Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Fourty Six


__ADS_3

Sinar matahari pagi ini begitu menghangatkan. Shia mengulas senyum tipis. Dia masih terbaring diatas ranjang dengan Ace yang memeluknya erat. Tangan Shia bermain di wajah Ace, menyentuh hidung Ace yang seperti perosotan. Dengan iseng Shia mengepit hidung Ace membuat pria itu tidak bisa bernafas dengan benar.


“Kau ingin membunuhku, Sweety” Shia tertawa kecil, manik biru itu menatapnya sayu. Tangan kekar itu meraih tangan Shia dalam genggamannya


“Selamat pagi” Shia mengecup singkat pipi Ace membuat pria itu tertegun. Dia tidak menyangka paginya akan seindah ini. Melihat keterdiaman Ace, Shia tertawa kecil.


“Aku baru sadar panggilanmu berubah” ucap Shia lagi


“Jadi, kau lebih suka ku panggil ‘Love’?” Ace tersenyum miring


“Menggelikan”


“Ngomong-ngomong bagaimana kita memulai hari ini, Love?”


“Mandi, makan, tidur” Jawab Shia singkat, gadis itu melepaskan pelukan Ace pada tubuhnya dan bangkit dari ranjang.


“Wow, kegiatan yang produktif sekali” Ace bertepuk tangan, pria itu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dan menatap kea rah Shia yang membelakanginya.


Shia menatap bayangan dirinya pada cermin lalu mendengus keras, Ace yang menyadari itu melebarkan senyumnya saat menyadari hal yang membuat Shia kesal.


“Bukankah mahakaryaku indah, Love?”


“Mahakarya kepalamu!”


“Itukan aku yang membuatnya, jadi jelas itu sebuah mahakarya, Love” Shia berdecih, Gilanya Ace kumat lagi.


“Jika ini mahakarya harusnya kau pajangkan di museum atau berikan juga pada wanita lain, mereka pasti akan membelinya dengan harga mahal”


“Ide bagus, Love. Kira-kira berapa banyak mereka akan membayar untuk mahakarya itu, Love?”


“lebih dari 2 juta dollar mungkin” Shia mengangkat bahunya acuh namun respon yang Ace berikan selanjutnya mampu membuat Shia terdiam


“Akan kupikirkan lagi, Love”


Ace menahan senyumnya yang nyaris terbit melihat raut wajah Shia yang sedikit takut. Ace langsung turun dari ranjang dan mendekat.


“Aww” Shia meringis sakit, dia baru menyadari Ace sudah berada di hadapannya dan menggigit pipinya.


“Ah, manisnya istriku ini” Ace mengusap pipi Shia, Ace mengigitnya lumayan kuat sehingga gigitan itu meninggalkan bekas di sana.


“Nah aku sudah membuat mahakarya baru, jadi bayar aku sekarang”

__ADS_1


“Kubilang wanita lain bukan aku”


“Tapi aku tidak ingin wanita lain, Love” Shia terdiam, Ace menatapnya lekat. Sekilas ada kilatan di mata biru yang menatapnya penuh arti.


“Oh ya, k-kau akan telat ke kantor Ace” Shia memalingkan wajahnya jujur saja ditatap begitu intens oleh seorang pria yang kau cintai sangat mendebarkan. Belum lagi rupanya yang sangat tampan itu mampu membuat jantung Shia nyaris meledak rasanya


Melihat sosok Shia yang salah tingkah didepannya membuat Ace tertawa geli “Rasanya aku tidak ingin ke kantor, Love” Ace memeluk Shia dari samping kepalanya berada dipundak Shia, matanya menatap ke wajah Shia.


“Kenapa? Kau takut aku lari saat kau pergi ke kantor?!” Shia bertanya dengan mata yang menyorot Ace sinis, apa mungkin Ace mengetahui rencana Shia saat Ace pergi?


“Bukan, Love. Aku hanya tidak ingin jauh darimu” Ace semakin mengeratkan pelukannya pada Shia


“Ke kantor Ace! Aku tidak ingin memiliki suami pengangguran yang kerjanya hanya dirumah!”


“Ah, manisnya. Mendengarmu menyebut suami jadi membuatku ingin langsung menikahimu, Love. Tapi kau tidak lupa kan Love, jika aku boss nya”


“Ace… aku hanya akan bertemu dengan Alex nanti, kau taukan sepupuku yang tinggal di Canada. Dia berada di sini sejak kemarin” Akhirnya Shia mengatakan alasannya menginginkan Ace ke kantor.


