Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Pekarangan belakang sekolah


__ADS_3

Menepuk bahu Ranggil yang akhirnya kembali bersekolah lagi setelah empat hari alpha,"Uwiss nurut juga lu, padahal gue sudah ada rencana buat bunuh lu kalau tidak nurutin kemauan gue",gertak Zaka bernada bercanda untuknya, dan mengerikan untuk Ranggil dan Soni yang seketika tertawa canggung.


Jam pelajaran telah usai, tapi entah kenapa Gian enggan untuk pergi kemana pun. Bahkan untuk pergi ke kantin mengantar Gita. Alhasil Gita pergi seorang diri ke kantin.


Namun di tengah-tengah enak-enak nya tidur seseorang tiba-tiba menghampiri Gian dan berkata,"Gia",


Mendongak melihat seseorang yang memanggil namanya,"Ikut gue Gi, di cariin jodoh lu".


"Hah?".


"Cepat Gi keburu dia marah dan habisi kita berdua",Soni yang tergerak cepat menarik Gian agar segera berdiri dan ikut bersama mereka.


Semua mata tertuju pada Gian, tapi ia abaikan. Enggan untuk mengomentari ataupun menjelaskan apapun pada mereka yang pasti sedang menyimpan banyak pertanyaan tapi enggan untuk mengutarakan karena keberadaan kedua kakak kelas yang sedang bersama Gian.


Sedikit cerita. Baik Ranggil ataupun Sion terkenal dengan kenalkan nya yang sangat berandalan baik di dalam sekolah ataupun di luar sekolah, namun setelah naik kelas tiga kenakalan yang biasanya keduanya lakukan sudah tidak terdengar lagi. Walaupun begitu mereka yang sudah sangat mengenal tetap merasa was-was takut ada di dekat mereka berdua. Apalagi saat beberapa anak tau keduanya dekat dengan anak baru yang ternyata adalah Zaka, yang memiliki julukan mengerikan raja pedang monster.


Setibanya di tempat biasa, di bawah tangga yang sangat jarang di lewati. Karena ternyata jalan itu adalah jalan menuju gudang belakang sekolah. Ranggil, Soni menghentikan langkah kakinya.


"Kita antar sampai sini saja Gi, selanjutnya lu jalan saja sendiri nanti di belakang gudang sekolah ada Zaka",beritahu Soni pada Gian.


"Jujur gue sangat kaget, sangat Gia. Saat gue tau kalau ternyata lu adalah pacarnya Zaka. Hati gue sakit banget Sin...sakit",Ranggil yang berlalu pergi sembaring memegangi bahu Soni untuk menahan ketabahan hatinya yang remek. Dengan tangis sesenggukan.


Gian tidak memberikan respon apapun selain diam, hingga akhir ia berjalan mengikuti jalan ini untuk pergi ke pekarangan belakang gudang sekolah.


Sembaring bergumam dalam hati,'Zaka!Tidak seharusnya dia memberitahu mereka...',pikir Gian kesal.


"Zaka",panggil Gian pelan karena setibanya ia sana. Gian tidak melihat ada tanda-tanda keberadaan Zaka di sana.

__ADS_1


"Sini Gia",panggil suara yang sangat Gian kenal, sehingga ia tidak ragu-ragu mengikuti sumber suara itu berasal.


Melihat seseorang yang ia cari-cari tengah terduduk memainkan layar ponsel,"Zaka kena...".


Menarik tangan Gian agar segera duduk di sampingnya tanpa menunggu Gian melanjutkan perkataannya.


Menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana,"Kenapa kamu beritahu mereka, bagiamana nanti kalau seluruh sekolah tau. Aku jadi tidak bisa fokus belajar Zaka".


"Aku tidak mau ambil resiko lagi Gi. Yang suka sama kamu itu banyak, ternyata. Aku tidak mau kehilangan kamu",kata Zaka di barengi terus melihat ke arah lawan bicara.


