Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Tuduhan & Penjelasan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Gian telah melupakan semuanya, ia lebih memfokuskan diri pada bisnis yang tengah ia jalankan.


Namun di suatu hari. Kejadian tidak mengenakan kembali menerjang ketenangan Gian. Waktu itu Gian melakukan kegiatan nya seperti biasa menjaga toko bersama Gita. Tapi seseorang perempuan tidak di kenal tiba-tiba datang dan menampar pipi Gian kuat. Membuat beberapa pembeli di sana langsung terdiam hening terfokus melihat Gian dan perempuan ini.


Gita yang tau sahabat di tampar bergegas beranjak dari tempat duduknya. Ibu-ibu hamil pemberani ini langsung menampar balik seseorang perempuan ini."Kalau ada masalah bilang. Apa gunanya mulut mu. Kau tidak di ajarin bicara sama orang tua mu??",bentak Gita ngomel-ngomel.


Merangkul Gita agar duduk,"Sudah Git, sudah. Aku cuma di tampar tidak di bunuh. Ingat kamu lagi hamil jangan agresif",tutur Gian berusaha menenangkan emosi Gita yang meluap-luap.


Bagaimana tidak kesal?Tidak ada angin tidak ada hujan perempuan ini tiba-tiba datang dan menampar Gian sebelum menjelaskan permasalahan nya apa.


Melihat Gian kesal,"Bawah tuh perempuan sebelum aku bunuh dia",ucap Gita yang telanjur kesal.


Gian menghela nafas panjang sabar,"Di lanjut saja Bu maaf mengganggu waktu belanjaannya, silakan di lanjutkan",minta Gian meminta maaf kepada beberapa pembeli yang terusik karena kejadian beberapa detik tadi.


"Bisa kita bicara di luar?",minta Gian pada perempuan ini.


"Iya",


Gian mengajak perempuan ini pergi dari rukonya. Pergi ke kursi panjang tralis besi yang tersedia tidak jauh dari depan toko Gian. Di sana Gian memulai obrolan dengan tutur kata santai. Seakan-akan Gian sudah mengenal betul emosi perempuan yang saat ini bersamanya.


"Kenapa marah dengan ku?Aku tidak pernah mengusik apapun rencana mu",kata Gian bernada tenang.


Sudah terfokus melihat Gian kesal,"Tidak mengusik. Kau yang telah membuat rencana pernikahan di ambang kehancuran".


"Kau adalah orang ketiga perusak hubungan ku".


Masih tetap tenang,"Aku sudah lebih dulu menganalnya dari pada kamu. Zaka juga tidak mencintai mu, dia lebih memilih untuk memperjuangkan ku. Aku sebagai perempuan yang dia perjuangkan hanya ingin berusaha menghargai perjuangannya. Dengan mendukung apapun keputusan nya".


"Lagian apa kamu akan betah seumur hidup bersama dengan pasangan yang sama sekali tidak mencintai mu?",Gian mengumpan balikan pembicaraan menjadi memanipulasi lawan bicara nya."Jika aku jadi kamu, aku akan membatalkannya. Aku tidak mau menyesal seumur hidup dengan keputusan yang bukan karena kemauan diri ku sendiri".


"Aku terpaksa, karena aku sedang hamil anaknya Zaka",tamparan keras langsung membuat Gian terdiam tersentak kaget.


Tapi entah karena terkena angin apa. Gian tetap tenang walaupun sebenarnya sangat-sangat tidak tenang. Masih tetap pada pendiriannya, Gian tetap berpikir positif tentang Zaka. Karena serusak-rusaknya Zaka. Lelaki berandalan itu tidak akan mungkin bertindak sejauh ini. Dengan bekal keyakinan diri yang kuat, untuk memastikan langsung terlebih dahulu kepada Zaka.


Gian berkata,"Apakah benar itu anaknya Zaka?",Gian melihat ragu pada Wendy nama perempuan yang semenjak tadi mengobrol dengan Gian.


Wendy adalah tunangan Zaka. Jodoh pilihan ayah Zaka untuk menjadi pendamping hidup Zaka.


"Wanita apa...",Wendy akan menampar Gian lagi. Namun segera Gian tahan."Kenapa marah?Aku hanya bertanya Wendy",Gian melihat Wendy penuh dengan kecurigaan.


