
Untuk seseorang yang sama tidak ada bedanya seperti Zaka. Perpustakaan pasti bagaikan neraka untuk mereka. Karena mereka yang selalu tidak bisa berdiam diri lama di ruangan yang kedap suara tanpa melakukan apapun selain membaca buku. Benar-benar bagikan seperti terikat di dasar neraka yang sangat mengerikan dan membosankan.
Dan itulah yang tengah terjadi pada Zaka yang sedang menemani Gian membaca buku. Zaka awalnya meminta Gian untuk datang ke tempat yang sama kemarin. Namun Gian menolak karena harus ke perpustakaan, lalu Gian menawari Zaka untuk ikut. Zaka yang terlanjur kangen memilih untuk menuruti keinginan Gian, walaupun sebenarnya enggan. Di karenakan kesempatan Gian meminta duluan untuk di temani adalah kesempatan yang sangat langkah.
Meletakkan kepalanya di atas tumpukan buku,"Gia",seru Zaka terfokus memperhatikan Gian fokus sekali membaca buku. Dengan ekspresi wajah bosan yang sangat menggemaskan.
Tetap fokus dengan buku di depan nya,"Belajar Zaka....Kamu akan di cap aneh, kalau pinter tapi males belajar".
Di barengi memejamkan kedua kelopak matanya untuk tidur,"Aku udah pintar karena takdir, males belajar".Setelah suasana menjadi hening karena Zaka akhirnya tertidur pulas seperti bayi.
Tersenyum tipis,'Ganteng',sebelum akhirnya beranjak membereskan beberapa buku yang selesai di baca untuk di kembalikan ke tempatnya semula. Di satu sisi Gian tetap meninggalkan beberapa buku yang masih belum selesai ia baca dan belum ia baca.
Sembaring menata buku yang ada di gendongan nya kembali ke tempat nya semula. Gian bergumam,Lapar nya, perut ku terus berbunyi-bunyi tidak terkendali'.Selesai mengembalikan semua buku ke tempat nya semula. Mengelus perut ratanya,"Makan apa iya?".tanya Gian entah pada siapa.
"Makan sama aku saja",sahut seseorang merespon pertanyaan Gian.
Gian langsung berpaling ke arah sumber suara untuk melihat seseorang yang terlah menjawab pertanyaan nya.
"Hii Gi",sapa Rifqi mengangkat tangan kanannya."Sendirian aja disini?".
Membalas dengan anggukan kepala ringan,"Iya".
"Hemm.... katanya laper mau makan bareng aku?",tanya Rifqi terfokus melihat Gian yang mulai ketakutan."Enggak perlu takut, kamu aman sama aku....Zaka enggak akan tau".
Walaupun demikian Gian tetap membalas dengan gelengan kepala menolak ajakan Rifqi.
Meraih tangan Gian,"Kenapa Gi?".
Berusaha melepaskan genggaman tangan Rifqi yang sangat kuat memegangi pergelangan tangan nya,"Lepas kak",minta Gian meronta."Aku mau makan malam di rumah saja",lanjutnya menjelaskan.
Namun Rifqi justru semakin mendekati Gian menghimpit pergerakan Gian yang kini kedua tangan sudah dalam cengkraman tangan kanan Rifqi.
"Lepas kak",berusaha melepaskan cengkraman tangan Rifqi.
Tangan Rifqi mulai menggerayangi tubuh Gian. Mencium leher Gian, sampai Gian menitihkan air mata ketakutan. Tubuhnya berkeringat dingin ketakutan.'Zaka, Zaka tolong aku',batin Gian memohon terisak tangis ketakutan.
Ingin sekali berteriak, namun Rifqi menutup mulut Gian dengan telapak tangan.
Sampai akhir Gian berhasil melawan, ia berhasil menendang kejantanan Rifqi. Memiliki ruang untuk melarikan diri saat Rifqi kesakitan. Gian langsung berlari secepat mungkin untuk menjauh dari Rifqi.
Dalam pikiran Gian saat itu hanya ingin segera bertemu dengan Zaka, hanya ingin segera bertemu dengan Zaka.
Tanpa memperdulikan pakaian seragam sekolah yang ia kenakan sudah hambur adul berantakan.
Brugkk.....Tubuh Gian sampai menabrak seseorang yang tidak ia lihat dengan jelas ada di hadapannya karena terburu-buru ketakutan. Gian hendak meminta maaf, namun tidak jadi setelah mendengar nada suara lelaki yang sedang ia cari-cari. Saat ini sudah ia temukan.
Merangkul tubuh Gian yang sangat bergetar ketakutan,"Kamu kenapa Gia?",namun tidak mendapatkan balasan dari Gian yang semakin mengeratkan pelukan nya merangkul pinggang Zaka.
