
Gian di perbolehkan ikut masuk ke dalam ruangan persalinan di kala Gita terus saja memaksa tidak mau dan tidak akan mau melahirkan jika Gian tidak ikut menemaninya. Entah kenapa Gita sangat ngebet sekali ingin di temani Gian dari pada suaminya.
Roman duduk di kursi panjang satu kursi dengan Zaka walaupun tetap berjarak empat kursi kosong.
Semenjak tadi mendengar teriakan Gita yang sangat kesakitan sampai keluar ruangan membuat Roman gelisah. Ia terus saja menunduk kepalanya mengatupkan kedua tangan mencengkeram kuat.
Zaka yang bahkan tidak pernah berpikir apapun, ia yang awalnya sangat tenang dan badmood juga menjadi yang ikut panik khawatir cemas padahal yang di dalam bukan Gian.
"AAakkkkkaaaa........",teriak Gita berhasil membuat kedua lelaki ini melonjak terkejut saking kencangnya sampai beranjak berdiri.
Owekk....owekk....tidak butuh waktu lama sesaat kemudian pun terdengar suara tangis bayi.
Bersamaan dengan itu pintu ruang persalinan berlahan-lahan terbuka, keduanya langsung bergegas mendekat.
Antusias,"Gian kamu tidak papa?",cemas Zaka pada Gian yang baru keluar dari ruang persalinan.
Gian tertawa renyah sebelum akhirnya berpaling melihat ke arah Roman,"Kata dokter sudah di perbolehkan masuk Bang",
Roman langsung mengangguk ringan dan bergegas masuk ke dalam ruang persalinan terburu-buru.
"Gi",seru Zaka.
"Hemm",
"Apa sebagainya kita tidak perlu punya anak saja, gimana?Aku tidak suka lihat kamu kesakitan seperti Gita", pernyataan Zaka yang membuat Gian tidak bisa lagi menahan tawa.
Tawa Gian meledak, walaupun tetap dengan suara pelan karena ini rumah sakit.'Dia baru berpikir gimana sakitnya aku, lalu bagiamana kalau dia sedang menyiksaku..Dasar berandalan mesum",pikir Gian dalam gelak tawa nya.
Mengelus paha Gian,"Aku bicara serius Gia",
"Iya aku tau, tapi kalau sudah terlanjur ada bagaimana?",tanya Gian terfokus melihat ke arah Zaka.
Dengan raut wajah badmood,"Kenapa sudah ada sih Gi, kita kan belum malam pertama",ucap Zaka.
"........".
Roman datang menghampiri keduanya,"Kalian sudah bisa pulang. Terima kasih dan maaf menganggu waktu istirahat kalian",kata Roman bernada sopan tidak enak.
"Santai bang, besok mungkin aku akan datang lagi buat jenguk Gita",kata Gian bernada akrab."Titip salam buat Gita",
"Titip salam buat baby girl",timpal Zaka yang langsung mendapatkan sodokan siku dari Gian."Baby Boy Zak",
"Iss...sakit Gi",
"Lebay biasanya aku cakar jambak juga biasa saja",semprot Gian kesal berlalu pergi lebih dulu meninggalkan Zaka.
Dalam perjalanan pulang. Zaka mengemudikan mobil nya seperti biasa, namun bedanya kali ini dengan kecepatan sedang. Agar Gian yang sudah tertidur pulas tidak sampai terbangun.
__ADS_1
Sudah terfokus melihat Zaka yang masih menyetir mobil,"Kamu kenapa?",tanya Gian melihat Zaka yang sedikit mual.
Mengusap sudut bibir nya dengan tangan yang terbebas dari setir mobil."Elegi dekat-dekat Roman mungkin",
Mengabaikan bualan Zaka,"Kamu sakit?".
"Tidak Gi, aku baik-baik saja. Bukannya kamu tadi sudah tidur, kenapa bangun?",
"Tidak enak tidur di mobil",balas Gian yang sudah terfokus melihat ke arah depan luar kaca mobil.
Singkat cerita setibanya di rumah. Gian dan Zaka langsung pergi ke kamar. Zaka yang enggan untuk menganggu, membiarkan Gian langsung beristirahat. Bahkan tanpa sepengetahuan Gian yang tengah tertidur. Zaka terbangun seorang diri mengerjakan beberapa tugas kantor. Yang sebenarnya sangat banyak sekali dan menumpuk, tapi ia enggan untuk memberitahu Gian.
