Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Fifty Four


__ADS_3

Manik coklat terang itu terbuka pelan. Matanya mengerjab ketika cahaya memenuhi penglihatannya. Ingatan terakhirnya adalah saat mereka berada di pulau dan sebuah ledakan bom yang melukai dirinya dan..Ace. Pria itu memeluknya dengan kuat.


Meskipun tubuhnya terasa sangat sakit, gadis itu berusaha bangun dan mendudukan dirinya. Arshia menyadari jika dirinya di rumah sakit. Dia melepaskan infus secara paksa dan melangkah keluar dengan tertatih.


Hanya ada satu hal yang terpikir di otaknya saat ini. Ace Hiddleton, dia tidak tau keadaan Ace. “Shia…” Shia menoleh kekanan. Ace berada di sana dengan wajah yang terlihat kusam. Tidak terlihat setitik lukapun pada dirinya namun manik biru itu kini berkaca-kaca menatapnya.


Ace mendekat berdiri tepat didepan Shia. tangannya meraih tangan kanan Shia yang berdarah akibat jarum infus. Meski merasa kacau Ace tetap mendekap tubuh Shia, menenggelamkan kapalanya pada ceruk leher Shia. “Kupikir kau tidak akan sadar sampai sekarang” Ucapnya lirih


“Kau baik-baik saja?” Shia membalas pelukan Ace.


“Iya, tiga bulan waktu yang cukup untuk proses penyembuhan efek bom itu”


“Tiga bulan?” Tanya Shia bingung, dia melepaskan pelukan Ace dan menjauhkan tubuhnya


“Kau dinyatakan koma karena traumamu kambuh. AKu hampir gila rasanya saat tau hal itu. Maafkan aku, aku membunuh George dan Lina serta anak buah Robert di mansion Clarikson” Ucap Ace. Meskipun dia meminta maaf namuan tidak ada penyesalan untuk tindakan yang dilakukannya.


“Reaksimu mengatakan jika kau sudah tau tentang mereka” Shia mulai membahas hal yang saharusnya sudah dia bicarakan sejak dulu


“Aku minta maaf, Shia. Aku tau kau sudah mengetahuinya, kematian Reliam dan Alfa. Aku terlalu pengecut untuk mengatakannya padamu langsung, Shia. Aku..” Ace tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


“Aku tau aku egois, aku menggunakan identitasku yang lain untuk menahanmu. Bahkan menyakiti perasaanmu karena membunuhnya tapi Shia.. aku sungguh-sungguh tidak sengaja. Aku minta maaf” Ace sungguh-sungguh dengan kata-katanya.


Pada nyatanya Shia sama egoisnya dengan Ace. Tidak ada kelalaian di dunia mafia dan Shia tau itu. sayangnya karena keegoisannya, Shia lebih memilih mengabaikan semuanya dan menyerahkan hidupnya pada Ace.


“Jangan pergi Shia. Apa yang harus ku lakukan agar kau memafkanku?” Ace bertanya pelan dan lirih “Aku membutuhkanmu Shia”

__ADS_1


Shia melepaskan pelukan Ace. Dia memandangi Ace lekat “Alfa” Ucap Shia pelan yang mampu didengar Ace. “Kami tidak memiliki perbedaan selain warna mata. Dia dan aku adalah orang yang sama”


“Aku terima jika kau marah dan meluapkan emosimu padaku tapi aku tidak bisa menerima jika kau memilih pergi. kau tidak ingin aku merantaimu kan Shia” Ada kilatan berbahaya dalam tatapan Ace dan Shia yakin pria itu tidak bermain-main dengan ucapannya.


Manik coklat itu menatap Ace lekat. Tidak akan ada orang yang bahagia jika melepaskan orang yang mereka cintai dan Ace sedang melakukan itu. Dia tidak akan melepaskan Shia dalam hidupnya.


“Kau tau Ace.. saat aku tau kalian orang yang sama, aku marah. Tapi kemarahan itu ternyata lebih kecil dari rasa yang ku miliki untukmu…” Shia menjeda ucapannya, ia bisa melihat sorot binar dari mata Ace. Dia tidak bisa menyiksa Ace dan dirinya sendiri. Nyatanya lebih baik berdamai dengan masa lalu dan membuka lembaran baru. Dunianya dengan Ace.


“Aku mencintaimu Ace hidlleton, pria amnesia yang tinggal bersamaku dulu” Ucap Shia sambil mengcium bibir Ace. Ciuman yang sarat akan perasaan cinta dan kasih sayang keduanya. “Aku mencintai Ace yang itu” lanjut Shia.


“Aku lebih mencintaimu Arshia Hiddleton” ciuman mereka terlepas namun kening keduanya masih menyatu.


