Buatin iya, bi. Yang enak....Nanti kalau sudah matang bilang ke saya".
"Pakai telur yang aku bawa saja bi".
"Baik Tuan muda".
Zaka berlalu pergi meninggalkan dapur, membiarkan bibi art rumah nya memasak dan enggan untuk menganggu.
__ADS_1
Ia pergi ke kamar untuk mandi dan beristirahat, sebelum akhirnya notifikasi panggilan seluler suara masuk ke dalam ponsel yang merusak rencana istirahat Zaka.
Tersambung.
*Zaka jangan lagi dekat-dekat dengan Tio",pesan Alan dari seberang sana pada Zaka di seberang sini.
*Gue tadi mendapatkan informasi dari Abang gue kalau Tio sudah masuk daftar hitam buku buronan kriminal bandar narkoba dan obat-obatan terlarang".
*Ingat gue Zaka yang keras kepala, jangan pernah lagi ketemu sama Tio. Dan jangan pernah lagi berhubungan dengan nya".
*Yang kemarin aman?".
*Aman, karena dia pengedar baru jadi belum menjadi target pencarian".
*Thanks infonya".
*Okey".
Panggil di akhir sepihak oleh Zaka dari seberang sini.
Next...
Menjelang malam hari. Yang entah sudah berapa lama tidak pernah terjadi. Zaka tiba-tiba sudah ada di meja makan lebih dulu dari ayahnya.
Membuat Jon cukup terheran-heran. Bahkan saat ia sudah duduk di tempat nya bisa, putra sulung yang selalu enggan untuk bersama dirinya selalu pergi meninggalkan meja makan untuk makan sendiri di tempat lain. Tapi di malam ini berbeda, Zaka tetap stey ditempat nya duduk menikmati menu makan malam nya. Terselip rasa heran juga perasaan seneng. Dan pemikiran jika putra sulung sudah berangsur-angsur mulai memaafkan dirinya.
Selesai makan duluan Zaka beranjak dari tempat duduknya,"Aku duluan",pamit Zaka sebelum benar-benar pergi.
Walaupun terdengar kaku dan tidak sopan, tapi itu cukup membuat Jon terkejut,"Ha..h?Iya",membuat nada bicaranya terdengar gugup.
Masih dengan menatap kepergian putra sulung nya yang semakin menghilang dari perhatian nya. Jon tiba-tiba menurunkan perhatian nya muram sedih.
Ia teringat bagaimana kalut dirinya saat itu karena dikendalikan emosi. Sampai membuat putra sulung nya sendiri bersimbah darah di tangannya. Syukurlah waktu itu Tuhan masih memberikan banyak kesempatan kehidupan pada putra sulung nya. Sehingga putranya bisa selama walaupun bekas luka fisik, goresan panjang pedang itu tidak akan bisa hilang. Begitu juga dengan hubungan nya yang berubah asing setelah peristiwa tersebut.
Jon pernah berpikir untuk meminta maaf, tapi ia selalu sibuk bekerja. Ia juga jarang sekali bertemu dengan Zaka yang sangat jarang pulang ke rumah semenjak kejadian tersebut. Sehingga hubungan keduanya semakin asing hingga sekarang, karena bertegur sapa pun tidak pernah keduanya lakukan.
Keringat dingin bercucuran deras kelopak mata terpejam tapi raut wajah gelisah. Gian berlari sekuat semampunya untuk menghindar dari kejaran para berandalan yang sedang mengejar dirinya.
Sampai tiba di ujung gang Gian hampir tertabrak motor dari arah lain, jika saja motor itu tidak berhenti tepat sebelum menyentuh Gian.
Sementara Gian sudah tersungkur lemas kaget. Apalagi setelah tenaganya sudah cukup banyak terkuras setelah berlarian sepanjang malam ini.
"Gia",panggil nada suara laki-laki yang sedang ia tunggu-tunggu kehadiran sejak tadi.
Gian langsung mendongak sebentar sebelum memeluk erat pinggang Zaka, namun segera Gian sudahi. Dan berkata panik."Zaka ayo cepat pergi. Sebelum mereka datang Zaka, ayo",di barengi terburu-buru beranjak bangun kembali.
Sayangnya ajakan Gian terlambat, karena para kelompok lelaki berandalan itu sudah dekat dengan mereka berdua.
Zaka menggenggam erat pergelangan tangan Gian,"Jangan jauh dari ku, tetep berada di belakang ku",minta Zaka bernada tegas melepaskan genggaman tangan nya.
__ADS_1