Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Ketulusan


__ADS_3

Gian mengikuti perintah Zaka untuk tetap berada di belakangnya. Sementara Zaka mengambil langkah sedikit lebih ke depan. Hingga salah seorang lelaki menyerang Zaka terlebih dahulu dengan membabi buta. Tidak hanya berkelahi biasa karena hampir sebagian dari mereka semua membawa benda tajam.


Hanya Zaka seorang yang tidak membawa senjata apapun. Walaupun demikian Zaka masih bisa menguasai perkelahian, ia juga berhasil merebut salah satu senjata lawan. Untuk ia pergunakan melawan.


Namun Zaka tidak menyadari satu hal tentang,"Berhenti sebelum leher wanita cantik ini putus",memberikan peringatan bernada berteriak.


Zaka terdiam begitu juga musuh yang ikut terdiam mundur. Di saat itu Zaka berbalik badan untuk melihat Gian yang lehernya sudah berkalung kan celurit.


"Buang senjata mu",minta lelaki ini pada Zaka di turunin, walaupun saat itu sudah di larang oleh Gian.


Dalam gelengan kepala nya memohon agar Zaka tidak melakukan nya.'Tolong jangan di buangan, pegang saja jangan perduli kan aku'.


"Bunuh dia",suruh lelaki ini kepada salah seorang anak buah nya yang terlambat Zaka sadari sudah siap di belakang nya. Tepat sesaat setelah berbalik badan ujung tajam katana langsung menggores tubuh Zaka, juga menusuk di bagian perut Zaka hingga tembus.


Bersamaan dengan itu Gian akhirnya di lepaskan menjadi sandera. Dengan di barengi dengan tumbangnya tubuh Zaka setelah katana itu tercabut dari perutnya.


Berlari mendekat,"Tidak, Zaka!!",teriak Gian melonjak bangun nafas ngos-ngosan sehabis lari maraton, tubuh yang penuh peluh keringat dingin. Bahkan tubuh sampai bergetar sampai sekarang saking takutnya. Gian juga sampai menangis tersedu-sedu takut.


Mimpi yang baru saja terjadi terasa sangat nyata sekali. Mengingat dan takut Zaka masih ikut tawuran lagi. Gian segera mengambil ponsel yang tergeletak tidak terlalu jauh dari tempat nya tidur untuk memastikan dugaannya salah.


Cukup lama Gian menunggu panggilannya terjawab, takut Zaka benar-benar ikut tawuran hari ini. Namun dengan sedikit harapan panggilan telepon itu akhirnya di angkat oleh pemiliknya di seberang sana.


Dengan suara berat serak, khas orang bangun tidur.*Ada apa sayang malam-malam telfon aku?".


Sedikit terbata-bata karena masih sesenggukan sehabis menangis.


*Ja..jangan bercanda Zaka. Kamu sekarang ada di rumah kan?".


*Iya. Kamu kenapa nangis?",bernada khawatir di seberang sana.


*Aku tadi mimpi buruk tentang kamu. Tapi sepertinya kamu ada di rumah jadi yasudah aku akan beristirahat lagi. Sudah tidak ada yang ku khawatir kan".


*Bentar, mimpi buruk apa?".


*Mimpi buruk tidak boleh di ceritakan Zaka. Sudah sana sambung tidur, maaf mengganggu waktu tidur mu".


Panggilan telfon di akhir sepihak oleh Gian di seberang sini.


Akhirnya Gian yang mendengar jelas suara Zaka yang ternyata baru bangun tidur. Yang berarti Zaka benar-benar sedang ada di rumah. Membuat Gian bisa bernafas lega.


Ia pun kembali meletakkan ponsel dan kembali menyambung tidur. Walau akan sedikit sulit karena masih terbayang-bayang tentang mimpi tadi.


Sesaat kemudian tiba-tiba Gian merasakan tangan dingin merangkul pinggangnya dari belakang. Sontak ia segera berbalik badan untuk memastikan itu bukan orang jahat di dalam mimpinya.


"Zaka....kamu ngapain kesini?",tanya Gian khawatir sadar sekarang sudah bukan siang lagi, tapi jam 1 malam.


Tersenyum tanpa rasa bersalah membuat khawatir,"Siapa yang bisa tidur lagi kalau kamu nangis kayak gitu tadi".Kata Zaka menjelaskan alasannya ke sini.


