
Shia melangkah setapak demi tapak menuruni tangga, Ia dapat merasakan tatapan semua orang tertuju padanya. Bibirnya berusaha mengulas senyum tipis. Tak ada yang menyadari bahwa senyuman yang diberikannya adalah senyuman canggung.
Pandangannya tertuju pada sosok yang dikenalnya. Ia berjalan ke arah George dan Robert yang terlihat bersama berbincang dengan seorang pria paruh baya yang memancarkan wibawanya meskipun usia pria itu tak muda lagi.
Netra coklat Shia kemudian beralih pada sosok wanita berambut pirang kecoklatan yang berada di sisi lawan bicara Robert, wanita paruh baya yang terlihat awet muda. Dia menggunakan dress simple panjang berwarna hitam. Wanita itu sangat cantik.
Shia tersenyum tipis ketika netra keduanya bertatapan. Wanita itu tersenyum ketika Shia melangkah mendekat ke arahnya.
“Miss Clarikson” sambut wanita itu dengan senyum lebar
“Hello Mrs…” Shia bingung, ia harus balik menyapa namun dia tidak mengetahui siapa wanita itu. Robert yang menyadari ini tersenyum lalu berbisik pada Shia. Tubuh gadis itu tersentak sebentar ketika Robert menyebutkan pasangan paruh baya di depannya.
“Sorry Mrs Hiddleton, aku tidak mengenalimu, saya Arshia Clarikson. Anda bisa memanggilku Shia” Ucap Shia spontan sambil menjabat tangannya.
Mrs. Hiddleton memendang Shia sejenak, ia lalu tersenyum lebar. “Oke Shia, panggil aku Yerina saja” ucapnya.
“saya tidak bisa Mrs. Hiddleton, itu tidak sopan” ucap Shia menolak dengan Sopan.
“Its’s oke Shia. Aku ingin bisa akrab denganmu. Aku menganggumi kecantikanmu, kau seperti diriku saat masih muda” ucapnya sambil tersenyum manis.
Shia tidak menyangka jika Mrs. Hiddleton adalah orang yang ramah dan baik sekali. Persis seperti ibunya dulu.
“Bagaimana jika kau memanggilku mom?” tawarnya
“Kau tau putriku terlalu sibuk mengejar karirnya sampai aku lupa jika memiliki putri” sambungnya
“Kamu mau punya putri lagi?” Tanya Jack disertai senyum miringnya. Yerina mendengus sedangkan Shia karena terlalu asik dengan Yerina, dia sampai tidak menyadari jika Robert dan George sudah pergi menyapa tamu lainnya.
Shia menatap pasangan di depannya, netranya mengamati wajah Jack. Shia dapat melihat fitur wajah yang tak asing baginya.
“Jangan menatap suamiku seperti itu Shia, nanti dia besar kepala” Ucap Yerina
“Ah maaf, saya tidak bermaksud-“
“Tidak papa, aku tau kau tidak punya maksud buruk, Shia?” Ucap Yerina masih dengan senyum manisnya.
“Sure Mrs. Hiddleton”
“Sudah ku bilang panggil aku mom saja”
“Tapi..”
“Aku tidak terima penolakan loh” tekannya
__ADS_1
“Oke” Ucap Shia pasrah.
“Aku suka dirimu, Shia. Kalau saja kita bisa jadi keluarga” Ucap Yerina, Shia hanya tersenyum tipis, bingung harus merespon seperti apa.
Shia masih berdiri di tempatnya ketika seorang pria dewasa mendekat ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah Jack. Kedua pria itu berbicara seputar bisnis yang mampu membuat kepala Shia pusing. Yerina menyadari itu, dia menarik Shia menuju meja yang berisi cemilan.
“Berapa usia mu, Shia?” Tanya Yerina
“22 tahun”
“Oh wow. Saat aku seumurmu aku sudah mengandung putra pertama ku, haha” Ucap Yerina sambil mengambil segelas wine yang dibawa pelayan
“Kau tau alasannya?” tanya nya
“Perjodohan?” tebak Shia
“50 persen benar”
“Kau dijodohkan dengan pacarmu sendiri?” Tebak Shia lagi, Yerina mendengus
“Kau terlalu banyak nonton drama, Shia” kekeh Yerina
“Aku bahkan tidak pernah menonton” balas Shia
“Investasi?”
