Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Thirty Seven : Fall in Love


__ADS_3

"Mau kemana lagi?” Tanya Shia ketika mereka berada di dalam lift dan Ace menekan tombol menuju lantai paling atas.


“Menemui orang tua ku” Jawabnya, Shia melotot


“Untuk apa?”


“Merencanakan pesta pertunangan tentunya”


“Kau bercanda?” Tanya Shia


“Tidak”


Belum sempat Shia berbicara suara pintu lift yang terbuka mengalihkan perhatiannya, Ace menariknya keluar menuju rooftop. Shia melotot ketika melihat sebuah helicopter terparkir di atas gedung itu dengan seorang pria yang Shia yakin adalah pilotnya.


Shia mengenyentakkan tangan Ace, membuat langkah pria itu terhenti dan berbalik menatap kearah Shia


“Kenapa?” Tanyanya datar, hembusan angin malam membuat Shia merinding. Suara Ace terdengar menakutkan baginya.


“Kau akan pergi dengan itu?” Tanya Shia


“Kita” Ucapnya singkat membuat Shia mengerutkan kening.


“Kita yang akan pergi” lanjut Ace dengan tangan yang kembali menarik Shia menuju helicopter.


“Oh god, not again” gumam Shia padahal baru beberapa jam yang lalu dia mendarat dan kini malah harus terbang lagi.


------------


Los Angeles, US


Shia menoleh ke jendela saat helicopter itu mulai bergerak turun. Ia menatap takjub bangunan di depannya. Sebuah mansion mewah yang berada di daerah tersembunyi. Jauh dari jangkauan orang banyak. Sekilas mansion itu telihat seperti sebuah istana dalam sebuah film. Desainnya sangat berkelas seperti corak istana eropa pada umumnya.


Helicopter sudah mendarat di lapangan terbuka, tepat di depan mansion. Ace menuntunya turun, dan berjalan masuk ke dalam mansion itu.


“Mansion siapa ini?” Tanya Shia begitu kakinya menapaki pintu yang dibuka oleh pelayan.


“Mr. Hiddleton, selamat datang kembali” Seorang pria menyambut kedatangan mereka, Dari wajahnya Shia bisa menduga jika usia pria itu kisaran tiga puluh tahunan, masih terlihat cukup muda bagi Shia.

__ADS_1


“Dimana ayah ku, Han?” Tanya Ace, pria itu memilih merangkul pinggang Shia dan membawanya menuju masuk ke dalam mansion. Shia memperhatikan mansion tersebut. Bagian dalamnya terlihat mewah dan luas. Berbagai macam hiasan dengan Shia perkirakan berharga fantastis menghiasi bagian dalam Mansion.


“Tuan ada di Washington” Jawabnya. Mata Shia memincing ketika Han menatapnya dengan senyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat membahayakan bagi Shia. entahlah Shia merasa jika ada yang aneh dengan Han.


‘mungkin hanya perasaanku saja’ batin Shia.


“Shia!” Pekikan itu mengalihkan perhatian Shia, dia menatap Irena yang berdiri tak jauh didepannya. Shia tersenyum lebar


“Mrs. Hiddleton” Ucapnya ramah


“Aku sudah bilang panggil saja mom” Balas Irena tak kalah ramah, wanita itu marangkul kedua tangan Shia


“Astaga! apa ini Ace?” Ucap Irena ketika menyadari adanya sebuah cincin melingkar di jari manis Shia


“Seperti yang mom lihat, aku sudah melamarnya” Ucap Ace tanpa beban membuat Shia melototkan matanya


“Oh ternyata sudah dilamar yaa, jadi kapan kalian akan menikah?” Tanya Irena antusias


“Kami tidak akan menikah, Mrs. Hiddleton” Jawab Shia


“Kenapa? Apa Ace jahat padamu Shia?” Tanya Irena


“Mom tau apa yang kamu khawatirkan, percayalah cinta itu akan datang saat sudah terbiasa” Ucap Irena dengan senyum lebar. Shia menghela nafas lalu mengangguk pelan, sebenarnya bukan itu yanga da di otaknya tapi ketika melihat Irena yang sangat berharap padanya Shia tidak dapat menolak, yah lagipula tidak buruk juga berhubungan dengan keluarga Hiddleton.


