
"Kau terlihat akrab dengan Mrs. Hiddleton” ucap George pada Shia. Saat ini keduanya berjalan menyapa para tamu dengan senyum sekedar formalitas.
“Aku cocok dengannya” balas Shia cuek.
“Sayang sekali aku tidak punya ibu yang bisa akrab dengan mu tapi jika kau mau aku bisa membuat mu menjadi seorang ibu?” Goda George
“Tidak tertarik!”
“Coba pikirkan lagi, mungkin saja kau akan berubah pikiran lain kali”
“Mau ku pikirkan seribu kali pun pikiran ku tetap tidak akan berubah” ketus Shia.
“Ngomong-ngomong gaun itu cocok untuk mu”
“Oh sure, tapi kenapa tidak kau pesankan aku mini dress sekalian” Ucap Shia sambil tersenyum miring.
“Aku sudah memesannya tapi hanya akan digunakan untuk malam pernikahan kita”
“Pervert!”
Ting!
Dentingan gelas mengambil atensi mereka. Shia menatap Robert yang mengambil posisi di depan tangga. Meminta atensi dari seluruh tamu yang hadir malam ini. Pria paruh baya itu mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan seorang wanita yang Shia tau sebagai pembawa acara malam ini untuk maju menggantikannya.
Shia tidak memperhatikan pembawa acara itu bahkan apa yang diucapkan nya, ia lebih memilih memakan cemilan yang dibawakan oleh seorang pelayan. Sampai sang MC mempersilahkan dirinya untuk maju bersama dengan George.
“Ayo” Seru pria dengan jas biru yang serupa dengan warna gaunnya itu.
“Hmm” Gumam Shia malas. Namun ia tetap berjalan menuju MC dengan menggandeng tangan George. George mengambil sebuah kotak cincin yang diserahkan oleh bawahannya. Membukanya dengan pelan, dan memasangkan cincin itu pada jari manis Shia.
Cincin itu terlihat sangat indah dengan batu ruby berwarna merah di tengahnya. Tepuk tangan disertai ucapan selamat memasuki pendengaran Shia. Ia menatap jari manisnya lalu beralih pada George yang tersenyum penuh kemenangan.
“Aku ke toilet dulu” Ucap Shia.
“Biar ku temani” Seru George masih dengan senyum yang sama.
“Aku bisa pergi sendiri” Shia berjalan menjauhi George. Dia berbohong saat mengatakan ingin ke toilet, nyatanya dia melangkah keluar dari mansion itu.
__ADS_1
“Anda ingin kemana nona?” Tanya salah satu penjaga
“Taman, kau tidak usah mengikuti ku!”
Shia kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga mawar berwarna putih itu. Bunga itu adalah bunga kesukaan ibunya. Dia mendudukkan diri di kursi, mengusap kursi itu pelan, tak peduli dengan angin malam yang menusuk kulitnya yang terekspos.
Ingatannya kembali berputar pada delapan tahun yang lalu. Di tempat ini lah terakhir kali dia berbicara dengan ibunya.
8 year ago
“Aunty Ely, Shia bilang di suka Liam” ucap seorang bocah laki-laki berambut pirang itu pada seorang wanita berambut coklat dengan gadis kecil di pangkuannya.
“Benarkah Shia?” tanya sosok yang disebut Aunty Ely
“Benar Ibu, Shia suka Liam” Jawab Shia yang berusia 13 tahun dengan tawa kecilnya. Ely tersenyum lalu mengelus surai coklat putrinya
“Liam tolong jaga Shia ya, pastikan dia makan dengan benar. Meskipun Shia nakal jangan memukulnya”
“Ibu kenapa berbicara seperti itu” Ucap Shia tak terima, gadis itu memasang wajah merajunya yang justru menggemaskan bagi Liam.
“Liam bisa berjanji kan dengan Aunty?” tanya wanita itu lagi
“Kalau begitu aunty bisa meninggalkan Shia dengan tenang” gumamnya yang masih dapat Shia dengar.
