
Erika Tylor, dokter cantik yang menjadi sahabat Shia itu kini sedang duduk di sebuah taman ruamh sakit. Tadi Shia menelponnya dan mengatakan bahwa gadis itu akan mengunjunginya. Entah ada masalah apa lagi yang Shia lakukan, karena Erika yakin bila Shia mengujunginya pasti sesuatu yang buruk menimpa gadis itu.
“Erika”
Suara panggilan itu membuat Erika menoleh. Di depannya seseosok lelaki dengan perawakan tampan itu berdiri dengan tatapan datarnya. “Damien..”
“Kau tidak merindukan ku Erika” Ucap Damien. Secara tiba-tiba pria itu mendekat kearah Erika dan memeluknya. Erika meronta mencoba melepaskan pelukan Damien. Tidak bisa dipungkiri jika Erika merindukan pria itu.
“Apa kau tidak merindukan sentuhanku Erika” Mata Erika membelalak. Damien yang sekarang lebih gila dari sebelumnya.
“Lepaskan!” Erika memberontak, dia mendorong Damien hingga pelukan itu terlepas. Wanita itu mengalihkan pandangannya, takut jika air matanya akan menetes jika berhadapan dengan pria yang pernah dicintainya itu.
“Aku merindukanmu Erika” Damien mengulurkan tangannya hendak menyentuh Erika lagi namun kali ini wanita itu menepis tangan Damien kasar.
“Beraninya kau mengabaikanku, Erika!” Damien berucap tajam, tangan pria itu terangkat hendak melayangkan pukulan pada Erika
BUGH
“Apa kau mau mati? Beraninya main tangan dengan wanitaku!”
Erika membuka matanya, di depannya seorang pria tampan berhasil menumbangkan Damien. Manik hijau itu menatap ke arahnya. Mata itu tidak asing baginya. Oh, Erika ingat sekarang. Dia adalah pria yang Erika tolong saat di Boston dulu.
__ADS_1
Pria asing dengan manik hijau menawan yang nyaris meninggal karena luka tembakan yang memenuhi tubuh kekarnya. Pria yang dikira Damien sebagai selingkuhannya di Boston dulu.
“Akhirnya kita bertemu lagi” Ucap Max, Erika tersenyum tipis lalu mendekat kearah Max
“Hebat sekali kau Erika, Kau kekasihku tapi berselingkuh dengan pria ini lagi?!” Damien bangkit dan berucap tajam. Dia mendekati Erika lagi. Max menyembunyikan Erika di belakang tubuhnya.
“Apa kau memiliki hubungan dengannya?” Tanya Max. Erika terdiam sejenak, terhipnoyis oleh manik hijau terang yang menakjubkan baginya. Erika menggeleng pelan menjawab pertanyaan Max sebelumnya. Max tersenyum miring
“See. Dia mengatakan tidak memiliki hubunganmu”
“You Bit-!”
BUGH
“Minta maaf padanya, Jerk” ketus Shia
“Kau ******!”
PLAK
“Jangan membuat mood ku semakin buruk, Damien. Aku sudah menahan diri sebelumnya saat tau kau menamparnya. Jadi cepat minta maaf padanya!”
__ADS_1
Max meringis melihat sudut bibir Damien yang berdarah akibat tamparan Shia. Dia tidak menyangka jika gadis itu sebrutal ini. Dan bagaimana nasib dirinya nanti jika mencari masalah dengan Shia. mungkin selain Alfa, Shia bisa menjadi sosok yang mengancam nyawanya.
“Maaf..” Damien berucap pelan
“Dia tidak mendengarmu!” Shia menarik tangan Damien kebelakang membuat pria itu meringis.
“Cukup Shia”
Pandangan Max kembali tertuju pada Erika. Wanita itu mendekati Damien dan menamparnya dengan kuat. “Bajingan!” Erika berdesis tajam membuat Shia tersenyum tipis.
Damien mematung, tidak menyangka jika wanita yang dulu selalu menunduk padanya berani memaki bahkan menampar dirinya. “Pergi dari sini dan jangan muncul lagi!” Lagi Damien kembali terdiam mendengar nada bicara Erika yang ketus.
Dia meringis saat Shia melepaskan tangannya dengan kasar. “Kau mendengarnya kan? Pergi!” Ucap Shia. Damien mengeraskan rahangnya, dia pergi dengan keadaan malu. Dalam hati dia berjanji akan membalas perbuatan Erika, Shia dan seorang pria asing itu.
“Jadi siapa kau?” Max mematung saat Shia bertanya padanya. Jika di ingat Max memang tidak pernah menampakkan dirinya pada Shia saat gadis itu berada di mansion Alfa.
“Dia temanku” Jawab Erika, Shia menatap pria itu sebentar. Ada yang aneh dengan sosok Max, Shia merasa tidak asing dengan pria itu.
“Dimana kau mengenalnya?” Shia kembali bertanya
“Aku menolongnya saat di Boston”
__ADS_1
Max mematung di tempatnya. Entah mengapa dia merasa gugup ketika manik coklat Shia menyorotnya dengan penuh selidik. Pria itu mengalihkan pandangnya menatap sekitar, suasana taman ini sangat sepi. Manik Hijau itu menatap pada seorang pria yang bersandar pada sebuah pilar dengan masker hitam yang menutupi bagian wajahnya. Meskipun warna mata pria itu berbeda dari biasanya, Max sadar jika pria itu adalah Alfa, Tuan nya