
Shia mengusap wajahnya pelan, menghapus jejak air mata yang tersisa lalu beralih mengusap lengannya yang sudah mendingin. Terlalu lama di luar membuatnya mengigil.
Gadis itu melangkah kan kakinya meninggalkan taman yang dipenuhi mawar putih itu, menuju toilet yang berada di belakang Mansion. Dia tidak bisa masuk dan memperlihatkan wajah nya yang berantakan karena habis menangis.
“Shh” Shia mendesis pelan ketika pundaknya bertabrakan dengan seseorang. Cukup kuat hingga menyebabkan pundaknya terasa sakit mungkin memerah.
“Sorry, sir” Ucap Shia, dia menunduk menatap sepatu pantopel mengkilat yang menapaki lantai itu. Dia yakin pria yang ditabraknya itu adalah salah satu tamu Robert. Mungkin rekan bisnisnya?
“Angkat wajahmu!” suara datar seorang pria terdengar dengan nada memerintah. Shia mengabaikan pria itu, tipe bossy menurutnya dan Shia tidak menyukainya.
Baru hendak melangkah pergi, pria itu menarik tangan Shia. Memutar tubuhnya sehingga saling berhadapan. Netra coklat itu membelalak ketika melihat rupa pria itu.
“Kau?!” Ucapnya kaget
“Remember me?” Suara maskulin itu terdengar
“Liam?” Gumam Shia. Pria itu menyeringai membuat Shia tertegun, setelah sebulan akhirnya Shia bertemu lagi dengan pria itu, namun entah kenapa dia merasakan perbedaan yang sangat jauh.
“Kau bukan Liam, siapa kau?” Tanya Shia
“Lama tidak bertemu” ucap pria itu disertai dengan senyum tipis di bibirnya. Shia menatap bibir pria itu, ingatannya kembali saat malam sebelum pria itu pergi.
Bibir pria itu menyentuh bibirnya bahkan menciumnya dengan sangat agresif. Shia menegang tubuhnya terdiam namun gemetar, ia menatap seksama sosok di depannya, raut terkejut jelas nampak di wajahnya.
“Masih terkejut hmm?” tangan nya menyentuh ujung rambut Shia yang terkepang, memainkan rambut coklat panjang itu dengan gerakan memutar di jarinya mengabaikan keadaan Shia yang masih mematung dengan tatapan tak percaya.
“Apa kau tidak penasaran mengapa aku di sini, Shia?” tanya pria itu
“Nope, not my business” Jawab Shia setelah sadar dari keterkejutannya. Ingat dia sudah memiliki tunangan.
“Kenapa kau menggunakan gaun sialan ini!” Ucapnya kembali mengalihkan pembicaraan. Shia dapat mendengar pria itu berdesis dengan pandangan yang terarah pada bagian dada nya yang terekspos. Menyadari arah pandangan pria itu, Shia menepis tangan kekar itu kasar.
“Pervert!”
__ADS_1
Pria itu tertawa puas. Tawa yang sama seperti sebelumnya. Namun sekarang Shia tidak bisa memanggil pria itu dengan sebutan Liam lagi.
Pria itu menghentikan tawanya lalu beralih melepaskan jasnya dan memberikannya pada Shia. dia hendak membungkus pundak Shia yang terbuka. Namun tangan Shia menahannya
“Aku tidak membutuhkannya” Tolak Shia yang mengerti maksud pria itu.
“Kenapa? Kau ingin mempertontonkan tubuh mu di hadapan semua orang?” Ucapnya dengan suara dalam dan dingin.
“Aku bisa mengambil pakaian ganti di kamar. Ini mansion ku jika kau lupa”
“Kamar mu di lantai 2, kau akan melewati banyak orang dan tubuh mu tetap akan terlihat!”
“Dari mana kau tau kamar ku berada dilantai dua?” Tanya Shia
“Menebak.” Jawabnya singkat, Shia berdecak.
“Memangnya apa masalahmu dengan pakaianku!” ucap Shia, lama-lama dia kesal berbicara dengan pria ini.
“Gunakan!” Pria itu kembali menyerahkan jas nya namun lagi-lagi ditahan oleh Shia
Hawa di sekitarnya semakin mencekam. Tatapan Pria itu berubah datar dan tajam. Alarm tanda bahaya mulai berbunyi.
Pria tampan dengan manik biru itu melangkah mendekati Shia. Membuat gadis itu spontan mundur perlahan. Tingkah Shia membuat pria itu kembali mengulas senyum tipis yang sialnya terlihat menyeramkan dan menyilaukan bagi Shia. Ia terus maju hingga akhirnya punggung Shia menabrak dinding di belakangnya.
