Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Twenty Nine : Captivation


__ADS_3

Shia mengusap wajahnya kasar. Ia menghela nafas berusaha mentralkan degup jantungnya yang tak beraturan. Terkejut? Tentu saja. Meskipun belum yakin, namun Shia merasa Ace Hiddleton tertarik padanya.


Shia beralih menatap pantulan dirinya pada cermin. Apakah wajah ini yang tadi dilihat oleh Ace? Wajah berantakan dengan mata yang sedikit membengkak karena habis menangis ditambah kepangan rambutnya yang dia lepas sembarangan dan bercak merah di dadanya.


HOLY S***! Shia terlihat seperti korban pelecehan dan Ace Hiddleton adalah pelakunya!


Sebuah pesan masuk di telponnya membuat Shia meraih handponenya di dalam tas. Setelah tidak ada kabar hampir seminggu akhirnya Alex menghubunginya, Pria itu mengirimi berkas yang berisi sejumlah rekaman CCTV yang di minta Shia.


Shia memeriksa rekaman itu satu per satu. Dia mengerutkan dahinya. Rekaman itu tidak menunjukkan apapun. Seperti sudah di manipulasi sedemikian rupa seolah tidak ada hal yang terjadi.


“Apa maksudnya ini?”


“Kau sendiri sudah melihatnya, Jaringan di sekitar apartemen mu sudah direntas. Melihat aku yang tidak bisa menemukannya, orang yang mengikuti mu itu bukan orang sembarangan”


“Ah, Sialan!” Shia memaki geram


“Apa tidak ada orang yang kau curigai?”


“Ada beberapa orang aneh di dekat ku” Ucap Shia, belakangan ini memang banyak hal berubah setelah pertemuannya dengan Liam yang ternyata Ace Hidddleton, George Pattion pria yang kini menjadi tunangannya bahkan sosok pria dengan masker hitam bernama Alpha itu.


“Aku sudah mengatakannya padamu untuk berhati-hati Shia. Kau terlalu baik pada semua orang”


“Maksudmu?”


“Aku sudah bilang padamu sebelumnya to beware with Mr. Amnesia. Hidupmu berubah setelah bertemu pria itu kan”


Shia terdiam. Ia mematikan penggilannya. Apa yang Alex ucapkan benar. Hidup tenangnya berubah setelah dia menolong Ace Hiddleton.


-----------


Shia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Acara pertunangannya belum selesai namun sang wanita sudah pergi dari sana.


Dia tidak dalam mood yang baik untuk sekedar mengikuti pesta itu sampai selesai. Lagipula menurutnya sejak cincin dengan ruby merah itu melingkari jarinya maka acara itu sudah selesai baginya.


Merasakan bahwa ada yang tidak beres, Shia melirik spion dan menyadari dua buah mobil berwarna hitam mengikuti mobilnya.


Dor!


“Shit! Beraninya kalian menembak ban mobilku!” Ucap Shia kesal ketika menyadari mobil yang dia kendarai menjadi berjalan lambat dan tidak seimbang.

__ADS_1


Shia tidak bisa mengendalikan mobilnya, tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar. Ia lebih memilih menginjak rem dan meminggirkan mobilnya.


Mobil Shia berhenti di pinggir jalan yang sepi, jalanan ini adalah perbatasan antara kota Texas dan Dallas. kedua mobil hitam yang mengikutinya tadi juga berhenti dengan jarak sekitar 3 meter di dekat mobilnya.


Pintu mobil hitam itu terbuka. Terdapat 3 orang pria yang berjalan keluar dari setiap mobilnya.


“Tidak ku sangka jika aku begitu popular” Ucap Shia


"Jadi bisa katakan apa tujuan kalian?" Tanya Shia. Tanpa bisa ditebak seseorang sudah berada dibelakangnya. Menutup pernafasan gadi itu dengan sebuah kain yang sudah diberikan obat bius. Hal terakhir yang Shia lihat adalah para pria berseragam itu yang membuka jalan. Membiarkan seorang pria dengan masker hitam diwajahnya mendekati Shia.


“Semuanya sudah siap tuan” Ucap salah satu anak buahnya.


Pria yang dipanggil tuan itu mengambil alih tubuh Shia. membawa gadis itu dalam dekapannya. “Kembali ke Italia!” Suara maskulin itu terdengar samar di pendengaran Shia.


