
Setelah drama panjang seputar makanan dan obrolan dengan Erika, akhirnya Shia memilih pulang. Awalnya ia ingin menginap namun Erika melarangnya.
Jam sudah menunjukan pukul 21.45 PM, namun Shia masih berada di dalam mobilnya yang terparkir di basement rumah sakit. Dia hanya diam dengan tubuh bersandar pada kemudi. Otaknya sedang memikirkan pambalasan apa yang cocok untuk bajingan seperti Damien.
Jujur saja, dari awal Shia tidak suka dengan pria itu. Damien terlihat angkuh dan pengatur, dia tidak suka jika ada yang mengaturnya. Menurut Shia Damien itu bossy. Bahkan hidup Erika pun juga harus sesuai aturannya.
Yah setidaknya sekarang sahabatnya itu sudah lepas dari pria bajingan itu.
Ting
‘Jangan balas Damien, bagaimana pun aku juga bakal sedih kalau dia celaka!’
Shia mendengus, Erika terlalu baik tidak bahkan sangat baik sehingga membiarkan bajingan seperti Damien masih hidup dengan tenang sedangkan Erika terluka sendirian.
Shia menyalakan sport car miliknya dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi. Namun kali ini Shia merasakan ada yang ganjal, ada sebuah mobil sport berwarna hitam terlihat mengikutinya.
Bukan tanpa alasan Shia berpikir demikian, pasalnya itu adalah mobil yang sama dengan mobil yang juga terparkir di basement rumah sakit.
Shia menaikkan kecepatan mobilnya dan mobil hitam dibelakangnya juga ikut melaju dengan cepat mengejar mobilnya, berarti benar dugaan Shia, mobil itu mengikutinya.
Shia melajukan mobilnya dengan cepat, ia tersenyum miring ketika melihat mobil hitam di belakangnya sudah dekat dengan mobilnya. Dengan cepat Shia membanting setir kearah kanan, berbelok menuju jalan setapak yang Shia tau adalah jalan pintas menuju apartemennya.
Mobil hitam itu tidak sempat ikut membelok dan malah berjalan lurus kedepan.
“Nice try jerk!” Umpat Shia ketika melihat mobil hitam itu tidak lagi mengikutinya
“Sebenarnya ada apa dengan hidupku yang penuh drama ini?” tanya Shia pada dirinya sendiri. Shia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga ia tiba di apartemennya.
Namun, ketika mulai memasuki Apartemen, mendadak Shia menghentikan langkahnya. Badannya berbalik menatap ke sekitar. Ia merasakan ada orang yang mengikutinya. Sudah Shia katakan bukan dia tipe gadis yang peka.
Shia masih menatap sekitar, dia curiga mobil hitam tadi masih mengikutinya namun begitu melihat jalanan, Shia tidak menemukan siapapun.
“Just my feel” Gumam Shia
Tapi sepertinya feeling Shia tidak salah, karena setelah ia memasuki gedung apartemen, seorang pria dengan pakaian serba hitam dan masker itu melangkah keluar dari balik tembok.
“Karena kamu, aku merasa jadi penguntit sekarang” gumam pria itu dengan seringaian samar di bibirnya.
__ADS_1
-------------
Shia terbangun lebih awal dari biasanya, ini sudah hari ke 4 nya Shia terbangun dengan kondisi yang sama, rasa sakit pada lengan dan kemerahan pada lehernya namun hari ini adalah yang paling parah. Bercak kemerahan itu sudah mencapai paha bagian dalamnya.
Shia menghela napas gusar, ini tidak bisa dibiarkan. Shia yakin ia sudah mengunci semua akses masuk ke apartemennya. Mulai dari pintu depan, pintu kamar bahkan jendela kamarnya pun sudah terkunci dengan benar tapi kenapa Shia masih mengalami hal yang sama.
Shia memijat pangkal hidungnya, ia harus tenang. Sebuah pesan masuk dari George mengambil alih perhatiannya
‘jangan lupa kita ada meeting hari ini!’
Itu isi pesan singkat George. Nomong-ngomong dia hampir lupa jika seminggu lagi mereka akan bertunangan, sesuai perintah Robert.
