Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Fifty


__ADS_3

Ace menghela nafas gusar, dia menatap sosok gadis yang sedang berdiri diam memandang sebuah makam baru dengan tatapan kosong. Ace lebih menyukai Shia yang melawannya dari pada sosok Shia yang sekarang bagaikan patung.


Kematian Robert membawa pengaruh besar bagi Shia. Ace tau itu. Meskipun Shia berkali-kali berpikir untuk membalas dendam pada Robert namun Ace yakin tidak ada seorang putri yang benar-benar membenci ayahnya sendiri.


Di sisi lain Ace senang karena Shia kembali ke mansion sendiri padahal Ace berencana akan menyusul Shia ke Columbia jika sampai besok pagi gadis itu belum kembali karena mereka harus mengadakan pemakaman Robert.


Ace masih berdiri di belakang Shia, memperhatikan punggung mungil itu dalam jarak 2 meter. Sesekali dia mendengus kala beberapa pria mengusap pundak Shia dan memberikan kata-kata penyemangat bagi gadis itu. bahkan di situasi sekarangpun bisa-bisanya seorang Ace Hiddleton cemburu.


“Aku tau kau mencintainya sejak awal, jaga dia” Ace mengalihkan manik birunya pada seorang pria yang kini berada disebelahnya.


“Dan tugasmu juga selesai, David.” Ace menampakan smirknya. David tertegun sejenak lalu menampilkan tersenyum miring. “Sudah ku duga akan susah untuk menipu sang Alfa”


David menatap ke depan, para rekan kerja dan kerabat jauh Robert sudah pergi meninggalkan makam itu. “Mungkin dia akan membencimu jika tau kau membunuh Liam, tapi percayalah Shia akan paham jika kau menjelaskannya dengan mulutmu sendiri”


“Aku tau” jawab Ace. David menepuk pundak Ace pelan “Aku percayakan dia padamu” Setelah mengatakan itu David menjauh dari area pemakaman, menyisakan Ace yang masih setia menatap punggung Shia. Hampir 10 menit Ace hanya berdiri dan dia menatap Shia.


Awalnya Ace ingin menjauh dan memberikan ruang bagi Shia. Mungkin saja gadis itu tidak nyaman jika ada dirinya dibelakang, namun suara tangisan membuatnya mendekati Shia dengan cepat.


Ace merasakan sakit di dadanya saat air mata Shia menetas. Pria itu segera memeluk Shia yang menahan isak tangisnya, dia bisa merasakan bahu Shia bergetar. “Ini sakit Ace…” Shia berucap lirih. Tangan gadis itu menepuk dadanya, tubuhnya tidak terluka tapi kenapa hatinya terasa sangat sakit.

__ADS_1


“Dia pergi dengan sok keren…” Ucapnya sambil menatap makam Robert yang kini dipenuhi taburan bunga.


“Dia… dia tidak pernah menjelaskan apapun padaku Ace.. dia tidak pernah menjelaskan bagaimana Ibuku meninggal dan pembunuhan Liam itu sebuah ketidaksengajaan Ace… Dia membiarkan aku mengira jika dia yang membunuhnya supaya aku tidak mencari masalah dengan musuhnya dan dia melakukan itu untuk ku!”


Shia mengusap air matanya lalu menatap manik biru Ace. Anehnya menatap manik biru itu justru membuat air mata Shia meluncur semakin deras. “Dia.,. Ayahku melakukannya untuk melindungiku Ace! Dan dengan bodohnya aku justru membencinya tanpa alasan!”


Ace masih diam, dia membiarkan Shia meluapkan semua emosinya. Tangan pria itu masih setia mengusap punggung Shia yang bergetar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Shia tau jika dirinya adalah Alfa, orang yang membunuh Liam.


“Bagaimana bisa dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku? Pada putri satu-satunya sendiri. Oh, apakah setelah semua yang ku lakukan, aku masih pantas menjadi putrinya Ace?”


“Hey, dengarkan aku Shia” Ace berucap lembut, tangannya mengkup wajah Shia untuk menghadap wajahnya. Manik biru itu bergetar saat menatap sosok Shia yang rapuh. Tangannya mengusap kedua pipi Shia. Menghilangkan jejak air mata disana.


“Apapun yang kau pikirkan, kau masih putrinya Shia, jangan membuat semua hal yang Robert lakukan sia-sia. Robert mengorbankan dirinya untuk melindungimu Shia, karena apa? Karena kau sangat berharga untuknya”


-----------------------


Shia menatap bangunan di depannya dengan pandangan kosong. Mansion Clarikson yang dulu sempat di hidarinya kini justru menjadi miliknya. Gadis itu menghela nafas lalu melajukan mobilnya memasuki gerbang yang sudah terbuka sejak tadi.


“Nyonya Clarikson” Shia menatap para pelayan yang menuduk sopan. Kini panggilannya bukan lagi nona Shia tapi nyonya Clarikson.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk singkat lalu berjalan acuh menuju ruang kerja Robert. Lagi-lagi Shia menghela nafas. Sudah lama sekali sejak Shia berada diruangan ini. dulu waktu kecil Shia selalu menganggu Robert saat sedang bekerja atau bahkan membuat pria paruh baya itu kesal dengan tingkahnya.


Shia tersenyum tipis mengingatnya, langkahnya menuju meja kerja Robert. Dia mendudukan diri di kursi dengan tangan yang meraih sebuah dokumen yang diberi tanda pada setiap lembarannya. Dahinya mengkerut, kertas itu berisi data para kelompok mafia di dunia bawah. Shia membalik kertas itu, sebuah lipatan kertas jatuh ke bawah. Tangannya terulur mengambil kertas itu. Kertas itu adalah surat yang dikirimkan dari SXT. Shia menutup mulutnya dengan tangan, matanya masih bergulir membaca rangkaian kata yang tersusun di sana.


Ring., Ring..


Ponsel Shia berdering. Gadis itu menatap nama sang penelpon dengan raut tak terbaca, entahlah Shia bingung bagaimana harus memasang ekspresinya setelah melihat dokumen yang ada diruang kerja Robert serta surat yang dikirimkan sosok SXT itu.


“Kau dimana, Love” suara sang penelpon terdengar khawatir


“Ace..” Nada bicara Shia terdengar bergetar


“Kau dimana?”


“Mansion Clarikson”


Terdengar helaan nafas Ace disebrang sana “Kabari aku jika kau butuh bantuan Love, aku akan membantumu mengurus semuanya”


Shia memutuskan sambungan itu dan menonaktifkan ponselnya. Kini dia membaca semua dokumen yang ada di meja Robert setelahnya gadis itu tertawa keras. Tawa canggungnya memenuhi ruanganan itu. manik coklatnya berkilat lalu tiba-tiba air matanya kembali mengalir “Kau penipu ulung Ace Hiddleton”

__ADS_1


Ace Hiddleton adalah Alfa, pemimpin para mafia di dunia bawah sekaligus rekan kerja Robert dulu. Dan Shia baru mengetahuinya sekarang. Shia tau jika Alfa yang membunuh Liam, tapi Shia juga tau jika peluru itu adalah sbeuah peluru salah sasaran. Shia tidak bisa membunuhnya.


“Maaf Liam, aku menarik perkataanku. Aku tidak bisa membunuhnya. Rasa cintaku lebih dalam dari yang ku duga”


__ADS_2