
Saka kembali berdiri dengan benar, kembali terfokus melihat ke arah Zaka,"Sudah Yah, kalau sudah selesai aku mau istirahat capek",kata Saka yang tidak mendapatkan respon apapun dari Zaka.
Saka kembali melanjutkan perjalanan nya terburu-buru, yang pada saat itu langsung di susul oleh Gian.
Gian berhenti sejenak di depan Zaka,"Kamu istirahat saja, kamu pasti capek. Biarkan aku yang bicara pada Saka",
Saat itu Zaka memang baru saja pulang kerja, ia bahkan masih mengenakan pakaian kerjanya. Apakah mungkin karena kelelahan dengan pekerjaan kantor Zaka jadi tidak bisa mengendalikan emosi yang meledak-ledak, sampai menampar putra sulung nya. Entahlah yang jelas raut wajah Zaka menujuk ekspresi lain setelah melakukan nya.
Setelah kejadian di hari itu, baik Zaka ataupun Saka menjadi asing. Keduanya menjadi tidak saling sapa ataupun bercanda bersama lagi. Jika tidak ada Gian mungkin keduanya enggan untuk duduk satu satu meja di meja makan.
Apalagi setelah tiga hari setelah kejadian di malam itu. Zaka yang saat itu dalam perjalanan pulang ke rumah tiba-tiba mendapat telfon jika putra sulung tengah berada di kantor polisi.
Tanpa basa basi Zaka langsung tancap gas pergi ke kantor polisi. Saat itu Zaka sudah terlihat sangat marah sekali, namun urung saat salah seorang polisi mendekati nya dan berkata."Putra bapak sangat berani, dia melawan sepuluh preman sendirian untuk menyelamatkan ibu ini",mendengarkan itu Zaka langsung terfokus melihat Saka.
Wanita setengah baru baya yang Saka tolong,"Terima kasih Nak, berkat kamu uang untuk biaya sekolah cucu nenek aman",beralih melihat ke arah Zaka."Terima kasih Pak, maaf membuat putra bapak dalam bahaya".
"Tidak papa Oma. Saya seneng bisa membantu Oma, sehat-sehat iya Oma nanti kalau ada waktu luang saya mampir ke warung Oma lagi".
Mengelus bahu Saka dan menyungging senyum hangat,"Ganteng kayak ayah nya, baik, pemberani",
Singkat cerita. Zaka dan Saka saat ini sudah dalam satu mobil yang sama. Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama hening karena untuk pertama kalinya setelah pertengkaran di malam itu keduanya benar-benar bersama lagi. Hanya berdua saja.
Zaka yang saat itu fokus menyetir mobil, tiba-tiba tersenyum tipis. Sangat-sangat tipis tidak terlihat, teringat dengan masa lalu yang berutal kesana kemarin hanya untuk mencari info tawuran tidak jelas. Namun posisi saat ini berbanding terbalik, karena walaupun Saka mewarisi wataknya, anak sulungnya mengunakan bakatnya dengan cara yang berbeda dengan nya.
Saka lebih mengutamkan mengunakan bakatnya untuk menolong dan membantu orang lemah. Sementara dirinya dulu mengunakannya untuk tawuran tidak jelas kemana-mana, sampai tidak pulang ke rumah berhari-hari.
Menyadari mobil Ayah tiba-tiba berhenti,"Mau pesan makan malam apa?",tanya Zaka pada Saka yang saat ini terfokus melihat nya.
Saka menggeleng ringan,"Tidak Yah, nanti masakan bunda siapa yang masak",
Zaka yang masih terfokus melihat Saka,"Bunda kamu tidak ada di rumah hari ini. Bunda ada acara syukuran di rumah temannya".
"Makannya ayah pulang cepat, karena ayah bermaksud untuk menemani makan malam",
"Berarti bunda sudah masak di rumah?",
"Belum",kata Zaka."Jadi mau makan apa?",
"Nasi bebek goreng kamu suka?",tanya Zaka pada Saka.
"Apa saja terserah ayah",balas Saka terlibat tidak terlalu memperdulikan nya.
Zaka mengajak Saka untuk beranjak turun dari dalam mobil bersama-sama untuk pergi ke warung makan nasi bebek tepat di samping mobil nya terparkir.
__ADS_1
Setelah memesan pesanan nya. Zaka berlalu duduk kursi sampai Saka duduk. Tidak butuh waktu lama, setelah minum pesanan mereka datang terlebih dahulu.
"Melihat kamu sama seperti melihat ayah sewaktu muda",kata Zaka yang seperti belum membuat Saka cukup tertarik dengan obrolan nya."Ayah dulu sering keluar masuk kantor polisi karena masalah yang sama, tawuran".
"Ayah bahkan pernah di tuduh pernah menghabisi orang. Karena itu ayah mendekam di penjara selama beberapa bulan lamanya, dan seingat ayah waktu itu emang ayah sedang di penjara sampai setahun. Tapi akhirnya di bebaskan karena ayah tidak terbukti bersalah, setelah sekian lama menunggu di dalam penjara".
