
Shia menghela nafas, sudah dua hari dia tidak menemukan Lina, sosok pelayan yang mengatakan dirinya sebagai kakak tiri Liam. Ucapan Lina terlintas di pikirannya, sebenarnya siapa Lina sehingga dia dapat mengatakan jika kecelakaan yang Liam alami adalah pembunuhan.
Shia terdiam menatap langit-langit kamar, Alfa mengatakan jika dia memiliki urusan jadi saat ini pria itu tidak berada di Mansion ini. Setelah berpikir sejenak, Shia turun dari ranjang dan melangkah menuju lantai tiga dia harus membuktikan ucapan Lina.
“Sayap kanan, pintu hitam” Shai melangkah mendekati pintu itu. Pintu itu terkunci dengan sidik jari yang Shia yakin jika itu adalah sidik jari itu adalah milik Alfa.
Tangan Shia beralih ke alat itu, menekan tombol-tombol yang berada di sana hingga..
Cklek
“yah rusak” Gumamnya dengan Seringaian lebar. Shia merusak sistem keamanan ruang itu, meskipun harus Shia akui sedikit sulit membobol keamanan yang menggunakan sidik jari sebagai kuncinya. Shia mentap ruangan itu sejenak, tidak ada yang spesial di bagian dalamnya, hanya terlihat seperti ruang kerja.
Shia masuk dan melangkah ke meja. Ia melihat-lihat semua dokumen yang ada di sana lalu mengangkat sebuah berkas, matanya menyipit ketika melihat banyaknya foto dirinya yang diambil secara diam-diam berserakan di meja pria itu.
Merasa ada yang tidak beres. Shia membuka laci meja itu, membuka semua dokumen yang ada di sana.
“Tidak. Ini tidak mungkin!” Shia menolak percaya. Tapi otaknya tidak bisa berhenti berpikir ketika bukti sudah jelas didepan matanya. Jadi ini yang Lina maksud…
“Alfa adalah orang yang membunuh Liam..” Gumamnya tak percaya. Shia meletakan dokumen itu kembali, tatapan Shia terlihat rumit. Dokumen itu berisi data diri Liam dan sebuah misi untuk membunuh Reliam Walker.
Suara pintu terbuka sontak membuat Shia menoleh. Sosok Alfa kini tengah menatapnya dengan tubuh yang bersandar pada pintu. Menutup akses keluar dari ruangan itu.
“Tidak kusangka setelah ku biarkan keliling mansion kau malah membobol ruang kerjaku” Pria itu menampakan smirknya lalu menyeringai lebar. Ia bertepuk tangan dengan tempo lambat. Manik abu-abu itu menatap Shia yang juga menatap ke arahnya, lagi-lagi Alfa dapat melihat jika manik itu menatapnya dengan penuh kebencian
“Ada apa denganmu Shia? matamu mengatakan jika ingin membunuhku”
Shia masih diam, dalam hati dia mengiyakan ucapan Alfa. Shia memang sangat ingin membunuh Alfa setelah mengetahui kebenarannya, namun dia yakin jika dia melakukan itu maka Shia tidak akan bisa keluar dari mansion ini.
“Shia”
__ADS_1
“Jangan mendekat” nada bicara Shia menjadi dingin, dia menjauhkan diri dari Alfa yang melangkah mendekatinya.
“Kau kenapa?” Shia mengerjab, dia tersenyum tipis lalu melangkah mendekati Alfa.
Shia berdiri tepat di depan Alfa, manik coklat dan abu-abu itu bertemu hingga akhirnya Alfa mematung dengan apa yang Shia lakukan, setelah berucap dengan nada dingin, untuk pertama kalinya Shia berinisiatif memeluknya.
Sayangnya kesenangan Alfa harus berakhir dalam hitungan detik karena setelah itu Shia langsung memukul tekuk pria itu hingga dia tak sadarkan diri.
Shia menampakan smirknya lalu keluar dari ruangan itu dengan cepat,
“Help me please! Ada seorang penyusup di lantai tiga, dia menyerang Alfa!” Shia berteriak lalu bersembunyi di balik tembok. Dia tersenyum tipis ketika para bawahan Alfa langsung berlari keatas, kesempatan itu Shia gunakan untuk keluar dari mansion dengan mengendap-endap. Di tangannya terdapat sebuah kalung yang akan Shia jual, Shia tidak sebodoh itu untuk merencanakan pelarian diri tanpa persiapan apapun.
Sebuah mobil sport berwarna hitam terparkir di depan Mansion. Tanpa menunda Shia masuk ke dalam mobil itu. Ia melajukan mobil menuju gerbang putih yang menjadi pembatas mansion itu.
