
Gian sedang fokus-fokus nya belajar. Sampai sebuah notifikasi chat singkat dari nomer tidak di kenal tiba-tiba masuk ke dalam ponsel nya.
\=>Gi, gue Zaka. Gue mulai besok tidak akan datang. Selama malam, jaga diri baik-baik".
Saat Gian membalas notifikasi chat itu, seseorang di seberang sana sudah tidak menerima pesan darinya. Membuat hati Gian tidak tenang, gelisah.
'Zaka sudah bilang tidak akan ikut tawuran. Jangan berpikir buruk Gian',pikir Gian yang akhir-akhir ini jadi sering mengkhawatirkan keadaan lelaki berandalan itu.'Lagian bukankah lebih baik begini jauh dari dia'.
Hingga sampai tiga Minggu berlalu tanpa ada sedikitpun balasan dari Zaka yang sama sekali tidak membaca pesan chat ia kirimkan. Dengan perasaan yang masih terbayang-bayang hal buruk terjadi pada Zaka. Gian yang kurang istirahat dengan baik selama beberapa Minggu ini berjalan berlahan untuk memasuki halaman sekolah setelah turun dari angkot yang ia naikin.
Di sisi lain belum sempat memasuki halaman depan sekolah. Gian justru di hadang oleh dua laki-laki kakak kelasnya.
"Wee, dek Gian cantik",menghadang jalannya Gian dengan berhenti sejajar di depan Giam bersama-sama. Mereka berdua adalah Ranggil dan Soni. Kakak kelas laki-laki Gian.
"Berhenti bentar dek Gia, yok kita ngobrol bentar",menyenggol lengan Sion.
"Ada masalah apa dek lecet amat mukanya?".ucap Sion.
"Coba cerita sama kita",minta Ranggil tersenyum pada Gian.
Mendongak untuk melihat kedua pemuda yang menghalangi jalannya,"Minggir",dingin Gian menatap cuek pada keduanya.
Gian beralih hendak mengambil jalan memutar kedua nya. Namun keduanya lagi-lagi berdiri di depan Gian menghalangi jalan Gian.
Menghela nafas kasar,"MINGGIR TIDAK??",bentak Gian bernada tinggi marah. Namun keduanya kakak kelasnya, Ranggil dan Soni justru semakin senang menggoda Gian yang sudah memanas marah.
Baik Ranggil dan Soni semakin semangat menganggu Gian. Padahal keduanya sudah tau jika mereka memilih menjauh dari Gian yang sedang marah. Tapi mereka berdua justru kebalikannya.
"CK beraninya sama perempuan. Kalian sebenarnya cowok apa bukan? Satu lawan dua lagi",semprot seseorang yang membuat ketiganya langsung terfokus melihat ke arah datangnya sumber suara.
Leozavano Dirgantara
Lelaki berjas abu-abu tua dan berkemeja putih acak-acakan di keluarkan, celana kotak-kotak abu-abu tua dan muda. Remaja lelaki berseragam sekolah elit itu berjalan mendekat. Semakin mendekat, sampai Gian yang dapat mengenali betul siapa lelaki itu segera bergegas pergi meninggalkan tempat ini.
"Iyakan pergi",ujar Ranggil kesal tersenyum masam melihat kepergian Gian.
Sion menarik bahu lelaki ini,"Lu nyasar brai?".
"Tidak, gue anak sekolah sini mulai sekarang",kata Zaka seseorang lelaki berseragam sekolah elit itu.
"Serius!!Wah bakal terjamin keamanan sekolah ini kalau ada lu",semprot Ranggil.
Menepuk bahu Zaka, Soni berkata,"Bakal di jaga sama bos Zavano",nama asli Zaka yang tidak terlalu di kenal oleh teman-teman ataupun musuhnya.
Sembaring berjalan beriringan untuk segera masuk ke dalam kelas.
"Bang**sat!Lu pikir gue apaan anjing",Zaka menatap datar."Satpam sekolah lu!!".Sebelum akhirnya tertawa lepas karena ucapan terlalu di anggap serius oleh Soni dan Ranggil yang langsung terdiam.
"HHHHAHHHH....Bercanda be**go, gitu saja di ambil serius. Tidak asik".
