
Pukul 2 dini hari, Ace menatap Shia yang terbarimg dipelukannya. Tanpa bisa di tahan bibirnya mengulas tersenyum lebar. Rencananya untuk membuat Shia menyerah akhirnya berhasil. Gadis itu sudah berada di pelukannya.
Ace sengaja memarahi Shia dan mengancam gadis itu. jika kalian ingin tau, Ace sudah mengetaui di mana Shia berada dan apa yang Shia lalukan setelah pergi dari mansion. Ace bahkan tau jika Shia bertemu dengan Max dan Erika bahkan hingga menuju Makam Reliam Walker yang Ace tau sebagai sahabat kecil Shia.
Ace bangun dari ranjang. Dia mengusap rambut Shia lalu keluar dari kamar itu. Pria dengan manik biru itu menuju ruang kerjanya, memeriksa dokumen berisikan laporan pasar gelap yang berasal dari ayahnya hingga deringan telpon membuat fokus Ace terpecah.
“Ada apa, dad?” Tanya Ace pada Jack Hiddleton, sang penelpon.
“Aku mengirimkan hadiah untukmu, son”
“Hadiah apa?”
“Lihat sendiri nanti, dalam 20 menit hadiahmu akan tiba”
Jack mematikan telponnya. Ace tentu saja mengerti dengan kata ‘hadiah’ yang ayahnya berikan. Membayangkan itu membuat Ace tersenyum tipis, ayahnya semakin mengerikan saja.
Ace kembali pada berkas di mejanya. Hampir setengah jam kemudian suara ketukan dan pintu ruang kerja yang terbuka membuat Ace menoleh. Dua orang pria bertubuh tegap datang dengan menyeret seorang pria yang terlihat berantakan.
Ace mendekat kearah pria yang kini sudah dibuat berlutut oleh anak buahnya.
“Han, senang melihatmu disini. Kukira kau tidak akan bisa bebas dari hukuman ayah” Ace menebarkan senyumnya apalagi saat melihat pakaian Han yang nyaris tertutupi darah namun tidak dengan wajah pria itu yang kini tidak menggunakan kacamata kerjanya. Wajah Han masih mulus, membuat Ace ingin membuat ukiran indah di sana. Jadi ini hadiah yang ayahnya tadi maksud.
Han hanya menatap Ace yang tersenyum. Ia tau jika senyuman itu akan membuatnya kehilangan nyawa. Jika sebelumnya dia berhadapan dengan Jack yang masih memiliki belas kasihan maka kali ini dia dihadapkan dengan putranya, Ace Hiddleton seorang yang tak memiliki belas kasih sedikitpun pada lawannya.
“Tu-tuan, aku mohon maafkan aku” Han meminta maaf dengan memelas.
__ADS_1
“Tuan…” Ace mengucapkan kata itu dengan nada menggantung
“Aku pikir kau lupa tapi aku bukan tuanmu. Tuanmu adalah ayahku, ah tapi sepertinya sudah tidak lagi. Ayahku bahkan memberikanmu padaku sebagai hadiah.” sambungnya. Ace meraih cutter kecil disakunya lalu berjongkok tepat dihadapan Han. Dia akan memulai hobinya di bidang seni.
Pria yang lebih tua 6 tahun dari Ace itu memelas, manik matanya berkaca-kaca dengan kepala yang menggeleng heboh ketika Ace berusaha mendekatkan cutter itu ke lehernya.
“jangan banyak bergerak, kau melukai dirimu sendiri” ucap Ace ketika cutter itu secara tidak sengaja menggores leher Han. Oh tidak, Ace sengaja menggoreskan cutter itu.
“A-ampuni aku.” Han memberontak, anak buah Ace kelepasan namun bukannya menyerang Han justru memeluk kaki Ace. “Tuan Muda ku mohon maafkan aku. Ampuni aku..”
“Apakah pria sepertimu bisa mendapatkan pengampunan?” Ace menyentakkan tangan Han yang memeluk kakinya. Tanpa perasaan hingga membuat Han meringis saat tubuhnya berbenturan dengan dinding.
“Biar ku ingatkan jika kau lupa. Kau menggelapkan dana perusahaan 6,3 Triliun, Kau juga menyabotase pesawat milikku dan menjadikan Dean tumbalmu bahkan kau mematai-mataiku sampai ke pasar gelap, benar bukan?” Ace menyeringai membuat Han terdiam, dia tidak menyangka jika Ace mengetahui semuanya
“Aku jadi curiga apa kau juga pelaku pengeboman di pasar gelap itu”
“Hah. kau bahkan tidak menyadari posisimu sekarang Han”
“Menurut mu apa yang akan Arshia lakukan saat tau kaulah orang yang membunuh Reliam Walker“ ucap Han yang mempu membuat Ace mengepalkan tangannya. sepertinya Han sudah menyerah untuk memohon pada Ace dan memutuskan untuk mempercepat kematiannya
“Kau baru saja membuang kesempatan hidupmu, Han” Ace mendongakkan wajah Han, dia memainkan lagi cutter itu. Bukan pada leher namun pada wajah Han. Membuat bentuk abstrak hingga Han meringis
“D-dia akan membalasmu Ace”
“Dia? Ah apa dia orang yang berada di belakangmu, Pemimpin mafia Costa itu”
__ADS_1
“K-kau akan kehilangan milikmu Ace, dia akan membuat Arshia meninggalkanmu” Han berucap lemah namun ucapannya justru menyulut emosi Ace, Manik itu biru itu berkilat marah sebelum berubah menjadi warna abu-abu yang pekat dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Han terkekeh di sela rasa sakitnya.