Shia menghela napas meeting yang George maksud adalah perihal pesta pertunangan mereka dan hari ini dia harus menemui George lagi.
1 Jam cukup untuk Shia bersiap. Ia menghidupkan mesin mobilnya menjalankannya dengan kecepatan penuh membelah jalan raya kota Dallas yang sepi mengingat ini masih pagi dan bertepatan dengan weekend. Mungkin orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu dirumah mereka sendiri pikir Shia.
Shia sampai di depan sebuah butik. Ia menghentikan mobilnya dan melangkah keluar. Sambutan para pelayan Shia dengar ketika ia melangkah masuk ke dalam butik itu.
Pandangan Shia jatuh pada sosok pria tampan yang duduk di sofa sedang melihat sebuah buku yang berisiakan desain pakaian. Shia melangkah mendekati pria itu.
“Morning Mr. George”
“Kamu yang datang terlalu cepat” Balas Shia setelah melirik jam tangan nya. George tersenyum tipis.
“Ngomong-ngomong kau terlihat berbeda” Ucap George
“Apanya?” tanya Shia tak paham
“You’re style” ucap George. Shia menatap pakaiannya. Ah dia hampir lupa saat dia bertemu dengan George dia menggunakan gaun putih dan heels tapi sekarang dia malah menggunakan celana Jeans dan baju kaos putih crop top dan sebelah lengan yang buntung.
“Pulang dari sini aku mau drifting” Jawab Shia jujur. Tidak ada untungnya juga dia membohongi George
“Kau malu aku begini?” tanya Shia ketika George tak melepaskan pandangan darinya. Gadis itu mengamati penampilan George yang rapi dengan kemeja putih dan celana kain hitam.
“Of course not, sebenarnya kau terlihat lebih hot dari pada sebelumnya.” Ucap George sambil menggigit bibirnya, menggoda Shia. Shia memutarkan bola matanya jengah. Dia hampir lupa jika George ini playboy ulung.
“Lebih baik aku pulang” Ucap Shia ingin berdiri tapi segera di cegah George.
__ADS_1
“Kau belum memilih gaun, walaupun aku yakin gaun apapun yang kau pakai pasti akan bagus”
“Kalau begitu pilihkan saja untuk ku” Ucap Shia.
“Kau yakin?” tanya George
“Hmm” balas Shia malas. Ia kembali duduk dan memejamkan matanya. Mengabaikan George yang melihat-lihat desain gaun di gambar.
“Bagaimana dengan ini?” Ucap George, Shia membuka matanya.
“Bagus” respon Shia singkat, padahal dia tidak melihat desain gaun yang George berikan.
“Mau mencobanya?”
“Nanti saja”
George memanggil pelayan lalu memesan gaun yang ia pilihkan. Shia juga mendengar George memesan kemeja yang serupa dengan gaunnya.
Mereka berdua melangkah keluar, jika dipikirkan lagi untuk apa mereka bertemu di butik dan memilih pakaian jika akhirnya Shia menyerahkan semua pilihannya pada George.
“Mau makan siang?” Tanya George, Shia melirik jam tangannya
“Tidak, aku harus ke Texas”
“Mau ku antar?” tawar George.
“Sedang memerankan calon tunangan yang baik, heh” Shia berdecih namun disertai tawa kecilnya
“Jika kau mengizinkan”
“Of course not!”
-------------
Shia menatap malas pada sosok pria paruh baya di depannya. Asap mengepul yang di hembuskan ke udara membuat Shia jengah, entah sudah berapa putung rokok yang di hisap ayahnya itu.
Pintu terbuka, Shia tersenyum pada tante Ilya yang melangkah masuk dan memberikan beberapa dokumen pada Robert.
__ADS_1
“Ini daftar tamu undangan, kamu bisa memeriksanya jika ingin yang lain” Ucap Robert membuat Shia mengerti alasan kedatangannya ke sini.
Shia membaca daftar nama dengan cepat, hampir tidak ada yang ia kenali dari semua nama itu. Hingga sebuah nama menarik perhatiannya. Mr and Mrs Hiddleton. Nama itu menarik perhatian Shia. Jika Lyran tidak tau tentang Liam, mungkin saja orang tuanya tau