Beware Of Mr. Amnesia

Beware Of Mr. Amnesia
Thirty Three : He is the boss


__ADS_3

Shia menatap pemandangan dibalik jendela kamarnya, malam ini langit sedang dipenuhi dengan bintang-bintang, sangat cantik dan indah untuk dinikmati jika saja Shia bisa berada di tengah lapangan yang luas, tidak terkurung di dalam kamar mewah yang bagaikan penjara ini.


“Nona..” Shia menoleh, Lina memasuki kamarnya


“Apa lagi yang ingin kau inginkan?”


“Hustt..” Shia terdiam, Lina mengarahkan telunjuk pada bibirnya,


“Kim, apa yang kau lakukan di kamar nona Shia?” Tanya Bela, Wanita itu masuk di saat yang tidak tepat.


“Nona Shia meminta saya menyiapkan air untuk mandi, kepala pelayan Bela” Ucap Lina sambil tersenyum tipis. Shia mendengus, kebohongannya natural sekali.


“Anda ingin mandi malam-malam begini, nona?” Tanya Bela


“Aku merasa gerah” Sambung Shia menyempurnakan kebohongan Lina.


“Anda bisa memanggil saya nona, Kim ditugaskan untuk bagian dapur bukan sebagai pelayan pribadi” Jelas Bela


“Memangnya tidak boleh jika aku ingin dia yang melayaniku” Tungkas Shia


Bela menghela nafas pelan, ia menatap Kim dengan sorot datar “Tuangkan air hangat untuk nona mandi, tidak perlu menuangkan sabun di dalamnya, cukup siapkan jubah mandi nona setelah itu kamu menunggu diluar, kamu tidak perlu melakukan apapun jika nona sudah berada di dalam kamar mandi” Jelas Bela, Shia tersenyum tipis, Bela memang pantas diberikan pangkat sebagai kepala pelayan dengan pekerjaannya, wanita itu sangat kompeten.


“Baik, Kepala pelayan Bela” jawab Kim


Bela pamit, tatapan Shia kembali pada Lina. Wanita itu menutup pintu kamar Shia lalu melangkah mendekat.


“Kau penipu yang handal”


“Dan anda kaki tangan penipu itu, nona” Shia menampilkan smirknya, ini menyenangkan untuknya memecahkan rahasia apa yang disembunyikan oleh Lina, sifat Lina yang mudah berkamuflase itu sangat menantang baginya.


“Jadi bisa katakan apa maksud ucapanmu tadi pagi?”


“Apakah anda tidak ingin mandi dulu nona” Goda Lina


“Mungkin kau yang akan mandi setelah ini, mandi darah maksudnya”


“Anda sangat menarik nona” Lina tertawa kecil membuat Shia mendengus


“Jika kau hanya ingin membuang waktuku silahkan pergi” Ucap Shia lugas, meskipun baginya ini menarik namun Shia tidak suka berbasa-basi.


“Anda yakin? Padahal saya bisa memberitau siapa pelaku yang membunuh Liam” Ucap Lina sambil mendudukan diri di sofa tempat Alfa biasa duduk.


Shia ikut mendudukan diri di sofa yang berhadapan dengan Lina. Netra coklatnya memindai Lina penuh dengan selidik.


“Sepertinya kau salah orang” Ucap Shia


“Reliam Walker” Gumam Lina, Pandangan Shia menajam ketika nama itu diucapkan oleh Lina


“Dia bukan meninggal karena kecelakaan tapi dibunuh” Lanjut Lina membuat Shia mengepalkan tangannya

__ADS_1


“Jika kau hanya mengucapkan omong kosong lebih baik kau keluar Lina”


“Anda akan menyesal nona, saya mengenal Reliam”


“How?”


“Anggap saja dia adik tiriku”


“Adik?” Shia terdiam, otaknya kosong untuk sementara. Lina, kakak tiri Liam? Hah, selama belasan tahun bersama Liam, dia tidak pernah tau jika Liam memiliki seorang kakak tiri.


“Dengar Shia, waktuku tidak banyak. Aku tidak bisa memaksamu untuk percaya padaku tapi jika kau masih meragukanku pergilah ke lantai tiga mansion ini, bagian sayap kanan ada sebuah ruangan dengan pintu hitam, jawaban atas pertanyaanmu ada disana” Jelas Lina panjang lebar yang sayangnya membuat Shia semakin curiga dengan Lina.


“Jangan bercanda denganku Lina, kau berbicara seolah aku adalah seorang mata-mata. Perlu kau tau, hidupku sudah penuh dengan drama jangan kamu tambahkan dengan drama lainnya lagi!”


“Kau akan tau jika drama dalam hidupmu itu dikarena oleh satu orang Shia” Salah satu alis Shia terangkat mendengar pernyataan Lina


“Siapa?”


“Shia”


Shia dan Lina menoleh ke sumber suara, Alfa berada di depan pintu dan menatapnya tajam. Tatapan pria itu menyorot pada Lina yang masih menampilkan wajah tenangnya.


“Beraninya seorang pelayan duduk di kursi milikku” Pria itu mengetatkan rahangnya, dengan langkah mantap dia mendekat dan menarik Lina berdiri dan mendorongnya tanpa perasaan. Shia menghela nafas frustasi, lagi-lagi Alfa kembali dengan tingkah gilanya.


