
Masih di hari yang sama. Zaka berjalan seorang diri menghampiri Soni yang tengah duduk sendirian di taman sekolah menonton anak-anak lain sedang main bola. Ia duduk di tempat kosong samping Soni duduk.
"Ranggil dimana?Tadi di Alpha dia",kata Zaka.
"Biasa, tiap menjelang akhir bulan dia emang selalu seperti ini, kadang sampai sebulan penuh dia tidak masuk sekolah".
"What?".
Berpaling melihat lawan bicara,"Lu belum tau kalau Ranggil sudah tidak punya ayah".
"Sepeninggal ayahnya. Keluarga Ranggil terlilit hutang banyak sekali pada rentenir. Karena dia satu-satunya anak laki-laki yang tersisa di keluarga, jadi dialah yang harus mengorbankan waktu sekolahnya setiap menjelang akhir bulan untuk mencari uang untuk tambahan bayar hutang".
"Dia anak pertama dari tiga bersaudara, ibunya juga kerja jual kue. Tapi sepertinya masih belum cukup untuk bayar hutang",cerita Soni menjelaskan sisi kelam dari kehidupan Ranggil si anak bar-bar yang ternyata tulang punggung keluarga nya.
Zaka yang masih terfokus melihat lawan bicara,"Kerja apa dia?".
"Juru parkir di pasar Suka Raya",balas Sion.
Singkat cerita. Siang-siang yang terik. Di depan parkiran pasar tradisional. Seorang pemuda yang hendak memarkir motor di bantu oleh seorang tukang parkir yang sama sekali tidak mengenal seseorang yang tengah ia bantu. Hanya terus mengarahkan saja sebelum memberikan nomer parkir.
Memukul jok motornya kuat,"Weh anjing, sombong amat. Lupa lu sama gue, temen lu yang paling ganteng ini".
Ranggil terfokus melihat Zaka dengan ekspresi wajah yang masih kaget,"Astaga Zaka, lu ngapain di sini?".
"Cari keributan",ujar Zaka spontan di barengi turun dari atas motor nya. Memarkir sendiri motor nya dengan benar dan melepaskan helm yang ia kenakan.
"Mau ngobrol sama lu, anjing",
"Gue kenapa merinding iya",
Memukul topi Ranggil pelan,"Bang**sat!!".
"Mas bisa bantu angkatin barang masukin ke dalam mobil saya",minta salah seorang ibu-ibu pada Ranggil.
Antusias,"Bisa Bu",Ranggil pun mengikuti ibu-ibu ini,"Bentar Zak, lu duduk saja di pos sana",pamit Ranggil pada Zaka sembaring menujuk pos tempat tukang parkir biasa duduk berteduh.
Zaka mengangguk saja dan berlalu pergi ke pos yang di tunjuk oleh Ranggil. Belum sempat duduk. Zaka yang tidak memiliki niatan untuk duduk hanya meletakkan tas ransel sekolah nya saja. Sebelum akhirnya ia berlalu pergi menyusul Ranggil.
Ranggil sedikit terkejut saat melihat Zaka tiba-tiba datang membantu nya. Walaupun begitu Ranggil enggan berkomentar banyak, ia memilih untuk tetap fokus menyelesaikan pekerjaan nya terlebih dahulu.
__ADS_1
Sesaat kemudian. Ranggil juga di sibukkan lagi membantu mengeluarkan beberapa motor dari parkiran. Yang lagi-lagi di bantu oleh Zaka. Hingga hari menjelang sore keduanya masih di sibukkan dengan beberapa motor yang keluar pergi dari parkiran. Juga beberapa orang yang meminta bantuan kuli panggul.
Sore menjelang malamnya. Ranggil dan Zaka baru bisa duduk tenang di pos peristirahatan yang tersedia.
"Wah gila, lu tiap hari kayak gitu Ran?",tanya Zaka sembaring mengipasi dirinya mengunakan jaket miliknya sendiri.
Mengangguk ringan sembaring sibuk menghitung uang penghasilan hari ini,"Yang ini buat lu",memberikan beberapa lembar uang untuk Zaka.
"Bang**sat! Lu pikir gue apaan lu kasih uang recehan kayak gini", semprot Zaka."Gue enggak menerima uang kayak gitu, lebih baik lu simpen uang itu untuk kebutuhan lu sendiri".
Masih menyodorkan uang itu,"Tapi kan lu sudah bantu-bantu gue banyak sekali".
"Ran",terfokus melihat Ranggil."Gue bilang ambil, ambil",tegas Zaka."Gue ikhlas bantu lu, gue tidak mau imbalan apapun dari lu",di susul beranjak dari tempat duduknya."Gue pulang duluan".
"Thanks Zak sudah bantu gue",Ranggil yang ikut berdiri dari tempat nya duduk. Menunggu Zaka yang sibuk mengenakan jaketnya kembali.
"Bye bro",pamit Zaka kembali berjalan menjauh dari Ranggil. Baru saja di dekat motor nya. Zaka menghentikan langkah kaki nya sejenak memperhatikan ke arah Ranggil cukup lama yang sedang di dekati beberapa orang preman. Sampai Ranggil dengan suka rela memberikan beberapa lembar uang pada preman itu.
Hal itu lah yang membuat Zaka geram tersulut emosi. Zaka langsung kembali menghampiri Ranggil."Kenapa lu kasih mereka uang?".
