
Sebuah kapal berjenis Yacht belayar sejauh 10 Km dari bibir pantai sebuah pulau tak berpenghuni. Orang-orang mungkin akan mengira jika itu hanyalah sebuah kapal yang mengangkut para pelancong namun nyatanya kapal itu mengangkut sekelompok mafia yang paling kuat di Eropa.
Sang pemimpin mafia itu menatap pulau itu dengan teropong jarak jauhnya. Ada banyak penjagaan di sekitar pulau itu, pengamanan yang sangat ketat karena sang pemilik sudah tau jika dia berurusan dengan orang yang berbahaya.
“Joker!” Panggilnya. “tarik mundur semua bawahan yang ikut. Aku akan ke sana sendiri!”
“Tapi Tuan..” Joker berusaha menolak, pria itu adalah ketua dari kelompok shadow, penjaga bayangan milik Alfa.
Alfa mengarahkan ponselnya pada Joker. “Dia mengundangku untuk datang” Serunya. Layar ponsel Alfa menampilkan sebuah pesan video yang memperlihatkan keadaan Shia yang terikat. Joker mengangguk. Dia mundur dan meminta seorang bawahan untuk menurunkan jet ski milik Alfa.
Alfa mengendarai jet ski itu dengan kaca mata hitam yang membingkai wajahnya, menutupi manik abu-abunya yang berkilat di sana. Jet ski itu mendarat di bibir pantai. Sang pengemudi turun dengan sambutan senjata yang mengarah kearah dirinya.
“Kalian berutal sekali” Alfa tertawa pelan. Situasi ini mengingatkannya saat berada di pegunungan greenhils dulu, sebelum dia amnesia untuk sementara dan bertemu dengan Shia.
“Kalian tidak seharusnya mengarahkan senjata padaku.”
“Aw, Kejutan. Aku tidak menduga kau datang secepat ini” Seru seseorang dibelakang kumpulan para penjaga itu.
“Apa kabar? Kau sudah lumayan lama menghilang dan setelah muncul kau justru merepotkanku” Alfa berkata ketika sosok George muncul di depannya.
“Oh kau dendam karena aku membunuh Melinda yaa?” Alfa kembali membuka mulutnya membahas tentang kematian mantan tunangan George. “Kau tau sendiri wanitamu itu yang mulai macam-macam denganku, aku hanya membalasnya saja jadi kenapa justru kau yang membenciku. Kau bahkan membuat Dayn di asingkan”
“Kau!” George menggeram namun tak berapa lama gerakan George yang secara tiba-tiba menyerangnya membuat Alfa menghindar hingga kacamata hitam yang memutupi matanya terlepas
“AH, kau Alfa rupanya pantas saja lidahmu lebih tajam dari Ace”
“Memang apa bedanya aku dan dia?” Alfa bertanya sambil menjatuhkan kepalanya ke sisi kanan. Terlihat mengejek George
“Ngomong-ngomong kau haru periksa ponselmu terlebih dahulu, George” George menyipitkan matanya, lalu meraih ponselnya.
DOR
DOR
DOR
__ADS_1
Suara tembakan beruntun terjadi sangat cepat, George membulatkan matanya, kini hanya ada dirinya dan Alfa di bibir pantai. Semua anak buat George sudah mati karena luka tembak.
“Brengsek kau, Alfa!!”
Alfa tersenyum tipis mendengar umpatan George.
Sejak awal pria itu sudah merasakan ada sesuatu dengan George. Alasan pria itu bertunangan dengan Shia juga untuk memancing dirinya keluar dan secara tiba-tiba pria itu menghilang. Alfa tidak ingin mencari tau lebih dalam dibalik menghilangnya George. Sayangnya perhitungannya meleset.
“Bisa kau berikan wanitaku sekarang. Sebelum tanganku gatal dan meledakan tempat ini” ucapnya dengan senyuman lebar yang mengerikan
“Kau memang gila, Alfa.”
“Dan kau justru memilih untuk berurusan dengan orang gila” Alfa melangkahkan kakinya mendekat dengan tangan yang memutar pistol di tangannya.
“Berhenti Alfa, jika aku mati maka Lina akan langsung membunuh Shia”
George tersenyum saat Alfa tak lagi melangkah. Ancamannya berhasil membuat pria itu diam. Alfa menghela nafas. Andai saja dia tau jika pria itu akan berhubungan dengan Lina, pasti sudah dari awal Alfa menghabisinya.