“Keluar” Titah Alfa pada Lina, wanita itu melirik Shia sekilas lalu keluar dari kamar itu.


“Memangnya aku tidak boleh ke kamar ku sendiri?”


“Tentu boleh, lagipula kamu boss nya” Shia tersenyum tipis berusaha mencairkan suasana.


“Apa yang kau bicarakan dengannya?” Tanya Alfa


“Membicarakan para pria” Jawab Shia asal


“Beraninya kau berbicara tentang pria lain selain diriku Shia” Decak Alfa


“Tentu saja berani, jika aku berbicara tentangmu pastinya itu tidak akan menyangkut hal yang baik”


“Sebegitu negatifnya kah aku di pikiranmu?”


“Bahkan lebih parah”


“Lidahmu tajam juga”


“Tidak ada lidah yang tajam, semua lidah itu lunak dan tidak bertulang”


“Kau tau Shia setiap kau membalas ucapanku, rasanya aku semakin ingin mencium mu”


“Silahkan saja, lagipula dengan masker itu ka–“

__ADS_1


Shia mematung, pandangannya gelap saat sesuatu yang lunak menyentuh bibirnya. Alfa menciumnya dengan tangan yang menutupi matanya.


Bibir pria itu bergerak dengan lihai bahkan lidahnya sudah menerobos masuk ke dalam mulutnya. Mengobrak abrik segala sesuatu dalam mulut Shia yang terjamah oleh lidahnya.


Shia merasa tak asing dengan perasaan ini, ini sama seperti saat malam Liam alias Ace Hiddleton menciumnya, hanya saja di lakukan oleh orang yang berbeda. Shia memberontak dia berusaha melepaskan tangan Alfa yang menutupi matanya namun semuanya terlambat ketika Alfa sudah lebih dulu menahan kedua tangannya dengan satu tangan.


Kedua tangan Shia terangkat diatas kepalanya. Alfa melepaskan ciuman itu lalu menjauhkan sedikit tubuhnya tanpa melepaskan tangannya dari mata dan tangan Shia.


“Kau tau Shia? sekarang kau benar-benar terlihat seperti tawananku” Alfa menggeram rendah, pria itu kembali mendekatkan wajahnya pada Shia mencium gadis itu lebih dalam, ******* bibir manis kesukannya itu.


----------------


Alfa mengusap surai coklat Shia, tangannya beralih mengusap lembut bibir Shia yang membengkak. Shia tertidur di tengah cumbuan panas mereka, Alfa mengumpat dia hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan semua salah itu salah Shia.


Salah Shia yang selalu melontarakan jawaban dari setiap ucapannya, wajah Shia yang menatapnya dengan tenang dan menantang itu membuat Alfa terganggu dan tingkah Shia yang bersikap seolah tidak keberatan itu membuat Alfa sangat takut jika nanti Shia akan pergi jauh darinya.


“Jika aku merantai kakimu, kau pasti akan membenciku kan?” Gumam Alfa samar. Pria itu bangkit dari ranjang setelah memberikan kecupan ringan pada kening Shia dia melangkah keluar dari kamar mewah itu.


Alfa berdiri di atas tangga, ia menatap semua bawahannya sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi. Tatapan intimidasi yang Alfa berikan bahkan sudah membuat para bawahannya merasa akan mati seketika.


“Kalian sudah tau jika aku membenci pengkhianat bukan?” Pria itu berucap datar namun mampu mengantarkan hawa dingin di sekitarnya


“Dan hari ini aku berusaha untuk berburu kembali” Alfa menampilkan smirknya meskipun tertutupi oleh masker hitam yang melekat pada wajahnya.


“Jadi adakah yang ingin mengaku?” tanyanya dengan penuh penekanan


“Ma-maaf tuan, tapi kami yakin jika selama ini tidak ada yang melakukan hal aneh” Salah seorang penjaga pria di sana berucap dengan pelan, takut membuat sang atasan marah


“Siapa Boss nya disini?” Ucap Alfa datar


“Tuan Alfa”


“Dan siapa yang berhak menentukan hal itu?”


“Anda Tuan”


TAS


Sebuah anak panah yang ditembakkan dari panah Crossbow itu melayang mengenai pria yang berbicara dengan Alfa, Pria itu terjatuh sambil memegangi kakinya yang tertancap, darah merembes keluar dengan cepat bersamaan dengan tumbangnya pria itu.


Rombongan disana meringis, mereka mengasihani pria itu namun tidak ada yang berani bergerak bahkan menolong pria itu. Mereka takut jika sasaran selanjutnya adalah diri mereka sendiri.


“Padahal benda ini ingin ku gunakan untuk menangkap ulat” Ucapnya ringan yang memantik tatapan ngeri dari anak buahnya.


Alfa memindai semua anak buahnya, tidak banyak hanya sekitar 20 orang termasuk penjaga dan pelayan. Manik abu-abu itu terlihat mengintai hingga akhirnya tatapan itu terkunci pada seorang pelayan yang berdiri tenang dengan tatapan lurus ke depan.


“Got you”


Kalo suka cerita ini jangan lupa Like, Komen dan Votenya yaa kakak-kakak sekalian❤️

__ADS_1


__ADS_2