Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Penghianatan


__ADS_3

Namun di hari ketiga. Zaka tiba-tiba menyuruh Soni untuk mengantarkan Gian pulang. Gian yang mengetahui itu mencoba memastikan terlebih dahulu kepada Zaka. Namun Soni begitu menyakinkan Gian bahwa dirinya benar-benar di suruh oleh Zaka. Soni juga memantapkan dengan berkata jika dirinya tidak menuruti kemauan Zaka dia akan dalam masalah.


Lagi-lagi karena alasan sudah mengerti bagaimana sifat Zaka kalau sudah marah. Gian akhirnya menuruti keinginan Soni dan menerima permintaan Soni yang akan mengantarkan pulang. Ia juga kasihan dengan Soni jika nanti kena maukah dari Zaka.


Selepas kepergian Gian. Sesaat kemudian Ranggil yang baru keluar kelas buru-buru datang menghampiri Gita yang baru akan keluar gedung sekolah seorang diri.


Menghalangi jalannya Gita,"Gita temennya Gian bukan?",pastikan Ranggil apakah dia tidak salah orang ataupun benar.


Mengangguk ringan canggung,"Iya".


"Gian masih di kelas?".


"Ada apa cari Gia?Kak Ranggil tidak takut di hajar kak Zaka?",Gita bernada menakuti.


"Aku tidak berani berbuat macam-macam jika bukan karena Zaka sendiri yang nyuruh ku untuk mengantar Gian pulang",jelas Ranggil pada Gita.


Gita manggut-manggut sembaring merogoh kantong celana. Mencoba untuk menghubungi Gian dengan mengirim beberapa notifikasi chat.


^^^Anda^^^


^^^\=>Kamu sudah pulang?Kamu di cariin Kak Ranggil katanya dia di suruh pacar mu buat antar kamu pulang.^^^


Gian


\=>Ha? Bukannya Zaka sudah minta Kak Soni untuk mengantar ku pulang.


Gita yang bingung setelah membaca balasan dari Gian pun mendongak melihat Ranggil kembali.


"Kak kata Gia. Kak Zaka sudah minta tolong Kak Soni buat antar Gia pulang".


"Ha!Zaka kenapa tidak bilang", Ranggil mengerutkan keningnya bingung, ia pun segera merogoh kantong celana nya untuk mengambil ponsel miliknya.


Tersambung.

__ADS_1


*Zak lu gimana sih. Sudah minta tolong Soni buat mengantar Gian pulang malah minta tolong gue juga buat ngantar Gian pulang".


*Apa anjing?Gue tidak minta tolong Soni. Lu kan tau gue tidak punya nomor telepon nya Soni, gue tadi kan ngomong ke elu lewat telfon".


*Terus Soni....".


*Soni sudah pergi sejak kapan bawa Gian?".


*Tidak tau Zak".


*Coba lu cari tau, gue akan cari cara buat keluar rumah".


*Cepat kabarin gue kalau sudah dapat informasi",tegas Zaka di seberang sana terdengar panik sebelum akhirnya mengakhiri panggilan telfon.


Kembali berpaling melihat Gita,"Kamu bilang ke Gian suruh serlok. Dan.... boleh tidak hp lu gue bawa buat ngejar Soni dan Gian?",minta Ranggil ragu-ragu di akhir kalimat Gita akan setuju.


Gita belum merespon, ia fokus memainkan layar ponsel. Sebelum akhirnya kembali terfokus melihat Ranggil dan memberikan ponsel kepada Ranggil."Ambil, pastikan Gian kembali dalam keadaan baik-baik saja".Gita yang sepertinya sudah peka sahabat sedang dalam bahaya.


Pada akhirnya mereka berdua melakukan pertukaran ponsel setelah Ranggil meminta nomer telpon Gita. Ranggil memberikan ponsel pada Gita, dan perpesanan untuk menghubungi nya jika ia belum kunjung memberikan kabar tentang Gian sahabatnya.


Zaka sudah siap berganti pakaian, juga katana yang terselip di sabuk pinggang nya. Sekarang hanya tinggal mencari cara untuk kabur dari rumah.


Ia keluar balkon kamar nya di lantai tiga yang biasanya ia pergunakan untuk kabur diam-diam. Tapi dengan kaki yang cindera karena kejadian kemarin. Rasa sakit yang baru Zaka rasakan saat bangun pagi di rumah Gian. Membuatnya akan sulit untuk turun.


Zaka kembali masuk dan terdiam cukup lama terduduk di tepi tempat tidur. Hingga mengacak-acak surat rambut frustasi. Sampai akhir terlintas satu ide di dalam kepalanya.