“Bawa Arshia keluar!” Perintah George pada Lina. Alfa mendudukkan dirinya di pasir, menatap malas kearah George yang sibuk mengoceh. Entah apa yang pria itu katakan, Alfa tidak peduli karena kini pandangannya terpaku pada seorang gadis yang berjalan menuju mereka dengan kondisi tangan terantai.
Lina mengarahkan pistolnya pada kepala Shia, dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat raut tegang milik Alfa. Ini menyenangkan untuknya.
“Nah Shia, kau tau dia siapakan?” tanya George
“Dia Ace Hidlleton, tunanganmu adalah orang yang membunuh Liam dan Ibumu..” George tersenyum licik, tangannya mengarahkan wajah Shia ke hadapan Alfa.
Wajah Shia terlihat terkejut, maniknya menatap tajam sosok Alfa di depan sana. George semakin melebarkan senyumnya melihat reaksi Alfa.
“Tidak mungkin! Ace bukan pembunuh” dari seruan Shia, Alfa bisa menangkap sebuah kebohongan di sana. Wanitanya sedang bermain peran, belum lagi sebelah mata Shia yang mengedip padanya membuat Alfa semakin percaya pada Shia.
“Bukan Ace yang membunuh tapi Alfa. Dia adalah pria di depanmu! Apa kau tidak sadar jika Ace dan Alfa adalah orang yang sama Shia?” Tanya George yang berusaha memancing amarah Shia
“Love…maafkan aku” Alfa bergumam pelan, untuk yang satu ini dia takut untuk melihat reakasi Shia.
Lina mengertukan keningnya bingung. Wanita itu baru memahami maksud ucapan George. Dia tersenyum lebar, dia merasa mendapatkan jackpot. Tidak hanya akan membunuh Alfa namun dia juga akan membunuh Ace Hiddleton. Dua orang yang berada di tubuh yang sama.
__ADS_1
“Pria didepanmu itu adalah pria gila yang memiliki Alter Ego, Shia..”
Air mata Shia berjatuhan. Alfa tidak bisa membaca Shia saat ini, dia tidak tau apakah gadis itu marah padanya ataupun membencinya. Alfa bahkan belum sempat berbicara kebenaran pada Shia.
“Aku sudah berjanji untuk memusnahkan orang yang membunuh Liam!”
“Kau mau membunuh Love?” Tanya Alfa, manik abu-abunya terus menatap manik coklat berair itu
“Benar. Dan ini bonus terakhir dari ku” Shia mengedipkan sebelah matanya, dia menendang Lina dan mengambil alih pistol yang sejak tadi Lina pegang.
Alfa bergerak cepat menahan tangan George dan melayangkan tendangan ke dada George hingga membuat pria itu terjatuh ke pasir pantai.
Dor…
Lina jatuh dengan tubuh bersimbah darah. tidak ada pergerakan dari Lina yang berarti jika wanita itu sudah mati. Mata George membola “Bagaimana kau bisa-?”
“Melepaskan diri dari ikatan seperti itu adalah hal dasar bagiku. Bukankah sudah ku bilang kau memilih lawan yang salah George” Seru Shia, dia berjongkok di depan George menatap wakah pria itu dengan senyum manis miliknya
“Hah, Sial!” George meraih saku celananya mengambil sebuah pena kecil yang memang sengaja dia bawa.
“Mengingat ini Alfa?” Tanyanya. Alfa menarik Shia menjauh dari George
“Aku membeli ini dari sebuah pelelangan, siapa sangka jika benda ini akan di lelangkan.”
Shia menatap Alfa tak mengerti, apa hubungannya antara Alfa, pelelangan dan pena itu. Alfa menoleh pada Shia, pria itu hanya menampilkan senyum tipis, membuat Shia semakin tidak mengerti.
“Aku mencintaimu..” Ucap Alfa bersamaan dengan suara ledakan yang terdengar saat George menekan tombol di pena itu.-
-
Jeng jenggg\~ dikit lagi menuju END hehe
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk baca cerita ini jangan lupa Like, Komen, Vote and Fav
See yaa💗
__ADS_1