
Gian mengangguk, karena ia sadar kalau sebenarnya ia sangat mencintai Zaka dan tak mau jauh ataupun kehilangan Zaka. Walaupun ia tau Zaka bukanlah laki-laki baik-baik. Namun Zaka berbeda, ia emang tau salah membiarkan Zaka selalu datang ke kamarnya. Tapi Zaka berbeda, dia jahat tapi dia tau batasan. Itulah yang membuat Gian terbuka dan luluh akan perlakuan nya.
Memegangi kedua tangan Gian,"Tatap mata ku",minta Zaka."Kalau kamu ceweknya Zaka berarti kamu adalah Zaka versi perempuan. Kamu berani memberontak, kamu tidak kenal takut, kamu teguh pada pendirian mu, dan kamu tidak pernah punya rasa takut karena kamu adalah Zaka versi perempuan. Milik Zaka tidak pernah takut pada siapapun di mana pun Gian",tutur kata Zaka terus terfokus menatap balik tatap mata Gian padanya.
"Kamu mengerti?",tanya Zaka masih di posisi yang sama.
Mengangguk faham, dan berkata,"Milik Zaka tidak pernah takut pada siapapun di mana pun".
Zaka mengangkat tangannya mengelus-elus lembut ubun-ubun kepala Gian dan tersenyum tipis. Hingga tangan itu tergerak untuk mendorong berlahan kepala Gian untuk lebih dekat dengannya lagi.
Gian masih fokus menatap lawan bicara, tanpa menyadari pergerakan tangan Zaka yang mendorong kepalanya berlahan-lahan untuk lebih dekat dengan Zaka.
Sampai akhir keduanya bertemu sangat dekat,"I love you Gian",ucap Zaka di susul mencium bibir Gian sebelum menunggu balasan dari Gian.
Zaka menahan kepala Gian agar tidak menjauh dari nya. Ia ******* bibir Gian tidak membiarkan jeda waktu untuk Gian memberontak. Saat Zaka menyudahinya Gian baru sadar kalau dirinya sudah tertidur dengan Zaka yang ada di atasnya.
Tidak cukup sampai di situ, Zaka masih melakukan kegiatan nya. Sampai ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kaos Gian.
Menyadari itu Gian mengeratkan kedua genggaman tangan nya pada lengan Gian. Dengan harapan Zaka berhenti,"Za..",bibir Gian keluh untuk berucap.
Zaka mengambil seutuhnya kontrol akan tubuh Giam, namun Gian tetap berusaha untuk tetap sadar dan secepat sadar untuk menghentikan kegilaan tidak benar ini.
Menenggelamkan wajah di leher jenjang Gian, membuat tanpa beberapa tanda kepemilikan tempat di atas tanda memerah tadi berada.
__ADS_1
Menggenggam lengan kuat dengan mendorong tanpa tenaga sedikitpun,"Sitt....Zaka...stop!!",usaha keras Gian yang akhirnya dapat membantu Zaka berhenti.
Zaka terfokus melihat Gian, wanita yang saat ini ia buat menangis. Gian menutupi matanya menangis sesenggukan ketakutan. Ketakutan yang sama seperti yang Zaka lihat saat di perpustakaan tadi.
"Sorry Gi",ucap Zaka.
Dalam tangisan ketakutan nya,"Pergi, kamu tidak ada bedanya, kamu jahat sama seperti kak Rifqi",
"Rifqi siapa?",tanya Zaka masih di posisi yang sama. Tidak mendapatkan respon dari Gian, ia memilih untuk beranjak bangkit.
Zaka menutupi Gian dengan selimut sebelum akhirnya ia berlalu pergi meninggalkan Gian. Tanpa berpamitan.
Di saat Gian baru menyadari apa yang baru saja ia katakan, itu semua sudah terlambat. Karena Zaka sudah tidak ada bersamanya lagi.
Gian segera beranjak dari tempat duduknya, berusaha untuk menghubungi Zaka. Tiga, empat, sampai tiga puluh kali panggil tidak terjawab oleh Zaka.
++++++
Setibanya di sekolah. Pagi-pagi buta, Gian langsung menyusuri lorong kelas kakak kelasnya untuk mencari keberadaan Zaka. Tanpa bertanya kepada siapapun di sana, karena Gian masih enggan hubungan di ketahui siapapun.
Brugkk.....
"Ma....", memotong ucapan Gian."Sorry",nada bicara seorang lelaki di depan dingin sebelum berlalu pergi meninggalkan Gian.
__ADS_1
Gian terdiam memperhatikan sesama raut wajah lelaki itu yang adalah Rifqi. Wajah Rifqi penuh dengan beberapa luka lebam yang masih baru. Di situlah Gian langsung mengambil kesimpulan kalau Zaka lah yang melakukan.
Tekat Gian semakin bulat untuk secepatnya menemukan Zaka. Tapi sayangnya sampai bel pelajaran di mulai Gian tidak bertemu dengan Zaka. Sampai jam pulang sekolah, Gian tetap tidak bertemu dengan Zaka.
Menepuk bahu Gian,"Ngelamun lagi",sentak Gita.
"Aku enggak ngelamun",sangkal Gian tidak mau menerima tuduhan dari Gita. Yang sebenarnya tau Gian sedang melamun sejak tadi, jika pun tidak kenapa sejak tadi di panggil-panggil Gian tidak merespon. Tapi Gita enggan mempermasalahkannya.
"Coba buka Hp, entah sejak kapan lah kamu tidak buka hp sampai aku chat pun tidak bales".
"Beneran",Gian yang langsung merogoh kantong rok nya. Untuk mengambil ponsel milik nya, menyalahkan layar ponsel nya yang baru Gian lihat begitu banyak sekali notifikasi chat dan beberapa panggilan telepon tidak terjawab dari Gita untuk nya.
Melihat Gita dengan ekspresi wajah merasa sangat bersalah,"Maaf".
"Iya sudah lupakan. Sekarang aku mau tanya. Kamu mau tidak nanti malam ikut aku ke pasar malam sama Sendy?".
"Sendy teman SD kita?",tanya Gian sumringah bahagia.
"Iya, mau....", memotong ucapan belum terselesaikan Gita."Jemput aku tepat pada waktunya. Jam...??".
"8 aku otw".
"Siap".
__ADS_1
"Pulang bareng Gi, naik angkot. Gue sedang gelud sama Abang. Ogah lihat mukanya",ekspresi wajah Gita yang menjadi badmood.
++++++