Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Fifty Two


__ADS_3

Shia menghela nafas lelah, sudah dua hari dirinya terkurung di kamar mewah ini. Dia hanya terbaring di ranjang dengan rantai yang mengikat kedua tangan dan kakinya. Selama dua hari ini Lina selalu mengunjungi kamarnya dan melakukan kekerasan padanya.


Shia membiarkan Lina, bukan karena dia tidak bisa melawan namun Shia tau ada orang yang mengawasinya di kamar ini. Sebuah kamera pengawas yang di letakan pada sudut kamar menjadi buktinya.


Sebenarnya hal yang mudah bagi Shia untuk melawan Lina. Seorang mantan atlet drifting sekaligus agen rahasia melawan mantan pelayan. Huh, Jangan bercanda, Shia yakin setelah semua ini berakhir dia akan membuat Lina berlutut dibawah kakinya atau bahkan membuat wanita itu kehilangan kepalanya.


Hal yang mudah bagi Shia untuk keluar dari kamar ini namun dia tidak yakin dengan keadaan di luar. Dia tidak tau struktur bangunan ini bahkan berapa banyak orang yang berjaga di depannya. Lagipula lebih aman jika dirinya berada di kandang musuh daripada kandang sendiri.


Bip..Bip…Cklek.


Alis Shia bertaut saat pintu terbuka dan menghadirkan sosok asing. Seorang pria dengan sebuah topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu mengingatkannya dengan Alfa. Hanya mengingatkan, karena Shia yakin jika dia bukan Alfa


“Kau bosan Shia?” Ucapnya sambil menyunggingkan Smirknya. Shia terdiam. Suaranya terasa tak asing di pendengaran Shia. Dia menatap sosok itu dengan senyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya pelan


“Ternyata kau kepalanya. Biar ku tebak orang dibalik penculikanku dulu dan orang yang berada dibalik SXT itu kau kan. ”


“Shia, Shia. Kau sungguh luar biasa.” Pria itu menampakan smirk lebarnya


“Terima kasih atas pujiannya. Kau memperlakukan tawanan dengan baik” Shia yakin jika tempatnya berada saat ini adalah tempat pria itu. Karena dia yakin jika Lina tidak mungkin membiarkannya berada di ranjang empuk.


Pria itu menunduk, tangannya mengusap wajah Shia dengan lembut “wajahmu membengkak”


“Salahkan bawahanmu yang selalu menamparku”


“Sepertinya Lina benar-benar membencimu”


“Umm bisa dimengerti, Priaku membunuh kekasih dan anak tirinya, menurutmu seberapa benci wanita itu padaku?” tanya Shia membuat pria itu berdecih.

__ADS_1


“Kau seharusnya tidak menjadi wanitanya, Shia. Pria yang tidak jelas seperti Alfa tidak cocok dengan wanita sepertimu”


“Ku kira kau mengincar Ace” Shia menampilkan raut polosnya


“Memang apa bedanya mereka” SXT tertawa terbahak. Dia mengira Shia belum mengetahui jika Ace dan Alfa adalah orang yang sama.


“Well, biar ku katakan dendam Lina tidak ada sangkut pautnya denganku” Lanjutnya


“Aku sudah tau itu, mungkin kau dan Lina memiliki tujuan yang sama. Yang membedakan adalah kau menggunakan ku dari awal agar mendapatkan Ace Hiddleton”


“Kau memang pintar Shia” Ucapnya


“Mau ku tunjukan kepintaranku yang lainnya?” tawar Shia. Pria itu menganggukan kepalanya. Tertarik dengan ucapan Shia


“SXT atau Seven SixTeen jika menjadi inisial G16, itu kau kan” Ucap Shia dengan senyum lebar saat mendapati Pria itu menegang kaku


Tiba-tiba pria itu melepaskan topengnya. Dia menatap Shia dengan tatapan datar. “Well, hallo mantan tunangan” Ucap Shia disertai kekehan kecil. dia akan bermain-main dengan George


“Aku benar-benar tidak bisa meremehkanmu Shia. Padahal ku pikir aku sudah tak terbaca. Bahkan Ace tidak menyadarinya sama sekali” dia mengulas senyum lebar.


“Kau yakin Ace tidak sadar? Aku lebih percaya jika dia berpura-pura tidak sadar?”


“Tutup Mulutmu, Shia!” Ucapan Shia mampu menyulut amarah George. Rahangnya mengetat bersamaan dengan tangan yang mencengkram pipi Shia kuat.


“Sure” Shia tersenyum lebar, mengejek sosok George yang kini berada di atasnya.


“Kau memang pandai mempermainkan emosi seseorang Shia. Siapa kau sebenarnya?”

__ADS_1


“Bukannya dulu kau sudah pernah mencari tau tentangku” Meskipun cengkraman George pada pipinya terasa menyakitkan namun gadis itu masih bisa tertawa geli


“Guess Me.” Ucap Shia tak memberikan jawaban membuat George melepaskan tangannya dengan kasar. Wajah Shia tertoleh ke samping, pipi mulusnya meninggalkan bekas kemerahan yang ketara


“Sifat aslimu buruk sekali padahal kau manis sekali saat berakting dulu”


“Padahal kau sangat pintar Shia tapi bagaimana kau bisa terus dibohongi oleh Ace”


“Dia tidak pernah berbohong padaku” Sahut Shia cepat


“Kau yakin sekali Shia” George tersenyum tipis sambil menepukkan tangannya pada pipi Shia “Aku yakin Ibumu akan sangat kecewa padamu”


“Kau bahkan tidak pernah bertemu Ibuku” Ucap Shia santai, dia tau jika George berusah memancing amarahnya


“Kuharap kau tidak kecewa saat mengetahui kebenarannya”


“Dengar, Geroge jika kau ingin membunuhku, lakukan sekarang. Semakin lama kau membiarkanku hidup maka semakin besar peluang kematianmu”


“Kematianku? Kau bahkan tidak bisa keluar dari tempat ini Shia dan Ace tidak akan pernah bisa menemukan tempat ini” George tersenyum lebar “Aku akan melihat bagaimana pria itu menggila saat tidak bisa menemukanmu. Ace harus merasakan apa yang sudah ku rasakan” mata George terlihat sangat gelap. Tatapannya penuh dengan kebencian dan kemarahan. Sekarang Shia tau motif George menculiknya itu karena George kehilangan wanita yang dicintainya dan itu karena Ace.


“Nikmati hari mu di sini Shia” Ucap George sebelum pria itu keluar dari kamar tempat Shia berada. Manik coklat Shia masih menatap pada pintu, sebuah senyum miring tertera di wajahnya “Mungkin Ace memang tidak tau tempat ini, tapi apa kau yakin jika Alfa tidak mengetahuinya, George…”


-


-


Hello terimakasih sudah meluangkan waktu membaca cerita ini, jangan lupa Like, Komen, Vote and Fav yaa

__ADS_1


See yaa💗


__ADS_2