Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Pertemuan


__ADS_3

Setelah sekian lama berusaha melupakan. Tidak seharusnya takdir kembali mempertemukan. Melupakannya saja sudah cukup sulit, cukup menyakiti Gian. Tapi ia justru kembali di pertemukan dengan seseorang yang sama kembali. Di saat yang tidak tepat.


Waktu itu Gian berencana untuk mencari pekerjaan di sekitar Kota tempat nya tinggal. Ia pikir akan sulit, tapi ternyata sangat mudah, tepat di hari itu juga Gian langsung mendapatkan panggilan untuk interview. Gian sangat bahagia sampai tidak memiliki firasat buruk apapun yang akan terjadi.


Sepertinya pengalaman kerja di perusahaan lama cukup berpengaruh terhadap reputasi nya mencari pekerjaan. Jadi tidak perlu di ragu lagi begitu mudahnya untuk Gian mendapatkan pekerjaan kembali. Apalagi Gian juga memiliki teman di dalam perusahaan Dirgantara.


"Gian",panggil Iska sekertaris perempuan ini.


Gian beranjak dari tempat duduknya,"Sudah di tunggu Pak Zavano di ruangan nya, fighting Gian".Kata Iska teman kuliah dulu yang memberikan semangat Gian.


Gian masuk perusahaan Dirgantara berkat bantuan dari Iska. Iska bilang sangat mudah masuk ke dalam perusahaan Dirgantara dengan pengalaman bagus Gian di perusahaan sebelumnya, jadi Gian tidak perlu khawatir lagi. Kata Iska yang sangat menyakinkan Gian. Itulah kenapa Iska sangat merekutmen Gian agar masuk ke dalam perusahaan tempat nya bekerja.


Menarik nafas dalam-dalam,"Fighting".


Tokk...tokk.....,"Masuk".Suruh seseorang di dalam sana.


Gian buka pintu di depan berlahan-lahan. Sebelum ia berjalan masuk dan duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja seorang lelaki yang masih sibuk dengan layar komputer besar di depannya.


Lelaki ini baru memutar kursi menghadap Gian, hingga Gian yang semenjak tadi memperhatikan langsung benar-benar terdiam."Coba perkenalkan diri kamu",minta Pak Zavano fokus membaca bio data milik Gian.


Setelah selesai memperkenalkan dirinya."Apa alasan kamu keluar dari perusahaan sebelum, sementara perusahaan sebelumnya cukup bagus untuk kemampuan kamu".


"Alasan saya cukup singkat, saya hanya mau kembali dan berkerja di Kota asal saya".


"Hemm......kamu tidak mengenali ku Gi?",


"Kamu lupa dengan ku?", pertanyaan yang semakin membuat raut Gian menjadi semakin datar.


"Sudah sepatutnya saya melupakan masa lalu, untuk mengutamakan melihat masa depan",kata Gian."Kalau sudah selesai saya pamit, permisi",Gian di barengi beranjak dari tempat duduknya.


Tanpa Gian sadari. Zavano yang ternyata adalah seorang Zaka sudah mengikuti nya, ia menggenggam kuat pergelangan tangan Gian. Dan mengunci pintu ruang kerja yang akan Gian buka dari dalam.


Berusaha melepaskan genggaman tangan Zaka yang sangat kuat mencengkram pergelangan tangan nya,"Zaka lepas, Zaka sakit lepaskan",minta Gian yang tidak di gubris Zaka.


Zaka meringkus dirinya menenggelamkan wajah di leher Gian mencium aroma tubuh yang selama ini sangat ia rindukan. Tangannya juga mulai tergerak melepaskan paksa kancing kemeja yang Gian kenakan sampai kancing kemeja itu terlempar.


Dengan sisa tenaga yang ada Gian langsung mendorong Zaka menjauh Pakk.... tamparan keras Gian layangkan untuk Zaka. Gian juga bergegas menutupi tubuh walaupun dengan kemeja yang sudah rusak.


Zaka langsung menatap tajam ke arah Gian. Ia menarik kasar Gian untuk ikut dengan nya walaupun Gian menolak tubuh Gian tetap tertarik mengikuti Zaka. Hingga akhir Zaka mendorong Gian sampai terjatuh di atas Sova panjang yang tersedia.


Gian lekas duduk dengan benar, namun tertahan oleh Zaka yang sudah menindih tubuhnya.


Mencengkeram kedua lengan Zaka erat-erat untuk mendorong Zaka menjauh,"HENTIKAN",minta Gian yang sudah berkaca-kaca."Zaka berhenti",minta Gian meronta menahan Zaka.

