Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Twenty Four : Invitation


__ADS_3

Bunyi dentuman musik terdengar dengan keras, lantai dansa dipenuhi oleh para manusia sedang di setiap sudut tempat itu terdapat sepasang pria dan wanita yang saling beradu, entah itu bercumbu ataupun kegiatan lainnya yang menaikkan eksistensi gairah mereka.


Seorang pria rupawan melangkah masuk, mengambil alih seluruh atensi wanita penghibur di tempat itu. Meskipun menggunakan masker, namun para wanita itu tetap menatap dengan penuh minat padanya.


Mereka berlomba memperbaiki penampilannya dan mendekat. Mengikutinya masuk ke sebuah ruangan menuju tempat lain.


Tujuan pria itu bukanlah Club seperti yang terlihat namun Casino yang berada di ruang bawah tanah. Sebuah tempat berjudi sekaligus transaksi yang biasa dilakukannya.


“Kenapa tuan lama sekali tidak kesini?” tanya seorang wanita dengan nada dibuat imut. Dari pertanyaannya itu dapat disimpulkan bahwa mereka sudah pernah berjumpa dengan pria bermasker itu.


“Apa tuan tidak merindukan sentuhan saya?” Salah satu wanita dengan pakaian ketat dan lipstick merah menyala merangkul lengan kekar itu, berusaha menggoda pria itu dengan menempelkan dadanya yang besar.


Pria itu menatap ke samping, total ada 5 wanita penghibur yang mengikutinya. Seolah sedang menyeleksi mereka satu per satu.


“Hanya kau yang ikut denganku” Suara maskulin itu terdengar. Membuat wanita itu kecewa lantaran sang pria hanya memilih salah satu dari antara mereka. Sedangkan wanita yang ditunjuk oleh pria itu tersenyum lebar. Tidak sia-sia dia menempelkan tubuhnya tadi. Buktinya pria itu langsung memilihnya.


Pria itu kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan, terdapat sebuah meja persegi panjang dengan alas berwarna hijau diatasnya.


“Akhirnya kau tiba juga, Alfa” sapa pria di sebrangnya. Alfa mendudukkan dirinya berhadapan dengan pria itu, mereka berdua dibatasi oleh meja sedangkan disamping Alfa, wanita penghibur tadi masih merangkulkan tangannya pada lengan kekar yang terbungkus kemeja itu.


“dan membawa pasangan” Lanjutnya dengan nada mengejek. Wanita yang dimaksud tersenyum lebar dengan pipi yang merona. Ia mendekatkan tubuhnya pada Alfa, merasa jika ucapan pria itu benar. Dia pasangan Alfa.


“Bukannya kau yang mau aku membawanya?” Alfa mengangkat sebelah alisnya.


“Aku hanya bercanda, kenapa kau serius begitu? Lagipula sepertinya dia lebih menyukaimu”


“Aku suka kalian berdua, kita bisa bermain bersama” Ucap wanita itu dengan percaya diri. Tangannya dengan lancang bermain ditubuh Alfa, membuka kancing kemeja atas pria itu.


Alfa menoleh ke samping dengan tatapan datar. Ia menepis tangan wanita di sampingnya. Merasa risih karena wanita itu semakin menyentuh tubuhnya. “Kau keluar!”


“Tapi tuan yang meminta saya ikut, tidak mungkinkan kita mengakhirnya seperti ini?” ucap wanita itu tak terima. Ia menjalankan aksinya menggoda pria itu dengan sentuhan agresifnya. Alfa menahan tangan wanita itu, ia menggeram pelan. Wanita itu tersenyum puas, ia pikir Alfa sudah bergairah padanya.


Sedangkan pria disebrang Alfa hanya tersenyum tipis, ia mengasihani nasib wanita penghibur itu yang dengan lancangnya menyentuh boss nya itu. Padahal ia mengerti jika pengusiran yang Alfa lakukan adalah kesempatan kedua bagi wanita itu namun sayangnya kesempatan emas itu malah di tolak.


KREK!

__ADS_1


Suara patahan terdengar. Belum sempat wanita itu berteriak, sebuah kain menutup mulutnya hingga ia jatuh tak sadarkan diri di lantai. Alfa tersenyum miring. Ia membuang asal kain yang digunakan untuk membius wanita itu.


“Kau mematahkan jarinya?” Alfa mengalihkan atensinya pada pria didepannya.


“Menurutmu apa hukuman yang pantas bagi jari-jari sialan itu, Max?” Alfa bertanya balik pada Max.


