Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Thirty : Miss You


__ADS_3

Setelah mendapatkan telpon dari salah satu bawahannya, Alfa berdiri dari sofa single itu. Dia melirik Shia yang masih memakan pudding coklat dengan tenang.


“Aku akan segera kembali dan jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dari tempat ini!” Suara tegas itu menyuarakan perintah yang tidak boleh di langgar. Tidak ada ancaman dalam ucapannya namun Shia sadar akan ada akibat jika melanggarnya.


Langkah kaki pria itu menjauh. Shia mendengar suara pintu terkunci saat Alfa keluar dari kamar ini. Alfa memenuhi ucapannya dengan menjadikan Shia tawanannya.


Shia menghela nafas pelan, ia meletakkan piring itu ke meja lalu membuka gorden tebal yang menutupi jendela kamar. Kamar itu berada di tempat yang tinggi mungkin di lantai 4 atau mungkin 5, entahlah Shia tak yakin, yang jelas dari atas sini dia dapat melihat Alfa berjalan memasuki sebuah mobil Mercedes Benz hitam.


Netra coklatnya memindai setiap lokasi tempat itu. Di bawah sana ada begitu banyak penjaga berseragam serba hitam. Mereka berjaga tepat di depan gerbang putih yang menjulang tinggi.


Shia mematung. Dia baru menyadari jika di luar gerbang itu hanya ada jalan setapak yang ditutupi oleh pepohonan. Bisa Shia simpulkan jika saat ini dirinya berada di sebuah lokasi yang terisolasi.


Gadis itu menatap telepon yang terletak di atas nakas. Ia meraih telpon itu namun sayangnya telpon itu tidak berfungsi. Dia kembali melangkah, kali ini ke arah pintu.


“Hallo, apa ada orang diluar? Aku terkunci di dalam sini!” Tangan Shia mengetuk pintu kamar itu dengan kuat. Suara kunci berputar membuat Shia sedikit menjauh dari pintu.


Pintu kamar itu terbuka, dua orang pelayan berjalan masuk dengan kepala menunduk, masih terlihat muda. Shia ingat salah satu pelayan itu adalah orang yang membawa makanan sebelumnya.


“Apa nona membutuhkan sesuatu?” tanya nya.


“Aku ingin keluar”


“Maaf nona tapi tuan berpesan jika anda tidak boleh keluar dari kamar”


Shia memebuka mulutnya shok dengan menahan kesal, bahkan untuk sekedar keluar kamarpun dirinya dilarang.


“Jika anda membutuhkan sesuatu silahkan gunakan ini, saya akan datang menemui nona” Pelayan itu memberikan sebuah benda kecil dengan tombol merah yang menyala jika di tekan.


“Semua keperluan anda sudah tersedia di kamar ini. Pakaian anda juga ada di walk in closet” Jelasnya membuat Shia tak habis pikir. Tawanan macam apa dia ini. Tawanan macam apa yang diperlakukan layaknya seorang tamu kehormatan.


-------------


Dua hari sudah Shia terkurung di kamar megah ini. Selama itu juga Alfa belum ada menampakkan diri di depannya. Mungkin pria itu masih sibuk dengan urusannya yang entah apa itu, Shia tidak peduli.

__ADS_1


Tidak ada aktivitas yang penting baginya selain makan dan tidur. Semua keperluannya di siapkan oleh para pelayan yang datang bergantian untuk melayaninya. Shia merindukan kehidupan lamanya. Kehidupan bebasnya yang tidak terikat apapun, kecuali kebenciannya pada Robert.


Ngomong-ngomong bagaimana reaksi Robert, saat menyadari jika Shia diculik? Mungkinkah orang tua itu akan mencarinya atau menyuruh George untuk mencarinya. Mengingat sosok George, sepertinya Shia harus minta maaf pada pria itu karena menghilangkan cincin pertunangannya.


“Ini seperti sangkar emas” Gumam Shia sambil menatap langit-langit kamar itu. Ia menutup matanya yang terasa berat tanpa menyadari jika kini seseorang sedang melangkah pelan memasuki kamar itu.


Alfa berdiri di sana, sudah dua hari dia tidak bertemu dengan Shia, dan kini perasaan nya melebur ketika melihat sesosok malaikat yang tertidur di atas kasurnya. Dia mengganti pakaiannya, masker hitam yang selalu melekat diwajahnya kini terlepas menampakan wajah sosok Alfa yang sesungguhnya. Wajah pria itu terlihat lelah namun tidak mengurangi ketampanan pria itu.


Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Shia. Tangannya melingkari tubuh gadis itu, membawanya masuk kedalam dekapan pria itu. Shia menggeliat merasa tak nyaman namun Alfa justru mendekapnya semakin erat.


“Merindukanmu. Sangat merindukanmu!” Gumamnya, dengan kepala yang di tenggelamkan pada pundak Shia.


