
Tengah malam, Shia tiba di apartemen miliknya. Ia langsung melangkah masuk ke dalam kamar tanpa menyalakan lampu, melemparkan tasnya pada kursi dan membaringkan tubuhnya pada ranjang.
Ia menatap langit-langit kamarnya, hingga setitik cahaya berwarna merah pada ujung kamar menarik perhatiannya.
Shia berjalan ke sudut ruangan lalu menatap benda di atasnya. Kepanikan mulai terlihat diwajahnya, Shia meraih meja lalu berdiri, meraih benda itu.
“SHIT!” Shia mengumpat ketika melihat benda hitam kecil ditangannya. Betapa terkejutnya Shia ketika menyadari benda itu adalah sebuah alat penyadap dengan sensor kamera di dalamnya.
Shia langsung membanting benda itu hingga hancur. Ia kembali meraih tas dan kunci mobilnya. Berlari keluar dari apartemen, di dalam lift kakinya bergetar, ia tidak menyangka ada seseorang yang mengawasinya bahkan di dalam kamarnya sendiri.
Tubuh Shia bergetar ketika mengingat bercak kemerahan di tubuhnya setiap pagi, berarti benar ada seseorang yang selalu masuk ke kamarnya.
Pipi Shia terasa basah karena air mata yang tiba-tiba mengalir. Shia mengusapnya kasar, Ia merasa dilecehkan, privasinya tidak dihargai dan Shia benci itu. Shia mengambil handphonenya dari dalam tas.
“Lacak CCTV di depan apartemen ku, sejak tanggal 12 sampai detik ini, jika kau menemukan seseorang dengan gerak gerik aneh, segera kabari aku!” ucap Shia datar. Gadis itu mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban Alex.
Shia menyeringai lebar. Lihat saja apa yang akan Shia lakukan jika dia menemukan sang pelaku, bahkan kematian terlalu mudah bagi orang itu.
Tapi sepertinya untuk malam ini dia akan menyewa sebuah kamar hotel sebagai tempatnya beristirahat. Apartemennya sudah tidak aman.
………………..
Milan, Italia
Seorang Pria dengan wajah jelmaan dewa itu berjalan ke luar dari sebuah pesawat. Kacamata hitam yang digunakannya membendung sinar matahari yang saat ini menyorot padanya.
Tepat di sebelah kiri dan kanan pria itu terdapat beberapa orang dengan setelan hitam lengkap dengan senjata yang mengawalnya menuju sebuah tempat dengan penjagaan berlapis. Tempat itu merupakan tempat penyelundupan senjata ilegal yang akan dijual di pasar gelap. Bukan hanya senjata namun organ tubuh bahkan informasi semua orang di dunia dapat dibeli di tempat itu.
Bisnis gelap dan kotor yang sempat tertunda karena kehilangan pemimpin mereka kini kembali berjalan bahkan setapak lebih tinggi meraih puncak kejayaan.
Singgasana kotor yang telah lama kosong itu kembali terisi. Ditempati oleh seorang pria tampan yang menatap remeh pada sosok pria yang terjatuh ke lantai dengan wajah pucat.
Jangan ditanya bagaimana penampilan pria itu, bahkan temannya sendiripun tidak akan mengenali siapa pria yang bersimpuh itu. Penampilannya jauh dari kata baik, hanya ada luka di sekujur tubuhnya,
__ADS_1
Sang pria yang duduk di singgasana itu melangkah turun. Mendekat kearah sosok manusia yang bahkan tidak layak disebut sebagai manusia itu.
Alfa sang pemimpin dari kelompok mafia dengan nama Nostra. Cartel yang dia buat secara diam-diam telah berhasil membuatnya menuju puncak kejayaan menjadikannya seorang bos dunia bawah yang terkenal dan ditakuti oleh semua orang. Tidak ada yang menyangka bahwa pemimpin mereka adalah seorang pria muda dan tampan.
“Aeden, senang melihatmu disini” Alfa menebarkan senyum yang jarang terlihat
“Ku pikir kau akan bersembunyi seperti tikus setelah membocorkan informasi ku!” tambahnya
“Maafkan aku” Pria bernama Aeden itu bergumam lirih, sangat sulit untuk berbicara karena wajahnya yang nyaris hancur.
“Hah! Setelah membuatku merugi dengan seenaknya kau meminta maaf!” Ucap Alfa sambil memainkan pistol ditangannya.