“Aku senang kau mengatakannya padaku, love” Shia menghela nafas, benar dugaanya Ace sedang membuatnya untuk berkata jujur.


“Aku mengizinknmu menemuinya dengan satu syarat..” Ace sengaja menggantung kalimatnya.


“Cium aku”


CUP


Shia mengecup singkat bibir Ace.


“Ciuman, Love, bukan kecupan” Sahut Ace tak terima.


“memang apa bedanya” Shia menaikan bahunya, mendorong Ace agar tidak lagi bersandar padanya.


“Jangan bersandar di bahuku lagi, kau ber-ummg”


Ucapan Shia terpotong karena Ace mencium bibirnya. Tangan pria itu meraih tekuk Shia untuk memperdalam ciumannya. Mata keduanya terpejam, ciuman di pagi hari yang sangat mendebarkan bagi Shia, nafasnya memburu bersamaan dengan Ace yang melepaskan ciuman mereka


“bagaimana ini, Love sepertinya aku tidak ingin ke kantor” ucap Ace enteng


“ACE!” Shia mendorong Ace dengan geram, bukan tanpa alasan dia menginginkan Ace pergi ke kantor. Karena hanya saat itulah Shia memiliki waktu bebas untuk menjalankan rencananya.


“Baiklah, Love. Aku hanya bercanda” Meskipun enggan pada akhirnya Ace tetap pergi ke kantornya karena wajah geram yang membuat Ace menurut. Namun bukan berarti Ace akan melepaskan pengawasannya terhadap Shia.

__ADS_1


----------------


Sportcar putih yang Shia kendarai berhenti di kawasan perkotaan, dia memarkirkan mobilnya lalu berjalanmenuju sebuah café yang tak ramai. Shia masuk ke dalam café lalu duduk di hadapan seorang pria berambut gondrong dengan kacamata bulat tebal.


“Samaranmu menggelikan, Alex” ucap Shia dengan nada mengejek


“Aku sedang memerankan mahasiswa kutu buku” Jawab Alex


“Jadi apa yang kau dapat?”


Alex menyerahkan selembar kertas pada Shia. gadis itu meraihnya lalu membacanya.


“Columbia?”


“Ya, alamat IP terakhir orang yang mengirimimu pesan itu berada di Columbia”


Suara deringan telpon membuat keduanya terdiam. SXT menghubunginya


“Angkat dan tanyakan maksudnya” Ucap Alex


“Pengecut!” Alex membelakkan matanya, kata itu yang pertama kali Shia ucapkan setelah panggilannya dengan sosok SXT itu terhubung. Tanpa menunggu respon SXT, Shia mematikan panggilannya.


Alex masih terdiam. Shia menyeruput kopinya. Tangannya terulur kearah Alex “Bisa kau non-aktifkan chip ini”


“Kau menyadarinya?”


“Menurutmu mengapa aku mengatakan SXT itu pengecut?” Shia bertanya balik


“Karena dia menyuruh orang untuk mengikutimu”


“Benar” Shia tersenyum tipis yang dibalasi smirk Alex, image laki-laki kutu buku lenyap begitu saja saat dia melepaskan kacamata dengan frame tebal itu. Dari gelas keca di atas meja Alex bisa melihat 2 orang pria yang mengintai mereka. Oh tidak, lebih tepatnya mengincar Shia.


Hampir 10 menit keduanya hanya diam di dalam café itu. Alex bersmirk lalu menekan tombol delete pada laptopnya. TING! Suara itu berasal dari chip yang berada di tangan Shia.


“sudah selesai, semoga kau selamat dari Ace Hiddleton yang akan menggila” Shia mendengus. Alex kembali menggunakan kacamatanya dan pergi dari sana.


Selesai minum, Shia segera berdiri dengan meninggalkan beberapa lembar uang di meja. Dia berjalan keluar dari café itu, Shia sengaja melalui jalan yang lebih sepi dan berbeda dari arahnya menuju café. Hingga dua orang pria menghalangi jalan Shia.


Dua orang itu mendekati Shia dengan tangan yang memegang suntikan berisi bius yang bisa membuatnya hilang kesadaran


“Yah, sepertinya Ace akan menggila setelah ini” belum sempat kedua orang itu menyentuh Shia, dari arah belakang seseorang terlebih dahulu menutup hidung dan mulutnya menggunakan kain yang Shia yakin sudah diberikan obat bius.

__ADS_1


__ADS_2