Tatapan Pria itu seolah menelanjanginya, ada amarah yang menyebabkan Shia terasa terbakar oleh tatapan itu.
“Aku harus pergi sekarang, tunangan ku menunggu” ucap Shia mulai tak nyaman. Shia hendak berjalan namun tangan Pria itu menutupi nya, Pria bermanik biru itu meletakkan kedua tangan nya di tembok. Mengurung Shia dalam kukungan nya.
“Bukankah kau selalu mencari ku, Shia?” Pria itu berucap dengan bibir yang hampir menempel di telinga Shia. Menoleh sedikit saja maka Shia yakin bibir pria itu akan mengenai wajahnya.
“Kau bahkan bertanya pada ibu ku” Ucapnya lagi yang membuat Shia menoleh dengan cepat. Gerakan itu membuat bibir keduanya bersentuhan, hanya sebentar namun mampu menghantarkan rasa tersengat pada bibirnya.
“Ibu mu?” Gumam Shia sambil menutup bibirnya, menghindari sentuhan pada bibir mereka untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
“Hmm” pria itu bergumam pelan dan rendah, Ia menatap intens pada wajah Shia.
Shia terdiam seingatnya dia tidak bertanya pada banyak orang, hanya Erika dan Lyran lalu siapa ibu yang pria ini maksud.
“Ace Hiddleton..” gumam Shia ketika mengingat bahwa satu-satunya sosok ibu yang dia tanyakan seputar pria itu adalah Mrs. Hiddleton. Seringaian lebar terlihat di wajah tampannya.
“Selamat datang di kehidupan ku, Arshia Clarikson” Ucap Ace serak dan sialnya terdengar sangat seksi di telinga Shia.
Shia terpaku, tidak dapat berkata-kata. Dia terlalu shock dengan fakta bahwa pria yang jatuh ke depan kap depan mobilnya dan didiagnosa amnesia sebulan yang lalu itu adalah putra pertama keluarga Hiddleton yang menurut kabarnya sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat.
Ace mendekat, tangannya melingkari pinggang Shia, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Nafas Ace menjadi tidak beraturan ketia Shia memberontak berusaha melepaskan pelukan mereka. Membuat otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih ketika tubuh mereka semakin bersentuhan karena gerakan yang Shia lakukan.
“Aww” Shia meringis ketika pria itu menggigit bagian atas dadanya. Spontan Shia mendorong Ace dan melotot tajam. Ace menjauhkan tubuhnya namun tidak melepaskan pelukannya.
“Apa yang kau lakukan, bastard!”
“Sekarang, tidak ada alasan bagi mu untuk menolak menggunakan jas milik ku” Ucapnya dengan senyum remeh.
Ace menatap ke arah dada Shia begitupun dengan Shia yang mengikuti arah pandangan Ace. Shia menatap bekas gigitan pria itu. Bercak kemerahan terlihat di kulit putihnya.
“Jerk!”
Ace hanya menyeringai dengan sombong, sebuah kebanggaan baginya meninggalkan tanda di tubuh Shia. “Pilihan ada dua, gunakan jas milik ku atau biarkan mereka melihat tanda ku di tubuh mu”
Shia berdecak. Ia mendorong Ace dan pelukan itu terlepas. Sepertinya Ace mememang sengaja melepaskan Shia.
Shia melepas kepangan rambutnya. Mengurai surai coklat itu untuk menutupi tanda yang Ace tinggalkan.
“I don’t need your help, jerk! And now we are just stranger!” Shia berjalan pergi menuju toilet, tujuannya sebelum bertemu dengan Ace. Sejujurnya dia tidak bermaksud mengatakan itu namun tingkah kurang ajar Ace membuatnya kesal bukan main.
Ace tersenyum kecil melihat tingkah Shia. “Kau bebas untuk sementara Shia dan setelah itu mari kita lihat apakah aku masih orang asing untukmu” gumamnya
Sepanjang perjalanan keluar dari Mansion Clarikson, senyum lebar selalu terlihat di bibirnya. Siapa yang menyangka jika niatnya yang ingin menghindari para wanita di dalam mansion itu justru membuatnya bertemu dengan gadisnya.
__ADS_1
Menemukan tempat yang tepat. Ace menyandarkan tubuhnya di tembok, ia meraih sebatang rokok dan menyalakannya. Hembusan asap disertai dengan seringaian tampak di wajah tampan itu, sepertinya sesuatu yang besar akan segera terjadi.