Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Pergi ke rumah Zaka


__ADS_3

"Pagi istri ku",


".......",Gian melihat malas pemilik suara itu memilih untuk kembali memejamkan matanya enggan melihat Zaka.


Merangkul pinggang Gian menarik Gian agar lebih dekat dengan nya,"Tidak mau bangun mau di lanjutkan?",


Memukul keras dada Zaka,"Gila!Pria tua mesum",Gian beranjak dari tempat tidur menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana berlalu pergi mengabaikan kehadiran Zaka yang memperhatikan gerak geriknya.


Zaka yang tengah duduk di salah satu kursi dekat meja makan,"Aku berangkat iya Gi".


Gian yang tengah sibuk mencuci piring,"Hemm".


"Aku berangkat loh ini".


Berbalik badan kesal marah,"Kalau mau berangkat iya berangkat saja Zavano".Bernada agak tinggi kesal.


Tersenyum manis tanpa dosa,"Hehehe.....seneng banget tau enggak Gi. Lihat kamu pagi-pagi marahin aku".


".......", melihat dengan ekspresi wajah datar."Tau tidak, selama dua Minggu kemarin kamu ke Jepang aku tuh seneng sekali. Karena tidak ada kamu",kata Gian tidak menyadari jika Zaka sudah berdiri di depan dekat dengan dirinya.


Zaka mencium ubun-ubun kepala Gian cukup lama, sebelum ia sudah dan berkata,"Ayo berangkat",ajak Zaka.


"Eh!Kemana?",

__ADS_1


"Bertemu ayah ku",kata Zaka enteng."Aku tidak mau menunda-nunda lagi pernikahan kita. Semua berkas pernikahan juga sudah jadi, hanya tinggal meminta restu ayah ku....Jika pun nanti dia tidak merestui karena aku memilih kamu dari pada Wendy. Aku tetap akan sama kamu",kata Zaka terfokus melihat Gian. Menggenggam pergelangan tangan Gian.


Gian terdiam cukup lama mematung terfokus membalas menatap Zaka. Banyak yang sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Dari mulai pertemuan gilanya dengan lelaki berandalan di depan nya saat ini. Lelaki yang karena pertemuan ketidak sengajaan itu telah membuat dirinya terlihat sangat jauh dalam perubahan hidup lelaki ini. Lelaki yang saat ini benar-benar gila mencintai dirinya begitu dalam.


"Zak",seru Gian.


"Hemm?".


"Aku selesaikan cuci piring bentar, nanggung",


Menghela nafas berat,"Kamu lebih mentingin cuci piring kamu?".


Mengangguk untuk memberikan respon setuju.


"Baiklah aku tunggu",Zaka memilih enggan berdebat. Ia berlalu duduk di kursi dekat meja makan menunggu Gian sampai selesai mencuci piring.


+++++


Singkat cerita. Kini Gian telah sampai di halaman depan rumah Zaka untuk pertama kalinya dalam hidup nya. Gian baru menyadari dan tau jika ternyata Zaka benar-benar anak orang kaya bukan sembarang anak orang kaya. Ukuran rumah Zaka terbilang tidak wajar. Itulah yang tengah Gian pikirkan hingga terdiam membeku di tempat nya berdiri samping mobil Zaka.


Mendekati Gian,"Ayo Gi",dengan menarik pergelangan tangan Gian yang langsung di tepis oleh Gian.


Gian yang sudah terfokus melihat Zaka,"Zaka ini maksudnya?Kamu serius milih aku?".

__ADS_1


Mendapatkan pertanyaan seperti itu. Zaka langsung mengangkat sebelah alisnya, heran,"Kamu insecure?".Berbalik bertanya.


Melihat diamnya Gian menjadi kan bahwa jawaban Gian, iya. Zaka melangkah mendekat, kali ini tidak mengandeng tangan Gian melainkan merangkul pinggang Gian agar lebih dekat dengan dirinya.


"Baik aku ataupun kamu itu sama Gia. Dan kamu tetap akan ada dan selalu ada di sisi ku menemani hari-hari tua ku nanti".


"Begitu juga dengan diriku. Aku akan selalu ada di sisi mu menemani hari-hari mu sampai kau beruban",berpaling melihat Gian dengan senyuman senyum manis tulus untuk Gian.


Mendengar sesama perkataan Zaka. Membuat Gian semakin terpaku terfokus melihat Zaka sangat lama.'Bagaimana bisa perempuan sesederhana dirinya bisa di cintai sehebat ini oleh lelaki yang tidak pernah ia bayangkan bisa ia dapatkan suatu hari ini untuk menjadi suaminya?',


Merangkul pinggang Gian agar lebih dekat lagi dengan nya,"Ayo nyonya Zavano ayah mertua mu menunggu",ajak Zaka bernada bergurau.


Membulatkan matanya kaget hingga pipi semakin memerah panas malu. Alhasil ia hanya bisa menundukkan kepala mengikuti Zaka yang menuntut nya berjalan beriringan.


Setibanya di lantai satu rumah Zaka langsung di sambut oleh kehadiran atr perempuan yang tengah bebersih rumah.


"Bi", panggil Zaka yang langsung membuat art itu menghentikan pekerjaan nya menengok ke arah Zaka berada."Ayah ada di rumah?".


Tanpa melihat langsung ke arah Zaka,"Tuan besar ada di kamarnya Tuan muda",


Tanpa berkata apapun lagi. Zaka langsung mengajak Gian untuk pergi ke atas di mana kamar ayah Zaka berada.


Di saat itulah Gian benar-benar sangat tidak tenang. Karena terakhir kali Gian ingat hubungan antara Zaka dan Ayahnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Zaka memang tidak terlalu banyak cerita tentang ayahnya. Tapi entah kenapa setiap kali mendapatkan telfon dari ayahnya, raut wajah Zaka selalu berubah datar, malas, sampai kesal marah.

__ADS_1


Berhenti di depan salah satu pintu kayu. Zaka mulai berlahan-lahan membuka pintu itu berlahan mendorong gagang pintu ke dalam. Sementara Gian berusaha untuk setenang mungkin, walau sebenarnya sangat-sangat takut hal buruk akan terjadi. Apalagi mengingat Zaka lebih memilih dirinya, seorang perempuan biasa yang jauh berbeda sekali dengan Wendy yang pernah Gian temui. Wendy terlihat sangat cantik elegan dengan pakaian mahal feminim nya.


Cklekk......


__ADS_2