Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Kepercayaan


__ADS_3

Anda


\=>Besok tidak usah jemput, aku mau istirahat di rumah saja. Aku sudah membuat surat izin sakit.


\=>Selamat malam Zaka.


Notifikasi chat yang Gian kirim untuk Zaka. Namun sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari Zaka. Hanya centang satu pertanda belum di baca sama sekali oleh penerima pesan hingga tiga Minggu berlalu. Dan tanda pesan itu tetaplah sama. Zaka bahkan tidak pernah lagi datang ke sekolah, begitu juga dengan Soni dan Rifqi.


Gian yang tidak tau harus bertanya kepada siapa lagi. Akhirnya lebih banyak menyendiri juga melamun, ia sering pergi seorang diri ke belakang gudang sekolah hanya untuk sekedar duduk melamun atau untuk menangis.


Sampai di suatu waktu. Ranggil datang menghampiri nya dan Gita saat sedang ada di kantin.


Memberikan ponsel pada Gian dan Gita,"Lihat ini",minta Ranggil.


Terkejut,"Inikan".


"Iya, itu adalah Tio yang mati di amputasi tempo hari",jelas Ranggil singkat padat.


"Lalu bagaimana dengan Zaka?", khawatir.


Menggeleng,"Aku belum mendapatkan kabar apapun tentang keberadaan Zaka",balas Ranggil.


Di hari itu. Jon mendapatkan kabar jika ada berita pembunuhan yang terjadi di suatu tempat tidak jauh dari pusat Kota. Jazad korban pembunuhan itu di amputasi mengunakan pedang. Maka dari itu, saat Jon mengetahui Zaka kabur dengan membawa katana dan kembali dengan katana berlumuran darah. Sudah cukup membuat Jon yakin bahwa Zaka telah terlibat. Walau Zaka sudah mengatakan tidak tapi Jon tetap mengambil keputusan berat untuk mengirim Zaka bersekolah ke luar negeri di hari itu juga.


Jon mengambil keputusan itu dengan harapan Zaka tidak akan ikut terlibat di selidiki. Karena Jon tidak ingin kehilangan satu-satunya putranya lagi.


Tokk...Tokk..... tengah melamun seorang diri di dalam ruang kerja pribadi di rumahnya. Salah seseorang di luar mengetuk-ngetuk pintu ruang kerja nya dari luar."Masuk".


Meletakkan sebuah ponsel di atas meja kerja Jon,"Permisi Tuan Jonathan",ucap lelaki yang saat ini sudah berdiri tidak terlalu jauh dari meja kerja Jon.


"Terima kasih, kamu bisa pergi",minta Jon.


"Baik Tuan, permisi",pamit lelaki ini meninggalkan ruang kerja pribadi bosnya.


Gian


\=>Besok tidak usah jemput, aku mau istirahat di rumah saja. Aku sudah membuat surat izin sakit.

__ADS_1


\=>Selamat malam Zaka.


\=>Di mana pun kamu sekarang. Jangan terlalu di pikirkan soal beritahu itu. Kamu tidak bersalah Zaka, bukan kamu pelakunya. Aku percaya kamu bukan orang seperti itu.


\=>Cepat kembali Zaka aku percaya kamu orang baik. Kamu bukan penjahat.


Sebuah notifikasi chat yang entah dari siapa. Cukup membuat Jon langsung benar-benar terdiam. Rasa heran dan tidak percaya terus melintas di dalam kepalanya. Jon terkejut dengan pengiriman pesan ini. Bagaimana bisa dia begitu percaya pada putra sulungnya? Yang selama ini ia kenal sebagai pembuat onar, berandalan yang sulit di atur. Perempuan macam apa dia sampai bisa sebegitu yakinnya Zaka tidak bersalah?


+++++++


Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Sampai tidak terasa sudah 9 tahun berlalu semenjak peristiwa di hari itu terjadi.


Seorang lelaki yang berada di salah satu mobil yang tengah melaju di jalanan Kota. Berkata,"Pak, antar saya ke alamat ini".


"Tapi Tuan...", memotong perkataan supirnya."Antar saya pak, biarkan ayah saya menunggu",kata Zaka, seseorang lelaki yang tengah duduk di dalam mobil ini.