“Buka gerbangnya atau ku tabrak!” Ucap Shia, seorang penjaga di sana meringis, dia bingung harus melakukan apa. Jika dia membuka gerbang itu maka Alfa akan tidak akan membiarkannya dan jika tidak, maka Shia akan terluka karena menabrakkan mobil itu pada gerbang dan dia yakin jika Shia terluka maka Alfa akan langsung membunuh dirinya.
“Atau ku ledakkan saja gerbangnya” Ucap Shia setelah melihat sebuah bom rakitan di tengah mobil itu, Sekarang Shia yakin jika mobil itu adalah mobil hitam yang Alfa biasa gunakan.
“KAU!” Shia berdesis
“Kau pikir bisa membuatku tumbang hanya dengan pukulan itu, Sweety” Alfa berucap dengan nada mengejek. Suara gerbang yang terbuka membuat Shia menatap ke depan lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Alfa dibelakangnya.
“Sebenarnya ini dimana?” Gumam Shia, 20 Menit sudah Shia melajukan mobilnya, namun dia tidak juga menemukan jalan raya. Hanya ada jalan setapak yang dijejeri oleh rindangnya pepohon yang dia lalui.
Shia menghentikan mobilnya, saat bahan bakar mobil itu hampir menipis. Dia keluar dan melihat sekitar, suara motor mendekat membuat Shia menoleh. Alfa datang dengan motor hitamnya. Harus Shia akui pria itu semakin terlihat mempesona jika mengendarai motor, sungguh menyilaukan.
“Butuh bantuan, Sweety” Ucapnya
“Don’t call me Sweety!” geram Shia. Alfa tertawa, suara tawa yang mampu membuat Shia semakin kesal
__ADS_1
“Oke..oke, jadi kemana kamu akan pergi?” tanya Alfa, Shia mengerutkan keningnya bingung. Ini tidak seperti Alfa biasanya, Alfa tidak akan membiarkannya pergi seenaknya.
“Ah, aku membebaskanmu” Ucap Alfa lagi yang makin membuat Shia bingung.
“Kau bercanda?”
“Kau pasti merindukan keluarga mu kan, sekarang kau bebas” Ucapnya. Shia terdiam, Alfa bilang akan membebaskannya namun Shia tidak tau apakah dia harus senang atau tidak sekarang, ini aneh untuknya.
“Aku akan mengantarmu ke bandara, ikuti aku” Pria itu menyalakan motornya, Shia masuk ke dalam mobil meskipun masih dalam keadaan tak percaya jika Alfa melepaskannya begitu saja. Bukan tanpa alasan Shia berpikir demikian, karena selama ini Alfa bahkan tidak mengizinkannya keluar kamar lalu dengan tiba-tiba pria itu membiarkannya untuk pergi, bukankah ini aneh.
Hampir satu jam mereka berkendara dengan Shia yang mengikuti Alfa dari belakang. Alfa menepati ucapannya, dia mengantar Shia ke bandara bahkan pria itu sudah membelikan sebuah tiket pesawat menuju Amerika. Tentu saja hal itu membuat Shia terkejut, Alfa sudah menyiapkan kepergiannya.
“Beware Sweety, aku akan merindukan mu” Pria itu mengusap pelan kepala Shia, Shia bisa melihat pria itu tersenyum dibalik maskernya, mata pria itu menyipit setelahnya Alfa berbalik menatap punggu Shia yang mulai menghilang di balik lorong.
“Kau membiarkannya pergi begitu saja, tumben” Ucap Max yang tiba-tiba muncul begitu saja. Alfa tersenyum tipis.
“Aku akan membawanya kembali setelah kumpulan tikus di mansion itu lenyap”
“Sudah ku duga kau sengaja melakukannya, ngomong-ngomong apa kali ini Costa lagi?”
“Menurutmu?”
“Sebenarnya siapa sih pemimpin Costa itu? kenapa selalu mencari masalah denganmu?”
“Siapapun dia yang jelas pria itu hanya seorang pengecut yang bersembunyi dibelakang panggung”
“Bukannya itu dirimu, pemimpin yang bersembunyi di balik maskernya” Alfa menatap Max, tangan pria itu terangkat melepaskan masker hitamnya, membuat wajah tampan itu terlihat sepenuhnya.
“Aku hampir lupa jika wajahmu itu seperti pahatan” Gumam Max
__ADS_1
“Sekarang kau mengingatnya” Alfa melemparkan sebuah kunci mobil pada Max “bawa mobilku kembali ke mansion, dan pastikan kau meledakan bom itu di tempat yang tepat” Alfa menampakkan smirknya pada Max, membuat pria itu bergindik ngeri.
Kalo suka cerita ini jangan lupa Like, Komen dan Votenya yaa kakak-kakak sekalian❤️