Gian akhirnya melepaskan genggaman tangannya.


Wendy yang tertunduk berkata,"Aku mohon Gian tinggalkan Zaka demi anak nya. Kamu adalah perempuan, kamu pasti bisa mengerti posisi ku saat ini",


"Aku berharap kamu adalah perempuan baik sama seperti yang ku pikirkan",Wendy beranjak dari tempat duduknya berlalu pergi meninggalkan Gian.


Gian terdiam cukup lama di sana.'Apa aku salah berucap?Aku salah mengambil keputusan. Kenapa aku sangat mempercayai Zaka. Apakah dia benar-benar telah melakukan nya?Tapi tidak mungkin',semua kalimat yang berkecamuk aduh berperang di dalam isi kepala Gian.

__ADS_1


Melihat Gian jadi tidak fokus bekerja setelah kejadian tadi pagi. Gita akhirnya menyuruh Gian untuk segera menutup kedai dan mengajak nya pulang.


Iya, walaupun tidak pulang bersama. Namun Gita sempat berpesan pada Gian,"Kalau mau tau kebenarannya, tanyakan dulu kepada yang bersangkutan. Jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan sendiri tanpa mengobrol terlebih dahulu kepada Kak Zaka".


Gian yang saat itu sedang mengunci pintu toko langsung berpaling melihat ke arah Gita."Jangan kamu pikir aku tidak tau apa-apa Gian. Aku sudah mengetahui nya. Dan kelanjutan tidak perlu aku katakan karena hanya kalian yang tau",kata Gita di susul tersenyum jahil menghibur Gian yang jadi banyak diamnya.


Melihat ke arah depan tempat nya duduk,"Suami ku sudah datang, aku duluan Gi",


Beranjak cepat menghampiri Gita,"Jangan ceroboh Git, perutmu sudah tidak kecil lagi",tegur Gian pada Gita yang hendak buru-buru menuruni tangga depan toko.


Yang di tegur hanya membalas dengan tawa renyah kecil. Tidak merasa bersalah membuat orang terdekatnya khawatir.


Selepas kepergian Gita dan suaminya. Di saat itu juga Gian bergegas pulang ke rumah. Dengan menaiki ojek pasar.


Singkat cerita. Sekitar jam 6 sore Gian yang tengah duduk seorang diri di dalam kamar. Sembaring memainkan layar ponsel. Memainkan nama kontak yang sama yang sangat ingin ia hubungi namun belum kunjung ia hubungi.


Sampai notifikasi panggilan Videocoll tiba-tiba masuk ke dalam ponsel Gian dan seseorang yang ia bimbang semenjak tadi.


Tersambung.


*Good night baby",sapaan ramah dari Zaka di seberang sana. Seorang lelaki yang masih mengenakan kemeja putih kerjanya.


*Baru pulang kerja?".


*Iya begitulah. Terus aku tiba-tiba kangen sama kamu",di susul tersenyum hangat.


*Kamu kenapa?Ada masalah?",masih tetap tidak mendapatkan respon apapun dari Gian di seberang sana.


*Aku sudah pernah bilang Gian, kalau ada apa-apa bilang. Aku tidak bisa sepenuhnya memahami kamu jika kamu saja tidak mengatakan apapun kepada ku. Aku hanya manusia biasa Gia, aku bukan orang hebat yang bisa membaca isi pikiran dan hati mu".


*Katakan Gi, ada apa?".


Melihat Zaka serius dari layar ponselnya begitu dengan Zaka yang tidak sabar menunggu perkataan Gian di seberang sana.


*Kamu sudah berhubungan sejauh apa dengan Wendy?",


*Ha?Hahahhahhhh.....sejauh apa?",Zaka yang awalnya sangat serius setelah mendengar pernyataan Gian justru tertawa terbahak-bahak.


Melihat reaksi Zaka raut wajah Gian justru menjadi datar memperhatikan nya yang tertawa-tawa tidak serius di seberang sana.


Menyadari itu Zaka langsung berhenti tertawa.


*Aku tidak ada hubungan apapun dengan dia. Menyentuhnya saja aku tidak pernah",kata Zaka di seberang sana.