"Makannya saat kemarin ayah tau kamu seperti sehabis ikut tawuran ayah sangat marah besar.....maaf karena ayah tidak mau kamu sampai salah jalan yang sama seperti yang pernah ayah lakukan",
"Aku sudah tidak marah sama ayah",kata Saka membuat perhatian Zaka berpaling melihat ke arah Saka."Karena aku tau yang ayah lakukan kemarin karena khawatir dengan ku....ayah terlalu khawatir sampai memarahi ku".
"Dan aku tidak menyalahkan ayah, karena yang kulakukan juga salah telah membuat ayah khawatir dengan keselamatan ku",
Mengacak-acak surai rambut Saka gemas,"Cepat di makan",suruh Zaka saat menu pesanan mereka berdua telah datang ke meja tempat mereka berdua duduk.
Sesudah makan-makan dan menghabiskan waktu banyak mengobrol bersama lagi seperti biasa. Zaka akhirnya memutuskan untuk segera mengajak Saka pulang di kala besok Saka masih harus bersekolah.
Setibanya di rumah karena sama-sama terlalu lelah. Kebiasaan keduanya yang duduk terlebih dahulu di sova ruang tamu membuat keduanya tidak sadar sampai tertidur pulas di sana bersama.
Gian yang saat itu khawatir dengan keduanya yang tidak kunjung ada yang pulang pun berjalan turun ke lantai bawah rumah. Dengan terus menghubungi salah satu nomer keduanya yang sama-sama tidak ada yang menjawab panggilan telepon dari nya.
Tapi saat keluar dari dalam Liv di lantai satu rumah. Gian baru bisa mendengar kalau suara nada dering itu ada di dekatnya. Semakin di dekati, suara itu ternyata berasal dari ruang tamu.
Saat itulah Gian menghela nafas panjang yang berat,"Anak dan ayah",gumamnya.
Sayup-sayup khas orang bangun tidur,"Ke tiduran sayang",kata Zaka bernada suara serak khas orang bangun tidur.
"Bangunkan Saka suruh dia pindah ke kamar nya",
"Hemm",
+++++++++++
Seorang pria mengenakan kemeja abu-abu tua menenteng jas kerjanya berjalan memasuki salah satu rumah makan. Yang di malam itu sudah sepi pengunjung. Pria ini mendekati salah satu meja yang sudah di duduki oleh dua pria lainya.
"Gimana kabar keponakan ku?",tanya Alan.
"Baik, dia tubuh berbanding terbalik dengan ku. Tapi walaupun begitu aku tetap khawatir dengan nya, karena tempo hari polisi menemukan kantung sabu di saku celananya. Untung saat di periksa Saka tidak positif, jika ada sedikit keringat untuk nya di bebaskan karena tidak cukup adanya bukti".
"Barang haram itu mulai merajalela lagi, pengedar-pengedar baru membuat kita semakin sulit untuk menakan peredaran karena kurangnya informasi yang kita dapatkan",kata Ranggil.
Hingga tiba-tiba ponsel Alan berbunyi. Sebuah panggilan telfon masuk ke dalam ponsel membuat Alan harus segera mengangkat nya.
"Anak mu",kata Alan terfokus melihat Zaka.
__ADS_1
Tersambung dengan speaker suara aktif.
*Om sibuk?",
"Tidak jauh beda, telfon aku kalau ada butuhnya saja",kata Alan pelan.
*Tidak, ada apa Saka?",
*Ada tawuran om sebentar lagi di daerah G. Nanti om suruh polisi ke sana, tapi jangan sekarang Om. Tunggu agak ricuh dulu baru suruh ke sana".
"Wah iya, kalau sudah gini anak siapa Zak?",tanya Alan bernada pelan.
"Gian",balas Zaka dingin.
*Okey siap pak Bos",
*Om sedang sama ayah?",
"Nanyain kau",kata Alan bernada pelan.
*Iya, kamu mau ngomong sama dia?",
*Tidak Om, titip salam saja buat ayah, dan bilang di suruh bunda cepat pulang",
Panggilan di akhir sepihak oleh Saka di seberang sana.
Menyadari dan melihat itu,"Owh Ran, beneran sama".
"Iya sama lah Be**go, dia kan anak nya".
"Iyalah lupa".
"Aku berharap anak-anak kalian berdua segera tubuh dewasa agar kalian segera merasakan apa yang sedang aku rasakan",kata Zaka melihat keduanya sinis.
"Itu berlaku untuk kamu Alan, kalau aku tidak karena anak ku perempuan",timpal Ranggil.
"Ilih, aku berdoa semoga anak kedua mu yang belum terlahir tuh laki-laki, biar tau rasa kau",
"Sudah Lan",lerai Zaka yang lelah melihat sikap kedua bapak-bapak di depannya, sudah punya anak dan bini tapi masih tetap saja kekanak-kanakan. Tidak jauh beda sih dengan Zaka heheh.
Zaka yang sudah terfokus melihat Alan,"Kau sudah jadi ayah dari dua bocah kembar tengil ngeselin Lan, cobalah sedikit dewasa".
"Dan kau Ran, kau harus berubah sedikit elegan. Ingat anak sulung mu perempuan. Jangan sampai dia meniru dirimu yang tidak waras",
__ADS_1
"Jamett sperull", Ranggil terfokus melihat Zaka yang saat ini tertawa puas melihat ekspresi wajah jutek kedua sahabatnya.