“Yes, dia menginvestasikan benihnya lebih cepat dari yang seharusnya” Yerina tertawa, sedangkan Shia hanya tersenyum malu. Obrolan ringan itu terus berlanjut, Shia menyukainya rasanya seperti berkomunikasi dengan ibunya sendiri.
“Ngomong-ngomong boleh aku bertanya?” Ucap Shia, ia mengingat tujuannya.
“Tentu” Jawab Yerina
“Anda mengenalnya?” Tanya Shia sambil menyerahkan handphonenya pada Yerina. Menampakkan gambar seorang pria yang sangat tampan terlihat sedang melamun.
“Dari mana kamu mendapat foto ini?” Tanya Yerina
“Dia seseorang yang ku kenal, aku menolongnya sebulan lalu tepat di hari kecelakaan pesawat putra an.., Ah Maaf jika aku telah lancang berbicara tentang kecelakaan itu”
Yerina tersenyum tipis, dia menyerahkan kembali handphone itu pada Shia, mulut Yerina yang hendak berbicara terhenti ketika merasakan sebuah rangkulan erat pada pinggangnya.
“Jangan katakan apapun” Bisik Jack yang tidak Shia dengar.
Shia menatap mulut Yerina yang kembali tertutup, ia menatap Jack yang memeluk Yerina dari belakang terlihat sangat romantis. Adegan itu mengingatkan nya dengan Liam, pria dengan netra biru itu terkadang juga memeluknya seperti itu. Ngomong-ngomong dia ingat sekarang, wajah jack mirip dengan Liam, bahkan netra biru itu terlihat sama.
__ADS_1
Shia berbalik ketika merasakan sentuhan pada tangannya, ia mendapati George yang berdiri di belakangnya. Tangan pria itu terulur untuk menggandeng Shia.
“Mr. Hiddleton, Mrs. Hiddleton, maaf tapi aku harus menyapa para tamu bersama tunanganku ini” Ucap George. Shia dapat melihat Yerina yang mengangguk malas dengan posisi yang masih sama, dipeluk oleh Jack di belakangnya.
“Sure, maafkan istriku yang menahan tunanganmu” Seru Jack. George mengangguk dan menuntuk SHia berjalan di sebelahnya, menjauhi pasangan Hiddleton itu.
“Kenapa kau melarang ku mengatakannya?” Tanya Yerina
“Memangnya kau akan mengatakan apa?” Tanya Jack balik
“Tentu saja mengatakan yang sebenarnya bahwa pria di foto itu adalah Ace, putra kita!” ketus Yerina,
“Sekarang aku tau alasan anak itu bersikeras mau datang ke pesta ini setelah kembali dari Italia”
“Memangnya apa alasannya?” Tanya Jack, pria itu menaikkan salah satu alisnya.
“Menemui gadis yang disukainya, persis seperti ayahnya di masa lalu!” Ucap Yerina sambil memutarkan bola matanya malas sedangkan Jack tersenyum puas. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya.
-------------
Sebuah helicopter mendarat di atas gedung pencakar langit di kota Texas. Sosok pria melangkah turun dengan aura yang mendominasi.
“Selamat datang tuan” Seru sang asisten, Travis.
“Hmm, Apa orang tuaku sudah tiba di sini?” Tanya nya
“Sudah tuan, mereka tiba tadi siang dan sekarang mereka sudah berangkat dengan mobil yang dikendari Han”
“Han? Asisten dad?” Tanyanya lagi, Travis mengangguk
“Hah, Dad berani sekali menempatkan serigala berbulu domba di sisinya!” Pria itu terkekeh nyaring, meninggalkan kesan mengerikan bagi para bawahannya.
“Siapkan mobilku, aku akan pergi sendiri!” Perintahnya.
“Baik Tuan”
Pria itu melangkahkan kakinya menuju lift, menekan tombol menuju lantai dasar lalu menatap bayangan dirinya pada cermin yang ada di sisi kiri lift.
Pintu lift terbuka, membuat pria itu melangkah keluar dengan cepat. Ia meraih kunci mobil yang diberikan oleh Travis. Sesuai ucapannya, pria itu mengendarai mobilnya sendiri.
Mobil Porsche berwarna hitam itu melanju membelah jalanan malam kota Texas.
sang pengemudi melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kembali menatap jalan. Sudah satu jam berlalu sejak pesta yang ingin ia datangi dimulai.
__ADS_1
“Bukankah bintang selalu muncul belakangan” gumamnya dengan seringain samar.