Zaka menyadari Gian sedang menangis tersedu-sedu membuat kemeja sekolah yang Zaka kenakan sampai basa akan air mata Gian.
Ia juga menyadari Gian sangat ketakutan sampai tidak berhenti-henti menangis sesenggukan seperti ini. Membuat Zaka merasa sangat bersalah karena gagal menjaga. Walaupun Zaka tau itu bukan sepenuhnya salahnya.
Zaka memilih untuk diam, ia lebih fokus untuk memenangkan Gian terlebih dahulu dari pada harus membuat Gian semakin ketakutan.
Mendapatkan perlakuan hangat dari Zaka, Gian akhirnya berangsur-angsur tenang.
__ADS_1
Namun ketika Gian sudah jauh lebih baik. Kini giliran Zaka yang sangat marah, ia sangat-sangat marah saat melihat bekas memerah di leher Gian. Tapi lagi-lagi Zaka memilih untuk diam enggan untuk bertanya-tanya terlebih dahulu kepada Gian. Karena Zaka tau Gian belum sepenuhnya baik-baik saja.
Zaka sedikit membungkukkan badannya, ia memasang kembali beberapa kancing pakaian Gian yang terlepas.
Mendongak melihat sepasang mata yang masih bekak memerah ini,"Nihh kemejanya aku juga yang memperbaiki tidak papa iya",goda Zaka membuat Gian langsung menghentikan tangan Zaka."Menghadap sana".
"Udah lihat semuanya tadi Gi, masak li.....",memotong perkataan Zaka."Hadap sana Zaka".
"Baiklah, baiklah",berbalik badan membelakangi Gian.
"Udah Zak",
Berbalik badan kembali menghadap Gian,"Mau di antar pulang langsung atau mau di temenin cari makan dulu".
"Langsung pulang Zak, kakek pasti sudah nungguin aku sekarang".
Merangkul pinggang Gian,"Yok pulang",ajak Zaka bersemangat.
"Kamu kenapa semangat sekali Zak?".
"Karena setelah aku bisa lebih leluasa ganggu kamu",timpal Zaka tanpa berpaling melihat ke arah Gian yang membekas dengan mencubit lingkar pinggang Zaka.
Yang menujuk ekspresi wajah menahan sakit,'Ingin segera membersihkan bekas anjing',dengan menunjukkan sisi lain yang sedang meronta-ronta marah.
+++++++
Setibanya di depan supermarket,"Hati-hati di jalan",pesan Gian yang sudah turun dari atas motor Zaka.
Zaka justru ikut turun memarkir motor nya, dan kembali menghampiri Gian,"Jalan duluan, aku ikuti dari belakang",kata Zaka.
Terfokus serius menatap Gian,"Jalan Gi",pertegas Zaka serius dengan perkataan nya.
Gian akhirnya mengikuti saja kemauan Zaka dari pada harus berurusan ribut terlalu lama dengannya.
Setibanya di rumah Gian segera masuk ke dalam rumah, yang langsung di sambut oleh Kakek nya yang tengah duduk seorang diri di kursi ruang tamu.
Menghela nafas panjang,"Hobby sekali membuat kakek khawatir tiap hari", semprot Kakek Gian.
"Maaf, tadi Gian mampir lagi ke perpustakaan bentar", sembaring menunjukkan beberapa buku yang ia bawa.
"Sudah sana mandi, terus makan. Kakek mau istirahat dulu, badan kakek capek sekali. Tadi banyak sekali pembeli di toko",ucap kakek Gian beranjak dari tempat duduknya yang di bantu oleh Gian.
Kakek Gian berlalu pergi ke kamarnya sendiri. Setelah mengunci pintu depan, Gian berlalu masuk ke dalam kamarnya. Yang ternyata sudah mendapati Zaka sudah ada di sana.
Gian berlalu meletakkan tasnya dan buku nya di atas meja belajar, membiarkan Zaka yang tidur terlentang di atas tempat tidur nya.
Setelah mengambil pakaian ganti. Gian berlalu pergi keluar untuk segera bebersih badannya yang sudah sangat lengket.
Selesai mandi ia langsung mengambil makan di meja makan untuk di bawa ke dalam kamar. Sekalian dengan Zaka yang mungkin belum makan malam. Sehingga Gian mengambil porsi makan yang cukup banyak dari biasanya ia makan. Tanpa membawa dua piring, itu karena ia sudah terbiasa makan satu piring dengan Zaka.
