
Dua Minggu telah berlalu. Selama itu, Gian mengabaikan semua panggilan pekerjaan yang sebenarnya sangat ia butuhkan sekali. Dengan sisa uang tabungan yang ia punya, selama beberapa hari ini Gian justru sibuk dengan toko Kakeknya yang kembali ia sewa dan ia jalankan kembali bersama dengan Gita.
Padahal sudah sangat banyak sekali perusahaan besar yang menawarkan kontrak besar pada Gian dengan gaji besar yang sama sekali tidak di menggubris tawaran itu oleh Gian yang justru lebih fokus dengan usaha gaji kecil nya.
Terlalu lelah dengan banyak kegiatan yang Gian lakukan sepanjang hari. Gian yang saat ini sudah tinggal seorang diri. Hanya bisa duduk terdiam melamun di ruang tamu rumahnya. Suasana rumah yang sangat sepi membuat nya cukup damai juga kesepian.
Hanya suara rintik-rintik gerimis di luar rumah saja yang terdengar memecah keheningan malam rumah nya.
Sembaring memainkan layar ponsel yang baru ia nyalakan kembali setelah beberapa Minggu ia matikan. Seketika itu sederet notifikasi chat juga panggil telfon tidak terjawab langsung memenuhi layar depan notifikasi. Itupun belum dari notifikasi telfon yang tidak terjawab dari nomor yang tidak di kenal, banyak sekali.
Hingga dari mulai nomer telpon Aska Notifikasi chat pertama mulai Gian baca.
\=>Gi kamu ke terima kerja di tempat ku. Pak Zevano menyuruhku untuk secepatnya menghubungi kamu. Kamu bisa mulai kerja besok Gi.
\=>Kenapa tidak datang?Kamu sakit?Kenapa Gi?Gi balas dong, aku khawatir Gi.
\=>Gi pak Zavano nanyain kamu, dia tanya-tanya banyak hal soal kamu. Entahlah dia kenapa, tapi aku belum cerita terlalu banyak takut aku sama kamu. Di tambah lagi kamu juga tidak merespon ku, aku khawatir kamu marah sama aku.
\=>Kamu kenapa Gian?Kamu sakit?Ayolah Gi balas Chat ku pak Zavano terus memaksa ku untuk bercerita tentang mu semasa kuliah.
\=>Gian maaf, aku sudah terlanjur menceritakan nya. Karena di satu sisi aku takut di pecat, Pak Zavano mengancam akan memecat ku jika tidak mau bercerita tentang mu. Maafkan aku Gi, karena aku juga harus menghidupi kehidupan adik-adik ku.
Anda
\=>Iya tidak papa.
\=>Aku baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir. Sekarang aku sudah bekerja di tempat lain, aku mengelola toko sembako Kakek ku dulu.
\=>Terima kasih bantuan Is, kapan-kapan mampir lah ke toko ku. Emot tersenyum.
Iska
\=>Gian, syukurlah kalau begitu. Iya aku akan mampir kalau beras di rumah ku sudah habis. Kasih diskon iya.
Anda
\=>Tergantung beras apa yang kamu beli.
Iska
\=>Iya gitu emot bersedih.
Tokk....Tokk.....Tokk....
Mendengar suara ketukan pintu dengan jelas selama beberapa kali membuat Gian lekas beranjak dari tempat duduknya. Dan mematikan layar ponsel sebelum ia letakkan di atas meja,"Siapa?",tanya Gian yang tidak mendapatkan balasan apapun.
Takut itu adalah orang jahat. Gian pun siaga dengan menggenggam sapu untuk senjata."Siapa?",tanya Gian sekali lagi. Yang lagi-lagi tidak mendapatkan respon apapun. Gian lihat dari kaca jendela juga tidak jelas. Karena kaca nya berembun akibat air hujan. Juga bagaimana bisa jelas sementara ia sendiri lupa untuk memanggil tukang untuk memperbaiki lampu teras rumah nya yang rusak. Sudah kaca berembun, lampu teras padam, jadi tidak heran Gian tidak dapat melihat apapun.
Berlahan-lahan, pintu yang tidak terkunci itu justru terbuka dengan sendirinya. Gian mengambil langkah mundur beberapa langkah, ia berjaga-jaga dengan gagang sapu dalam genggaman tangan nya.