*Dia emang pernah datang ke apartemen ku. Dia menginap di sini. Tapi aku enggak, aku langsung keluar dan numpang tidur di apartemen teman ku yang kebetulan masih satu gedung dengan apartemen ku".


*Aku tidak tau dia ngapain saja, karena saat aku kembali di siang harinya dia sudah tidak ada di apartemen ku",cerita Zaka dengan lancar tanpa berbelit-belit apapun. Seakan yang sedang di katakan emang benar adanya seperti itu.

__ADS_1


Bernada rendah setelah selesai mendengarkan penjelasan Zaka. Gian berkata.


*Wendy bilang sedang hamil anak mu Zak".


*HAH?Hahahahhhhhahahhhh.........Anak siapa itu? Astaga sudah gila perempuan itu, hamil sama siapa? Yang di suruh tanggung jawab aku",Zaka yang semakin tertawa terbahak-bahak tanpa di buat-buat tanpa ada beban yang di sembunyikannya. Membuat Gian yang melihat itu akhirnya bisa bernafas lega, karena keyakinannya benar. Kalau tidak mungkin Zaka sampai berbuat sejauh itu dengan perempuan yang sama sekali enggan untuk dekati.


*Dia menemui kamu terus bilang gitu ke kamu?",tanya Zaka pada Gian setelah selesai menghapus setitik air matanya karena terlalu kelepasan tertawa.


Gian mengangguk ringan membalas pertanyaan Zaka.


*Gila banget perempuan itu, tapi tidak papa sih. Dengan begitu aku jadi punya alasan kuat untuk membatalkan pernikahan ini. Enaknya aku di suruh nikahi dia yang sudah hamil entah sama siapa", ngomel-ngomel Zaka di seberang sana sampai berbusa-busa sampai berjam-jam.


*Sudah selesai Zaka kamu cepat mandi, makan, dan istirahat",minta Gian memotong.


Menghela nafas kasar.


*Coba kamu di sini pasti hangat",


*Sudah iya aku matikan".


*Kiss dulu Gi, plissss setelah itu selesai".


*Gian pliss biar aku bisa tidur".


*Apaan sih Zak, sana tidur".


Gian yang memerah merona malu bercampur geli akhirnya memtati sambungan Videocall lebih dulu.


Masih di hari yang sama. Di malam yang sama. Lebih tepatnya di tengah malam. Gian tiba-tiba di usik dengan suara ketukan pintu di depan rumah nya yang di ketuk dengan sangat kasar.


Baru ingat dengan lampu teras rumah nya yang masih Gian biarkan mati. Membuat Gian tidak dapat berpikir positif. Apalagi saat mendengar dari cara mengetuk pintu rumah. Sangat kasar cepat seperti gelagat maling. Karena kalau itu Zaka jelas tidak mungkin, karena Zaka sedang ada di Jepang.


Gian berjalan dengan penuh keberanian mendekati pintu depan rumah nya. Jangan lupakan dengan gagang sapu yang siap menghantam seseorang itu jika ia adalah maling.


Ceklekkk......


Di saat pintu rumah berhasil ia buka,"Habis kau maling, habis kau maling",geram Gian terus memukul-mukul tanpa henti.


Melindungi dirinya dengan menyilangkan kedua tangannya,"Gian, Gian, ini aku Gian. Berhenti Gian!!",ucap suara lelaki di akhir kalimat sedikit membentak.


Gian yang tersentak menyadari pemilik suara itu,"Bang Roman".


"Abang kenapa malam-malam ke sini Bang, aku jadi berpikir Abang maling".


"Ikut aku Gi. Gita entah kontraksi atau apa aku tidak mengerti dia terus mencari-cari kamu. Di rumah tidak orang selain aku dan Gita. Ayo Gia cepat",menarik tangan Gian panik khawatir cemas bercampur aduk.


"Ehh bentar-bentar bang pintu ku belum ke.....",Roman yang panik memotong perkataan belum terselesaikan Gian."Nyawa istri ku lebih membutuhkan mu Gian, cepatt",Roman memaksa Gian agar bergegas pergi bersamanya naik motor.

__ADS_1


__ADS_2