“Hiddleton?” tanya Shia bingung.


“Kita sudah menikah bulan lalu” Ucap Ace dengan senyuman menyebalkan membuat Shia mengerutkan kening bingung


“Tanganmu berdarah. Aku tau kau mencabut infus paksa. Kau bahkan tidak menyadari cincin di jari manismu” Ucap Ace membuat Shia menatap tangan kanannya. Ada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Bentuk cincin itu sederhana , tidak ada berlian namun ada sebuah batu safir kecil yang tertanam di sisi cincin itu dengan inisial AA di tengahnya.


“Kau menikahi saat aku koma?” Tanya Shia sambil tertawa kecil. Ace mendudukkan Shia di ranjang dan menempelkan bibirnya ke bibir Shia lalu mulai menghisap bibir gadisnya itu. Ciuman itu terlepas, Ace berlutut di depan Shia, dia menggenggam kedua tangan Shia dan mengusap bekas luka di tangan Shia. “ Shia, maukah kau menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku dan melewati semua waktu bersama denganku dengan cinta yang tidak akan pernah berubah bahkan mautpun tidak akan berani memisahkan kita?” Ace melamar Shia ditempat yang tidak terduga bahkan setelah beberapa jam Shia sadar dari komanya.


Shia diam. Dia terkejut, manik coklat itu menatap Ace dengan sebelah alis terangkat. Ace menghela nafas lalu berdiri didepan Shia “Lagipula kau tidak bisa menolak, Shia. kita sudah menikah”


Nah itu dia yang Shia bingungkan. Jika Ace sudah menikahinya lalu mengapa pria itu melamarnya sekarang. Bukankah alurnya tertukar?


-

__ADS_1


-


Selain lamaran dadakan dan fakta dirinya dan Ace sudah menikah kini Shia mendapatkan kejutan lainnya. Setelah keluar dari rumah sakit, Ace membawa Shia menuju sebuah hotel dan mengadakan resepsi pernikahan di sana. Resepsi yang sangat mewah digelar hanya untuk Shia.


“AKu tidak menangka kau melakukan ini pada orang yang baru saja sadar dari koma” Ucap Shia pada Ace yang berdiri disampingnya. Gadis itu menggunakan gaun putih panjang serupa dengan gaun pengantin yang terasa ringan ditubuhnya serasi sekali dengan Ace yang menggunakan tuxedo hitam dengan kemeja putihnya.


“Aku ingin semua orang tau bahwa kau hanya milik Ace Hiddleton seorang” Ace mendekatkan wajahnya pada Shia. mengecup bibir gadis itu.


Ratusan pasang mata mau tak mau harus mengalihkan tatapan mata mereka dengan berbagai ekspresi. Ciuman itu terlepas. Shia menatap sengit Ace.


“Kak, hapus bekas lipstikmu itu” Seru Lyran, wanita cantik itu datang bersama Erika dan Max


“Selamat Shia, kuharap kau tidak melupakanku saat sudah sibuk dengan Ace nanti” Ucap Erika sendu. Sahabatnya akan disibukan mengurus Ace dan dia tau jika Ace pasti akan mengurung Shia bahkan mungkin saja mereka akan tinggal di daerah terpencil yang jauh dari manusia jika mengingat tabiat Ace.


“Tentu saja, kau sahabat terbaikku Er. Ngomong-ngomong kalian?” Shia mempertanyakan hubungan Erika dan Max. keduanya terlihat memiliki ikatan tersembunyi.


“Oh, Max berusaha mengejar Erika. Tapi dokter cantik kita ini masih menutup pintu hatinya” Celetuk Lyran menggoda Erika. Sayangnya Erika terlihat tak tergoda sama sekali, sepertinya sahabat Shia yang satu ini masih trauma dengan kekasih sebelumnya.


“Kau lelah, Love?” Tanya Ace. Shia mengangguk. Dengan cepat Ace menggendong didepannya, dia berpamitan pada ayah dan ibunya serta para tamu undangan lalu membawa Shia menuju salah satu kamar di hotel itu.


“Jangan bilang kau menyiapkan ini juga?” Tanya Shia saat pintu kamar itu terbuka dan membuat matanya melotot


“Pelayanan hotel ini memang yang terbaik” Sahut Ace asal


“Apa maksudmu? Aku ini baru sadar kemarin Ace, jangan lupa aku mantan pasien koma!” ucap Shia, harus diakui dia sedikit takut membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti

__ADS_1


“Aku tau kau sangat sehat Love, tapi kau perlu olahraga Love, supaya tubuhmu lebih bugar lagi” Uap Ace dengan seringain lebar bersamaan dengan pintu yang terkunci.


__ADS_2