Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Cewek ku


__ADS_3

Di keesokan harinya. Saat bangun tidur. Gian sudah tidak mendapati Zaka tidur di tempat nya semalam. Lelaki itu sempat berpesan akan pergi tanpa membangunkan Gian. Ia hanya meminta kepada Gian untuk membiarkan jendela kamar Gian terbuka agar ia bisa pergi tanpa mengganggu waktu istirahat Gian.


Namun di saat percakapan di malam itu,"Jendela kamar ku rusak, kalau mau pergi buka saja",jelas Gian.


"Kenapa tidak di perbaikan?Bagaimana bisa lu tidur tenang dalam keadaan jendela rusak?Lu tidak takut ada pencuri masuk?".


Gian terdiam memperhatikan,'bukankah kamu adalah penjahatnya',pikir Gian tidak habis pikir dengan maksud ucapan Zaka. Seolah-olah tidak sadar bahwa dirinya lah penjahat itu sendiri.


"Sudah dua tahun rusak, dan selalu baik-baik saja, baru kali ini saja kejadian",kata Gian terfokus melihat bagiamana respon Zaka yang biasa saja.


"Besok akan ku panggil tukang untuk memperbaiki".


"Jangan!",petik cekatan Zaka melarang.


"Sudah biarkan seperti itu saja", sambungnya membuat Gian tidak bisa berpikir lagi dengan jalan pikiran Zaka. Sudah mewanti-wanti untuk hati-hati, sekarang malah melarang untuk memperbaiki.


Next.....


Sekitar jam 3 siang. Sepulang sekolah Gian di hampir oleh seorang laki-laki yang pernah ia lihat. Iya, laki-laki itu adalah teman nya Zaka, Alan.


"Gian",panggil laki-laki itu berjalan mendekat menyusul Gian yang sudah menghentikan langkah kakinya.


"Aduh lama sekali sekolah negeri pulang",ujarnya mengeluh lelah."Aku mau ambil motornya Zaka".


"Mau saja di babu",semprot Gian bernada pelan.


"Hah! Gue sebenarnya tidak mau, tapi karena Zaka besti gue iya gue mau-mau saja. Lagian ada komisi",kata Alan membuat Gian tercengang kaget lelaki di depan nya masih dapat mendengar jelas apa yang baru saja ia katakan.


"Iya",balas Gian mulai berjalan kaki kembali bersama dengan Alan.


Setibanya di rumah Gian. Alan yang sudah di persilahkan oleh Gian langsung menuntut keluar motor Zaka dari dalam rumah Gian. Setelah nya ia buru-buru berpamitan dan secepat nya pergi meninggalkan Gian mengendarai motor Zaka.


++++++++++


++++++


Setelah dua Minggu berlalu. Gian pulang dari sekolah seperti bisa menjelang sore hari. Berjalan kaki sebentar setelah turun dari angkutan umum yang ia naikin untuk berangkat sekolah. Tadinya mau naik gojek, tapi karena sangat capek sekali dan sangat ingin cepat-cepat sampai di rumah. Dan karena posisi sedang males juga pesan gojek dikarenakan masih trauma dengan kejadian beberapa hari yang lalu.


'Nanti makan apa iya, kakek tidak ada di rumah jadi malas masak',pikir Gian sembaring terus berjalan kaki menuju rumahnya.


Laki-laki berjaket abu-abu tua berjalan mengendap-endap masuk ke dalam salah satu pekarangan warga. Dengan katana yang masih menggantung diselipkan ikat pinggang. Ia masuk ke dalam semak-semak dekat jendela rumah salah seorang warga. Menunggu terdiam cukup lama di sana karena ada bapak-bapak yang sedang jaga malam lewat di depan rumah ini.


Setelah cukup jauh, ia mulai tergerak membuat jendela kamar agar ia bisa meloncat masuk ke dalam rumah warga ini.


Hari ini Gian libur kerja. Sehingga ia ingin menggunakan waktunya untuk fokus mengerjakan pekerjaan sekolah. Agar bisa tidur lebih cepat juga menjadi salah satu alasan Gian ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan sekolah nya.


Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam kamar nya. Gian sangat ketakutan apalagi saat ini, ia sedang sendirian di rumah. Bagiamana jika itu benar-benar maling?Dengan keberanian yang tersisa Gian memilih untuk melihat ke arah datangnya suara itu.


Dan ternyata saat Gian melihat ke sana Gian sudah mendapati Zaka yang tengah sibuk melepaskan sepatu yang di kenakan.


"Kamu kenapa ke sini?",tanya Gian kaget bercampur ketakutan.

__ADS_1


Zaka yang baru saja selesai melepaskan sepasang sepatu berkata,"Sembunyi".


"Ada tawuran lagi di luar. Dan entah kenapa gue jadi males ikut tawuran. Jadi gue cari cara lain untuk menghindar dan jalan satu-satunya adalah bersembunyi di sini. Jadi biarkan gue tetap di sini sampai situasi di luar aman".


"Ngomong-ngomong ada minum?",tanya Zaka pada Gian yang masih terdiam mematung melihat nya."Gian",panggil Zaka.


"Ada minum?Gue haus",


"Hem..m! Bentar",Gian yang segera berlalu pergi mengambil minuman untuk Zaka.


Baik Zaka ataupun Gian sibuk dengan kegiatan nya masing-masing. Gian yang sibuk melanjutkan mengerjakan tugas sekolah nya. Dan Zaka yang sibuk bermain ponselnya di dekat jendela tempat nya melompat tadi.


Cukup lama hening sampai membuat Gian benar-benar terkejut bukan main saat seseorang tiba-tiba sudah membungkuk sangat dekat di samping terfokus melihat lembar soal yang tengah di kerjakan Gian.


"Ini kalikan lima nanti hasilnya lu bagi dengan angkat yang ini",jelas Zaka dengan seksama pada Gian."Coba sekarang, nanti gue bantu lagi yang belum di kerjakan".


Gian manggut-manggut saja sembaring mulai mengikuti apa yang di jelaskan Zaka. Hingga akhir ia berhasil menyelesaikan semua pr matematika nya dengan bantuan Zaka.


"Sekolah di mana kamu?",tanya Gian memutar balik posisi kursi belajar nya menghadap Zaka yang ternyata sudah duduk di tepi atas tempat tidurnya.


Tetap fokus pada layar ponsel nya yang menyalah,"SMA Garuda muda",


"Sekolah elit",ujar Gian terkejut."Kamu orang kaya?".


"Iya, bokap gue. Kalau gue bebannya".


"Terus kenapa kamu jadi nakal kalau kamu anak orang kaya? Bukankah kamu sudah punya segalanya",pertanyaan Gian yang membuat Zaka langsung tertawa terpingkal-pingkal.


'Ada yang salah kah?',pikir Gian bertanya-tanya bingung.


Membuat Gian hanya bisa terdiam, karena lagi-lagi ia di buat terheran-heran dengan sifat lelaki di depan nya. Yang sangat sulit di tebak. Terkadang seperti iblis, terkadang baik dan tenang, terkadang jahil, terkadang menjadi iblis yang temperamental.


"Rumah lu sepi. Opa sedang tidak ada di rumah?"Zaka yang baru menyadari tidak mendengar aktivitas apapun di luar kamar.


"Sudah istirahat",balas Gian berbohong.


"Hemm....Gian".


"Hem?".


"Antar gue ke toilet".


Sedikit heran juga astaga, tapi Zaka sudah keburu menarik pergelangan tangan Gian pergi. Intinya Gian harus menurut saja dengan sesekali bergelangat waspada agar Zaka tidak curiga jika saat ini ia sedang sendirian di rumah.


Next


Setelah menunggu beberapa lama di luar kamar mandi. Akhirnya Zaka keluar dari kamar mandi. Gian pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi berlahan-lahan untuk kembali ke kamarnya.


"Nama lu kan Gian, tapi kalau boleh jujur cantik kan di panggil Gia. Buka cantik sih tapi lebih mudah dan singkat gue ucapkan",di susul tawa cengengesan nya.


