Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Fourty Nine


__ADS_3

Shia pergi menggunakan mobilnya menuju kota Dallas. Setelah berhasil bernegosiasi dengan Ace mengunakan bibirnya akhirnya pria itu membiarkan Shia pergi sendiri ke Dallas. Shia melajukan mobilnya melewati kawasan dimana terdapat lintasan Drift.


Shia berhenti sejenak. Lintasan ini adalah tempat dirinya bertemu dengan Alfa, pria misterius yang membunuh Liam. Shia berjanji dia akan melenyapkan Alfa lalu Robert. Dia akan melenyapkan siapapun yang sudah membunuh Liam, setelah semuanya selesai ia akan mendapatkan kebahagian yang tak semu bersama Ace.


Shia mengulas senyum tipis lalu kembali melajukan mobilnya hingga tiba di apartemen yang hampir satu bulan tidak dia kunjungi.


Cklek..


“Kau benar-benar tinggal disini?” Ketika Shia membuka pintu. Pandangan matanya langsung bertemu dengan sosok David yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.


“Bukannya kau yang menyuruhku tinggal di sini selama kau pergi” David bangkit dari sofa, dia melangkah menuju dapur dan mengambil kaleng bir di dalam kulkas dan menyerahkannya pada Shia.


“Wah, hebat sekali. Aku merasa menjadi tamu di rumahku sendiri” Sindir Shia


“Ku pikir kau butuh minuman dingin untuk bibirmu yang membengkak” David mendekat ke arah Shia, tangannya menyerahkan kaleng bir dalam genggaman Shia “Kemarin Alex kesini, dia menitipkan itu untukmu” David menunjuk sbeuah dokumen di meja dengan dagunya. Shia duduk di sofa single, tangannya meraih dokumen itu dan membukanya


Mnik coklat itu terlihat bergerak cepat membaca selembar kertas dan beberapa kode yang ada disana hingga akhirnya manik coklat itu terkunci pada satu titik.


“Dav, kau ingat Evan?”


“Pria yang berkali-kali kalah duel denganmu?” Ucap David memastikan


“Yes, apa kau tau latar belakang keluarganya?”


“Emm, kudengar keluarganya pengusaha di bidang IT”


“Benarkah?! Dari mana asalnya?”


“Setauku perusahaan keluarganya berada di Columbia”


Shia terdiam, dia kembali menatap dokumen ditangannya lalu menyerahkannya pada David. Mata David melotot melihat apa yang Shia berikan “Dia mafia yang bekerja untuk Costa?!!”


“Costa?” Shia tampak bertanya


“kau tidak tau?” Mendapat gelengan David melanjutkan ucapannya “Mereka kelompok mafia yang sebelumnya bekerja dengan ayahmu, namun karena kejadian 10 tahun lalu, kini mereka menjadi musuh ayahmu”


Shia terdiam memikirkan ucapan David “10 tahun? Jangan bilang kematian Ibu ku?” David mengangguk pasrah, mungkin dia harus menceritakannya pada Shia sekarang “Bukan ayahmu yang membunuh Ibumu tapi mereka dan sekarang mereka mengawasimu, Shia”

__ADS_1


Shia menatap tak percaya pada David. Apa maksudnya? Ayahnya yang dia kira orang yang membunuh ibunya ternyata orang yang salah. Jadi, apa selama ini targetnya membalas dendam pada Robert itu salah?


BRAk!


David tersenyum tipis saat secara tiba-tiba Shia menyerangnya. Gadis itu menjatuhkan tubuh David ke bawah denagn wajah David yang langsung menyentuh lantai.


“Kau tega sekali Shia, padahal aku yang mengajarimu trik ini” David tertawa kecil namun berbeda dengan Shia yang menatapnya tajam.


“Apa mereka juga yang menculikku dan membunuh Liam?!”


“Tidak” David menggeleng “Aku tidak tau tentang penculikan itu dan bagaimana Liam bisa mati. Tapi ada kemungkinan jika mereka terlibat karena sepertinya mereka mengincarmu Shia”


“Kau tau seorang pria bernama Alfa?” Tanya Shia. David mengerutkan keningnya merasa lalu menggeleng pelan hingga membuat Shia menghela nafas, dia tidak yakin dengan jawaban David.


Meskipun dia paham tentang dunia kotor para mafia yang dilakukan ayahnya namun dia yakin jika Alfa berbeda dengan Costa. Mereka memang mafia namun Shia yakin jika Cartel mereka berbeda atau mungkin bisa saja keduanya bermusuhan.


“Bisa kau melepaskanku Shia? Tanganku sepertinya mati rasa” David kembali duduk di sofa saat Shia sudah menjauh darinya, pria itu mengusap tangannya yang terasa sakit. David menatap Shia yang masih termenung, sepertinya gadis itu masih terkejut dengan fakta yang diterimanya.