__ADS_1
++++++++
Bakk....kaki jengkal seorang lelaki yang selama beberapa Minggu ini ia rindukan akhirnya muncul juga dengan lompatan jendela seperti biasa.
Kali ini Zaka datang dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya. Karena ia yang biasanya selalu mengenakan celana jeans kaos oblong lengkap dengan jaketnya. Di malam ini ia datang hanya dengan mengenakan suwiter jaket merah dan celana pendek selutut. Tak lupa dengan membawa kantung plastik berisikan kotak camilan untuk Gian.
Menyodorkan kantung plastik itu pada Gian,"Ambil Gi",suruh Zaka.
"Apa ini?",Gian yang mager mendorong kursi belajar nya untuk mendekati Zaka dan mengambil kantung plastik kasih.
"Martabak",kata Zaka mendorong kursi belajar Gian mendekati tempat tidur."Gi minta minum?".
"Tuh di meja belajar".
"Iya ambilkan gue sudah terlanjur duduk".
Aaaa...... menyodorkan sepotong martabak ke depan mulut Gian."Ayo bukan Gia Aaaa.....".
Gian membuka mulut menerima suapan dari Zaka, tentu untuk menghindari keributan panjang yang terjadi jika ia menolaknya.
"Sepertinya gue harus lebih waspada kalau di sekolah untuk menjaga lu. Karena ternyata banyak yang suka sama lu",kata Zaka membuat perhatian Gian terangkat melihat ke padanya."Kamu tadi marah sama aku?".
Pertanyaan yang membuat Gian justru bertanya balik,"Marah kenapa?".
"Tadi pagi kenapa setelah aku menolong kamu. Kenapa kamu langsung pergi tidak menyapa aku. Kamu malah pergi seakan-akan kamu marah dengan ku".kata Zaka tiba-tiba bernada lembut."Maaf selama beberapa Minggu ini tidak datang atau chat kamu. Ponsel ku di sita Ayah, karena ayah berpikir aku ikut tawuran yang menewaskan orang di pinggiran Kota kemarin malam".
"Tidak, aku tidak marah dengan kamu",jelas Gian."Tadi pagi aku pikir kamu tidak mengenal ku karena penampilan ku. Yang membuat terlihat gemuk, juga lecek".
"Lah jadi karena itu kamu mengabaikan ku tadi pagi",yang di balas dengan anggukan kepala dari Gian."Tapi kamu tetap cantik, buktinya saja Ranggil dan Soni suka sama kamu".
Menatap terkejut Zaka,"Eh?",
Menutup kotak martabak,"Yasudahlah mending kita tidur besok kan masih harus sekolah",ajak Zaka dengan nada bicara santainya.
"Hah?",Gian yang duduk di kursi yang sama berusaha untuk mendengarkan kembali apa yang baru saja Zaka katakan.
"Enggak! Kamu tidur saja di tempat biasa, kalau tidak mau iya pulang saja sana. Aku tidak mau tidur dengan mu",Gian dengan nada kesal menolak ajakan Zaka.
Namun Zaka justru menatap tajam Gian yang menjadi ketakutan. Dan menyesali perkataan nya, bukan menyesal tapi seharusnya ia mengatakan kata-kata yang jauh lebih baik agar Zaka tidak sampai salah paham.
Akan tetapi semua sudah terlanjur. Zaka sudah terlanjur marah pada Gian.
Bernada selembut mungkin,"Zak, cobalah mengerti",minta Gian sembaring beranjak dari tempat duduknya.
Zaka hanya terdiam menatap nya datar. Gian yang tau berusaha untuk mengabaikannya. Ia berusaha menyibukkan diri seperti mengembalikan kembali kursi belajar ke tempat nya semula.
Kedua tangan Zaka tiba-tiba sudah melingkar di pinggang Gian dari belakang. Membuat Gian semakin panik ketakutan.'Tidak aku harus tetap tenang',pikir Gian berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya dan Zaka.
Zaka menenggelamkan wajah ke leher Gian. Merinding membuat seluruh tubuh Gian seketika memanas, isi kepala mulai tidak terkendali. Hingga tanpa sadar Gian mendesah pelan menikmati.
