Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Thirty Two : Hide and Seek


__ADS_3

Ini sudah hari ke tujuh Shia berada di Mansion mewah milik Alfa. Selama itu Shia hanya berada di dalam kamar atas perintah Alfa dan setiap bangun tidur Shia selalu mendapati pria itu duduk di sofa sambil memandang kearahnya.


Beruntung pagi ini Alfa tidak ada di sofa itu jadi Shia dapat menikmati paginya dengan tenang tidak seperti sebelumnya yang dipenuhi tekanan dari sepasang mata abu-abu itu.


Pintu terbuka, Shia menoleh dia kira Alfa yang akan masuk namun ternyata Bela, pelayan yang melayaninya setiap pagi.


“Selamat pagi nona, tidur anda nyenyak?”


“Apa aku bisa tidur nyenyak saat diriku dijadikan tawanan oleh orang yang bahkan tidak ku kenali”


Bela tersenyum tipis, jawaban Shia atas pertanyaannya selalu sama.


“Anda ingin sarapan, nona?” Bela mendekat ke ranjang Shia. Ah, tidak, sebenarnya itu ranjang tuannya dan kamar ini juga kamar tuannya namun sekarang ditempati oleh Shia, nona-nya.


“Apa aku masih akan sarapan di kamar?”


“Tuan tidak mengizinkan anda keluar kamar, nona”


“Bahkan untuk sarapan sekalipun?” Bela menghela nafas gusar, dia tidak tega dengan kondisi Shia yang selalui terkurung namun dia tidak berani jika harus melawan tuan-nya. Dia tau apa yang akan tuan-nya lakukan jika ada bawahan yang melanggar perintahnya.


“Aku tidak akan melarikan diri jika itu yang kau khawatirkan, aku hanya akan makan dan kembali ke tempat ini lagi”


“Baiklah nona, tapi berjanjilah jika anda tidak akan mencoba kabur”


“Aku berjanji” Shia tersenyum tipis, mulutnya berjanji untuk sekarang namun tidak tau kedepannya.


Setelah bersiap dengan bantuan Bela, Shia menuruni tangga secara perlahan, netranya memindai tata letak mansion itu dengan seksama, berusaha mencari celah untuk rencana pelarian dirinya. Setelah tujuh hari ini, Shia tau jika Alfa sama sekali tidak memiliki rencana untuk memulangkannya kembali, jadi dia harus memikirkan cara untuk melarikan diri sendiri.


“Ruang makan ada di sana nona, silahkan ikuti saya” Ucap Bela, ternyata pelayan itu mengikutinya dari tadi. Shia membawa tubuhnya mengikuti Bela, akhirnya dia tiba disebuah ruang makan mewah dengan meja panjang di tengahnya. Meja itu cukup untuk 12 orang.


“Apa Alfa sering makan bersama keluarganya?” tanya Shia


“Tuan tidak memiliki keluarga nona, anda orang pertama yang tuan bawa ke mansion ini” Jelas Bela membuat Shia tak enak, ia lebih memilih diam dan memakan makanannya. Setelah selesai gadis itu tidak melihat keberadaan Bela, kesempatan itu Shia gunakan untuk berjalan mengelilingi mansion, ia kembali mencari celah untuk melarikan diri.


“Nona Shia, anda membutuhkan sesuatu?” Shia menoleh seorang pelayan berada di belakangnya dengan sebuah nampan berisikan sarapan.


“Nama mu?”


“Saya Lina nona”

__ADS_1


“Hallo Lina, Aku hanya berkeliling, apa itu untuk Alfa?”


“Benar nona, Apa anda ingin mengantarnya? Tuan pasti akan senang jika anda yang mengantarnya” Lina tersenyum tipis. Shia meraih nampan itu, setidaknya dia bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk berkeliling Mansion.


“Tuan berada lantai dua ruangan paling ujung, pintu berwarna hitam. Nona bisa langsung masuk, tidak perlu mengetuknya, tuan tidak suka jika terganggu” Jelas Lina. Shia mengerutkan keningnya bingung, jika Alfa tidak suka diganggu kenapa mengantarkan nya sarapan? Alfa memang orang yang cukup aneh.


Shia mengangguk singkat lalu menuju lantai dua, ia berada di depan pintu yang Lina maksud dan membuka pintu itu pelan. Ketika pintu terbuka, Shia dapat melihat Alfa membalik tubuhnya dengan tangan yang melesatkan sebuah pisau ke arah nya.


Shia menghindar, Pisau itu menancap di pintu hitam itu. Alfa terdiam beberapa saat, tidak percaya jika Shia dapat menghindari lemparannya dengan cepat.


