
Akhirnya setelah beberapa Minggu menunggu tibalah hari H pernikahan. Setelah akat selesai, menjelang sore sampai malamnya pernikahan dilanjutkan di dalam gedung yang telah Zaka persiapkan.
Gian memasuki ruangan pernikahan dengan mengenakan gaun putih elegan berhiaskan beberapa mutiara di penutup dada dan pita berwarna silver yang melingkar di pinggang kecilnya. Rambut panjang hitam legamnya di biarkan tergerai, hanya sedikit di kepang dengan mengenakan mahkota.
Cantik, itulah yang tengah Zaka lihat saat ini. Pilihan gaunnya sangat cocok dengan Gian, dan yang paling untuk Zaka adalah Gian merasa nyaman mengenakan nya.
Sementara Zaka mengenakan setelan rapi sebah putih. Jangan lupa dengan mawar putih kecil yang di selip kan di saku jas kanannya.
Cara berlangsung sangat meriah. Banyak tamu-tamu penting dari pihak ayah Zaka yang berdatangan. Tidak terkecuali dengan kedua orang tua Wendy. Beliau tetap datang menghadiri pernikahan Zaka di kala rasa bersalah beliau yang masih cukup dalam kepada ayah Zaka. Walaupun saat itu Wendy tidak ikut serta hadir.
Hingga tibalah saat bersalaman di mana para tamu menaiki pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada mempelai pria dan wanita.
Semua berjalan lancar sampai tibalah giliran dua bocah yang selalu di babu oleh Zaka datang. Di saat itu Ranggil yang berdiri paling depan,"Selamat",
"Ter..",Ranggil langsung memeluk erat tubuh Gian ke dalam pelukan nya.
Alan yang panik berusaha akan memisahkan, tapi langsung di cegah oleh Zaka yang membuat Alan menjadi heran. Sudah takut-takut akan terjadi pembunuhan berantai yang akan di lakukan Zavano. Malah pembunuh itu sendiri yang mencegah dan malah terlihat tenang walaupun di depan matanya istrinya tegah di peluk teman dekat nya sendiri.
Melihat pelukan cukup lama itu,"Kenapa tidak adil gini, lu biarin Ranggil meluk istri lu lama gue jelas tidak di perbolehkan", semprot Alan.
"Biarkan, dia sedang patah hati soalnya",ucap Zaka bernada tenang.
Terfokus melihat Ranggil yang sudah menyudahi pelukannya,"Owh, yang sabar iya Ran",ucap Alan.
Ranggil hanya terdiam mengangguk lemas.
Alan mendekat dan merangkul bahu Ranggil,"Tenang Ran, di luaran sana masih banyak cowok-cowok selain Zaka".
Menengok menatap tajam,"Anjing lu",umpat Ranggil.
"Seperti gue contoh",seketika itu juga Ranggil langsung mendorong kasar Alan menjauh darinya."Gila, gimana ceritanya lu bisa langgeng sama dia Zak?".
"Intinya dia bukan temen gue, gue tidak kenal dengan dia".
"Boyok tai, ngomong kayak gini kalau tidak ada butuhnya, kalau ada gue yang di utamakan",semprot Alan yang di buang Zaka karena sudah tidak membutuhkan nya lagi.
Hingga akhirnya kini giliran Ranggil mendekat dan menguatkan dengan mengelus punggung Alan,"Sabar bro, masih ada tai dan anjing yang siap menemani lu",
__ADS_1
"Mata mu bangsul",
Next.....
Tempo hari belum hari pernikahan. Zaka sempat mampir ke rumah makan Ranggil untuk sekedar meminta makan malam gratis. Selepas seharian suntuk melakukan banyak sekali kegiatan kantor dan persiapan pernikahan nya.
Keduanya memilih duduk di taman belakang rumah makan yang memang masih di sediakan tempat duduknya khusus untuk mereka yang suka makan di alam.
Selepas makan Zaka melanjutkan nya dengan obrolan ringan,"Makasih sudah bantu gue mencari Gian kemarin",ucap Zaka pada Ranggil.
Ranggil membalas dengan anggukan ringan.
Suasana tiba-tiba hening beberapa saat, Zaka terlalu sibuk memainkan layar ponsel nya sembaring memakan senex kentang goreng.
"Sebenarnya selama ini aku menjaga Gian bukan hanya karena kau suruh, tapi aku menjaga Gian karena aku emang punya rasa",kata Ranggil yang sudah mendapatkan tatap tajam dari Zaka yang tangan nya yang terbebas sudah mengepal kuat.
Melihat itu Ranggil kembali berkata,"Aku bisa pukul aku kalau kau marah sama aku. Karena emang sebenarnya aku sudah suka dengan Gian sejak SMA, tapi saat aku tau kau pacar nya. Aku sempat dendam dan punya rencana buruk untuk melukai mu".