__ADS_1


Sayangnya itu tidak mempan untuk Zaka yang tetap melanjutkan kegiatan. Zaka melonggarkan dasi yang ia kenakan melepas dan mengunakan nya untuk mengikat kedua tangan Gian yang terus saja memberontak.


Gian akan berteriak namun gagal karena mulut telah di bekam dengan lengan tangan nya sendiri.


Lelaki di depannya saat ini, memang laki-laki sama yang ia temui di malam itu. Keras kepala, nekat, dan berbuat semaunya sendiri.


Berhasil melepaskan lengan tangan yang membekap mulutnya,"Zaka aku mohon",minta Gian dengan penuh belas kasih Zaka akan berhenti.


Iya, Zaka berhenti. Ia balas menatap Gian,"Aku tidak suka kamu bilang seperti tadi?Aku tidak suka kamu membohongi diri kamu sendiri".


"Kamu masih sayang Gi sama aku. Tapi kenapa kamu berusaha menghindari ku?".


"Karena semua sudah berakhir Zaka, kita bukan lagi orang yang sama".


"Tidak, tidak ada yang berubah",tegas Zaka."Ingat Gia yang boleh memutuskan hanya aku".


"Tapi aku bukan Gian yang dulu Zaka".


Terdiam menatap tajam Gian,"Tidak",bentak Zaka."Kamu tetap milik ku. Dan selamanya akan seperti itu".Zaka yang tidak mau di bantah lagi.


Zaka kembali menciumi tubuh yang kini hanya menyisakan bar hitam yang terpasang dengan baik. Ciuman itu begitu lembut berbeda dengan di awal, membuat desiran hebat keluar dari mulut Gian. Namun segera Gian tahan, dengan posisi di ikat seperti sekarang. Ini lebih pantas di sebuah dirinya sedang di perkosa dan seharusnya ia berteriak memberontak bukan menikmatinya.


Panas dingin menjulur keseluruhan tubuh. Namun Gian tetap berusaha untuk sadar, karena ini salah."Zak...Shtt..".


Benar saja. Zaka sampai benar-benar berbuat sejauh ini. Ia naikan ke atas rok span Gian menurunkan pakaian dalam Gian yang dengan tangan terikat ini hanya bisa menendang memberontak. Yang tetap gagal oleh Zaka yang telah sepenuhnya menguasai tubuh Gian.


Zaka kembali menatap Gian yang semakin ketakutan, suhu tubuh Gian menjadi sangat dingin. Pipi Gian memerah."Teriak sesuka mu, mendesa sekeras-kerasnya. Ruangan ku kedap suara".Zaka lirih berbisik di dekat telinga Gian.


Sesuatu yang keras mulai menggeser daerah sensitif Gian,"Zak tolong berhenti, iya aku ingat kamu, aku masih suka sama kamu. Aku mohon Zaka berhenti",minta Gian berusaha membujuk Zaka.


Zaka berhenti dan mengatur posisi tubuh sedikit terduduk masih dengan di depan Gian. Sebelum akhirnya di susul tertawa kecil,"Aku masih ragu Gi",kata Zaka.


Gian yang sudah sangat-sangat malu dengan keadaan nya yang sudah setengah telanjang. Hanya bisa menatap Zaka berharap lelaki di depannya memahami isi hati nya.


"Kamu tadi bilang bukan Gia yang aku kenal lagi",kata Zaka menatap Gian mengintimidasi."Kamu masih perawan kan?".


Ragu-ragu namun dengan harapan setelah jawaban ini Zaka akan melapangkan nya."Ma..masih, aku masih perawan".


Zaka masih terdiam menatap Gian mengintimidasi. Ia kembali lebih mendekat pada Gian,"Aku ragu".


Sesuatu yang keras kembali mulai terasa menggeser area sensitif Gian yang sudah keluh tidak bisa meronta ataupun berteriak lagi.


Zaka masih mencium tubuhnya, lelaki ini bahkan telah berhasil melepaskan pengait bar. Yang membuat mata Gian semakin berair membelalak saat sesuatu di bawah sana memaksa masuk.

__ADS_1


Saat itulah Zaka mendongak melihat raut wajah di depannya ini, sembaring menyungging senyum tipis."Aku percaya",kata Zaka mencium bibir Gian ******* nya lembut.


Zaka terus melakukanya, ia bahkan sempat berbisik lirih,"Sakit nya hanya sebentar Gi",tanpa menghentikan kegiatannya terus mengguncang Gian.