Merangkul Gian agar lebih dekat dengan nya,"Ayo sambung tidur lagi, ada aku jadi kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi",tutur Zaka merangkul Gian dengan kelopak mata yang sudah terpejam tidur.

__ADS_1


Gian yang sangat tidak menyangka lelaki yang saat ini bersamanya benar-benar akan datang menemui dirinya nya hanya karena mendengar suara tangis nya yang bukan salahnya. Di satu sisi ia merasa bersalah membuat khawatir hanya karena mimpi buruk yang ia alami, di satu sisi juga senang karena ia bisa tau begitu sayang nya lelaki ini kepada nya.


++++++++++


Bugk....suara hentakan kaki loncat masuk ke dalam jendela kamarnya. Gian yang belum sepenuhnya tertidur segera melonjak bangun. Berpikir itu bukanlah maling, di kala sudah hampir satu Minggu ini semenjak kejadian di malam itu Zaka tidak pernah lagi datang.


Namun dugaan nya salah, karena yang masuk adalah Zaka sendiri. Akan tetapi ada yang berbeda dari nya.


Zaka kembali dengan pakaian yang sama seperti awal bertemu. Kaos oblong abu-abu, jaket merah bomber, dan celana hitam lengkap dengan katana yang terselip di sabuk pinggang nya.


Apa lagi dengan bekas sobek di lengan jaket yang penuh bercak darah. Membuat Gian tergerak segera turun dari tempat duduknya menghampiri Zaka.


Apalagi saat itu Gian langsung teringat dengan mimpi nya di malam itu,"Kamu katanya tidak akan ikut tawuran lagi. Tapi kenapa sekarang jadi gini. Tidak mungkin kan kamu melukai diri kamu sendiri sampai seperti sekarang",marah Gian mengomel pada Zaka.


Terfokus melihat Zaka yang hanya terdiam,"Ikut aku, letakan saja tokat sialan itu di sini. Aku benci baunya",Gian yang masih sangat marah sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Zaka yang menurut saja. Untuk di suruh duduk di atas tempat tidur Gian.


Gian berlalu keluar kamar, sesaat kemudian kembali dengan membawa bakom berisikan air dan handuk. Ia juga mengambil kotak obat.


Dalam diam Gian fokus mengobati luka-luka memar di wajah Zaka, juga luka sobek di lengan kanannya.


Zaka juga enggan berkomentar apapun. Ia ikut diam menonton Gian dengan raut wajah cemas bercampur marah mengobati luka di tubuhnya.


"Ittss... pelan-pelan Gi",


"Kalau tidak tahan sakit berhenti Zaka, kamu tidak capek apa tiap hari babak belur",omel Gian sekali lagi.


Luka Zaka memang tidak separah dan tidak sebanyak dulu. Tapi luka ini cukup membuat Gian jauh lebih khawatir dari yang dulu. Jadi tidak heran, jika Gian terlihat lebih marah.


Selesai di obati, dan Gian juga sudah selesai beberes. Di saat itulah ponsel Zaka yang di biarkan tergeletak di atas tempat tidur berdering. Menerima satu notifikasi panggilan seluler suara.


Zaka melihat Gian sekilas,"Dari Alan. Aku aktif kan speaker",sebelum akhirnya mengangkat panggilan telepon itu.


*Lu di mana?Lu di mana Zaka?",tanya Alan bernada panik khawatir di seberang sana.


*Ada apa?".


*Lu tidak datang ke tempat tawuran sekarang kan?",Alan memastikan.


*Aku datang....", terdengar helaan nafas kasar di seberang sana.*... Tapi aku sudah kembali".


*Adoh Zaka....lu tau tawuran itu memakan korban Zaka".


*Gue akan segera cari informasi dan semoga nama lu tidak tercantum".


Dalam hari Zaka mengumpat,"Sial!Bangsat itu berusaha untuk menjebak diri gue",


*Zak lu masih di sana?".


*Sepertinya gue pergi sebelum kejadian itu terjadi. Lu tenang saja".

__ADS_1


*A...". tutttuuuttt...... panggil telfon di akhir sepihak oleh Zaka di seberang sini.


Zaka mematikan layar ponsel nya setelah selesai mengirim beberapa notifikasi chat kepada seseorang di seberang sana. Di saat itulah ia kembali terfokus kepada Gian yang menjadi terdiam semakin khawatir tentunya.