Menghela nafas kasar memalingkan wajahnya ke arah lain,'Apa aku tanya saja iya',pikir Gian dalam lamunan nya.


Zaka tergerak merebahkan tubuh di kursi yang emang sudah ia tata, dengan berbantalkan paha Gian.


"Nanti kalau ada...",dengan kedua kelopak mata yang sudah terpejam."Enggak akan ada yang kesini",nada bicara santai Zaka, seakan-akan tau kelanjutannya dari ucapan yang belum terselesaikan Gian.


Mengubah posisi tidur menjadi miring ke depan perut Gian,"Jangan menghadap ke sini, ke sana kan bisa Zaka",tolak Gian menahan."Zaka",tegas Gian sedikit membentak.


Namun enggan di turutin oleh Zaka yang tetap memilih tidur menghadap ke depan perut Gian di barengi merangkul pinggang Gian untuk menahan jika sewaktu-waktu Gian berdiri mendadak. Tentu agar dirinya tidak sampai terjatuh.


"Zak jangan gini, tidak benar Zaka",Gian berusaha membujuk Zaka, karena entah kenapa ini tidak pantas.


"Kenapa Gi?Sudah ahh ngantuk,"meraih tangan Gian tanpa mengubah posisi tidur nya, dan menaruhnya di atas kepala nya."Di acak-acak enggak papa Gi asal jangan di jambak",pesan Zaka.


Merenggut keinginannya,"Aku pinginnya jambak Zaka",ucap Gian.


Kedua tangan Zaka yang tergerak merangkul pinggang Gian erat, menenggelamkan wajah ke dalam perut Gian, tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

__ADS_1


Sempat kaget karena geli, namun akhirnya Gian memilih untuk terdiam biasa. Tangan kanannya mulai tergerak kembali menyentuh surai rambut Zaka yang sedikit terlihat panjang ini. Membelai dan mengelus-elus nya lembut.


Sampai tanpa terasa terdengar bel masuk pelajaran selanjutnya berbunyi."Zaka bangun sudah mulai pelajaran lagi".


"Aku tarik nih rambut kamu kalau enggak mau bangun",ancam Gian.


"Udah lah Gi enggak usah masuk kelas".


"Enggak mau Zaka, cepat bangun",bujuk Gian."Katanya pingin cepat-cepat nikah, tapi aku mau nikah kalau sudah lulus Zak. Kalau seandainya tahun ini aku enggak naik kelas berarti pernikahan kita juga akan di undurkan".


Dengan malas Zaka akhirnya beranjak bangun dari tempat nya tidur duduk membelakangi Gian,"Aaahhh....Gi, Gia",memegangi lengan tangan kanannya.


Gian yang khawatir langsung mendekat berdiri di depan Zaka,"Ke-kenapa Zak?",


Meringis menahan sakit, "Kram otot Gi".


"Sudah di bilang keras kepala iya gini",Gian menarik kasar tangan Zaka yang sakit.


"Aahhh....kamu mau mematahkan tangan ku",ujar Zaka dengan raut wajah terkejut di barengi menahan sakit juga.


"Iya, biar tidak ikut tawuran lagi",dingin Gian fokus memijat pelan lengan Zaka dengan suasana hati lebih marah dari Zaka. Menyadari Zaka sudah enakan,"Dah aku mau balik".


Menggenggam tangan Gian,"Tunggu bentar",beranjak dari tempat duduknya. Zaka akan mencium pipi Gian, namun di halangi oleh telapak tangan Gian. Yang langsung berlalu pergi meninggalkan Zaka di posisi yang sama.


Terdiam mematung melihat kepergian Gian yang dari kejauhan sempat menengok ke arah nya dengan menjulurkan lidah meledek.


Dari kejauhan Zaka yang masih memperhatikan menyungging senyum tipis yang manis. Tanpa memiliki niatan untuk mengejar membalas.

__ADS_1


__ADS_2