“Sebaiknya kau memberitau Ace, Shia. Dia tunanganmu, dia berhak tau jika ada orang yang mengincar nyawamu”


“Mereka bukan mngincar nyawaku Dav..” Ucap Shia menggantung


‘Berita mengejutkan datang dari Pengusaha Robert Clarikson yang ditemukan tak bernyawa dengan tubuh yang dipenuhi luka tembakan pada pagi ini sekitar pukul 10.02. Polisi sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa dalang dibalik penembakan in-’​


David dengan cepat menatap ke arah Shia yang diam membatu. Mata coklat itu menatap intens pada layar televisi yang menampilkan sebuah mobil hitam yang berada dipinggir jalan yang dalam kondisi rusak parah. Mobil itu dipenuhi oleh lubang yang berasal dari sebuah peluru yang mendarat hingga….


BRAK!


“BRENGSEK! BERANINYA MEREKA MEMBUNUH ROBERT SEBELUM AKU YANG MELAKUKANNYA!!” Shia memaki geram tanpa menyadari air matanya mulai menetes


“Kau menangis, Shia..”


“Aku tidak menangis! Aku sangat membenci Robert hingga ingin membunuhnya. Aku menunggu waktu yang tepat tapi mereka dengan mudahnya... Ah, brengsek! Seharusnya aku sadar saat SXT itu menculikku! HAH, SIAL. BERANINYA DIA!!”


David terkejut ini pertama kalinya dia melihat sisi emosional Shia. Gadis tangguh itu menangis. Meskipun Shia tidak mengakuinya namun David sadar. Shia menangisi kematian ayahnya. Shia meletakkan alat komukasi di telinganya dan menelpon alex sambil mengusap pipinya kasar. Menghilangkan bekas air mata yang mengalir di pipinya.


“Periksa rekaman CCTV di sepanjang jalan yang Robert lalui sebelum kecelakaan itu!”

__ADS_1


“Sudah ku periksa, jaringan di sekitar sana mati setelah sebuah peluru menembak ban mobil Robert.”


“BRENGSEK!”


“Tenanglah Shia, aku akan menemukan penembak itu, jangan gegabah.”


“Penembak ya... Bagaimana jika ku tembak habis seluruh orang di cartel nya, Alex?”


“Apa yang mau kau lakukan, Shia?!”


“Apa lagi? Tentu saja membalas dendam!” Shia mematikan panggilannya lalu melangkah menuju kamarnya. Beberapa saat kemudian gadis itu keluar dengan tas besar dipinggungnya.


“Kau mau kemana, Shia?” Tanya David. Shia tersenyum lebar


“Menurutmu lebih baik ku ledakkan atau ku tembak satu per satu?” tanyanya dengan kepala sedikit miring ke kanan, seperti sedang memikirkan jawaban di antara dua pilihan itu.


“Jangan seperti ini Shia.“


“Kamu tidak menjawab pertanyaanku, David?”


David tersenyum pasrah. Shia kini di kendalikan oleh emosinya, pikiran gadis itu tidak bisa jernih dan tenang sekarang dan David yakin jika itu tidak akan mereda sebelum Shia menghabisi mereka.


“Bukankah aku harus menembak mereka satu per satu. Persis seperti yang mereka lakukan pada Robert” Shia meninggalkan David tanpa mau mendengar ucapan pria itu yang berusaha menghentikannya.


David mengacak rambutnya sambil berdecak. Dia segera menghubungi Ace, hanya pria itu yang dapat menghentikan Shia dari kegilaan nya “Shia akan membantai Cartel Costa”


“Maksudmu? Bagaimana dia pergi ke Columbia?”


“Sepertinya dia menggunakan helicopter yang kau berikan”


“****! Aku akan segera melacak keberadaannya.”


“Ya, tolong hentikan dia.”


--------------------


Shia menatap rombongan pria yang berada jauh di depannya. Ia membidik senapan panjangnya tepat di kepala seseorang yang Shia yakini sebagai atasan kelompok itu. mengunci targetnya yang saat ini bergerak memberikan perintah pada bawahannya.

__ADS_1


Sebuah peluru melesat mengenai kepala pria itu, diikuti peluru berikutnya yang juga melesat mengenai anak buahnya. Total ada 11 orang yang berhasil Shia tembak dalam waktu 1 menit meski dirinya dalam posisi sebagai sniper.


Shia meletakkan senapan itu di pundaknya. Menatap bengis para pria di bawah sana yang sudah bersimbah darah. Senyum lebar terukir di bibirnya, bukan senyum anggun seperti yang biasa gadis itu berikan namun sebuah senyuman mengerikan yang membuat lawannya lebih memilih mati bunuh diri. “Welcome back, Arshia Clarikson” gumamnya.


__ADS_2