Memejamkan matanya dengan mengayunkan gagang sapu ke arah depan,"Maling....ma..",sett....gagang sapu itu langsung terhenti oleh tangan besar yang sudah menahannya.
Gian membuka kelopak matanya untuk melihat seseorang yang saat ini sudah berdiri di depan nya,"Maaf Gi",ucap Zaka seseorang lelaki yang malam ini bertamu paksa ke rumah Gian.
Namun Gian tidak merespon apapun, ia berusaha mendorong Zaka agar kembali keluar rumah, tapi tertahan oleh Zaka yang langsung menerobos lebih masuk. Bahkan sampai kaki Zaka berhasil menggerakkan pintu agar kembali tertutup paksa, terbanting.
__ADS_1
Memegangi tangan Gian yang hendak memukul tubuhnya."Lepas Zaka!LEPAS!!",Gian yang semakin meninggikan nada bicara nya di akhir kalimat.
Zaka menuruti dan melepaskan tangannya,"Pergi. Pergi Zak lupakan semuanya".
"Aku sudah tidak menyukai mu, hubungan kita telah berakhir entah kamu suka atau tidak. Aku mohon Zaka lepaskan aku",permintaan Gian yang enggan menatap langsung Zaka yang belum merespon apapun.
"Bohong",kata Zaka."Coba katakan sekali lagi dan lihatlah aku. Aku akan pergi jika kau mengulangi nya",tantang Zaka pada Gian yang memang semenjak tadi enggan untuk melihat lawan bicara nya.
Gian mendongak melihat membalas langsung tatapan Zaka padanya,"Aku tidak mencium mu, hubungan kita sudah berakhir, cepat pergi aku tidak mau melihat mu lagi".
"Oky, Baiklah",balas Zaka singkat pada jelas berlalu pergi meninggalkan kediaman rumah Gian.
Entah Zaka sudah benar-benar pergi atau belum. Yang jelas di saat itulah Gian langsung menyadarkan diri di dinding rumah. Air mata langsung pecah, ia menangis tersedu-sedu. Mulut Gian bisa berbohong, tapi hatinya tidak bisa. Sebenarnya semenjak kejadian itu, selama beberapa Minggu ini Gian terus saja memikirkan Zaka. Namun ia memilih untuk membohongi diri sendiri saat Zaka sudah ada di depannya.'Seenggaknya lebih baik seperti ini',pikir Gian.
"Sudah cukup menangis nya aku tidak akan pergi meninggalkan mu",kata Zaka yang saat ini sudah berdiri tegak di hadapan Gian.
Gian langsung beranjak memeluk Zaka, masuk ke dalam pelukan Zaka. Dengan memukul-mukul dada bidang Zaka yang basah karena air matanya,"Kamu jahat Zaka. Kenapa aku tidak bisa membenci laki-laki yang sudah meninggalkan ku. Aku benci kamu Zaka".
"Sekarang kamu datang, tapi....".
"Tapi aku tetap kembali Gia, aku sudah berjanji tidak akan pergi meninggalkan kamu".
"Sejauh apapun aku dari mu, aku tetap akan kembali pada mu. Karena aku sudah berjanji Gian, janji ku pada mu tidak bisa ku ingkari",Zaka yang memeluk Gian sembaring mengelus lembut surai rambut Gian yang di biarkan tergerai.
Menyudahi pelukan nya,"Lagian kemarin aku keluar di dalam, jadi ada kemungkinan besar kamu akan hamil anak ku".
Memukul Zaka kembali sedikit lebih kencang kesal.
"Hhhhah.....biar kamu tidak bisa ninggalin ataupun nolak ku",Zaka tanpa rasa bersalah tertawa lepas.
Tiba-tiba hening,"Turut berduka atas kepergian Opa",kata Zaka bernada rendah.
"Tempo hari aku sudah pernah datang ke sini dengan harapan bisa bertemu dengan mu. Tapi kata tetangga mu, kamu sudah tidak tinggal lagi di sini".Berpaling melihat Gian cukup lama, pada akhirnya Zaka mencium kening Gian cukup lama.
"Maaf tidak bisa selalu ada saat kamu sedang keterpurukan".
"Jangan pergi lagi Zak",minta Gian yang di balas anggukan kepala oleh Zaka yang tiba-tiba mengangkat mengendong tubuhnya.
Merangkul bahu Zaka takut terjatuh,"Zak turunkan aku nanti jatuh".