Namun Gian tetap terdiam fokus melanjutkan belajar. Mengabaikan Zaka yang duduk di atas tempat tidurnya memainkan ponsel miliknya.

__ADS_1


Gian tidak terlalu memperdulikan hp nya di mainkan oleh Zaka, karena hp miliknya memang tidak ada apa-apa nya.


"Lu sudah punya cowok?Kayak sudah ada, soalnya tidak mungkin cewek secantik lu tidak punya cowok".


'Cantik', kalimat itu seketika membuat tubuh Gian langsung memanas memerah malu juga berdebar senang di sebut cantik.


"Tidak ada",kata Gian membuat Zaka langsung beranjak bangun dari tiduran nya di atas tempat tidur Gian.


"Masak?".


"Hemm".


"Lu sekolah SMA atau SMK?".


"SMA biasa".


"Cowok-cowok di sekolah lu burem apa homo sampai-sampai tidak mau sama cewek secantik lu",Zaka yang tidak habis pikir karena Zaka belum mengetahui bagaimana penampilan dan sikap Gian saat sudah ada di sekolah.


Bagiamana penampilan Gian dengan seragam longgar kebesaran, dan galaknya Gian karena ia adalah seorang anggota inti PMR. Tidak terlalu terlihat cukup, tapi laki-laki mana yang berani dengan Gian saat sedang marah. Apalagi saat Gian sedang sangat capek dengan kegiatan di sekelilingnya siapapun pasti akan terlena imbasnya.


"Aku sibuk organisasi tidak sempat cari pacar",balas Gian membuat Zaka hampir tersedak saat minum air mineral.


"Anak OSIS".


"Bukan",


Terdiam memperhatikan,".....".


"PMR".


"Hemm...Jadi mulai sekarang lu cewek gue".


Gian yang awalnya tidak tertarik sedikitpun untuk melihat lawan bicara. Langsung menengok ke arah sumber suara barusan datang. Di barengi dengan kedua manik mata nya yang melotot tajam.


Zaka yang menatap balik dengan ekspresi serius,"Lu tau kan resiko nolak gue?".


"Katana gue akan sangat senang jika lu nolak gue, dan gue akan bahagia melihat lu mati di tangan gue",nada bicara seorang Zaka yang asli kembali dan terdengar mengerikan.


"Gue bisa jadi cowok jahat dan gue bisa jadi cowok baik",beranjak berjalan mendekat."Sayangnya gue lebih suka jadi cowok jahat Gia".


"Kalau lu suka gue yang seperti apa?".


Gian terdiam mematung cukup lama mencerna hati-hati semua kalimat-kalimat yang terucap oleh Zaka. Karena apa yang akan ia katakan selanjutnya adalah tiket kehidupan untuknya tetap berada di bumi.


"B-baik",gugup Gian tidak berani menatap langsung manik mata di depannya saat ini.


Zaka hanya tersenyum sengit sebelum akhirnya di susul tawa renyah nya pelan.


"Kalau lu belum punya pacar atau tidak pacaran.... Berarti ciuman kemarin ciuman pertama lu", ucapan Zaka membuat Gian memilih mengabaikan Zaka berbalik badan untuk fokus pada belajarnya kembali. Senggak ia harus tetap kelihatan waras walaupun sebenarnya sedang tidak waras sama sekali. Karena bagaimana bisa jantung ini berdebar sangat kencang dan kenapa kedua pipi ini sangat memanas.


"Gian", panggil Zaka sedikit bernada tinggi membuat Gian langsung menengok cepat tanpa menyadari jika Zaka sudah ada di samping nya. Sehingga saat itu, karena terlalu dekat Zaka dengannya membuat Gian yang menengok mencium pipi Zaka.

__ADS_1


"Wah gila cewek gue",ujar Zaka jahilnya membuat Gian terdiam memerah.


Beranjak dari tempat duduknya,"Dahlan lanjutkan belajar mu",mengelus lembut surai rambut kepala Gian sebelum berlalu pergi kembali ke tempat nya semula. Rebahan di bawah jendela kamar Gian sembaring memainkan layar ponsel nya.


__ADS_2