
Shia masih berada di Mansion Clarikson. Di ruang kerja Robert dengan dokumen yang sama, berisi nama daftar nama tamu. Setelah Shia meletakkan kembali dokumen itu di atas meja tiba-tiba Robert berucap.
“Semuanya sudah cukup Shia”
Shia mengatap Robert dengan pandangan bertanya. Ia tidak paham maksud ucapan Robert. Melihat itu Robert langsung berdiri dari kursinya dan mengambil duduk di sofa yang bersebrangan dengan Shia.
“Jangan ikut balapan lagi!” Ucap Robert membuat Shia melotot. Ia tidak terima, bagaimana mungkin ia tidak balapan lagi, sedangkan balapan adalah alasan dirinya untuk bertahan.
“Kenapa?” tanya Shia datar
“Menurutmu bagaimana jika publik tau nona muda Clarikson adalah seorang pembalap liar yang akan bertunangan dengan Pengusaha muda, George Pattion”
“Kenapa aku harus peduli!" decih Shia
“Selama ini kamu hidup dengan aman karena tidak ada yang tau bahwa kamu putriku Shia, menurutmu apakah semua akan sama setelah kamu bertunangan dan dikenal publik?”
“Apa hubungannya dengan pekerjaanku?” tanya Shia masih dengan nada datarnya. Robert menghela nafas frustuasi. Putrinya terlalu keras kepala.
“Dengar Shia, bahkan sekarang pun sudah ada orang yang mengincarmu, apa kamu tidak merasakannya?” Shia terdiam, Ia menatap Robert. Dari mana ayahnya tau bahwa ada yang mengincarnya. Tapi jika dipikirkan lagi, ucapan Robert memang benar. Dia akan bersama dengan George, membuat image sebagai gadis bangsawan anggun dan membanggakan keluarganya. Tapi kenapa saat memikirkan itu Shia tidak bahagia?
Rasa kebenciannya terhadap Robert masih ada, bahkan ia marah terhadap keputusan sepihak Robert yang menjodohkannya seenak hati.
“Akan ku pikirkan”
Shia keluar dari ruang kerja Robert. Dia melangkah ke lantai 2 menuju pada sebuah kamar bercat lilac dengan ukiran Arshia pada pintunya.
Itu adalah kamar Shia ketika masih tinggal di mansion ini. Gadis itu membuka pintu, ia melangkah masuk sambil menatap kamar yang tidak berubah sedikitpun sejak 6 tahun lalu.
Kamarnya masih bersih dan terawat, mungkin karena Robert selalu menyuruh pelayan untuk membersihkannya.
Shia terpaku masih berdiri dengan tatapan terarah pada figura yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Foto seorang Shia bersama dengan kedua orang tuanya dan bocah laki-laki.
Shia mendudukkan dirinya di ranjang, tangannya meraih figura itu dan mengusapnya. Ucapan Robert tentang berhenti balapan terlintas di benaknya.
“Forgive me, Liam” Ucap Shia disertai setetes air yang terjatuh dari pelupuk matanya.
Disisi lain seorang pria dengan manik biru itu berdecak tak sabar dengan telpon yang diarahkannya pada telinga. Rambutnya yang semula rapi kini berantakan, pada hidung mancungnya kini bertengger sebuah kacamata baca dan laptop yang menyala di depannya.
Beberapa kali hanya deringan telpon yang terdengar sehingga membuat kesabaran pria itu habis.
__ADS_1
“H-halo Tuan” ucap pria di panggilan telpon itu dengan gugup, dia baru sadar tuannya menelpon.
“Sekali lagi kau tidak mengangkat telponku, akan ku buat tanganmu tidak berfungsi!" decak Ace membuat pria itu merinding
“Ba-baik Tuan”
“Sedang apa dia?” tanya Ace pada Ero, bawahannya yang ditugaskannya untuk memantau Shia
“Nona sedang berada di kediaman Clarikson, Tuan” Jawab Ero dengan cepat.
“Apa yang dilakukan nya?”
“Nona bertemu dengan Mr Clarikson, sepertinya membahas rencana pertunangan nona Shia.”
“Pastikan dia tidak lecet sedikitpun. Jika ada pria yang mencoba mendekatinya segera kabari aku” tanpa menunggu jawaban bawahannya Ace menutup telpon nya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Hari ini jadwalnya sangat padat, bertemu dengan klien dari beberapa negara dan mengatur para pengkhianat.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Notifikasi pada ponselnya membuat Ace maraih benda persegi panjang itu dengan malas.