"Tenang saja Gia, aku akan baik-baik saja. Aku kabur sebelum kejadian itu terjadi" Zaka mencoba menyakinkan Gian agar tidak mengkhawatirkan dirinya lagi .


Zaka bergeser mendekat ia merangkul pinggang Gian agar Gian sedikit lebih dekat dan bersandar di bahunya. Saat itu Gian justru menangis tersedu-sedu. Zaka langsung memeluk Gian dan mengelus-elus lembut surai rambut Gian yang di biarkan tergerai panjang.


"Hikss....kamu tidak memikirkan perasaan ku. Aku takut Zaka, takut kamu akan kenapa-kenapa Hikss....Hikss... Hikss..... seharusnya kamu menuruti keinginan sederhana ku Zaka. Aku tidak mau apapun, aku hanya mau kamu berhenti ikut tawuran".


"Itu tadi saja ada yang sampai meninggal, bagiamana nanti...hiks....",Gian berkata dalam tangis sesenggukan."....Itss..aku baik-baik saja Gian. Bukitnya sekarang aku ada di sini bersama kamu".


"Aku benar-benar berjanji sekarang, aku akan berhenti.....Maaf membuat mu khawatir Sayang",ucap Zaka bernada lembut mencium ubun-ubun kepala Gian.


Hingga akhir menjelang pagi. Zaka baru terbangun dari tidurnya di tempat yang masih sama di kamar Gian. Ia pikir Gian sudah berangkat sekolah, dan ia di tinggalkan sendirian tanpa di bangunkan.


Bahkan dugaan Zaka semakin di perkuat dengan adanya sepiring makanan di atas meja belajar Gian juga selembar kertas yang menggantung tertindih piring bertuliskan.


Makan dulu sebelum pulang. Aku berangkat sekolah dulu, maaf tidak membangunkan.


^^^Milik mu^^^


^^^Gian^^^


Sempat mau marah karena di tinggal sendirian, tapi pada akhirnya juga senyum-senyum sendiri karena masih mendapatkan sarapan yang di siapkan Gian sendiri.


Next....


"SUDAH PUAS BUNUH ORANG",sungguhan saat pertama kali Zaka menginjak kaki di dalam rumah.


Zaka berpaling membalas langsung tatapan mata ayahnya,"AKU TIDAK PERNAH BUNUH ORANG. ENTAH AYAH PERCAYA ATAU TIDAK, AKU TIDAK PERDULI LAGI, AKU CAPEK BERDEBAT TIAP HARI DENGAN AYAH",bentak Zaka tidak mau di salahkan.


"Jika tidak kenapa katana itu berbau anyir Zaka?",bentak Jon sekali lagi.


"Untuk tawuran, tapi tidak untuk bunuh orang",


"Aku memang sampah masyarakat, tapi bukan berarti aku pernah menghilangkan nyawa orang lain hanya demi kesenangan",pertegas Zaka sebelum akhirnya berlalu pergi berjalan masuk ke dalam Liv untuk secepatnya naik ke kamarnya. Dan untuk menghindar dari berdebat dengan ayahnya.


Walaupun saat itu Jon masih memanggil-manggil namanya. Namun Zaka enggan untuk menghiraukan nya.


Selesai mandi dan beristirahat bentar. Zaka yang hendak keluar kamar berencana untuk menjemput Gian pulang sekolah justru terhalang oleh pintu kamarnya yang ternyata tanpa sepengetahuan darinya sudah di kunci dari luar.


Menyadari dirinya di kurung oleh ayah. Ia yang kesal menendang pintu kamar nya cukup kuat brakkk.....,"BANG**SAT!!",umpat Zaka bernada tinggi.


Di saat jam pulang sekolah telah berbunyi. Gian yang baru membuka ponsel baru mengetahui beberapa notifikasi chat yang di kirim oleh Zaka.


Tentang keadaan Zaka yang mungkin tidak akan bisa menemui ia selama beberapa Minggu karena mendapatkan hukuman dari ayah nya sendiri.


Gian membalas notifikasi chat itu dengan baik, dan berusaha membuat Zaka tidak perlu merasa bersalah. Karena ia bisa pulang bersama dengan Gita atau ojek online.

__ADS_1


__ADS_2