“Apa maksud Ibu?” Tanya Shia. Sayangnya ibunya tidak menjawab apapun lagi dan besoknya Shia menemukan ibunya yang tidak sadarkan diri dengan tubuh yang penuh dengan darah dan ayahnya berada di hadapannya dengan memegang sebuah pistol.
Tanpa sadar Shia meneteskan air matanya. Memori tentang kejadian itu berputar diotaknya tanpa di minta. Ingatan tentang kematian ibunya dan janji yang Liam berikan masih terasa sangat baru baginya. Setelah satu tahun kematian ibunya, Liam juga pergi meninggalkannya.
Lelaki itu menepati janjinya pada Ibu Shia, dia menolong Shia yang diculik oleh musuh Robert, persis seperti penculikan yang terjadi pada Lily. Namun saat itu sebuah peluru menembus jantung Liam, hingga lelaki itu tidak dapat diselamatkan. Liam mengorbankan nyawanya untuk Shia.
Dua kejadian itu adalah asal kebencian Shia pada Robert. Robert tidak ada disana untuk menolongnya, bahkan pria itu hanya terdiam kaku saat melihat Ely yang jatuh bersimbah darah.
Robert, ayahnya yang dia kira sebagai pahlawan itu adalah seorang pecundang yang tidak bisa menjaga keluarganya sendiri!
Shia menoleh ke belakang ketika mendengar suara berisik dari dalam mansion. Dia tidak penasaran dan juga tidak tertarik dengan alasan kebisingan itu. Dia lebih suka berada di sini, di tengah keheningan daripada kemunafikan orang-orang seperti ayahnya.
------------
__ADS_1
Setelah kedatangan dan perkenalan dirinya yang membuat seluruh tamu undangan di mansion itu terkejut, Pria rupawan itu mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Hampir 10 menit sejak dirinya tiba di tempat ini namun sampai sekarang dia tidak menemukan sosok yang menjadi alasannya datang ke sini dan selama itu juga ia menemukan banyak wanita yang curi-curi pandang ke arahnya. Bahkan menggoda dirinya secara terang-terangan.
“Apa yang kau cari Ace?” Ucap Yerina dengan nada menggoda pada putranya yang terlihat berbeda malam ini.
“Tanpa ku katakan pun, mom juga sudah tau” dengus Ace
“Hmm…Ngomong-ngomong putraku terlihat berbeda malam ini” godanya lagi.
“Lebih tampan kan” ucap Ace percaya diri
“Berhenti menggoda istriku.” Ucap Jack tak terima
“Aku berbicara dengan ibu ku, bukan menggoda istrimu!”
“Ace Hiddleton!”
“Yes, that’s me”
Yerina menghela nafas frustasi. Jack yang posesif pada istrinya dan putranya yang suka sekali menjahili pria posesif itu. sungguh tiada hari dengan kedamaian jika keduanya sudah berbicara.
“Apa kau tau jika gadis incaranmu tadi terpesona padaku” ucap Jack tiba-tiba
“Jangan terlalu percaya diri Jack, Shia hanya menatap mu karena kau aneh, bukan karena terpesona dengan wajah mu. Lagipula mengapa Shia harus terpesona pada pria tua sepertimu” Jelas Yerina panjang membuat Jack melotot.
“Sayang.,. kenapa kau bilang begitu” Sahutnya Jack tak terima
“Memang benar seperti itu.”
Ace tersenyum puas. Ia memadang George yang berjalan ke arahnya. Pria itu menyerahkan segelas wine padanya. “Nice to meet you again Mr. Hiddleton” seru George. Ace mengangguk sambil menyesap minuman pekat itu.
“George baik sekali memberikan wine pada rivalnya” Yerina berbisik pada Jack. Pria itu tersenyum tipis lalu mengecup pipi wanita itu yang dibalasi tatapan tajam.
“Kau mencari kesempatan!”
“Salah mu yang memberikan kesempatan itu dan juga kita tidak tau apakah mereka akan menjadi rival atau kawal”
__ADS_1
Jack menatap Ace dan George, meskipun kedua pria itu terlihat akrab namun Jack bisa merasakan aura permusuhan yang ada di antara keduanya. Sepertinya George sudah menyadari jika Ace mengincar tunangannya!