"Aku sempat membicarakan nya dengan Soni. Makannya kalau ku mau marah, marah saja Zak, pukul aku juga tidak papa, yang keras sekalian. Soalnya karena pemikiran buruk ku Gian hampir celaka. Tapi syukurlah kau bisa menolong nya, sejak saat itu aku pikir Gian emang lebih pantas sama kau dari pada aku".
"...Yang takut duluan di saat aku tau Gian dalam bahaya",
Zaka mengangkat kepala tangannya, mengayunkan nya cepat mengarah ke Ranggil yang sudah terlebih dahulu memejamkan kelopak mata rapat-rapat,"HAHHHAHA......Kenapa aku harus mukul mu?",tanya Zaka membuat Ranggil menatap dirinya heran.
"Aku seneng ternyata selama aku pergi Gian di lindungi oleh orang yang tepat, yang melindunginya sama seperti aku",kata Zaka."Tapi bukan berarti aku biarin kau dapatin Gian, habis kau",menunjukkan tangan yang sudah mengepal kuat sampai urat nya bermunculan.
Ranggil menggeleng ringan,"Tidak Zak, Gian akan jauh lebih aman bersama mu dari pada aku",
Menonjol dada Zaka kuat,"Bansul!!Kau mau nikah dengan dua wanita",
Memegangi dadanya,"What?".
"Gian tempo hari ketemu aku, dia bilang kau mau nikah sama wanita lain yang namanya...ahh...lupa bang***sat!",
Tersenyum kecut,"Ogak be**go, ya kali aku menikah dengan dua wanita sekaligus yang satu sudah hamil duluan pula".
Membulatkan manik matanya,"Buset dirimu....".
__ADS_1
Mendorong kepala Ranggil asal,"Apa pikiran mu bangsul??",
"Perempuan itu sudah hamil dengan laki-laki lain, makanya aku ogah".
"Alasan aku sering ngomong mau pergi ke Jepang sebenarnya bukan untuk urusan kerja saja, tapi untuk menghindar dari pernikahan sampai aku bisa bertemu dengan Gian".
"Hemm",
"Aku tidak bayar iya, aku mau pulang sudah kenyang soalnya",Zaka beranjak dari tempat duduknya tanpa rasa beban berat.
Ranggil yang awalnya takut-takut ragu-ragu Zaka akan marah, kini ia berubah menjadi datar nan dingin."Untung kau teman, untung",
"Hehehehe.....aku pergi",pamit Zaka berlalu meninggalkan Ranggil seorang diri.
++++++
Dua Minggu setelah hari pernikahan. Sudah selama itu juga Gian mulai tinggal di kediaman rumah Zaka menjadi satu-satunya ratu rumah ini yang memiliki kekuasaan penuh atas semuanya yang ada di rumah ini.
"ZAKA, ZAKA!!",bentak Gian kesal marah terus saja mendapatkan perlakuan manja Zaka.
"Kamu kerja sana, pulang malam juga tidak papa",omel Gian badmood.
Menyadarkan wajah di baru Gian yang membelakangi dirinya,"Emang kamu tidak takut aku di ambil orang",
"Apa gunanya orang menculik berandalan mesum tidak berguna seperti diri mu",
"Hemmm....kejamnya",di susul mencium pipi Gian gemas.
Menyingkirkan wajah Zaka agar menjauhi dirinya,"Stop Zak ada telfon",Gian terfokus mengangkat panggilan telepon seluler yang masuk ke dalam handphone nya.
Melihat Zaka dengan sorot mata membulat sempurna,"Zaka...Gita mau melahirkan",panik Gian."Antar aku ke rumah sakit sekarang, ayo Zaka".
Menarik pergelangan lelaki yang saat ini sudah menjadi suaminya itu,"Ayo Zaka!!!Aku sudah berjanji akan menemani Gita. Nyawa sahabat ku dalam bahaya".
Mengemudikan mobil dengan raut wajah badmood itulah yang saat ini Zaka lakukan. Ia bela-belain libur satu Minggu biar bisa bersama dengan istri. Yang ternyata sangat sulit sekali karena sangat padat sekali jadwalnya dan saat Zaka memiliki waktu. Malah di ganggu, dan ia belum sedikitpun memulainya.
Raut wajah itu badmood sampai rumah sakit. Saat di tanya oleh Roman suami Gita,"Kamu kenapa?",
__ADS_1
"Pakai nayak",sewon Zaka badmood.'Cari libur kerja susah, baru dapat di ganggu. Emang gue juga tidak pingin apa cepat-cepat punya anak',pikir Zaka dengan tatapan mata datar nang dinginnya.