Shia merasakan matanya semakin memberat, sehingga ia hanya bisa pasrah. Diculik setelah bertunangan? Baiklah setidaknya Shia akan mencoba drama lain di hidupnya.


-------------


Shia membuka matanya perlahan. Tangannya terulur mengusap kepalanya berdenyut sakit. Lalu turun pada tubuhnya yang terasa pegal.


Shia menatap tubuhnya yang kini terbalut oleh piyama tidur berwarna putih, lebih nyaman dibandingkan gaunnya semalam. Kasur yang ditempatinya pun sangat luas dan empuk. Shia menyadari dirinya kini berada di rumah sang pelaku penculikan.


Seingatnya dia dibius oleh sekelompok pria tak dikenal. Lalu seorang pria dengan masker hitam itu mendekatinya. Dan berbicara denga para pria berseragam hitam itu.


“Shia” Merasa terpanggil, Shia menoleh ke samping menatap seorang pria yang tak asing baginya.


Alfa. Pria itu duduk di sebuah sofa single dan menatap ke arah Shia dengan tatapan datar. Sebuah masker hitam masih melekat di wajahnya menutupi rupa pria itu. Sesungguhnya Shia selalu penasaran kenapa pria itu mengunakan masker, padahal Shia yakin jika dibalik masker itu tersembunyi rupa yang sangat rupawan. Dia bahkan merasa manik abu-abu itu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang besar.


“Kau yang menculik ku?” Gadis itu bersuara tenang.


“Benar, tapi lebih mengesankan jika kau menyebutnya sebagai tawanan” Serunya dengan suara berat. Shia diam, dia tidak menyangka jika Alfa akan mengiakan pertanyaannya.


“Why? Kenapa kamu membawa seorang wanita yang bahkan baru selesai melakukan pertunangan dengan pria lain?” Tanya Shia lagi, masih dengan nada tenang dan datar.


“Menurutmu?” tanya Alfa. Shia mengerutkan dahinya


“Aku yang duluan bertanya padamu”


“Dan aku bertanya balik”

__ADS_1


“Menurutku kau seorang pria yang menyedihkan, mengincar seorang wanita yang sudah menjadi tunangan pria lain” Jawab Shia kesal. Alfa terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.


“Kau benar, tapi juga salah”


“KAU!-“


Shia berdecak, ia menghela nafas pelan. Berbicara dengan pria itu tidak akan ada habisnya. Apalagi jika sampai Shia tersulut emosi, bukan hanya fisiknya yang lelah namun juga mentalnya.


“Aku lapar. Kau tidak mungkin membiarkan tawananmu mati karena kelaparan kan!” Ucap Shia mengalihkan pembicaraan mereka.


Alfa terlihat bergumam pelan lalu tak lama kemudian pintu di terbuka dan menampakan dua orang wanita berseragam pelayan. Mendorong sebuah troli yang berisi makanan. Shia merasa diperlakukan seperti putri raja sekarang.


Shia turun dari ranjang. Ia mendudukkan diri di depan Alfa, di meja itu berbagai jenis hidangan sudah tersusun dengan rapi.


“Keluar!” Usir Alfa pada kedua pelayan tadi


Shia langsung memakan cemilan kecil sebagai hidangan pembuka dilanjutkan dengan daging steak premium yang sudah terpotong dengan rapi.


“Kau tahu benar cara menghabiskan makanan”


“Aku lapar, diam!”


Alfa tersenyum “Tetaplah di sisiku dan aku akan memberikan apapun yang kau inginkan”


“Aku tak menginginkan apapun” Ucap Shia tanpa menoleh. Gadis itu meraih sebuah piring kecil yang berisi pudding.


“Kau kemanakan cincin ku?” Shia baru sadar jika cincin dengan batu ruby merah di jari manisnya sudah menghilang entah kemana.


“Tidak tau” jawabnya singkat


“Kau yakin?”


“Kau bertanya seolah menuduhku mencuri cincin mu?!”


“Aku hanya bertanya, jika kau merasa tertuduh besar kemungkinan kau yang mengambilnya!”


“Kesimpulan dari mana itu”


“Aku yang membuat kesimpulan itu”

__ADS_1


Perdebatan tidak penting. Namun Alfa menyukainya, secara tidak langsung Shia mulai nyaman berbicara dengannya dan hanya perlu sedikit lagi sampai gadis itu menjadi miliknya.


__ADS_2