“Setelah mengurungku sekarang kau justru ingin membunuhku?” Shia berdecih


“Kenapa kau kemari?”


“Ini” Shia mengangkat nampan yang ada ditangannya “Pelayanmu menyuruhku membawakan ini”


“Kenapa kau masuk tanpa mengetuk?” Alfa mendekat dan mencabut benda yang mencap itu dan membuangnya asal.


“Pelayanmu juga yang mengatakan nya”


Shia menatap Alfa, pria itu hanya diam dengan manik yang menyorot padanya. Kali ini Shia tidak tau ekspresi seperti apa yang pria itu tunjukan di balik maskernya. Pandangan Shia beralih pada ruangan dirinya berada sekarang. Ini adalah sebuah tempat pelatihan menembak, ada banyak senjata pajangan yang tertata rapi di dinding.


“Lina”


“Aku tidak memiliki pelayan bernama Lina” Ucap Alfa yakin


“Kau berbicara seperti mengenal semua pelayan mu saja”


Ucapan Shia tidak salah karena Alfa memang tau semua pelayan yang bekerja di mansion ini, mansion khusus yang dia siapkan untuk kedatangan Shia dan Alfa yakin tidak ada seorang pelayan bernama Lina seperti yang Shia katakan.


“Letakan itu di meja setelah itu kau keluar”


“Aku ingin melihatmu makan”


“Kau ingin melihatku makan atau kau yang ingin ku makan?” Shia berdecih pelan, entah itu bercanda atau tidak tapi Shia yakin jika di otak Alfa saat ini hanya ada hal-hal mesum.


“Aku mau jalan-jalan di sekitar mansion” ucap Shia, Alfa tampak menimbang.


"Kau sudah mengurungku hampir 7 hari jadi bisakah aku berkeliling sebentar" tambahnya

__ADS_1


“Pergilah, lagipula kau tidak akan bisa keluar dari sini” Shia mendengus, dia keluar dari ruangan itu, menyisakan Alfa yang meraih nampan di atas meja.


“Aku kecolongan” Alfa membuang makanan itu ke tempat sampah. Pria itu berbalik menatap berbagai senjata yang berada di dinding. Itu bukan hanya sekeder pajangan namun senjata asli yang biasa Alfa gunakan.


“Yang mana yang akan ku gunakan jika ingin membersihkan seekor ulat” Pria itu tertawa lebar, menunjukan sebuah hasrat membunuh yang sangat besar.


----------------


“Anda sudah mengantar sarapan tuan, nona?” Shia berbalik, Lina berada di belakangnya. Pelayan itu sepertinya berbakat membuat dirinya terkejut dengan selalu muncul secara tiba-tiba di belakangnya.


“Sudah dan berkat seseorang aku mendapatkan sambutan pagi yang menyenangkan” Lina terdiam, pelayan itu menundukkan wajahnya.


“Reliam..” Shia membelalak, Lina menyebutkan nama yang sangat berarti baginya


“Anda tidak penasaran?” lanjutnya


“Apa maksudmu?” Shia berusaha tidak terpancing


“Reliam mati bukan karena kecelakaan, Shia…”


“Siapa kau?” Shia meraih pundak Lina, ia menatap wanita itu tajam. Lina tersenyum tipis


“Siapa kamu sebenarnya, Lina?” Ucap Shia lagi kali ini lebih tajam


“Kim, apa yang kamu lakukan di sini?” Seseorang dari belakang Shia membuat gadis itu menoleh.


“Nona Shia memintaku untuk membuat jus, Eva” Shia kembali menatap Lina, wanita itu baru saja berbicara dengan Eva, salah satu pelayan di Mansion Alfa


“Ah, nona Shia, maaf saya tidak menyadari jika itu anda” Shia melepaskan tangannya pada punda Lina lalu menatap pada Eva sambil tersenyum tipis.


“Kim?” Gumam Shia, Matanya kembali menyorot Lina yang mengedipkan sebelah matanya.


“Itu rahasia kita nona, saya akan menemui nona lagi nanti. Ohiya jika ada pelayan lain silahkan nona panggil saya dengan sebutan Kim” bisik Lina


“Saya permisi nona” Lina kembali berucap lalu menunduk dan meninggalkan Shia yang masih terdiam dengan penuh tanda tanya.


Kim atau Lina siapa dia? Dan Bagaimana bisa Lina tau tentang Reliam? Tidak mungkin ini semua suatu kebetulan. Percayalah Shia adalah orang yang paling tidak mempercayai sebuah kebetulan.


- Kalo suka cerita ini jangan lupa Like, Komen dan Votenya yaa kakak-kakak sekalian❤️

__ADS_1


__ADS_2