Ada belasan pesan masuk dari Ero yang berisi gambar. Dengan malas Ace membuka pesan itu. Rahangnya mengetat ketika melihat gambar yang dikirimkan Ero adalah foto Shia dan George.
Setelahnya ia termenung dengan badan yang disandarkan pada kursi. Bayangan Shia yang tersenyum bahagia dengan George selalu menghantui pikirannya hingga Ace mau gila rasanya.
Rasa tidak suka atau bahkan cemburu ketika Shia bersama George memang benar Ace rasakan. Ace hanya ingin Shia bersamanya, tersenyum dan tertawa hanya didepannya. Ace membutuhkan Shia di sisinya. Shia tidak akan bisa pergi darinya tidak jika tanpa dirinya.
----------
Shia kini melajukan mobilnya disebuah lintasan drift. Berbagai teknik ia lakukan hingga akhirnya mobil putih itu berhenti.
Shia menyenderkan kepalanya pada stir kemudi. Memejamkan matanya dan menghela napas kasar. Kurang dari seminggu dia akan bertunangan dengan George
“Maafkan aku Liam tidak bisa memenuhi keinginanmu” gumamnya
Shia menaikkan wajahnya ketika mendengar deru mesin mobil. Ia melihat sebuah mobil sport hitam berada sekitar 2 meter didepan mobilnya.
Mobil sport yang Shia perkirakan berharga fantastis itu menyorotkan lampu kearahnya. Mata Shia menyipit, bahkan untuk melihat pun rasanya sangat silau.
Mesin mobil itu mati bersamaan dengan lampu yang juga padam. Shia menatap mobil itu sebentar hingga akhirnya ia sadar, itu mobil yang sama dengan mobil hitam yang mengikutinya dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Kaca mobil disana terlalu gelap, Shia tidak dapat melihat siapa yang berada di dalam. Shia bergeming. Ia menjalankan mobilnya mendekati mobil itu. Setidaknya jika ia merasakan tanda bahaya, Shia bisa langsung melajukan kendaraannya.
Mobil Shia berada di sisi mobil pria itu, mensejejerkan posisi mobil mereka. Shia menurunkan kaca mobilnya. Ia mengulurkan tangannya, mengetuk kaca mobil hitam itu.
Pengemudi mobil hitam itu menurunkan kacanya. Dengan cahaya yang remang dari dalam mobil, Shia menatap sesosok pria dengan masker hitam yang berada di balik kemudi. Pandangannya bertubrukan dengan manik abu-abu pria itu.
“Arshia Clarikson,,” Suara berat itu terdengar. Shia tertegun, suara itu tidak asing baginya.
“Kau mengenal ku?” Shia berkata datar, matanya masih menatap sosok tersebut, berusaha menelisik lebih jauh siapa pria tersebut.
“Lebih dari kenal” jawabnya, Shia berdecih tak suka. Dibalik maskernya bibir pria itu tersenyum tipis.
“Maaf tapi aku tidak mengenalmu” Shia menatap bola mata lawan bicaranya. Ia tidak salah manik pria itu memang abu-abu.
“Alfa" Ucap pria itu singkat.
“Panggil aku Alfa” tambahnya. Shia mengangguk samar
“Jadi apa tujuanmu mengikutiku, Alfa?” Tanya Shia. Pria itu menyeringai ketika Shia menyebutkan namanya
“Jika aku mengatakannya apa kau mau menerimanya?” balasnya.
"Bisa ku pertimbangkan" Shia diam ia menunggu pria itu menjawabnya.
“Aku ingin kamu disisiku”
Shia memutar bola matanya jengah “in your wild dream, pretty boy!"
Pria bermasker itu menganggukan kepalanya.
“Tapi di dalam mimpiku kita akan melakukan lebih”
“I don’t care, that’s your dream!”
Shia melajukan mobilnya meninggalkan pria itu untuk kembali ke apartemennya.
Mobil hitam itu bergeming, sang pengemudi membuka maskernya hingga menampakkan wajah rupawannya. Ia terus menatap mobil yang dikemudikan Shia melalui Spionnya.
“Bagaimana jika itu bukan sekedar mimpi” Pria itu bergumam dengan sudut bibir yang terangkat membuat wajah tampan itu terlihat semakin menawan.
__ADS_1