Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Wanita baik


__ADS_3

...Yang ikut sampah, bukan berarti dia juga sampah....


...Karena tidak semua sampah tidak bernilai....


+


+


+


"Nanti pulang sama aku iya, antar aku ke toko mu mau beli telur di suruh mamak ku",kata Gita yang sepertinya tidak di hiraukan apa yang di katakan Gita.


Gita yang berjalan beriringan dengan Gian pun mendorong bahu Gian pelan,"Gia",serunya sedikit membentak.


Menengok cepat ke arah sumber suara."Kenapa?".


"Iya kamu yang kenapa Gia?Dari tadi ngelamun saja lihat ke lapangan. Emang ada apa sih?",Gita yang berjalan ke samping Gian untuk mencari tau sumber yang membuat Gian gagal fokus sejak tadi.


Sampai perhatian Gita terfokus melihat ke sudut lapangan, tempat kakak-kakak kelas laki-laki berkumpul. Bersama dengan beberapa perempuan kakak kelas."Itukan?".


Menarik tangan Gita agar segera pergi,"Ayo pergi. Kamu tadi mau ngomong apa?",ucap Gian mengalihkan pembicaraan sembaring menarik Gita segera menjauh.


Terfokus melihat datar lawan bicara nya,"Lu jangan dekat-dekat anjing, duduk dekat gue",toxic Zaka pada Risa yang duduk terlalu dekat dengannya.


"Takut cewek lu cemburu", semprot Risa jutek.


"Ya",sembari beranjak dari tempat duduknya."Yok lanjut main",ajak Zaka pada teman-teman laki-laki untuk melanjutkan main basket. Dan untuk menghindar dari Risa.


"Tidak ku sangka cowok monster kalau sudah jatuh cinta mengerikan juga. Gue jadi kasihan sama ceweknya",ucap Ranggil yang langsung mendapatkan hantaman bola basket yang di lemparkan oleh Zaka.


"AYO",Teriaknya.


Di kantin sekolah. Di salah satu meja yang sudah di duduki dua orang anak perempuan yang hanya terduduk menikmati minuman dingin dan beberapa camilan roti.


Melihat Gian yang terus saja melamun membuat Gita ikut merasa sedih,"Sudahlah Gi jangan terlalu di pikirkan",minta Gita.


"Zaka ko tega iya Git",mendongak melihat Gita di susul tersenyum canggung."Seharusnya aku bahagia enggak sih, karena dengan begitu aku jadi lebih mudah jauh darinya. Atau punya alasan untuk meninggalkan nya. Tapi kenapa sakit banget Git".


Menepuk punggung tangan Gian,"Jangan di paksakan Gi kalau tidak bisa. Coba kamu obrolkan dulu dengan dia. Dan apapun keputusan mu nanti aku selalu mendukung mu. Karena, jujur aku tidak suka melihat kamu jadi sering melamun kayak tadi Gi. Di ajak ngobrol selalu tidak nyambung, berasa kayak ngomong sendiri tau. Kayak gila".


Tersenyum tipis sebelum akhirnya berkata,"Aku tinggal ke perpustakaan bentar mau pinjem buku".

__ADS_1


"Mau aku temenin?",tawar Gita.


"Enggak perlu kamu langsung kembali saja ke kelas".


"Baiklah",


Gian berlalu pergi ke perpustakaan seorang diri tanpa di temenin oleh Gita yang ia tinggalkan di kantin sendirian.


Setelah mengambil beberapa buku yang akan di pinjam. Di karenakan bel masuk telah berbunyi. Gian jadi tergopoh-gopoh untuk segera kembali ke kelas nya.


Karena terlalu terburu-buru itulah, Gian sampai tidak menyadari ke datang seseorang dari arah berlainan dengan nya berjalan saat ini. Sehingga menyebabkan tabrakan yang membuat beberapa buku Gian terjatuh ke lantai. Gian juga akan ikut terjatuh jika saja seseorang ini tidak memegangi nya.


Menyadari pelukan yang menyangga keseimbangan tubuh ini agar tidak jatuh. Gian segera melepaskan diri dan berdiri memberi jarak agak jauh.


"Maaf, maaf kak....".


Mengulurkan tangannya,"Rifqi",memperkenalkan namanya.


Mendongak melihat lawan bicara nya yang mengulurkan tangannya."Kak Rifqi".


"Aku pikir kamu melupakan ku tadi",kata Rifqi sedikit membungkuk untuk mengambil beberapa buku Gian yang terjatuh tadi. Dan memberikan nya kembali pada Gian.


Sembaring menerima buku itu Gian berkata,"Thanks kak".


"Lain kali jangan buru-buru kalau jalan bahaya",Rifqi yang mengingatkan.


"Iya, maaf kak. Permisi",Gian yang baru ingat tentang jam masuk kelasnya kembali terburu-buru melanjutkan perjalanan.


++++


Beberapa hari setelah Gian masih belum bertemu dengan Zaka. Iya, karena kemarin malam Zaka benar-benar tidak datang. Ada rasa sedikit senang, juga tidak. Karena entah kenapa isi kamar Gian saat itu benar-benar sangat sunyi sepi. Mau belajar pun sulit, padahal seharusnya ia bisa karena sudah tidak ada yang menganggu nya. Tapi tetap saja sangat sulit untuk Gian fokus belajar.


Di tengah lamunan nya. Gian tiba-tiba teringat saat Zaka bilang akan membantu nya belajar di malam itu. Ternyata tidak, karena di malam itu Zaka justru mengerjakan sendiri semua tugas sekolah rumah Gian. Sehingga di pagi hari saat bangun Gian hanya tinggal menyalin beberapa saja.