__ADS_1
Tidak, Gian tetap merotan berusaha melepaskan kedua tangan Zaka yang melingkar di pinggang nya."Zaka berhenti".
"Zaka!",sedikit tegas. Gian yang akhirnya terbebas pun menjaga jarak dari Zaka. Pakkk......"Dasar mesum",marah Gian pada Zaka.
Pipi yang memerah karena tamparan dari Gian seperti tidak membuat Zaka marah,"Maaf Gia",menujuk ekspresi wajah paling memelas merasa bersalah."Aku hanya membuat tanda kepemilikan",
Mengerutkan keningnya berusaha mencerna maksud dari perkataan Zaka. Di saat baru memahami, Gian langsung berjalan mendekat ke cermin melihat tempat tadi Zaka melakukan sesuatu padanya.
Melihat bekas memerah di sana,"Zaka",berbalik badan untuk melihat Zaka yang sudah tidak ada di tempat nya. Ternyata Zaka sudah ada di tempat nya biasa rebahan dengan berbantalkan bantal milik Gian."Good night baby",ucapnya sebelum memejamkan matanya.
"Zaka tunggu jangan tidur dulu",minta Gian membuat Zaka langsung beranjak duduk."Apa baby mau dilanjutkan kegiatan nya".
Menatap datar Zaka,"Zaka. Bagaimana kalau kita sembunyikan saja status hubungan kita saat di sekolahan",minta Gian.
"Enggak",tegas Zaka yang sudah di duga oleh Gian pasti Zaka akan menolaknya.
"Apapun alasan kamu, aku tidak mau, Ranggil sama Soni saja kayak gitu sama kamu kagumnya sama kecantikan kamu. Nanti apa jadinya jika seterusnya mereka tidak tau kamu pacar ku".
"Zaka".
Gian yang sudah duduk bertumpu di depan Zaka,"Aku tidak mau mereka tau dan sekolah ku jadi terganggu Zaka. Aku harap kamu mengerti, karena kamu sudah tau tentang ku".
"Aku hanya ingin fokus sekolah, tanpa ada gangguan apapun. Aku tidak mau mengecewakan kakek ku".
"Kalau kamu cemburu, baiklah aku akan menjaga jarak dengan mereka berdua. Aku akan berangkat lebih pagi agar tidak bertemu mereka berdua".
Setelah cukup lama menyakinkan Zaka. Lelaki keras kepala di depan Gian saat ini akhirnya luluh akan kata-kata Gian.
"Okey, aku pegang perkataan mu. Tapi jangan cegah aku, jika aku sampai tau kamu main dengan laki-laki lain di belakang ku. Aku pastikan laki-laki itu hanya tinggal nama",nada bicara sisi kejam Zaka berkata.
Kiss. Zaka mencium bibir Gian sekilas, dalam jarak yang sangat dekat,"Kamu tidak bisa tidur, mau aku temenin".
Membulat manik mata sempurna. Gian buru-buru beranjak bangun menjauh dari Zaka.
Zaka hanya tersenyum jahil melihat Gian yang gusar bercampur panik dengan raut wajah memerah merona, karena ulahnya.
Gian memilih segera menjauh dan menjaga jarak, ia tidak mau terlalu dekat dengan Zaka lagi. Sudah cukup, bekas yang tadi saja sudah cukup membuat pusing bagaimana caranya besok ia harus menutupi.
Dengan perasaan putus asa Gian pun berlalu pergi ke tempat tidurnya. Seenggaknya dengan itu rasa capek kekesalan nya akan sedikit menghilang.
Namun Gian sangat salah besar. Tengah malam Zaka tiba-tiba membangunkan Gian hanya untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
"Gi bangun, Gia antar aku ke toilet, cepat tidak tahan",kata Zaka sembaring memaksa Gian untuk duduk walaupun dengan kedua mata masih terpejam.
Zaka yang tau sudah tengah malam. Memilih untuk langsung mengendong tubuh Gian ikut bersama menemaninya.
Setengah sadar dan tidak. Gian yang masih sangat mengantuk berat mengikuti saja. Rasanya sangat tidak memiliki tenaga untuk memberontak.
Di dapur Zaka mendudukkan Gian di kursi makan, sementara ia lekas pergi masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1