Sekitar jarum jam menunjukkan pukul satu tiga puluh. Zaka baru beranjak dari tempat setelah menyelesaikan dan membereskan berkas-berkas kerjanya. Ia baru berlalu untuk tidur di samping Gian yang masih tertidur.
Next....
Keesokan paginya. Zaka bangun kesiangan, ia bangun terburu-buru saat ia sudah tidak mendapati Gian ada di sisinya lagi. Ia lekas berlari masuk ke dalam kamar mandi, yang ternyata di sana sudah di siapkan dengan rapi pakaian kerja yang akan Zaka kenakan.
Zaka tersenyum tipis senang sebelum akhirnya ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sesaat kemudian ia turun ke lantai satu rumah dengan pakaian kerja yang sudah rapi ia kenakan.
Langkah kakinya hampir saja akan menabrak Gian yang baru keluar dari ruang makan. Dengan cekatan Zaka langsung menangkap Gian agar tidak sampai terdorong jatuh,"Hati-hati Gia",pesan Zaka.
Gian tersenyum canggung,"Aku pikir kamu belum bangun",
"Sudah, gimana pakaian ku cocokkan?",tanya Zaka memperlihatkan setelan pakaian kerja kantor nya.
Mengabaikan kehadiran Jon,"Kalau keren gini anak gue bakal cantik dan ganteng-ganteng iya enggak sih",
Tersedak makanan yang membuat Zaka dan Gian langsung berpaling berjalan mendekat khawatir. Akan keadaan Jon yang langsung meminum air putih pemberian Zaka.
"Pelan-pelan Yah, ayah itu sudah tidak muda",kata Zaka yang berdiri di dekat ayahnya duduk.
Menengok ke arah Zaka,"Anak durhaka, sudah akan jadi ayah masih saja tidak benar",semprot Jon."Semoga saja anaknya perempuan",
"Iya emang perempuan",sahut Zaka.
Gian yang semenjak tadi menyimak berkata,"Kalau laki-laki bagaimana?",
"Oh Ya Tuhan jangan sampai Gian. Anak itu pasti akan sebelas dua belas seperti anak durhaka ini",ejek Jon di depan putranya langsung.
Memukul bahu ayahnya,"Apa-apaan sih?Iya tidak iya, anak ku iya anak ku, berarti....",tidak melanjutkan perkataannya.
"Dia akan mirip dengan mu",timpal Jon melanjutkan.
"Hemm....iya juga iya",
"Tolong cepat berangkat kerja Zaka. Dada ayah sesak melihat diri mu di sini",minta Jon sembaring memegangi dadanya.
__ADS_1
Menarik kursi makan dekat dengan ayahnya,"Setelah makan aku langsung berangkat",kata Zaka duduk mulai menikmati menu sarapan paginya. Begitu juga dengan Gian yang duduk di depannya.
Benar saja, selesai makan Zaka langsung berpamitan pada Gian untuk langsung berangkat kerja ke kantor. Ia juga berpesan pada Gian untuk tidak perlu menunggu nya pulang. Karena ia harus lembur kerja di malam hari ini.
Namun siang harinya. Gian dengan dress sepanjang lutut bermotif batik flora berwarna biru berjalan masuk ke dalam gedung perkantoran Dirgantara yang saat ini sudah berganti nama menjadi Leo.
Gian menyapa dengan ramah para pekerja di sana tidak terkecuali pada Iska teman yang semasa kuliah nya.
Ia mengobrol-ngobrol sebentar dengan Iska sebelum akhirnya berlalu pergi ke ruang kerja pribadi Zaka. Setibanya di sana Gian membuka pintu ruangan kerja Zaka berlahan-lahan agar tidak menganggu.
Baru juga beberapa langkah memasuki ruangan. Gian langsung di buat terkejut dengan banyaknya tumpukan berkas di depan Zaka.
"Zaka semua ini harus kamu selesaikan nanti malam?",Gian terkejut sangat-sangat terkejut. Di barengi berjalan mendekati meletakkan tas kertas berukuran sedang di atas kursi depan meja Zaka.