Terkadang di hari Sabtu malam Minggu Zaka selalu kembali pulang sedikit siang. Zaka benar-benar laki-laki yang tidak memiliki rasa takut. Seperti tidak pernah berpikir atau kepikiran apa yang akan terjadi jika dirinya di anggap maling, tertangkap, dan di keroyok masa.
Next....
"Zaka bangun",Gian menggoyang-goyangkan kaki Zaka pelan."Bangun Zak makan dulu".
__ADS_1
Zaka beranjak bangun dan duduk dengan situasi setengah sadar dari tidurnya."Gi aku belum cuci huaa.......",menguap menutupi mulut dengan punggung tangan.
"Kakek belum tidur Zak".
"Hemm.....yasudah aku lanjut tidur saja",
Gian yang sudah duduk di lantai di depan sepiring nasi, terfokus melihat Zaka memohon,"Zaka, aku sudah ambil banyak sekali nasi kalau enggak habis sayang Zaka. Kan biasanya yang banyak makan kamu bukan aku".
Beranjak dari rasa masalnya,"Yalah, Yalah",untuk berganti tempat duduk di depan Gian.
Di saat itulah Zaka kembali bisa melihat bekas memerah yang sama di leher jenjang Gian. Membuat suasana hatinya menjadi berantakan lagi, tersulut amarah.
"Zaka cepat di makan",Gian yang masih sibuk memainkan layar ponsel untuk menyetel beberapa video YouTube yang akan ia tonton selama makan.
"Hemm",dehem Zaka yang terdiam sepanjang kegiatan menghabisi makam malam bersama Gian. Entah kenapa Zaka selalu cerewet tidak pernah kehabisan topik di malam ini justru banyak diam.
Gian menyadari, namun ia memilih untuk diam enggan untuk bertanya-tanya.
++++++
Sesaat setelah makan, Gian yang ada di dapur di kaget dengan kehadiran Zaka yang langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa berpikir takut ketahuan oleh kakek Gian.
Mau tidak mau Gian pun harus tetap di dapur menunggu Zaka selesai dari kamar mandi. Walaupun ia sudah selesai mencuci piring yang kotor.
Setelah beberapa menit Zaka akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut klimis basa dan handuk milik Gian tadi yang melingkar di leher nya.
Membulatkan manik matanya,"Kamu mandi?",
"Gerah Gi, enggak betah",tanpa basa basi Gian langsung menarik Gian kembali ke kamar sebelum kakeknya melihat Zaka. Karena sudah terlalu lama juga Zaka di dalam kamar mandi.
Berdiri di belakang Gian yang fokus mengunci pintu kamar,"Biarkan Gi ketauan, biar cepat di nikahkan".
"Tidak, sekolah ku jauh lebih penting",pertegas Gian tetap kukuh pada kemauan nya.
"Ehmm",
Merebut kembali handuk yang Zaka pakai,"Kapan kamu ambil?".
"Pinjem Gi, handuk mu nanti juga akan jadi handuk ku",ucap santai Zaka kembali duduk di atas tempat tidur Gian.
"Kamu juga kenapa sih Gi sering pakai celana panjang kalau tidur. Emang enggak gerah?",pertanyaan Zaka yang sama sekali tidak di respon oleh Gian yang fokus menjemur kembali handuk nya di gantungan yang ada di pintu lemari.
"Gia, aku sudah pernah lihat Gi. Dan kamu cocok pakai itu", lanjutnya seketika membuat Gian berpaling cepat menatap dingin Zaka, yang mendapatkan tatapan itu justru tertawa renyah.
Di tengah suasana yang tiba-tiba hening,"Kalau sudah gitu tuh aku jadi punya ambisi kalau tidak boleh ada yang menyentuh mu selain aku".
Gian kembali mengabaikan basa basi Zaka, ia hendak berlalu pergi ke meja belajarnya untuk belajar. Sebenarnya bukan untuk belajar, tapi untuk menenangkan dirinya atas kejadian di perpustakaan tadi. Jika boleh jujur Gian masih sangat ketakutan, apalagi saat Zaka berkata demikian. Hal itu membuat Gian kembali ketakutan.
Namun Zaka menggenggam pergelangan tangan Gian mengehentikan bergerak tangan Gian.
"Duduk Gi",minta Zaka pada Gian yang tanpa paksaan langsung di ikuti oleh Gian duduk di samping Zaka.
Zaka mengubah posisinya menghadap ke samping Gian,"Kamu sebenarnya suka beneran tidak sama aku?",tanya Zaka tiba-tiba. Mengubah posisi duduk Gian menjadi menghadap ke arahnya.
Menatap sepasang manik mata di depannya dalam. Menunggu jawaban dan mencari jawaban sebenarnya.
__ADS_1