“Akhirnya kau muncul juga, Alfa” Ucap Han dengan nafas yang melemah
Ace, ah tidak Alfa menusuk tubuh Han tepat di titik vitalnya. Darah menyebur keluar mengenai wajah Alfa. Manik abu-abu semakin memancarkan hawa membunuh yang kental. Bahkan kedua anak buahnya yang berada di ruangan yang sama menahan kaki mereka yang nyaris luruh di lantai.
“AKHH” Tusukan terakhir yang Alfa berikan beserta ringisan Han menjadi saksi betapa kejamnya Alfa menghabisi lawannya.
“Lemah” Alfa bersmirik lalu menendang tubuh Han menjauh. Membiarkan tubuh itu berhamburan tak berbentuk lagi.
--------------------
Alfa keluar dari kamar mandi setelah membersihkan darah Han yang mengenainya. Manik abu-abu itu menatap Shia yang tidur memunggunginya. Dia menghembuskan nafasnya pelan lalu memejamkan matanya, saat kedua mata itu terbuka terlihat manik biru laut yang menatap Shia dengan sendu. Ace Hiddleton duduk di pinggir ranjang dan mengusap rambut Shia dengan lembut
“Maafkan Aku” Gumamnya
Alfa adalah samaranya di dunia bawah, dunia bagi para kelompok mafia dan segala macam jenis kegiatan ilegal. Sejak usia 13 tahun Ace sudah menjajahi dunia mafia dengan tuntunan Ayahnya, Jack hiddleton. Banyak yang membayar mahal pada kelompok yang dipimpinnya untuk melakukan misi dan salah satu misinya adalah membunuh Theodore Walker, yang Alfa tau sebagai Ayah dari Reliam Walker, seorang atlet drift yang menjadi sahabat Arshia Clarikson. Dan orang yang menyuruh Alfa melakukannya adalah Robert Clarikson. Alfa juga tau jika Theodore juga salah satu bawahan ayahnya yang pernah berkhianat hingga Alfa langsung menyetujui permintaan Robert.
Namun sayangnya anak buahnya melakukan kesalahan. Mereka menculik Reliam untuk memancing Theodore. Bukan hanya Theodre, Arshia juga ada di insiden penculikan itu. Hingga sebuah peluru tanpa sengaja mengarah pada Arshia, Reliam yang melihat itu langsung melindungi Shia.
Peluru itu menembus dada Reliam hingga lelaki itu meregang nyawa. Alfa yang berada tak jauh dari sana melihat dengan jelas bagaimana Shia menangis dan berteriak. Itu adalah kesalahan pertama dan satu-satunya yang Alfa lakukan selama menjadi pemimpin para Mafia.
Theodore dan Reliam dinyatakan meninggal. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Robert untuk mengambil alih bisnis keluarga Walker dan Arshia, putri tunggalnya memilih pergi dari rumah. Alfa tidak lagi tau apa masalah dalam keluarga mereka karena pria itu lebih fokus pada dunianya. Satu kesalahan tidak memiliki dampak apa-apa karena misinya sudah selesai untuk membunuh Theodore meskipun ada satu nyawa tambahan yang ikut bersamanya.
Dan saat ini Ace menyesali tidakannya. Ace tau dirinya egois karena menahan Shia dan menginginkan gadis itu untuk dirinya sendiri meskipun di sisi lain dialah yang melenyapkan cahaya Shia saat gadis itu masih kecil.
__ADS_1
“Ini memang akan sulit. Tapi kuharap kau tak akan pernah meninggalkanku, Aku mencintaimu Shia” Ace mengecup kening Shia lalu merengkuh Shia dari belakang. Tangannya membelit pinggang Shia dengan kepala yang berada di pundak Shia.
“Aku sangat mencintaimu, Shia. Maafkan aku.” Ace benar-benar menyesal. Dulu dia tidak menyesali tindakannya namun kini memikirkan Shia menatap benci kepadanya saja Ace tidak bisa apalagi jika Shia sampai meninggalkannya karena Ace tau, tujuan hidup Shia adalah untuk membalaskan dendam Reliam Walker.