Zaka tersenyum dan tertawa kecil merespon ekspresi wajah terkejut Gian.
"Mau gimana lagi aku sudah beberapa hari kemarin tidak dengan benar-benar menyelesaikan pekerjaan karena harus mengurus pernikahan kita. Tapi tenang saja dua hari lagi pasti kelar kalau kamu izinkan aku kerja lembur selama dua hari itu".
Merespon cepat perkataan Zaka,"GILA!!Iya tidak, nanti kamu sakit gimana?",
"Jika semua berkas-berkas ini penting aku akan membantu mu untuk menyelesaikan nya",kata Gian."Sekarang kamu makan dulu, aku suapi",Mulai fokus mengambil kotak bekas makan yang sengaja ia bawa untuk makan siang Zaka. Di kala Gian ingat Zaka tidak akan bisa pulang tepat waktu nanti malam. Dan karena itulah Gian akhirnya tau kalau Zaka sebenarnya benar-benar sangat berantakan beberapa hari kemarin.
Gian berjalan mendekat ke Zaka dengan membawa kotak makanan yang sudah ia buka."Tunggu dulu",Zaka beranjak dari tempat duduknya.
Ia menggeser tempat duduknya, menyuruh Gian duduk di kursi kerjanya yang nyaman. Sementara dirinya mengambil kursi lain depan meja kerjanya untuk duduk. Perlakuan sederhana yang cukup membantu Gian yang sedang hamil. Yang pasti sangat membutuhkan tempat duduk yang nyaman, karena yang pasti Gian akan mudah lelah jika di biarkan berdiri terus menerus.
Zaka melanjutkan pekerjaan dengan mengunyah makanan yang di suapi oleh istrinya. Selesai makan dan membereskan kotak makan, seperti mencuci di wastafel yang tersedia di dalam kamar istirahat belakang Zaka bekerja.
Gian yang bersikeras akhirnya ikut turun membantu Zaka menyelesaikan beberapa berkas kerja. Zaka memberikan Gian beberapa berkas yang sangat mudah untuk Gian kerjakan. Yaitu menyalin beberapa dokumen penting dari bekas ke file pdf laptop.
Di hari menjelang malamnya. Giliran Zaka yang menjadi sangat tegas dan tidak bisa di bantah. Zaka dengan tegas menyuruh Gian untuk pulang, atau tetap di sini tapi berisitirahat di ruang kamar istirahat. Ia melakukannya semata-mata juga demi kebaikan Gian yang tidak mau istirahat sejak tadi.
Dengan terpaksa Gian akhirnya menuruti kemauan Zaka, ia memilih untuk tetap di kantor dan beristirahat di sova panjang. Sembaring tiduran terlentang.
Zaka sebenarnya masih belum cukup puas, karena menurut nya istirahat di sova sangat tidak nyaman. Tapi yasudahlah Gian sudah bersikeras, ia juga tidak mau terlalu memarahi Gian.
Pada akhirnya Zaka kembali ke kursi kerjanya untuk menyelesaikan beberapa berkas lagi sebelum pulang ke rumah.
Sebelum jam 12 malam. Zaka sudah beranjak dari tempat duduknya. Untuk kembali pulang, ia yang melihat Gian masih tertidur pulas enggan untuk membangunkan. Zaka pun mengangkat tubuh Gian hati-hati dan mengendong nya turun ke lantai satu kantor. Sebelum itupun Zaka sudah terlebih dahulu meminta supir untuk menyiapkan mobil di depan pintu utama masuk dan keluar gedung.
++++++
Karena hari itu. Zaka mengambil keputusan yang tidak mau di bantah lagi. Kalau Zaka melarang Gian untuk datang ke kantor membantu nya bekerja. Maksud Zaka, karena ia tidak mau melihat Gian yang sedang hamil terlalu kelelahan.
Akibat membantu nya saja kemarin, keesokan paginya Gian langsung demam. Untung saja itu hanya demam biasa karena Gian terkenal gejala awal sebelum terserah flu.
Akibat karena itu, Gian tidak dapat lagi membatah Zaka yang kukuh pada pendiriannya. Alhasil Gian datang ke kantor hanya untuk mengantarkan makan siang saja, setelah nya ia langsung pulang.
__ADS_1