Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Thirty One : I want you


__ADS_3

Berjam-jam sudah Pria itu berada di ruang kerjanya. Wajah rupawan itu tidak lagi tertutupi oleh masker, manik tajam itu masih menatap layar komputernya. Membaca setiap berkas laporan yang dikirimkan oleh Max.


Laporan itu berisikan data transaksi seminggu terakhir. Ia tersenyum miring ketika melihat nama George Pattion yang berhasil membeli bom rakitannya di sebuah pelelangan.


Merasa jenuh. Pria itu meninggalkan komputernya yang masih menyala dan meraih masker hitamnya. Ia keluar dari ruang kerjanya yang memiliki keamanan berlapis itu. Hanya Alfa satu-satunya yang dapat membuka pintu itu.


Awalnya Alfa ingin ke kamarnya untuk menemui Shia. Setelah perdebatan kecil tadi, Shia langsung kembali ke kamarnya. Baru hendak membuka lift, suara air dari kolam renang membuat pria itu berganti tujuan.


Air kolam bergelombang bersamaan dengan Shia yang menyembulkan kepalanya ke permukaan. Ia menyisir rambutnya ke belakang lalu kembali berenang mengabaikan Alfa yang mendekat ke arahnya. Shia berenang di malam hari.


“Cepat naik!” Titah Alfa ketika Shia kembali muncul di permukaan. Shia masih terdiam, ia terlalu malas untuk berbicara dengan bajingan seperti Alfa ini.


“Kau tidak mendengarkan ku Shia!” Nada datar itu membuat Shia menghela nafas.


“Bisa balikkan tubuhmu dulu”


“Kenapa, kau malu? Aku bahkan sudah melihat semuanya, cepat naik!”


Tak ingin membantah. Shia langsung keluar dari kolam renang. Ia tersenyum miring ketika melihat Alfa mematung. Meskipun wajah pria itu tertutupi masker, Shia dapat melihat manik abu-abu itu bergetar.


Tanpa bisa di tebak, Alfa langsung memeluknya dengan kuat. Menyembunyikan tubuhnya yang hanya terbalutkan bikini.


“Kau mau menggoda pria lain, hah?!”


“Apa maksudmu?”


“Pakaianmu itu!”


“Lalu? apakah aku harus berenang dengan telanjang agar kau lebih mudah membuat tanda di tubuhku?” Shia memutar bola matanya malas


“Shia!” Alfa menggeram


“Apa?!” Balas Shia tak mau kalah


“Siapa yang mengizinkan mu keluar dari kamar?!”


“Setelah melarangku keluar mansion ini kau bahkan melarangku keluar kamar? Hebat sekali!” Ucap Shia heran.


“Dengar Alfa! Aku tidak tau apa masalahku denganmu sampai kau mengurungku di tempat ini! Kau bahkan menculik ku di hari petunanganku sendiri. Oh atau kau lupa ya? Biar ku ingatkan padamu! Aku ini seorang wanita yang sudah bertunangan! Dan kau malah melakukan hal keji pada tubuh tunangan orang lain!”


BYUR

__ADS_1


Alfa melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Shia kasar hingga gadis itu terjun bebas ke kolam renang. Shia mengeluarkan kepalanya lalu mengusap wajahnya. Alfa tidak lagi berada dipinggir kolam melainkan di sisi pintu masuk, sedang berbicara dengan seorang pria yang tidak Shia kenali.


Wajah Alfa terlihat lebih cerah, sepertinya dia senang dengan ucapan pria itu. Pria yang menjadi lawan bicaranya itu pergi. Alfa berbalik berjalan kembali menuju pinggir kolam renang.


“Maafkan aku” ucapnya tiba-tiba.


Shia memilih abai. Ia keluar dari kolam renang. Meraih bathrobenya lalu masuk ke dalam Mansion. Mengabaikan keberadaan Alfa yang selalu mengekorinya.


Shia menuju kamarnya, mengganti pakaiannya. Lalu duduk di kursi sambil mengeringkan rambutnya.


“Jangan mengabaikanku, Shia!”


Shia menghela nafas “Kita tidak saling dekat untuk saling abaikan” Alfa menggeram, Shia lebih memilih diam. Dia sudah paham jika Alfa ini suka menggila jadi Shia maklum saja.


“Berikan padaku”


Shia menurut, dia menyerahkan hairdryer di tangannya. Alfa mengeringkan rambut Shia, hanya suara pengering rambut yang memenuhi kamar megah itu.