Mendudukkan Gian di atas tempat tidur,"Tidak akan jatuh, kamu tidak percaya sekali dengan ku".
"Tetap saja akan jatuh kalau encok kamu kambuh".
Zaka yang sudah berjongkok di depan Gian,"Huahhhhh.....mana ada Gi".
"Aku emang tua tapi bukan berarti sudah benar-benar tua".
"Kamu emang sudah tua",menyilang kedua tangan di atas dada kesal.
"Zak",seru Gian pada Zaka yang sudah terlalu dekat dengan nya. Bahkan sampai mencium bibir nya sekilas. Tanpa rasa bersalah Zaka justru menyungging senyum tipis yang hangat untuk Gian.
"I love you",ucap Zaka sembaring menuntut Gian untuk berbaring.
Menahan dada Zaka,"Ber... berhenti. Apa yang kita lakukan salah Zaka. Aku tidak mau mengulangi nya",kata Gian sebisa mungkin menatap manik mata Zaka.
__ADS_1
"Lalu apa yang benar?Kamu mau kita nikah dulu". Melihat Gian yang hanya terdiam tidak merespon."Baiklah kita nikah sekarang",ucap Zaka dengan enteng nya.
Terfokus melihat Zaka,"Gila!Mana bisa".
Menyipitkan matanya menatap mengintimidasi Gian,"Kenapa terkejut gitu?Kamu tidak mau?Atau...kamu punya lelaki lain".
Membalas cepat,"Tidak, aku tidak punya lelaki lain".
"Lalu kenapa tidak mau?".
"Aku......aku hanya butuh waktu".
"Satu Minggu".
"Hah?".
"Baiklah tiga hari".
"Tunggu, tunggu, baiklah satu Minggu",Gian berucap secepat mungkin. Masih menahan Zaka,"Tapi selama itu kamu jangan memaksa ku untuk berhubungan".
"Tidak bisa".
"Tap salah Zaka yang kita lakukan, aku enggak mau. Lagian satu Minggu waktu yang singkat",menatap Zaka berharap lelaki di hadapannya menyetujui kesepakatan ini.
Zaka beranjak dari atas tubuh Gian, ia menghela nafas berat."Baiklah, tapi ada syaratnya".
"Kamu jangan coba-coba dekat dengan lelaki lain".
"Enggak".
"Yasudah aku mau mandi".
Ikut beranjak berdiri di samping tempat tidur,"Mandi apa?Ma... maksud ku mandi di mana?".
"Iya disini".
"Terus baju ganti mu?".
Zaka berpaling terfokus melihat Gian,"Pinjem kaos sama celana mu. Kamu punya banyak kaos oblong dan celana panjang laki-laki. Aku masih ingat itu semua".
Terfokus pada Zaka yang sibuk mengeringkan rambut nya yang basah dengan handuk,"Kamu kapan pulang?",tanya Gian.
"Pulang ke mana?Rumah mu rumah ku juga".
"Tidak bisa gitu Zak, kamu harus pulang".
"Kalau gitu kamu ikut aku pulang ke rumah ku".
"Enggak".
"Yasudah biarkan aku tetap di sini",Zaka yang tetap menolak kemauan Gian yang menyuruhnya pulang.
Gian yang belum sempat berucap kembali,"Bicara lagi ku unboxing", seketika Gian langsung terdiam seribu bahasa. Ucapan yang keluar dari mulut Zaka selalu tidak main-main. Lelaki di depannya ini benar-benar sangat nekat dan berbuat semaunya sendiri.
Hingga akhir Gian beranjak dari tempat duduknya. Itu pun di ikuti oleh Zaka mengikutinya dari belakang. Gian pergi ke pintu depan, mengunci pintu depan. Sebelum berlalu masuk ke dalam kamar, masih dengan di ikuti oleh Zaka.
__ADS_1
Di dalam kamar dengan cahaya remang-remang Gian membaringkan tubuhnya, menyelimuti hingga tidak memperlihatkan apapun selain ubun-ubun rambut nya.
Satu sisi Gian juga merasakan Zaka ikut naik dan tidur di samping. Tapi karena sudah enggan berdebat dengan Zaka yang ujung-ujungnya ia juga yang kalah. Gian pun memilih untuk tidur dan mengabaikan kehadiran Zaka, walau sekalipun saat ini Zaka tengah merangkul pinggang nya dari belakang.