“Mulai sekarang tinggal bersamaku disini” Ucap Ace tegas, baru saja Shia hendak memberikan protes tapi Irena sudah menahan tangannya “Ace benar, lebih baik kau tinggal bersamanya Shia, dia akan memastikan dirimu aman” Ucap Irena membujuk Shia. Ajaibnya Shia lagi-lagi mengangguk, mungkin karena gadis itu sudah lama tidak mendapatkan sosok ibu yang dekat dengannya.


Setelah itu Irena mengajak Shia untuk berkeliling mansion. Mansion Hiddleton benar-benar luas ada sebuah taman bunga lavender di belakang mansion, di sana Irena membawa Shia duduk sambil meminum teh. Shia mulai menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Ace, dan segala tingkah Ace yang menyebalkan untuknya.


“Wajar saja dia menginginkan mu, putraku itu jika sudah menginginkan sesuatu maka pasti akan di dapatnya” Jawab Irena dengan kekehan kecil di bibirnya setelah Shia menyelesaikan ceritanya.


“Kau tau, dia bahkan hampir mengacaukan pesta pertunangan mu dengan George” Lanjut Irena, Shia tersenyum tipis, Jika Irena mengatakan itu bukankah berarti alasan George hilang bisa jadi karena Ace hiddleton.


“Oh iya, Jack sudah mengatakan pada Robert jika kau dan Ace akan bertunangan minggu depan dan pria itu akan segera berangkat ke Los Angeles nanti malam” Lanjutnya lagi


“Minggu depan?” Tanya Shia


“Iya, aku senang jika pasangan Ace adalah dirimu, kau tidak tau sudah berapa banyak wanita yang macam-macam dengan Ace, bahkan tiga hari yang lalu ada seorang wanita yang mengatakan jika mengandung anak Ace” Ucap Irena membuat Shia tersentak

__ADS_1


“Kau tenang saja, Ace bukan pria seperti itu. dia hanya mencintai satu wanita dan itu adalah kamu” Lanjut Irena dengan senyum lebarnya.


-----------------


Ace keluar dari kamarnya dan menuju kamar Shia, pria itu tidak bisa tidur dengan tenang karena Shia tidak berada di sampingnya. Tadi Irena memaksa mereka untuk menginap namun memberikan Shia kamar terpisah, membuat Ace menahan kesal terhadap ibunya itu.


Ace membuka pintu kamar tempat Shia berada, namun sayangnya gadis pujaannya tidak berada disana. Ace mencarinya ke segala penjuru, namun tetap tidak ada hingga aroma sedap menyambut Ace ketika ia melangkah menuju ruang makan.


Shia berada di sana, dengan rambut yang di gulung asal dan sebuah celemek berwarna abu-abu. Dibalik celemek itu Ace dapat melihat gaun tidur berwarna putih milik ibunya yang dipinjamkan pada Shia.


“Ace, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Shia ketika menyadari kehadirannya.


“Melihat calon istriku memasak” Ucapnya


Shia mendengus, dia kembali fokus pada masakannya mengabaikan sosok Ace yang melangkah mendekatinya.


Ace meligkarkan tangannya di pinggang ramping Shia dan mengelusnya pelan, bibir pria itu menicum leher putih Shia yang terekspos. Shia tersentak, dia melirik Ace yang masih setia menciumi lehernya.


“Kau ini sedang apa sih?” tanyanya


“kau wangi” Ucap Ace. Pria itu menggigit leher Shia membuat gadis itu kaget.


“Bisa kau hentikan, aku sedang memasak”


Ace tidak menggubris ucapan Shia, pria itu masih menciumi lehernya, menikmati aroma yang mampu membuat Ace kecanduan.


“Ini hukuman mu karena memasak di rumahku” Ucapnya dengan nada berat


“Aku lapar Ace” Gadis itu mematikan kompornya lalu berbalik menghadap Ace, manik biru itu menatap Shia dalam


“Kau tidak merindukanku?”


Shia menatap manik biru itu, ada perasaan asing yang menggetarkan jiwanya saat manik itu semakin lekat menatapnya, jantungnya mulai berpacu lebih cepat bersamaan dengan rasa terbakar yang mulai merambat ke wajahnya.


Ace tersenyum miring, dia mendekatkan bibirnya pada telinga Shia dan berbisik


“Aku tidak bisa menahan diriku jika kau berekspresi seperti itu”

__ADS_1


Shia memejamkan matanya ketika Ace menciumnya dengan lembut, jantungnya berdetak semakin cepat, Shia yakin jika Ace menyadari debaran di jantungnya. Harus Shia akui jika mungkin dirinya memang sudah kalah dengan pesona pria itu sejak awal.


__ADS_2