Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Kedekatan


__ADS_3

Semenjak kejadian di malam itu. Zaka jadi sering masuk ke kamar Gian dengan mudah tanpa permisi. Namun di kali kedua ini Zaka mengatakan yang sebenarnya tentang alasannya selalu memaksa masuk ke dalam kamar Gian.


Zaka berkata ia hanya ingin menghindar dari tawuran. Gian yang awalnya tidak percaya juga kurang nyaman dengan kehadiran Zaka lama-kelamaan terbiasa. Walaupun Gian masih tetap waspada setiap kalinya. Ia takut Zaka akan berbuat yang tidak-tidak. Bukan berbuat yang demikian, tapi berbuat seperti membunuhnya.


Akan tetapi sudah dua Minggu ini. Gian tidak pernah sama sekali melihat Zaka lompat masuk ke dalam kamarnya.


Zaka seakan-akan hilang tertelan bumi selama dua Minggu ini. Karena Gian tidak mendapatkan kebar tentang Zaka sama sekali. Apalagi dengan Gian yang tidak memiliki nomor hp Zaka.


Di lain sisi Gian senang karena nyawanya tidak terancam. Namun di sisi lain, ia juga mengkhawatirkan keadaan Zaka. Apalagi saat Gian mengingat saat pertama kali ia dan Zaka bertemu. Zaka dalam keadaan yang terluka. Di tambah lagi Gian yang tau kegiatan buruk yang sering Zaka lakukan. Tentu membuat Gian khawatir. Apakah jangan-jangan Zaka terluka parah karena kegiatan buruknya sampai masuk rumah sakit. Atau jangan-jangan Zaka sudah mati karena ulah buruknya.


Entahlah isi kepala Gian sangat penuh dengan kekhawatiran tentang keberadaan lelaki berandalan itu. Padahal di satu sisi ia juga merasa senang karena bisa terbebas darinya.


Drepp....Suara hentakan kaki yang meloncat masuk melalui jendela kamar Gian. Milik suara seseorang yang tidak asing untuk gendang telinga Gian terima.


Gian segera bergegas beranjak turun dari tempat tidurnya. Atensi penglihatan nya langsung melihat ke arah datangnya Zaka.


Setelah cukup lama memperhatikan Gian baru menyadari jika lelaki di depannya saat ini baru saja pulang dari tawuran lagi, sesuai dengan yang ia pikirkan sejak tadi.


Ragu-ragu Gian bertanya,"Ka..kamu baru saja ikut tawuran lagi?".


Zaka yang fokus melihat katana yang berlumuran darah, sebelum akhirnya ia simpan kembali. Ia mendongak dan tersenyum tipis pada Gian yang melihat nya.


Baru ia terfokus melihat Gian,"Minta minum Gi",minta Zaka.


"Hemm",dehem malas Gian berlalu pergi untuk mengambil sebotol air putih yang memang sudah ia siapkan selalu ia letakkan di atas meja belajar untuk berjaga-jaga jika Zaka datang.

__ADS_1


Sembaring memberikan minuman ini kepada Zaka,"Berhenti tawuran Zaka",minta Gian bernada rendah kalem.


Walaupun lembut namun Zaka yang masih meneguk minuman langsung terfokus melihat tajam ke arah Gian membuat perhatian Gian tertunduk takut.


Tangan berat lelaki ini tiba-tiba sudah ia rasakan ada di atas kepala nya,"Siapa gue lu, nyuruh gue berhenti tawuran?",tanya Zaka.


Gian hanya terdiam tertunduk sebelum ia kembali berkata,"Lagian tawuran tidak ada manfaat apa-apa, setiap kali selesai tawuran yang kamu dapat hanya luka-luka kesakitan. Tidak ada manfaatnya sama sekali".


"Makanya gue tanya? Siapa lu sampai menyuruh gue berhenti tawuran?",tanya Zaka bernada tegas menarik dagu Gian agar mendongak paksa melihat tatapan nya."Gue selalu menghajar habis siapapun yang mengatur-atur hidup gue".


Hati Gian muai tidak tenang, ia berpikir tidak bisakah waktu di putar kembali. Jika bisa aku mau menarik kata-kata ku kembali, pikir Gian gusar.


"Tapi sepertinya dengan yang saat ini gue tidak bisa marah",Zaka melepaskan pegangan nya."Gue akan berhenti tawuran. Seperti yang lu minta",kata Zaka di barengi melepaskan jaket yang ia kenakan membuat Gian dapat melihat jelas luka yang masih basah menganga lebar di punggung Zaka, saat Zaka membelakangi nya.


Zaka hendak kembali duduk seperti biasa di bawah jendela kamar Gian. Akan tetapi Gian justru menghentikan langkah kaki Zaka dengan menggenggam lengan Zaka,"E...luka mu harus segera di obati. Aku akan ambil kotak obat".Gian berlalu pergi tanpa menatap langsung lawan bicara nya yang masih terdiam memperhatikan dirinya.