Zaka buru-buru menyelesaikan studinya di luar negeri agar bisa secepatnya kembali pulang ke negeranya. Saat hari ini tiba, Zaka benar-benar sangat bersemangat. Ia sangat tidak sabar untuk segera di pertemukan kembali dengan Gian. Sesosok perempuan yang ia tinggalkan tanpa sebab selama bertahun-tahun lamanya.


Setelah mobil berhenti dengan baik. Zaka pun segera beranjak turun dari dalam mobil. Untuk segera mendekati rumah yang tetap terlihat sama hingga sekarang.


Zaka mengetuk beberapa pintu kayu di depannya. Berharap segera mendapatkan balasan dari pemilik rumah. Namun setelah beberapa jam mengetuk tidak kunjung juga ada balasan.


"Pemilik rumah ini Bu, Gian",balas Zaka.


"Owh, orangnya sudah tidak tinggal di sini Mas. Pemilik rumah sudah meninggal empat tahun yang lalu. Cucunya Gian, katanya lanjut kuliah di Semarang".jelas ibu ini.


"Yasudah iya mas", berlalu pergi meninggalkan Zaka yang hanya terdiam.


Zaka akhirnya kembali ke rumah. Di rumah ia langsung di sambut oleh Jon dengan pelukan hangat. Keduanya saling bertukar obrolan ringan, sebelum lanjut pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama.


Hari-hari lagi-lagi berlalu dengan sangat cepat. Tanpa terasa sudah dua Minggu Zaka ada di tanah kelahirannya yang entah kenapa jadi sangat hampa. Hingga di suatu hari Minggu. Zaka memutuskan untuk berkeliling joging memutari jalanan Pusat Kota.


Mengehentikan langkah Zaka dengan memegangi lengan Zaka,"Zaka bukan?",tanya seorang lelaki pada Zaka.


Zaka melepaskan handset yang menyumbat gendang telinga nya,"Iya",balas Zaka dingin.


Memukul bahu Zaka keras,"Bang**sat!Lupa lu sama gue?Gue Ranggil anjing",

__ADS_1


Yang sebenarnya akan marah justru berganti dengan senyuman summering,"Ranggil tol**ol",


"Oh Bang***sat! Tidak ada perubahan",ujar Ranggil berubah ekspresi wajah menjadi datar.


"Hhhhhhahahhh........",


"Ayo mampir, rumah makan gue nih",ajak Ranggil pada Zaka untuk masuk ke dalam rumah makan minimalis modern milik Ranggil.


Menepuk bahu Ranggil,"Sudah sukses lu",


"Semua berkat lu, terima kasih bantuan lu waktu itu".


"Santai-santai, gue minta sarapan iya. Ada menu apa saja di sini?",Zaka yang sekarang sudah duduk di salah satu meja yang memang masih banyak yang kosong karena masih baru buka.


"Tai ada",


"CK, tol***ol".


"Hhhhh...... bentar Zak", berpaling ke arah meja kasir,"Pelayan",panggil Ranggil pada karyawan rumah makannya.


Tiba-tiba hening,"Selama ini lu pergi ke mana?Gia cariin lu", beritahu Ranggil.


Tanpa berucap berbelit-belit Zaka pun menceritakan semuanya yang telah terjadi padanya. Hingga ia tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun.


"Giaa",panggil Gita pada sesosok perempuan yang baru saja turun dari dalam kereta.


Gian, perempuan yang saat ini melambai-lambai tangannya seneng akhirnya bisa kembali ke tanah kelahiran. Di jemput sahabatnya pula di stasiun.


Gita mengantar Gian sampai pulang ke rumahnya. Dan membantu Gian bebersih rumah sampai rumah Gian yang di tinggalkan bertahun-tahun benar-benar kembali glowing.


"Besok tinggal ngecat Gi".


"Iya gampang, yang penting untuk aku tidur sudah bersih",


"Helehh.....btw mamak ku tadi chat suruh kamu ikut ke rumah ku. Mamak mau kamu ikut malam bersama ku......sitt..sitt...mamak ku dan aku tidak terima penolakan dari mu".


Menghela nafas berat,"Ya, iya, aku akan mandi bentar".

__ADS_1


"Siap".


__ADS_2