'Waktu itu aku hampir mendapatkan nilai seratus, bahkan yang bahasa Inggris sangat sempurna. Jadi kenapa laki-laki sepintar Zaka miliki pemikiran bahwa ikut tawuran adalah hal yang menyenangkan. Jika pun Zaka sering ikut tawuran... Bagaimana bisa dia sangat pintar?',bicara monolog Gian sendirian sembaring merenungkan kembali sisi lain dari Zaka yang belum sepenuhnya ia kenal. Di tengah bertempur dengan isi kepala. Gian yang teringat kejadian tadi siang tiba-tiba jadi merajuk melamun. Bagiamana saat mata kepala nya sendiri melihat dari kejauhan sebegitu dekatnya Zaka dengan Risa.


Gian segera beranjak dari tempat duduknya. ia memilih untuk secepatnya tidur dan enggan untuk memikirkan apapun lagi. Walaupun faktanya ia tetap tidak bisa tidur. Timbul banyak sekali pertanyaan yang harus segera ia tanya kepada Zaka. Ingin menelepon pun rasanya percuma, pasti sekarang Zaka sudah tidur.


++++++++


Keesokan harinya di sekolahan. Gian tanpa sengaja kembali bertemu dengan Rifqi. Saat itu Gian tengah membawa banyak sekali tumpukan buku di tangannya untuk di kumpulkan di ruang guru. Dan Rifqi membantu nya membawa sebagian dari buku yang ia bawah. Walaupun Gian sudah sangat menolak karena takut Zaka melihat nya dan salah paham.

__ADS_1


Tapi karena sudah terlanjur, Gian hanya bisa berdoa dalam hati Zaka tidak akan melihat nya bersama dengan Rifqi.


Setelah selesai, Gian langsung berpamitan pergi. Namun ketika berhenti tepat di lorong kelas yang sangat jarah sekali di lewati siswa siswi karena jalan khusus untuk guru. Gian yang hendak pergi lebih dulu justru terhenti karena Rifqi menggenggam pergelangan tangan nya.


"Tunggu Gian",ucap Rifqi masih menggenggam pergelangan tangan Gian.


Entah kenapa bukan berdebar senang yang Gian rasakan. Jantung Gian justru meloncat-loncat ketakutan dan tidak nyaman karena perlakuan ini. Apalagi saat ini posisi sedang ada di tempat yang sepi.


"Aku mau bilang sesuatu ke kamu",ucap Rifqi semakin membuat Gian bercucuran deras keringat dingin ketakutan. Tak ada sedikitpun rasa aman yang ia rasakan.


"Kalau aku ......",belum sempat menyelesaikan perkataan nya. Seseorang tiba-tiba datang merangkul bahu Gian, melepaskan genggaman tangan itu. Dan merangkul pinggang Gian agar lebih dekat dengannya lagi.


"Kamu kenapa sampai pucat kayak gini?",tanya Zaka seseorang yang membuat Rifqi terkejut. Apalagi saat mendengar nada bicara Zaka yang terdengar sangat akrab sekali atau jauh lebih akrab dengan Gian.


Di satu sisi Gian justru merasa tenang saat Zaka datang merangkul nya seperti sekarang. Entah kenapa ia menjadi lebih nyaman dan tidak ketakutan. Padahal tadi Rifqi hanya menggenggam tangan nya tapi entah kenapa Gian sangat ketakutan dan tidak nyaman. Sedang saat Zaka memeluk nya seperti sekarang, Gian justru merasa nyaman dan aman.


"Kalian?".


"Di cewek gue",kata Zaka melihat Rifqi dingin.


"Aku pikir kamu perempuan baik-baik Gian. Ternyata dugaan ku salah.... ", mendengar perkataan itu Zaka yang tidak terima langsung mencengkeram kerah pakaian Rifqi."LU PIKIR CEWEK GUE CEWEK APAAN",bentak Zaka.


Menggenggam lengan Zaka erat-erat,"Zaka sudah, aku tidak mau sampai ada guru yang lihat dan kamu terlihat masalah".


Zaka yang masih tetap pada cengkraman tangan nya,"Gue emang sampah masyarakat, bukan berarti Gian sama. Gian tetaplah Gian. Dia adalah wanita baik yang paling baik. Ingat itu",pertegas Zaka akhirnya melepaskan cengkraman tangan nya.


Rifqi akhirnya pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun kepada Zaka dan Gian lagi.


Menepuk ubun-ubun kepala Gian,"Sana balik",suruh Zaka pada Gian bernada suara lembut."Bentar lagi jam makan siang jangan lupa makan",pesan Zaka masih berdiri di depan Gian.


Gian hanya membalas dengan anggukan kepala canggung sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Zaka yang masih setia berdiri di sana menunggu dirinya benar-benar pergi terlebih dahulu dari tempat ini.


Hendak masuk ke dalam kelas Gian hampir saja bertabrakan dengan Gita yang akan keluar kelas,"Gia. Kamu dari mana saja?".


"Toilet",balas Gian enggan mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Pantas tidak balik-balik, aku pikir tadi kamu ninggalin aku di kantin sendirian".


"Sebenarnya iya, soalnya rencana ku hari ini tidur seharian di kelas",kata Gian tersenyum sumringah melihat bangku kelas yang ia duduki.


"Tidur, tidur, kita ada meeting untuk kegiatan pramuka besok",menarik pergelangan tangan Gian agar mengikuti langkah kakinya pergi.

__ADS_1


__ADS_2