Pria itu mematikan pengering rambut dan meletakkan di tempat semula


"Jangan berpura-pura tidak tau Shia, kau bersikap seolah tidak melihatku?” Shia menatap Alfa melalui cermin besar di hadapannya, tatapan Alfa terlihat teduh, meskipun menggunakan masker namun raut pria itu dapat Shia lihat dengan jelas.


“Apa mau mu sebenarnya, Alfa?” Tanya Shia. Di balik maskernya, pria itu tersenyum lebar seolah-olah itu pertanyaan yang dia tunggu-tunggu.


“Very funny. Tapi maaf aku tidak berminat! Apa perlu ku ingatkan sekali lagi jika aku adalah seorang wanita yang sudah memiliki tunangan!”


“Kau selalu berbicara bahwa sudah memiliki tunangan. AKu benci mendengarnya, seolah-olah sudah menjadi milik orang lain saja”


“Apa urusannya denganmu, setidaknya aku memiliki hubungan yang jelas dengannya, bukan seperti hubungan penculik dan tawanan” Sindir Shia, Mata Alfa berkilat, ia tersenyum miring.


“Lidah mu tajam juga”


“Terima kasih. Jika kau sudah mengerti bisa kau pulangkan aku sekarang”


“Kau bebas pergi jika kau bisa keluar dari tempat ini”


Shia mengerutkan kepalanya, ada yang tidak beres.


“Ini masih di Texas kan? Atau kota lain di Amerika?” Pria itu tertawa kering, dia mendekat ke arah Shia, tangannya meraih dagu Shia, menganggak wajah gadis itu untuk berhadapaan dengannya.


“Tebakan mu salah, kita berada di Italia”

__ADS_1


“APA!!”


-----------------


Texas, US


Pria paruh baya itu membaca setiap dokumen yang ada, dia bahkan menyewa seorang hacker terbaik untuk melacak keberadaan Shia. Shia tidak dapat dihubungi setelah malam pertunangan itu


“Masih tidak ada kabar?”


“Tidak ada, Tuan”


Robert menghela nafas, pintu ruangan itu terbuka, Geroge masuk dengan senyum lebar di wajahnya.


“Sepertinya kau tidak merasa sedih karena kehilangan tunanganmu” Sindir Robert


“Dia tidak hilang, tapi di bawa oleh seseorang” ucapnya ringan


“Siapa?”


“Pelakunya Alfa” Ucapnya membuat Robert mengepalkan tangannya. Ken, Asisten Robert langsung keluar, memberikan ruang bagi kedua pria itu.


“Kau tidak mengatakan padaku jika pernah meminta bantuannya” Lanjut George


“Itu sudah lama sekali. Hari ini cincin pertunangan milik Shia berada tepat didepan mansion. Seolah-olah dikembalikan dengan sengaja.“ Ucap Robert, ia meletakan kotak kecil yang berisi cincin dengan ruby merah itu.


“Mencoba mengalihkan pembicaraan heh” George terkekeh


“Katakan pada ku Robert, bantuan seperti apa yang kau minta padanya?” Sambung George, meskipun usianya jauh lebih muda daripada Robert namun aura pria itu lebih mendominasi dalam percakapan ini.


“Itu bukan urusan mu, dude” Elak Robert


“Biar ku tebak, kau memintanya untuk membunuh seseorang kan” Robert terdiam, dari mana George tau tentang hal itu, Robert kira George akan berbicara tentang bantuan beberapa bulan yang lalu tapi kenapa pria itu malah membicarakan kejadian yang sudah berlalu beberapa tahun itu.


“Itu sudah beberapa tahun yang lalu” Robert mendatarkan ucapannya, George kembali tertawa, dia mendekat ke arah meja Robert. Tangannya meraih kotak cincin itu dan menggenggamnya dengan erat. Itu benar-benar cincin pertunangannya dengan Shia.


“Sudah sejauh ini tapi kau tetap tidak ingin mengatakan nya, Robert?”


Robert memilih diam. Pria itu menatap figura di mejanya, Ia tersenyum tipis, matanya terihat penuh dengan penyesalan.


“Aku terlalu dibutakan oleh perasaan, George…” Robert menjeda ucapannya

__ADS_1


“Dan aku justru membunuh orang yang sangat berarti bagi putriku sendiri.”


__ADS_2