Gian duduk di depan Zaka yang membelakangi nya dan mulai di sibukkan fokus mengobati beberapa luka sayatan di punggung atas bahu Zaka. Walaupun terlihat sangat fokus mengobati, tapi sebenarnya di dalam pikiran Gian menyimpan banyak sekali pertanyaan untuk Zaka. Begini, luka sayatan sedalam ini dan selebar ini apakah tidak sakit, apakah tidak peri. Dan bagaimana orang-orang itu begitu tega melakukan atau membuat luka seperti ini.


Baru selesai mengobati dan Zaka memutar balikkan posisi duduknya menghadap Gian. Saat Gian sudah akan membereskan kotak obat.


"Gi masih ada satu lagi",kata Zaka menunjuk luka menganga lebar sayatan di pahanya.


Sangat ngeri sekali, luka itu benar-benar sangat lebar bagaimana cara mengobati nya. Di saat fokus-fokus nya Gian memperhatikan luka itu. Zaka dengan tenang berkata,"Bersihkan saja pakaian alkohol terus bungkus pakai perban luka, nanti sampai rumah biar gue jahit sendiri".


Gian terdiam terfokus menatap Zaka.

__ADS_1


Zaka sedikit berdiri untuk menurunkan celana jeans yang ia kenakan sampai memperlihatkan celana lain berwarna abu-abu. Sehingga membuat mata Gian masih terjaga kesuciannya walaupun saat itu Gian sudah sangat panik langsung memalingkan perhatian melihat ke arah lain.


"Cepat lihat kesini, lu mana bisa mengobati sambil lihat ke sana",kata Zaka pada Gian yang memang sejak awal Zaka membuka celana jeans melihat ke arah lain.


Gian ragu-ragu kembali melihat ke Zaka. Untuk mulai mengobati luka sobek di baha Zaka yang sesekali terdengar merintih kesakitan. Karena cair alkohol yang Gian gunakan untuk membersihkan dan menghentikan pendarahan yang di sebabkan luka ini.


Sesaat kemudian setelah Gian selesai mengobati luka-luka Zaka. Ia pun kembali beranjak menaikan kembali celana jeans yang ia kenakan. Sementara Gian sibuk membereskan bekas kotak obat yang ia gunakan.


Terdiam tidak melakukan apapun membuat Zaka baru menyadari sesuatu yang sejak tadi tidak terlalu perhatian. Di mana Zaka baru menyadari jika Gian hanya mengenakan celana sangat pendek. Bahkan saat Gian beranjak bangun untuk menyisihkan kotak obat tadi. Zaka seperti tidak melihat Gian mengenakan celana. Karena kaos yang Gian kenakan sampai menutup hampir keseluruhan celana yang Gian kenakan.


Tidak sampai berhenti di situ perhatian Zaka masih terus memperhatikan kaki jenjang yang terlihat sangat menggoda. Hingga tanpa sadar pikir-pikir negatif mulai bermunculan di dalam kepalanya. Membuat Zaka sangat kepanasan, padahal saat ini Zaka duduk di lantai.'Sial!!Apa Gia tidak menyadari nya?',pikir Zaka geram.


Zaka baru bisa bernafas lega saat Gian sudah masuk ke dalam selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh nya. Iya, walaupun tidak sepenuhnya tenang karena semuanya sudah terlanjur tertarik sehingga masih membutuhkan waktu beberapa menit untuk menenangkan nya.


Alhasil Zaka mencoba mencari kesibukan dengan menyalahkan layar ponsel nya. Seenggaknya sampai ia bisa melupakan dan menenangkan seseorang di bawah sana yang sudah meronta-ronta.


"Gi gue pamit pulang",Gian masih sangat mengantuk hanya merespon dengan mendesah sembaring menggeliat membenarkan selimut nya. Zaka yang gemas memberikan ciuman di bibi pink Gian. Sebelum akhirnya ia bersiap loncat keluar meninggalkan ruang kamar Gian sebelum azan subuh berkumandang sebentar lagi.


Tokk.....Tokk......Tokk.....,"Gia bangun sekolah",suruh kakek Gian yang ada di luar pintu kamar Gian.


"Iya kek Gian sudah bangun".


"Iya cepat mandi dan sarapan".


"Iya Kek".

__ADS_1


Gian beranjak bangun duduk di tepi tempat tidur sembaring melamun. Terdiam beberapa menit dengan tangan yang terangkat mengelus bibirnya sekilas,"Tidak lagi!Dasar Gian!!",ujarnya lekas beranjak dari tempat duduknya untuk segera bersiap-siap mandi dari pada harus mengingat kejadian ciuman itu mimpi atau emang tidak.


__ADS_2