Sedikit tertawa,"Sudah biasa Zak, uang keamanan. Gue mah cuma cari am....".
"Gue tidak terima lu kasih mereka uang segampang itu",marah Zaka sedikit meninggi nada bicara."Gue hampir seharian kepanasan, tahan haus, tahan laper, buat menghasilkan uang yang hanya tidak seberapa itu. Dan lu kasih ke mereka dengan mudahnya".
Mengehentikan Zaka,"Zak sudah biarkan".
"ENGGAK!Itu uang pertama gue kerja dan uang itu sangat berarti buat lu. Seenaknya jidat ambil uang hasil kerja keras gue",tegas Zaka tetap berlalu pergi masuk ke dalam pasar seorang diri menyusul beberapa preman tadi yang mengambil uang milik Ranggil.
Ranggil yang sangat khawatir segera ikut menyusul Zaka. Yang takut akan berbuat keributan. Walaupun dengan perasaan yang di selimuti ketakutan. Mengingat tubuh gempal beberapa preman tadi.
Zaka menyusuri jalanan sepit pasar, hingga langkah nya terhenti di paling pojok pasar. Tempat paling kumuh tempat para preman-preman itu tengah terduduk santai menghitung hasil mereka memelak beberapa orang di hari ini.
"Oi",suara berat Zaka berkumandang di barengi tatapan tajam yang melihat satu persatu dari mereka bergantian."Kembalikan uang temen gue",minta Zaka.
Mereka berlima langsung tergelak tawa terbahak-bahak. Tapi ada salah satu dari mereka yang memilih diam. Dan berkata,"Bos", panggil nya.
"Kasih saja bos, jangan cari gara-gara sama dia".
Beranjak dari tempat duduknya siap menantang Zaka,"BODOHAMAT!!Bocil sok belagu kayak dia ini harus segera di sikat".
__ADS_1
Lelaki ini langsung melayangkan pukulan untuk Zaka yang segera menghindar dan berbalik menyerang dengan menendang perut lelaki di depannya ini dengan lututnya. Kuat sampai lelaki ini tersungkur kesakitan. Bahkan setelah Zaka menambahi dengan meninju wajah nya.
"Kembalikan baik-baik atau menunggu bernasib sama seperti anjing ini dulu",minta Zaka sekali lagi dengan nada bicara tegas mengancam.
"Dia monster pedang iblis itu. Cepat kembali uangnya, dan bawa bos pergi",bilang lelaki yang sejak awal enggan tertawa karena sudah mengetahui lawannya bukan sembarang anak sekolah biasa.
Ranggil yang saat itu ada di belakang Zaka pun hanya bisa terdiam. Sampai Zaka memanggil untuk mendekati mengambil uang itu.
Ranggil yang menerima dua kali lipat uang tadi,"Kebanyakan ini",
"Enggak papa mas, ambil saja".
"Enggak, uang gue tadi cuma segini",ambil Ranggil total uang semula yang di ambil."Ada baiknya kalian kembali saja uang-uang ini ke pemilik nya",saran Ranggil.
Lelaki ini membalas dengan anggukan kepala menyetujui,"Baik mas".
Zaka yang masih melihat mereka semua dengan tatapan dingin membunuh,"Ingat betul-betul wajah temen gue ini. Sampai gue tau dia di palak lagi, kalian berlima yang akan pertama kali gue cari".Memberikan peringatan keras pada ke lima preman yang secepat mengangguk sebelum berlalu pergi.
Kembali terfokus pada Ranggil,"Gini kan bagus, intinya gue tidak akan terima hasil kerja keras gue dan teman gue di ambil orang lain seenaknya jidat".
"Thanks Zak. Ternyata enak ada manfaatnya juga punya teman preman",di susul senyum bahagia nya.
Melihat dengan tatapan datar,"Gitu tadi bilang sampai bilang jangan di ambil jangan di ambil. Padahal masih ngarep uang kembali".
Ranggil yang mendengar nya hanya merespon dengan tawa renyah nya terbahak-bahak.
"Lu tau ATM di sini sebelah mana?",
"Lu mau ambil uang?".
"Mau ambil ginjal",
"Eh buset".
"Sudah tau pakek tanya",semprot Zaka.
Selesai dari dengan urusan di dalam kotak ATM. Zaka kembali keluar menghampiri Ranggil yang menunggu nya di luar. Di saat itulah Zaka lagi-lagi membuat Ranggil terkejut juga merasa sangat tidak enak.
Zaka memberikan Ranggil uang yang baru saja ia ambil dari atm,"Ambil, dan mulai besok lu harus masuk sekolah lagi enggak usah kerja-kerja lagi kayak tadi".
__ADS_1
Berusaha mengembalikan pemberian Zaka,"Tapi Zak nanti gue.....".
"Sudah ambil, enggak lu balikan ke gue juga enggak papa. Uang segini enggak seberapa buat gue",Zaka yang tetap memaksa agar Ranggil menerima pemberian nya."Cepat simpan dan cepat pulang".Berlalu pergi menjauh."Jangan lupa besok lu harus sekolah",pesan Zaka sebelum benar-benar pergi dari hadapan Ranggil yang hanya bisa terdiam memperhatikan kepergian Zaka yang semakin menghilang dari perhatian nya.