Tubuh Gian benar-benar menjadi sangat lemah, kepala nya sangat pening. Panas dingin menjalar keseluruhan tubuhnya. Namun benar kata Zaka, rasa sakit itu hanya sebentar. Karena kegiatan yang tidak di benarkan ini terasa sangat memabukkan. Gian menikmati nya, walaupun ia tetap menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan apapun.


Entah sudah hampir setengah jam. Namun Zaka masih enggan untuk menyudahi. Walaupun baik dirinya ataupun Gian sudah bermandikan keringat. Hingga di titik puncak Zaka semakin mempercepat dan melepaskan semuanya.


Lagi-lagi Gian yang melawan tetap tidak bisa. Zaka tidak melepaskan, ia tetap membiarkan keluar di dalam, ia justru ambruk di atas Gian.


Hingga dengan tenaga Gian berkata lirih,"Minggir Zak, kamu berat",minta Gian.


Zaka tersenyum hangat, ia menuruti kemauan Gian. Zaka bangun dan duduk dengan benar, ia juga membantu Gian untuk melepaskan ikatan dasi yang sudah membuat pergelangan tangan Gian memerah.


Gian juga langsung mengenakan kembali pakaian dalamnya. Mengaitkan kembali barnya yang terlepas.


"Kamu bisa pakai ka...",belum juga menyelesaikan perkataan nya. Zaka sudah terlebih dahulu terdiam memperhatikan Gian yang sudah beranjak dari tempat duduknya. Berjalan berlahan-lahan tertatih-tatih mendekati pintu dekat meja kerja Zaka.


Gian membuka pintu itu membuat dirinya langsung hilang dari perhatian Zaka. Di dalam Gian langsung pergi ke kamar mandi merapikan pakaian yang sudah tidak mungkin lagi bisa di kenakan dengan baik. Dengan kancing kemeja telah rusak dan berhamburan tadi.


Mengingat jika ada lemari di dalam ruang istirahat ini. Gian kembali keluar kamar mandi, ia mendekati lemari pakaian yang ada di ruang kamar ini. Yang ternyata menyimpan beberapa jas, kemeja, celana dlll perlengkapan pakaian kantor.


Syukurlah di sana ada kemeja putih, walaupun berbeda dengan kemeja yang Gian kenakan. Seenggaknya kemeja kebesaran ini bisa mengantikan kemeja nya yang sudah tidak bisa ia kenakan lagi.


Setelah selesai berganti atasan dan merapikan cara berpakaian nya kembali. Gian pun keluar kamar istirahat ini.


"Aku pergi",pamit Gian enggan menatap langsung Zaka yang langsung menggenggam pergelangan tangan Gian."Biar aku antar".


Melepaskan tangan Zaka yang menggenggam pergelangan tangannya,"Enggak perlu Zak, aku bisa pulang sendiri".


Menyahut ucapan Zaka,"Aku mohon Zak, aku tidak mau ada orang yang tau. Aku masih belum siap, aku harap kamu memahami nya".


Gian berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Zaka. Tanpa mendapatkan penolakan dari Zaka kembali.


Meninggalkan ruang pribadi bosnya, berlalu pergi berjalan layaknya pekerja biasa yang baru saja selesai interview. Gian juga menyapa sapaan Iska dengan ramah sebelum akhirnya meninggalkan gedung perusahaan ini.


Dengan raut wajah antusias,"Jadi gimana lanca?Kalau lama sekali seperti tadi kayaknya lancar dan kamu bakal keterima kerja di sini".


Tersenyum tipis,"Lihat saja nanti, aku pergi dulu",pamit Gian berlalu pergi meninggalkan meja kerja Iska.


Menatap kepergian Gian,''Aku salah bertanya kah?Kenapa Gian sangat berubah setelah selesai interview?',gumam Iska hingga akhir membekap mulutnya sendiri,'Jangan-jangan interview nya tidak berjalan dengan lancar. Karena anak bos memiliki sifat bertolak belakang dengan ayahnya',petik Iska.'Sial apa yang harus ku katakan pada Gian. Aku sudah sangat menyakinkan bahwa bos ku orang yang sangat baik. Aaahhh sampai Gian tidak di terima mungkin ini semua salah ku. Wajah Gian juga terlihat sangat sedih sekali',pikir Iska yang isi kepala masih berperang.


iya perusahaan Dirgantara telah beralih kepemimpinan ke pada keturunan nya. Leozavano Dirgantara atau Zavano nama asli Zaka yang tidak cukup terkenal.

__ADS_1


__ADS_2