--------


Ini pagi ketiganya Shia masih berada di tempat yang sama, sebuah kamar megah yang hanya dihuni oleh dirinya sendiri. Ah tidak, tadi malam kamar ini di huni oleh dua orang. Ia sadar jika tadi malam Alfa masuk ke dalam kamar dan tidur dengan posisi memeluknya. Sayangnya Shia terlalu malas untuk hanya sekedar membuka mata. Padahal jika Shia membuka sedikit saja matanya, maka dia akan tau siapa itu Alfa.


Gadis itu bangkit dari ranjangnya. Ranjangnya? Entahlah Shia sudah nyaman dengan tempat tidur itu sehingga mengklaim jika ranjang itu sudah menjadi miliknya.


Ia beranjak menuju toilet, mencuci wajahnya lalu menatap bayangannya pada cermin besar itu. Ia membuang nafas kasar dan berjalan ke arah pintu. Sepertinya semesta sedang mendukungnya, kali ini pintu itu tidak terkunci seperti sebelumnya.


Alfa yang sedang duduk di ruang tamu dengan tablet ditangannya itu mengalihkan perhatiannya pada pada Shia yang melangkah menuruni tangga melingkar itu dengan tergesa-gesa. Dibalik masker hitamnya, pria itu tersenyum lebar.


‘Padahal dia bisa menggunakan lift’ gumamnya.


“Itu kau kan!” Shia menunjuk Alfa dengan geram. Para pelayan melotot kaget, Shia adalah orang pertama yang bersikap kurang ajar pada Tuan mereka.


Sebelah alis Alfa terangkat. Menunggu kelanjutan dari ucapan Shia.


“Kau bajingan gila yang memasang kamera pengawas di kamarku dan masuk ke dalam kamarku setiap malam?!” Shia berucap tajam, mata gadis itu menatap sengit pria di depannya. Alfa justru malah tertawa membuat Shia semakin emosi.


PLAK!


Tangan Shia terangkat memberikan tamparan di wajah yang selalu tertutupi masker hitam itu. Ruangan itu seketika hening. Para pelayan menunduk ketakutan, dalam hati mereka berdoa untuk keselamatan Shia dan mereka sendiri.

__ADS_1


Alfa menghentikan tawanya, dia menatap Shia lalu melangkah mendekat. Tangannya mencengkaram dagu Shia, tidak kuat namun mampu membuat Shia meringis.


“Kau menuduhku lagi, sweety” Gumamnya. Shia semakin menatap tajam Alfa


“Aku tidak menuduh! Ini sama seperti bekas sebelumnya!” Shia membuka kancing atas piayama nya lalu menunjukan bekas ciuman yang terdapat di dadanya.


“Keluar dari sini dan tutup mata kalian!” Alfa berucap tajam. Para pelayan di ruangan itu menundukkan kepala dan pergi dari sana. Menyisakan ruangan yang hanya terdapat dua manusia berbeda gender itu.


“Bekas sebelumnya?” tanya Alfa kemudian


“Berhenti berpura-pura Alfa! Aku tau kau orang yang selalu menguntit ku!”


“Dan dengarkan aku Shia, aku memang memasang kamera pengintai di kamarmu tapi-“


“Kau bajingan gila!” Umpat Shia sebelum Alfa menyelesaikan ucapannya. Alfa dapat melihat manik coklat terang itu kini dipenuhi dengan kedengkian dan kebencian padanya.


“Dengarkan dulu Shia, Aku memang meletakkan kamera itu tapi aku hanya melihatmu saat tidur. Hanya itu, tidak ada yang lain” Jelasnya.


“Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu?!” Desisnya.


“Aku mengatakan yang sebenarnya, terserah jika kau tidak percaya”


Shia mematung jika Alfa hanya mengawasinya dari kamera itu lalu siapa yang setiap malam meninggalkan bekas di tubuhnya? Tidak ada orang yang mengetahui password apartemennya kecuali… Ace Hiddleton.


“Aku tidak kaget lagi jika banyak bajingan yang menguntitmu, kau terlalu mempesona, Shia” Cengkraman Alfa pada dagunya berubah menjadi elusan erotis. Tangan Alfa bergerak turun menekan bekas kemerahan itu tanpa sempat Shia tepis.


“Dan kau benar untuk yang ini. Ini memang tanda milik ku” Ucapnya enteng.


“Bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemen ku?!” Pria itu menatap Shia yang masih menatapnya tajam, ia tersenyum remeh


“Hal mudah bagiku untuk mengetahui semua tentangmu Shia” Gumamnya


Manik abu-abu itu menatap dalam manik coklat Shia, membut gadis itu mengerutkan dahinya yang kini di penuhi oleh seribu tanda tanya.

__ADS_1


‘siapa Alfa sebenarnya?’


__ADS_2