“Apa yang mereka berikan padamu?” ucapnya lagi sambil menepukkan pistolnya pada wajah Aeden, membuat pria itu meringis karena pistol Alfa langsung menyentuh luka yang terukir diwajahnya. Aeden ingin menepis pistol itu namun tangan pria itu diikat dengan rantai.
“Uang?” Tambah Alfa menjeda. Aeden menggeleng hebat
“Atau adikmu yang sedang sakit” Alfa tersenyum samar ketika Aeden mengangkat pandangannya dan menatapnya tajam.
“Ku mohon maafkan aku, aku seharusnya tidak meminta perlindungan pada Costa” Aeden dengan cepat menyadari kesalahannya.
“Kau cukup berani menyebutkan nama Costa di hadapanku!”
“Berikan aku kesempatan kedua, boss” ucap Aeden memelas
“Apakah mungkin pria sepertimu bisa mendapatkan kesempatan kedua?” Alfa menatap Aeden tajam, kemudian ia tersenyum sinis. Ia menyelipkan pistol ditangannya ke saku lalu mengeluarkan pisau lipatnya, menempelkan pisau itu pada pipi kiri pria di bawahnya.
Lebih menyenangkan untuk bermain dengan pisau dari pada pistol, itu yang dia pikirkan saat seringaian itu muncul di wajah tampannya.
“Akh..”
Ringisan kesakitan terdengar dari Aeden. Alfa tersenyum samar, ia menarik pisaunya dan mengusap darah di pisau itu.
“Seharusnya kau bersyukur aku tidak menyentuh adikmu”
__ADS_1
“K-kau Iblis!”
Alfa tersenyum tipis ketika Aeden jatuh tak bernyawa. “Padahal hanya ku taruh sedikit racun” gumamnya.
Alfa menatap seorang pria yang mendekat kearahnya, pria itu memberikan sebuah ipad yang menyala dan menampakkan sesuatu.
Raut wajah Alfa tetap datar, tak terpengaruh pada laporan yang baru saja didapatnya dari anak buahnya yang melakukan pengiriman ke Spanyol.
“Dia pasti memerintahkan para petinggi polisi untuk membunuh orang-orang kita. Jadi, bagaimana pengirimannya?” Tanya Alfa masih dengan wajah datarnya.
“Sebanyak 200 ton berhasil di amankan oleh team polisi gabungan, sisanya berhasil sampai tujuan dan diterima oleh Mr. Grey ” jawab pria itu
“200 ton itu jumlah yang besar. Bahkan tidak setara dengan kematiannya!” Alfa menendang tubuh Aeden tanpa perasaan, genangan darah terlihat bahkan hampir mengenai sepatu hitamnya yang mengkilat.
“Kalian, bereskan dia!”Perintah Alfa yang langsung dilaksanakan anak buahnya.
“Bagaimana dengan adiknya boss?” tanya pria itu
“Dia tidak bersalah”
Bawahan Alfa tersenyum, inilah yang mereka suka dari boss mereka. Meskipun Alfa kejam namun ia tidak akan menganggu orang yang tidak bersalah, ia hanya membereskan orang yang mengusik ketenangannya saja.
Pria itu berbalik, berjalan kembali menuju singgasananya. Ia merasa bosan, hampir satu bulan dia tidak pernah mengunjungi markas besarnya dan setelah tiba yang didapatnya hanya seorang pengkhianat lagi. Tidak ada yang menarik baginya selain membersihkan para pengkhianat itu.
Pria itu mengetukkan jarinya pada meja, ia menatap bawahannya yang berada disisi kiri dan kanan.
“Kalian keluar!” kalimat perintah itu sontak membuat para bawahannya mengangguk cepat lalu berjalan keluar, meninggalkan sang tuan sendirian di singgasana nya.
Ia meraih handponenya, senyum lebar terukir diwajahnya ketika ponsel itu menunjukkan video seorang gadis yang sedang terbaring di kamarnya.
“Kau menyadarinya” Alfa bergumam pelan. Senyumnya mulai memudar ketika melihat gadis itu melangkah mendekat. Bergerak meraih sesuatu dan setelah beberapa detik video itu hanya dihiasi oleh warna hitam lalu berakhir dengan layar sebuah bantingan dan layar yang hitam putih.
"Lebih cepat dari dugaan ku. Tapi bagaimana ya, aku sudah melihat semuanya.” Ucapnya dengan senyum miring.
__ADS_1