“Hah! Padahal jika kau berkata ingin meminjam handphonenya dia pasti akan memberikannya dengan suka rela” sahut Max.


“Merepotkan.” Gumam Alfa, ia kembali mendudukkan diri. Membiarkan Max melangkah memutari meja itu. ia berlutut tepat di samping wanita itu. Membongkar tas tangan berwarna hitam dengan huruf L dan V milik wanita itu.


Handphone wanita itu adalah tujuan utama mereka. Wanita penghibur itu adalah salah satu simpanan pimpinan Costa, kelompok mafia yang menyerangnya belakangan ini.


Max kembali menuju kursinya. Pria itu memainkan handphone wanita itu lalu beralih pada laptopnya.


Magnius Enid atau yang dikenali sebagai Max itu adalah seorang Hacker terhandal di Italia, dia hanya bekerja untuk Alfa. Boss Mafia yang menolongnya dari perdagangan manusia 2 tahun yang lalu.


Alfa menyadari kemampuan Max dan membeli pria itu dengan harga yang mahal. Alfa memperlakukan Max dengan baik seperti merawat adiknya sendiri.


Meskipun begitu, Max tetap tidak mengetahui siapa sosok Alfa sebenarnya, bahkan nama aslinya saja Max tidak tau, Max hanya tau bahwa pria itu adalah penguasa dunia bawah dan semua orang takut padanya.


“Sudah” jawab Max sambil menyerahkan benda persegi panjang itu pada Alfa.


Pria itu terdiam lalu tersenyum miring.


“Seperti biasa kau melakukannya dengan bersih” Max tersenyum lebar mendengar pujian itu, ia menatap sang pemilik handphone yang masih terkapar di lantai.


“Kau tidak ingin memasang pelacak di tubuhnya?” Tanya Max


“Alat pelacak ku terlalu berharga untuk diri nya” Jawab Alfa. Max mengangguk samar.


“Oh ya ku dengar putri Robert akan bertunangan dengan George Pattion. Sayangnya dia tidak mengundangmu” Ucap Max membuat Alfa sedikit tertarik.


“Harus ku akui Robert berani sekali tidak mengundangmu padahal seingatku beberapa bulan yang lalu dia mengemis meminta bantuan” tambah Max kesal


“Aku tidak suka basa basi, katakan intinya!”

__ADS_1


“Maksudku bukankah pria tua itu terlalu sombong! Beraninya dia tidak mengundang kita! Sepertinya dia harus diberi sedikit pelajaran.”


“Aku di undang” Ucap Alfa dengan nada datar. Max terdiam menatap pria itu, ia berpikir Alfa bercanda namun raut wajahnya tidak mengatakan itu candaan.


“Dari mana kau mendapatkannya?”


“Rahasia” Jawabnya singkat sambil tersenyum miring.


“Boleh aku ikut?” Tanya Max.


“kali ini siapa lagi kau incar?” Alfa mendengus, ia bisa melihat gelagat aneh pada bawahannya yang sudah ia anggap saudara itu.


Max terdiam namun wajahnya terlihat merona. Alfa geram, ia jijik melihat Max memasang wajah seperti itu. Pria itu meraih pusaunya dan melemparkan pisau lipatnya ke arah Max.


Max menghidari pisau itu, terlambat sedikit saja maka pisau itu akan menggores wajah tampannya.


“Kau ingin membunuhku ya?” Decak Max


“Wajahmu membuatku jijik!” Alfa mendelik tak suka.


“Seharusnya kau lebih memperhatikan ku, kau tidak tau kan waktu aku menjalankan misi di Boston aku hampir mati. Untung saja ada seorang dokter yang menolongku waktu itu, tapi aku lupa mengucapkan terimakasih jadi aku mencari identitasnya dan ternyata dia dekat dengan Arshia Clarikson” Jelas Max


“Erika Tylor.” Ucap Alfa membuat Max melotot tak percaya


“Bagaimana kau tau, aku bahkan tidak menyebutkan gendernya?”


“Jadi benar, dokter yang kau maksud itu Erika Tylor?” Alfa tersenyum miring.


“Ya begitulah” Gumam Max, pria itu salah tingkah karena ketahuan mencari tau tentang wanita lain selain target misinya.


“Jadi boleh aku ikut?” Tanya Max lagi, dia masih berharap bisa bertemu dengan dokter cantik itu.


“Tidak bisa!” Ucap Alfa masih dengan senyum miringnya.


“Why?” Tanyanya tak rela.

__ADS_1


“Karena aku pergi bukan sebagai Alfa.”


__ADS_2