
Merasakan nafas Ace yang mengenai lehernya sudah teratur membuat Shia membuka matanya. Dia menatap tangan Ace yang membelit tubuhnya. Sejujurnya Shia sudah terjaga semenjak mendengar suara air dari kamar mandi, Ace membiarkan pintu kamar mandi terbuka hingga Shia terbangun.
Shia memejamkan matanya saat Ace keluar, alasannya karena dia tidak ingin melihat Ace yang baru selesai mandi dan tidak menggunakan pakaian, bagaimanapun dia seorang wanita yang tau sopan santun dan menjaga mata.
Namun Shia tidak mengerti kenapa dirinya terus berpura-pura tidur saat merasakan ranjang bergerak dan Ace terus meminta maaf padanya bahkan menyatakan cintanya.
Shia tidak tau apa yang terjadi, namun Shia yakin ada hal yang Ace sembunyikan dan itu menyangkut dirinya. Shia menghela nafas, dia kesulitan untuk berpikir. Manik coklat itu menatap pada Ace. Rambut pria itu basah dan Shia yakin pasti saat bangun nanti Ace merasakan sakit dikepala nya. Dengan gerakan perlahan Shia melepaskan tangan Ace yang melilit pinggangnya, takut membangunkan Ace yang sedang tertidur.
Shia maraih handphonenya yang berbunyi pelan, sebuah notifikasi pesan muncul di layar depan.
‘Pelakunya adalah orang terdekatmu’
Shia medengus, nomor tak dikenal itu mengirimi pesan asing padanya
TING. Notifikasi kedua terdengar.
‘Han mengetahui kebenarannya’
-SXT
Hanya itu isi pesan singkat yang dikirimkan oleh seseorang yang memberikan inisial SXT itu. Shia mengernyit, apa maksudnya Han mengetahui kebenarannya. Shia menyimpulkan jika itu bukanlah pesan iseng namun ada tujuan tertentu yang ingin disampaikan pengirimnya.
Setelah mengirimkan pesan pada Alex, Shia menuruni tangga menuju dapur, kerongkongannya terasa kering dan membutuhkan air. Saat menapaki anak tangga terakhir Shia mengerutkan dahinya bingung ketika melihat tetesan merah di lantai.
Shia mendengus acuh, dia melanjutkan langkahnya menuju dapur. Saat sedang meneguk air di dalam gelas, sebuah tangan membelit pinggangnya erat. Tanpa menolehpun Shia tau jika itu adalah Ace.
“Kukira kau pergi” Suara Ace terdenger serak. Pria itu terbangun dari tidurnya ketika tidak merasakan Shia di sisinya
“Memangnya pergi kemana?” Shia tertawa, dia membalik tubuhnya menatap Ace. Pria itu sekarang mengurungnya. Tangan Ace berada di sisi kiri dan kanan tubuh Shia. manik biru itu menggelap menatap Shia
“Aku tau kau akan pergi cepat atau lambat, Love”
__ADS_1
DEG
Keterdiaman Shia membuat wajah pria itu semakin mendingin. Ace semakin maju meghimpit tubuh Shia dalam sekali gerakan, Ace sudah mendudukan Shia di atas meja. Ace mencondongkan wajahnya hingga berada tepat didepan wajah Shia. Hidung keduanya bersentuhan. Shia dapat melihat manik biru itu menatapnya dalam. Shia juga baru sadar jika manik biru Ace ternyata lebih gelap dari sebelumnya, seperti bercampur dengan warna abu-abu.
“Kau berpikir terlalu banyak Ace, bagaimana bisa aku lari sedangkan kau menanamkan Chip di tubuhku” Ace menjauhkan wajahnya namun tidak dengan tubuhnya. Wajah tampan itu telihat sedikit gelisah, dia baru memasangkan chip itu kemarin saat Shia kembali ke mansionnya.
“Kau tau?”