Ia meraih ponsel khusus untuk menghubungi art rumah yang tergeletak di atas meja dekat tempat tidur. Dengan ponsel itu Zaka meminta bantuan kepada art rumah nya dengan sesekali di barengi rintihan kesakitan tipis yang Zaka derita kambuh.


Art itu langsung panik dan berkata akan segera datang membawakan obat yang memang sudah di sediakan. Namun baru juga membuka pintu kamar. Zaka menarik paksa pergelangan tangan art rumah nya, dan mendorong nya masuk ke dalam kamar. Sementara Zaka bergegas keluar kamar dan mengunci pintu kamarnya dari luar.


"Tuan muda buka. Tuan muda, Tuan besar akan marah jika tau",minta art itu perempuan dewasa itu berteriak-teriak meminta pada majikannya.


"Maafkan Zaka Bibi",balas Zaka tanpa membukakan pintu kamar.

__ADS_1


Zaka pergi dengan membiarkan art rumah nya tetap terkunci di dalam kamar milik nya.


Hanya bisa berpegang kuat pada pegangan di belakang jok motor,"Kak kenapa ke sini?Ini bukan jalan rumah ku",kata Gian semakin cemas apalagi setelah notifikasi chat tadi. Ia jadi semakin takut, mau loncat pun gimana.


Namun Ranggil kembali menyakinkan Gian,"Zaka nyuruh aku untuk mengantar kamu ke suatu tempat katanya".


Walaupun sebenernya Gian sudah sangat tidak percaya, Gian tetap memilih diam sepanjang perjalanan.


Hingga saat ada kesempatan untuk lari. Gian tiba-tiba mendapat pukulan keras di punggung hingga ia tidak sadarkan diri.


Next......


Setelah mengemudikan motor cukup jauh. Zaka menepikan motor nya sejenak untuk menghubungi Ranggil di seberang sana.


Ranggil di seberang sana yang sudah mengetahui tempat keberadaan Gian segera mengirimkan sebuah foto halaman depan rumah yang saat ini sedang menyekap Gian di dalamnya. Kepada Zaka yang sedang dalam perjalanan menyusul ke sini.


Tidak memiliki cukup keberanian. Ranggil hanya bisa terdiam di tempat persembunyian sembaring menunggu Zaka datang dan berharap Zaka datang tidak seorang diri. Di saat Ranggil tau tidak hanya Soni saja yang masuk ke dalam rumah itu, tapi datang empat orang lagi masuk ke dalam rumah yang sama.


Gian langsung siuman saat ia merasakan tubuhnya di guyur air dingin hingga seragam sekolah yang ia kenakan basa kuyup. Ia benar-benar sadar bahwa dirinya saat ini sedang terikat di kursi. Dan takutnya lagi ia tidak bisa melihat apapun selain warna hitam kain yang menutupi wajahnya.


Sampai seseorang membuka penutup itu, membuat Gian akhirnya bisa melihat sekeliling nya. Dan dari banyak lelaki yang mengelilingi nya ada dua sosok orang yang Gian pikir sudah berubah dan orang baik-baik, ternyata sekarang seseorang itu berusaha untuk menyakiti nya. Hal itulah yang membuat Gian benar-benar terkejut, juga merasa sangat bersalah. Karena posisinya sekarang pasti akan membahayakan Zaka.


Gian memang ingin ada yang segera menolong nya, tapi Gian juga ingin bukan Zaka yang datang menolong nya. Melihat Zaka seperti di mimpi nya saja cukup membuat nya hancur ketakutan. Apa lagi saat di paksa untuk melihat versi nyatanya.


Terus berdoa dan berharap Zaka tidak akan datang walaupun sedang di posisi yang sangat membutuhkan kehadiran Zaka.


"Rifqi",panggil lelaki yang pernah Gian lihat di parkiran mol."Katanya lu mau balas dendam, mumpung sudah ada di sini lu tidak mau coba",kata lelaki ini.


Inilah yang membuat Gian sangat terkejut. Rifqi yang Gian pikir sudah berubah ternyata salah, dan Soni yang Gian pikir baik ternyata sangat salah. Justru Soni sendiri lah yang membawa dirinya ke sini.


Di tengah kebingungan itu tiba-tiba, Pakkkk.....tamparan kuat mendarat tepat di pipi mulus Gian yang langsung memerah mawon.


Rifqi lah yang melakukan, tanpa mengucapkan apapun Rifqi pergi kembali ke tempat nya enggan untuk ikut campur lagi bergabung dengan kedua lelaki lain.

__ADS_1


Hanya tinggal menyisakan Soni dan lelaki ini saja yang masih menggoda Gian yang tidak bisa berbuat apapun selain menangis tersedu-sedu dengan tubuh terikat, pipi memerah panas.


Apalagi yang bisa Gian lakukan selain itu?Tidak ada.


__ADS_2