“Aku bukan gadis bodoh Ace, kau tau itu”
Shia terkekeh kecil, Dia tidak masalah dengan chip itu karena dia bisa meminta Alex untuk me-nonaktifkan chip yang Ace pasang di tangannya. jika dia ingin lari dan Ace tidak bisa menemukan nya, tapi Shia masih memikirkannya. Semua perasaan yang Shia rasakan saat bersama Ace itu bukanlah Semu, itu nyata jantungnya berdetak dengan kencang seperti saat dirinya memenangkan kejuaraan drifting pertama. Detakan jantungnya sangat keras, seperti sekarang saat bibir Ace mendarat di bibirnya. Hanya kecupan singkat namun mampu mengantarkan perasaan Ace yang mendalam.
Cinta. Damba dan kekhawatiran yang besar.
Shia terdiam kaku. Ace menjauhkan wajahnya dan mundur selangkah.
“Apa kau mencintaiku Shia, aku sebagai Ace Hiddleton bukan pria amnesia bernama Liam yang bersamamu?” Tanya Ace membuat Shia terdiam kaku. Pikiran Shia terhenti, apakah dia masih menganggap Ace sebagai pengganti Liam seperti sebelumnya? Atau dia memang mencintai pria didepannya.
Shia menciumnya. Benda basah itu bergerak di bibirnya. Shia melepaskan tangannya dari leher Ace saat menyadari tatapan pria itu yang semakin berbahaya.
“Belakangan ini kau semakin nakal” Ace bersmirk lalu menerjang Shia. mencium bibir itu dalam. Ciuman itu cukup lama dan semakin panas. Shia bahkan tidak sadar saat Ace menggendong tubuhnya dan membawanya menuju lantai atas.
Ace menjatuhkan Shia pada kasur. Tangan pria itu bermain semakin jauh, meraba perut rata Shia dan mengusapnya.
“Ja-Jangan hmp” Shia membelakakan matanya dan mendorong Ace. Ace melepaskan ciuman mereka, benang saliva terjalin di antara kedua bibir yang terbuka itu. Melihat bibir Shia yang merah dan membengkak itu membuat mata Ace berkilat
“Jangan pernah pergi dariku, apapun yang terjadi, Love!” Nafas Shia memburu, dia menatap wajah Ace yang menatapnya dengan serius. Sorot mata itu membuat Shia tidak bisa terpaku. Meskipun nadanya datar dan memerintah namun manik biru itu sedang memohon padanya. Memohon pada Shia untuk tidak meninggalkannya atau pergi dari sisinya.
“Jika aku bilang ‘ya’ apakah kau akan percaya” Shia tersenyum tipis membuat Ace tertegun. Tidak mungkin Shia pergi saat saat dia sudah menganggap Ace sebagai dunianya sendiri.
-------------
__ADS_1
Seorang pria melangkah dengan arogan menuruni sebuah mobil hitam, bibir itu mengulas senyum tipis lalu menapakan kakinya, para penjaga di sisi kiri dan kanan pria itu menunduk hormat, bisa ditebak jika dia memiliki kekuasaan yang besar.
“Selamat datang Tuan” Seorang pelayan menyapa sosok pria yang baru saja melangkah menuju kediamannya yang mewah
“Dia sudah datang?” Suara berat itu terdengar
“Sudah Tuan. Tamu anda sudah menunggu”
Pria itu hanya berdehem. Ia melangkah hingga sampai pada sebuah ruangan, ia membukanya dan melangkah masuk dengan tegas.
“Duduklah Xin”
Pria bernama Xin itu kembali duduk, matanya menatap sosok pria yang berjalan mendekatinya
“Apa yang dibutuhkan tuan SXT kali ini?”
“Culik seorang wanita bernama Arshia Clarikson” Pria itu duduk di sofa single berwarna hitam, kakinya terangkat bertopang pada kaki satunya.
“Arshia? Bukankah dia tunangan Ace Hiddleton?”
“Ya”
“Kupikir kau tidak akan bermain licik”
“Dia kelemahan Ace” Jawabnya membuat Xin tersenyum tipis
“Biar ku tebak, pionmu sudah musah kan?” Tanya Xin dengen kekehan kecil, pria yang disebut tuan SXT itu tersenyum miring
“Lagipula dia sudah tidak berguna lagi”
“Kalau begitu aku pergi sekarang”
__ADS_1
Pria itu mengangguk, Xin pergi menyisakan sosok pria tampan itu sendirian di dalam ruangan mewah itu.